
Michael Romano bangun pagi-pagi sekali, karena hari ini adalah hari kerja nya, ia pergi ke kamar mandi membasuh mukanya untuk mengumpulkan nyawa yang tertinggal.
Di dapur ibunya tengah membuatkan sarapan untuk keluarga, ibunya menaruh sepotong Salami di dalam tumpukan roti, ia kemudian melihat kerah Michael yang tengah memakai jaket miliknya.
"Jangan lupa sarapan mu Michael"
Michael menghampiri ibunya, ia mengambil satu sandwich Salami dari atas piring "Aku akan memakannya sembari jalan" ucap nya, ibunya hanya bisa menghela nafas. Michael kemudian mencium tangan ibunya untuk pamit.
"Jaga dirimu baik-baik, perhatikan setiap langkah mu jangan sampai jatuh lagi, kalau kamu pulang dalam keadaan seperti itu lagi ibu akan melarangmu untuk bekerja" nasehat ibunya sembari memakaikan topi appolo ke kepala putranya, Michael yang mendengar nasehat itu hanya tersenyum.
"Baik Bu, kalau begitu aku berangkat"
Michael berjalan menyusuri jalanan trotoar menuju tempat kerjanya sembari memakan roti Salami buatan ibunya. Ia menikmati Suasana pagi hari yang sepi dan sunyi, dengan sorot lampu dari bangunan-bangunan yang berbaris di sepanjang jalan, langit yang sudah mulai membiru serta rasa dingin yang terasa menusuk tulang. Ia menyukai suasana pagi seperti ini.
'Tampaknya hari ini akan cerah' pikir anak itu sembari kedua matanya menatap kearah langit yang bersih tanpa awan.
Selama perjalanan pikiranya kembali kepada anak perempuan yang sudah menolongnya, Michael berpikir apa ia akan bertemu lagi dengan Astrid.
Setelah belasan menit berjalan kaki, Michael telah sampai di tempat kerjanya, ia berjalan ke bagian belakang bangunan, dan masuk kedalam gudang yang sudah terbuka, deretan sepeda yang sebagian besar sudah berkarat terparkir rapih di halaman belakang, dengan pak Wilson yang tengah sibuk mencatat sesuatu di ruangan kerjanya, Michael kemudian menghampiri orang tua itu.
"Selamat pagi pak, anda begitu sibuk"
Pak Wilson kemudian mengalihkan pandanganya dari kertas kearah Michael.
"Hei Michael, seperti biasa kamu datang pagi sekali" ia lalu berdiri dari kursinya dan melangkah menuju tumpukan koran di belakang meja.
Pak Wilson kemudian mengambil dua tumpuk dan meletakkan nya di depan michael, ia lalu memberikan salah satu kertas yang berada di atas meja kerjanya kepada anak itu.
"ini adalah daftar nama penerima koran beserta alamatnya, ada beberapa pemesan baru" Michael mengangguk paham.
Michael mendorong salah satu sepeda dan mengangkut koran bagian nya, ia meletakan ya di atas dudukan di belakang jok sepeda dan di keranjang depan. Setelah seluruh koran selesai di naikan, ia mengayuh sepeda berkarat itu sembari memberi klakson kepada tuan Wilson.
"Hati-hati di jalan" ucap pak Wilson sesaat Michael keluar dari gerbang gudang. Anak itu mengayuh sepeda butut nya dengan penuh semangat, mengantarkan setiap koran kepada para pemesan nya.
#- empat jam berlalu
Setelah menerima upah Dari pekerjaan nya, Michael memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di central side, ia membeli septong hotdog dari kedai yang ditemuinya di tengah jalan.
Michael sangat menyukai central side terkadang ia sering menghabiskan waktu di sini dengan berjalan-jalan, tidak seperti Harlem yang kumuh, central side kota yang bersih dan tertata rapih, ia berjalan menuju taman green park yang terletak di tengah distrik itu.
Green park adalah tempat yang menjadi ikon di daerah itu taman ini sangat ramai di kunjungi di sore hari terutama akhir pekan. Michael berjalan santai menyusuri jalan pavling blok sembari pandangan nya melihat ke sekeliling, ia melihat ada beberapa orang yang tengah berolahraga santai di beberapa tempat.
anak itu akhirnya sampai di Air mancur yang menjadi daya tarik orang-orang, pancuran itu bertingkat tiga dengan patung malaikat berdiri mengesankan di paling puncak, air mengalir dari bawah kaki sang malaikat turun bak air terjun sampai tingkat terbawah.
Michael kemudian duduk di kursi kayu yang tersedia di sana, sembari memandangi pancuran itu, perlahan ia mulai memakan hotdog di tangan nya.
Pikiranya teralihkan saat suara dari mahluk berbulu dan memiliki kumis tengah duduk di samping nya yang entah sejak kapan mahluk itu berada di sana, mahluk berbulu itu menatap kearahnya.
lebih tepat nya kucing yang memiliki bulu abu-abu dan putih di bagian bawah tubuhnya serta mata yang berwarna kekuningan itu menatap kearah hotdog yang tengah di makan oleh Michael, mata anak itu mengikuti tatapan si kucing seketika ia langsung paham.
"Kamu mau ini?"
"Meow"
Michael kemudian membagi sosis dari hotdog miliknya, ia lalu mengulurkan tangannya kepada si kucing, si kucing terlihat senang ia langsung memakan sosis di telapak tangan Michael. Membuat Michael menahan geli dari kumis dan lidah si kucing yang terasa menggelitik kulitnya.
Anak itu kemudian menatap si kucing abu itu secara seksama, bulunya terawat, dan juga tubuhnya terlihat berisi tidak seperti kebanyakan kucing jalanan yang kusam.
"Mungkin kucing ini kucing peliharaan, tapi kemana pemilik nya?" Pikir Michael
__ADS_1
Michael lalu menghabiskan sisa hotdog di tangan kanan nya, ia membuntal kertas bekas tilam hotdog dan memasukan nya kedalam saku, ia lalu menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan si kucing, meski awalnya ragu Michael mengelus elus punggung kucing abu abu itu.
Bulu nya sangat halus dan juga harum, membuat michael ketagihan mengelus-elus bulu kucing betina itu.
"Felicia dimana kamu, Fel?!!" Teriak suara anak perempuan dari belakang Michael. Michael dengan reflek melihat kearah sumber suara.
Anak Perempuan berambut pirang- hitam yang di lihatnya itu terasa familiar bagi Michael. Ia seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
'Dia seperti tengah mencari sesuatu, mungkin anak itu pemilik kucing betina ini?' pikir Michael.
"Permisi apa kamu mencari kucing betina?"
"Ha iya" si anak perempuan lekas melihat kearah michael
"Loh Michael" terus anak tersebut. Yang ternyata adalah Astrid, anak perempuan yang menolong nya kemarin.
"Fiona" ucap Michael yang juga tidak kalah terkejut, Astrid kemudian mendekat kearah Michael.
"Aduh Felicia aku cari-cari dari tadi" Astrid kemudian menggedong kucing betina itu, ia lalu menatap kearah Michael
"Michael sedang apa kamu di sini?" Tanya astrid.
"Aku hanya sedang jalan-jalan saja, kamu sendiri?"
"Sama, aku lagi jalan-jalan sama papaku"
"Astrid, Felicia udah ketemu?" Tanya seorang pria berusia 29 tahunan dari belakang mereka.
"Udah yah"
"Siapa ini?"
Ayah astrid kemudian melihat kearah Michael, ia menatap Michael dengan seksama. Merasa tidak enak Michael kemudian membuka pembicaraan.
“putri anda telah menolong saya , sekali lagi saya ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada keluarga anda, kalau ada yang bisa saya bantu dengan senang hati saya akan mengerjakan nya ucap michael dengan sopan sembari sedikit menundukan kepala.
Ayah Fiona terkagum akan ucapan Michael, ia tersenyum, anak itu tahu bagaimana menunjukan rasa hormat.
nama mu Michael bukan?, aku alfonso Benjamin kamu bisa memanggilku dengan nama depan ku
“baik lah pak alfonso, alfonso kemudian melihat kearah putrinya.
astrid ayo kembali ke restoran alfonso kembali menatap kearah Michael kamu juga boleh ikut michael.
restoran? Tanya Michael.
ya aku punya restoran di sebrang taman, kalau kamu mau kamu bisa ikut dengan kami.
terimakasih tawaran nya pak, tapi saya akan langsung pulang
baiklah kalau begitu, kami duluan ya Michael pamit tuan alfonso yang di balas anggukan oleh Michael.
dadah Michael, sampai ketemu lagi Fiona melambai-lambaikan tangan kucing miliknya, alfonso dan putrinya kemudian beranjak pergi.
Setalah ayah dan anak itu pergi Michael memutuskan untuk berjalan jalan sebentar di taman sebelum akhirnya beranjak pulang.
PUKUL 23.00
Putra romano tengah termenung di sofa lapuk ruang keluarga, di temani ibu nya yang duduk dengan tenang menyembunyikan rasa khawatir di dalam hatinya.
__ADS_1
Jam Sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi sang kepala keluarga vito romano belum kunjung pulang, hal itu membuat khawatir anak dan istrinya. vito tidak pernah pulang larut malam, paling telat pukul enam sore. Hal itu menimbulkan suatu keanehan bagi mereka.
Michel terus memikirkan tentang ayahnya, entah kenapa ia mempunyai firasat buruk akan hal itu, ia hanya berdoa kalau ayahnya baik-baik saja, pandangan Michael beralih kepada ibunya.
ibu lebih baik ibu tidur bukankah besok ibu harus bekerja? ibunya menghela nafas berat, Michael tahu ibunya sangat khawatir.
tapi-
aku yang akan menunggu ayah,
Setelah cukup lama berdiam, ia kemudian beranjak berdiri dari sofa kalau ayahmu sudah datang beritahu ibu ya
Michael menatap langsung ke mata coklat ibunya baiklah setelah mendengar jawaban putranya, maria beranjak pergi ke kamar tidur.
Michael terdiam di temani kesunyian, sembari kedua bola matanya terfokus ke pintu apartemen nya, berharap pintu itu segera terbuka, anak itu terus berpikir optimis, saat jarum jam bertambah ia terus mencuci otaknya dengan perkataan ayahku pasti akan pulang sebentar lagi.
Ia menunggu, terus menunggu......
hingga jarum jam menunjukan pukul setengah lima pagi, rasa optimis itu hilang tergantikan firasat buruk yang terasa menusuk tubuhnya, ia kemudian beranjak dari sofa, tanpa berpamitan kepada ibunya dan tanpa memakai mantel ia bergegas pergi ke dermaga, melewati hawa dinginya bulan November yang membuat tubuhnya mati rasa, rasa khawatir dan penasaran membuatnya tidak memperdulikan hal itu.
Dermaga di pagi buta selalu ada aktivitas, meski tidak terlalu ramai, Michael tersengal-sengal mengatur nafasnya yang tidak karuan, uap putih menghiasi mulut anak tersebut karena perbedaan suhu udara dengan tubuhnya. Ia menatap para buruh yang tengah bekerja berharap ayahnya ada di antara mereka.
Tapi ia tidak melihatnya, putra romano itu kemudian menghampiri salah satu buruh yang sedang mengangkut sebuah kotak kayu, seorang pria muda yang masih berumur 35 tahun.
“permisi pak, apa anda melihat ayahku ia bernama vito romano umur dua puluh Sembilan tahun perawakan tinggi, ia memiliki kumis yang melengkung keatas dan rambut yang di sisir ke samping, orang ital- pria itu menggeleng sebelum Michael menyelesaikan ucapanya.
maaf kalau aku mengganggu pekerjaan mu pak terus Michael, bapak itu hanya mengangguk.
Michael terus menanyai para pekerja di sana tapi tidak ada satupun yang memberikan informasi tentang ayahnya.
Ia kembali bertanya ke seorang pria berusia 28 tahun, seorang saxons jerman yang tengah mengamplas sebuah perahu kayu.
permisi pak pria itu melihat kearah Michael apa anda mengenal vito romano?
Mata pria itu terlihat melebar ia seperti mencoba menyembunyikan sesuatu, dan Michael tampaknya mengetahui gerak gerik aneh tersebut.
apa kamu putranya? ia tidak menjawab pertanyaan Michael, malah bertanya balik pada anak itu. tapi berkat pertanyaan itu ia tahu kalau pria itu mengenal ayahnya.
Michael mengangguk ya, sebenarnya aku hanya ingin bertanya, ayahku dia tidak pulang sama sekali ke rumah dan aku tidak melihatnya di dermaga apa anda mengetahui kemana ia pergi?
ya aku mengenal ayahmu, sebelum kejadian itu kami berdua sempat mengobrol
kejadian itu?
pria muda itu mengalihkan pandangan matanya dari tatapan Michael, ia kemudian menghela nafas berat, kemarin sore hari terjadi kerusuhan di dermaga, aku tidak tahu apa yang terjadi karena waktu kerusuhan itu terjadi aku pergi dari sini, sejak saat itu aku belum bertemu dengan ayahmu lagi, Michael mencermati setiap kata-kata dari pria itu, ia merasa sesuatu yang aneh, raut muka dari pria di depannya ini seperti tengah menutupi sesuatu, tiba-tiba seseorang memakai stelan jas hitam muncul dari belakang pria itu.
“kenapa kau tidak bekerja?!!!, kau tahu kan kapal ini harus selesai jam tujuh pagi!! dengan nada tinggi ia menegur pria itu.
dan juga kau bocah, jangan menggagu pekerjaan keluar sana!!!!
Tapi Michael tetap diam di tempat Siapa pria ini? Apa dia seorang mandor mungkin ia mengetahui tentang ayahnya? pikir anak itu
Michael memberanikan diri untuk bertanya, permisi tuan apa anda mengenal vito romano?
Mandor itu terdiam beberapa saat, iris mata hitamnya menatap tajam pada Michael aku tidak tahu!!!!, Cepat pergi dari sini!!! usir pria itu.
Dengan langkah yang terasa berat Michael menuruti omongan si mandor, ia melangkah denagn gontai meninggalkan tempat itu tanpa mendaptkan informasi apapun tentang ayahnya.
Putra romano itu menggrutu dalam hatinya ayah, kenapa kamu menghilang begitu saja...'
__ADS_1