
-pukul 07.30 sore-
Di apartmen yang terletak di distrik central side milik Enzo Banosera, terlihat ia tengah membersihkan lubang silinder revolver Smith And Wesson Model 10 miliknya, ia membersihkan setiap inchi dari pistol tersebut sampai besi berwarna hitam itu benar benar mengkilat.
Revolver ini telah menemani nya dalam berbagai kesusahan, terutama saat awal ia bergabung dengan keluarga genovese, paul memberikan senjata ini sebagai hadiah, saat dirinya di sumpah omerta dihadapan sang Don.
Ia kemudian memasukan peluru satu persatu kedalam silinder revolver yang mampu menampung 6 butir peluru, kemudian memutar silinder revolver itu lalu mengayunkan nya dengan tangan kanan.
'KLIK' bunyi silinder yang kembali masuk kedalam perut pistol smith. Enzo kemudian memasukan nya kedalam mantel hitam miliknya, ia kemudian memakai topi fedora hitam yang berada di tiang gantungan dekat pintu keluar apartmen, lalu melihat kearah kaca memastikan penampilannya tetap rapih.
Setelah memastikan pakaian nya rapih, ia lekas keluar apartmen, mengunci pintu ruangan nya. Lalu berjalan melewati lorong yang gelap karena kurangnya pencahayaan.
Ia keluar dari bangunan apartmen 5 lantai itu, berjalan kaki menuju restoran italia yang berada di West Side, jarak dari apartmen nya ke west side tak cukup jauh karena posisinya berada tepat di perbatasan distrik itu.
West Side selalu mengingatkan enzo tentang masa kecilnya dulu, ayahnya seorang tukang kayu ia pemabuk berat dan suka bermain dengan para sundal, ibunya mengalami kebutaan dikarenakan infeksi pada matanya, enzo sangat membenci ayahnya, ia menelantarkan keluarganya sendiri dan entah pergi kemana bahkan sampai ibunya meninggal, ia tak pernah datang.
Hidup menggelandang telah di alami pemuda itu, di umur 9 tahun mata nya terkena infeksi orang orang mulai menjauhinya karena takut, mereka menyangka penyakit matanya berasal dari ibunya dan bisa menular.
Hidup seperti sampah ia sudah alami, mencari makan di tempat sampah atau bahkan memakan remah remah roti yang tercecer di selokan dan trotoar semua itu ia lakukan demi bertahan hidup, ia lalui kehidupan keras itu selama lebih dari 1 tahun.
Enzo menarik nafas mencoba mengingat kembali tentang masa lalunya, di saat ia bertemu orang yang merubah hidupnya.
-Masa Lalu Enzo Banosera-
-12 Februari 1912-
Di sebuah gang kumuh west side, seorang anak berumur 10 tahun tergeletak tak berdaya, meski terlihat samar kedua matanya melihat orang-orang berjalan acuh tak acuh terhadap dirinya, Enzo selalu berpikir kenapa dunia ini tidak pernah adil baginya, ia ingin hidup bahagia layaknya orang lain.
Tubuh kecilnya menggigil, perutnya sakit kelaparan ia sekarat, layaknya kucing jalanan yang akan mati, ia seakan terlihat sudah pasrah akan kematian, tapi sebenernya jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin tetap hidup.
Bayangan akan ibunya mulai mengisi pikiran anak itu, suara dari sosok yang paling ia sayangi di dunia ini menggema di dalam kepalanya, suara itu terdengar Memanggil-manggil dirinya.
"Bila aku mati, apakah aku bisa bertemu dengan ibuku?"
Di saat pengelihatan nya mulai hampir menghilang, ia melihat seorang siluet orang bertubuh tinggi dan besar, orang itu melihatnya dari kejauhan, setelah itu pandangan nya menghitam.
Gelap
......................
Sunyi
Hampa
.
"Apa aku mati?, jadi seperti inikah rasa kematian? "
Enzo membuka matanya, putih warna pertama yang ia lihat, anak itu bertanya tanya pada dirinya sendiri, apa ia sudah benar benar meninggal?, ada hal yang aneh dengan tubuhnya, tubuhnya terasa lebih bugar dan bertenaga dari pada sebelumnya, perasaan tenang menyelimuti hatinya dan rasa lapar pun seakan menghilang.
Apa ini kehidupan sesudah kematian?
"Hei bocah kau sudah sadar? "
Suara dengan nada berat memecah pikirannya, Enzo lekas melihat kearah orang yang berbicara tadi, seseorang dengan tubuh besar dan tinggi terlihat duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan, pria itu adalah sosok siluet yang di lihatnya sebelum dirinya tidak sadarkan diri, Enzo tidak bisa begitu melihat wajahnya karena pengelihatannya masih terasa kabur.
Pria itu menghampiri dirinya, pria itu memiliki dagu yang lebar dengan sorot mata yang tajam, wajah yang benar benar garang dan terlihat menyeramkan.
"Kau tergeletak tak berdaya di sebuah gang west side" Lanjut pria itu.
"Anda menyelamatkan saya?, anda begitu murah hati"
Pria itu tidak menggubris ucapan Enzo.
"Nama mu siapa? " Tanya nya.
"Enzo Banosera, lalu anda? "
"Panggil saja Paul" Ucap pria itu yang merupakan Paul Castelano.
Enzo melihat kearah tangan nya, selang infus terhubung ke punggung tangan kanan nya. Cairan itulah yang membuat tubuhnya terasa lebih bugar.
Mata Enzo melihat ke sekeliling, meski terasa samar tidak ada pasien lain di ruangan ini selain dirinya, tampaknya ia di tempatkan di kamar khusus.
"Kau tak usah khawatir, aku akan membayar seluruh perawatan mu bocah" Ucap Paul.
"Kenapa anda menolong saya? "
"Entahlah, dimana orang tua mu? "
"Ibu ku sudah meninggal 1 tahun yang lalu, dan ayahku entah pergi kemana, ia sudah lama tidak pulang" Jawab Enzo.
Paul tidak menanyakan apa apa lagi, ia hanya terdiam, sejujurnya kenapa ia menyelamatkan anak ini? Apa yang di inginkan oleh dirinya? , saat melihat anak itu terkapar ia seperti melihat masa lalu, dimana adiknya mati karena kelaparan dan penyakit, Enzo mengingat kan dirinya terhadap adik laki-laki nya, saat itu dirinya merasa gagal sebagai seorang kakak.
Jadi, apakah ia menolong anak ini hanya untuk menebus penyesalannya di masa lalu?.
"Kalau begitu aku pergi dulu, besok aku akan kembali lagi ke sini" Ucap Paul.
Paul lekas keluar dari ruangan itu meninggalkan Enzo sendirian, Enzo terdiam ia melihat kearah luar jendela. Detak jarum jam yang menunjukan pukul 5 sore menemani dirinya di sore hari ini.
__ADS_1
-1 minggu kemudian-
Setelah 1 minggu menjalani perawatan kini Enzo telah keluar dari rumah sakit, tubuhnya sekarang terasa sangat baik, dan infeksi pada matanya entah bagaimana caranya telah sembuh, kini ia berdiri di depan rumah sakit bersama Paul.
Enzo banyak berhutang budi pada pria itu, ia membayar biaya rumah sakit yang sangat besar untuk dirinya, tubuhnya sekarang berbeda dengan dulu yang penyakitan,kini kedua bola matanya bisa melihat dengan jelas, ia merasa seakan dirinya telah terlahir kembali.
"Setelah ini kau mau kemana bocah? " Tanya Paul kepada Enzo.
"Entahlah tuan, saya tidak tahu"
"Kalau kau ikut denganku kau bisa jadi orang yang terhormat, kehidupan mu akan berubah kau bisa punya banyak uang"
Enzo merasa tertarik akan tawaran pria itu, tentu saja ia ingin jadi orang terhormat, merubah nasib sial dirinya, yang ia perlukan adalah uang, uang dalam jumlah yang sangat banyak ia ingin punya rumah mewah agar tidak perlu tidur di jalanan, baju yang bagus makan di restoran kelas atas serta hal hal lain yang dulu selalu ia impikan.
"Tentu saja saya ingin, lalu apa yang harus ku lakukan tuan Paul? "
"Kebetulan hari ini aku punya pekerjaan yang harus dibereskan, jika kau membantu ku akan ku beri dua puluh dollar sebagai imbalannya bagaimana?" Tanya Paul kepada anak itu.
"Setuju"
Enzo tanpa keraguan menerima tawaran itu, 20 dollar jumlah yang cukup banyak bagi dirinya meski ia tak tahu pekerjaan seperti apa yang di maksud Paul.
"Kau tunggu disini aku akan mengambil mobil dari parkiran" Perintah Paul yang di balas anggukan oleh Enzo sebagai tanda mengerti, pria itu lekas berjalan kearah parkiran rumah sakit yang berada di bagian belakang.
Tak lama menunggu sebuah mobil Loco Mobile Model 48 dengan warna merah tua berhenti tepat di depan enzo.
"Naik" Perintah Paul dari kursi kemudi, enzo segera menuruti perintah Paul ia lekas bergegas menghampiri mobil loco itu dan lekas naik, ia duduk di samping kursi kemudi.
"Kita akan kemana tuan Paul? "
"Pelabuhan" Jawab Paul singkat.
Mobil loco itu segera meluncur ke tempat yang di maksud Paul, pelabuhan yang terletak di bagian barat distrik harlem
Setelah 10 menit perjalanan mereka berdua berhenti di pinggir jalan, Paul lekas turun dari mobil di ikuti oleh Enzo.
"Mau kemana kita tuan Paul? "
"Ikuti saja aku enzo, pekerjaan akan segera di mulai" Jawab paul.
Enzo menuruti perintah Paul, anak itu mengekor di belakangnya, mereka berdua berjalan sampai berada di dekat dermaga, Paul kemudian masuk ke sebuah gang kecil menyusuri jalan jalan yang penuh dengan lumpur sampai mereka berdua melihat sebuah perkumpulan orang yang berjumlah 4 orang.
4 orang itu tengah mabuk mabukan melingkari tungku api yang terbuat dari drum. Paul kemudian mengambil botol minuman yang sudah kosong yang berada di atas kotak kayu, kemudian pria itu melihat kearah Enzo.
"Kita mulai pekerjaan nya" Ucapnya sembari menggenggam botol kaca itu di tangan kanan nya, Paul menghampiri salah satu pria disana, merasakan kehadiran Paul pria itu lekas berbalik.
'PRANG!!!! '
Pria itu belum menyelesaikan perkataan nya tapi Paul telah menghantam kepala pria itu dengan botol kaca yang berada di genggaman tangan kanan nya. Saking kerasnya benturan membuat botol kaca itu pecah.
Pria itu kemudian jatuh terkapar tak sadarkan diri, Kepala nya bocos mengeluarkan banyak darah, melihat rekan nya jatuh ketiga pemuda tadi dengan cepat mengelilingi Paul, terlihat wajah mereka penuh dengan rasa marah.
"Hey kap*at bang**t apa yang kau lakukan? " Ucap salah satu pemuda sembari mengeluarkan pisau belati dari balik jaket coklatnya.
"Si Ba**ngan ini cari mati" Ucap yang lain nya.
Enzo merasa ketakutan, ia tidak percaya akan tindakan Paul, dia pikir Paul adalah orang baik, tapi sekarang pria itu menghantam kepala seorang manusia sampai bocor tanpa ada rasa keraguan sedikitpun.
Meski dalam keadaan terkepung, Paul masih bersikap tenang, pria itu berdiri tanpa ada rasa takut dalam dirinya, kemudian salah satu pemuda maju menyerang, ia mencoba memukul tubuh Paul dengan sebuah balok kayu.
Tapi sayang kondisinya dalam keadaan mabuk, Paul dengan mudah bisa menghindari setiap serangan pemuda itu, pemuda itu kemudian mengayunkan balok kayunya secara horizontal, Paul melihat celah dalam serangan tersebut, ia menurunkan postur tubuhnya kebawah untuk menghindari balok kayu pemuda tersebut, kemudian ia lekas menonjok pemuda tersebut di ulu hatinya dengan sekuat tenaga.
'DUAKH'
"Ukh" Pemuda itu mengambil jarak dengan Paul sembari memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, kemudian ia jatuh berlutut.
Dua pria lain kemudian ikut menyerang, orang yang memakai belati menyerang terlebih dahulu, ia mencoba menusuk paul, tapi paul dengan mudah menghindari tusukan tersebut dengan menghindar kesamping, ia menunggu pemuda itu hampir melewati dirinya kemudian dengan sigap memegang tangan pemuda itu dan memukul sendi lengan kanan nya yang memegang pisau dengan sangat keras.
'KRAK' Suara tulang patah terdengar pemuda itu jatuh tersungkur serta pisau nya lepas dari genggaman tangan pemuda itu.
Sisa satu pemuda lagi, pria pendek tanpa senjata ini mencoba menyerangnya dengan tinju, di lihat dari postur pria itu tampak ia cukup menguasai teknik tinju.
"Kau bisa tinju.....eeh," Ucap Paul sembari Menggretekan lehernya, wajahnya menyeringai.
pria itu tidak menjawab ucapan Paul, ia langsung maju menyerang mencoba memberikan pukulan jab pada pria besar itu, tapi sayang Paul lebih lincah dari dugaan nya, ia bisa menghindar kesana-kemari kemari layaknya seorang yang sedang berdansa.
Setelah pukulan kombinasi miliknya tak satupun mengenai Paul, ia mengambil sedikit jarak dari paul dan membuat gerakan memutar pria itu melancarkan pukulan long hook mengincar wajah kiri Paul, Paul dengan reflek menangkis pukulan kuat itu dengan lengan kirinya, pria itu tampak terkejut saat pukulan nya berhasil di tangkis, Paul tak menyia-nyiakan momentum tersebut ia dengan cepat mengirim serangan balasan, sebuah pukulan straight tangan kanan yang kuat kepada wajah pemuda tersebut.
'DUAKHHH' wajah pria tersebut terkena pukulan straight Paul, dengan cepat ia mundur untuk mengambil jarak.
"Hahahahah... Gerakan mu terlalu lambat kawan" Ejek Paul kepada pria itu. Yang hanya dibalas dengan desisan.
ia kembali menyerang, kali ini pemuda itu mencoba mengayunkan pukulan swing ke wajah paul, tapi sekali lagi paul bisa dengan mudah menghindari pukulan tersebut dengan menundukkan kepalanya, ia kemudian men counter serangan nya dengan uppercut.
'BUAKHHH' pukulan dari bawah menghantam dagu pria itu dengan sangat keras, darah menyembur dari mulutnya karena lidahnya tergigit.
"Hah, benar benar tidak seru.... Kalau saja kalian tidak mabuk, mungkin bisa memberiku sedikit perlawanan" Ucap paul sembari meludah ketanah, ia kemudian mengambil Knuckle dari balik jas hitamnya, dan memakaikan nya di tangan kanan.
__ADS_1
Paul memegang kerah pria di depan nya yang sekarang tengah berlutut dengan mulut penuh darah pria itu masih setengah sadar, ia mendirikan nya sedikit, kemudian memukuli wajah pria itu dengan tangan kanan yang terpasang Knuckle.
'BUAkH!!!BUAkH!!!!!BUAkH!!!!'
Suara besi dan tulang beradu, terdengar juga suara hidung pria itu patah terkena hantaman Knuckle, paul memukuli nya berkali kali tanpa rasa ampun sampai pria itu benar benar tak sadarkan diri.
Enzo melihat Paul dengan tidak percaya, pria yang menolongnya itu sekarang sangat brutal dan liar.
Tubuh pria itu ambruk setelah paul menghentikan aksinya, wajahnya berlumuran darah hancur gigi depan nya hampir semua copot, ia kemudian berjalan kearah pemuda yang tadi menyerangnya dengan belati, pemuda itu tengah memegangi lengan tangannya yang patah.
"Ampuni aku tolong" Pelas nya sembari menangis.
Tapi Paul tak mendengar kan permintaan pria tersebut, ia melakukan hal yang sama dengan pria tadi memukuli kepalanya sampai tak sadarkan diri.
Setelah lawan nya jatuh terkapar, Paul lalu berjalan mengambil sebuah besi panjang yang terletak di dekat tungku api ia kemudian melemparkan besi itu kepada enzo.
"Ini waktumu bekerja enzo" Ucap Paul ia kemudian mengeluarkan sapu tangan putih dari saku celana nya dan mengelap noda darah di tangan nya.
"Apa maksudmu tuan Paul? " Tanya enzo, ia masih tidak percaya akan apa yang di lihatnya ini.
Paul kemudian menunjuk kearah pria pertama yang sekarang tengah berlutut memegangi perutnya, diantara 4 pemuda lain pria itu satu satunya orang yang tengah mabuk berat.
"Kau ingin jadi orang terhormat?, ini adalah awal, sesuai janji aku akan memberikan mu imbalan" Jawab Paul.
Enzo merasakan dilema dalam dirinya, ia merasa kasihan dengan pemuda pemuda itu, ia kemudian memejamkan matanya untuk berpikir, kejadian dimana ia dipukuli tanpa ampun oleh segerombolan pemuda terlintas dalam benaknya, ia sadar ini adalah pilihan, ia ingin punya banyak uang Paul memberinya bayaran 20 dollar hanya untuk memukul nya bukan?, meski ia bekerja jadi pengantar koran, uang sebanyak itu tak akan terkumpul dalam waktu satu bulan.
Enzo ingin berubah, ia tidak ingin hidup seperti hewan jalanan lagi, anak itu mengambil batang besi panjang yang terletak tepat di depan nya, enzo kemudian menghampiri pria yang tengah bersimpuh sembari memegang perutnya itu, dengan gemetaran anak itu mengangkat besi di genggaman nya.
"Kumohon jangan tolong!!!! "
"Maaf kan aku" Setelah mengatakan itu enzo menghantam besi hitam itu sekuat tenaga ke bagian belakang kepala pria itu, pria itu langsung Tergeletak tak sadarkan diri dalam pukulan pertama.
Anak itu kemudian melihat kearah Paul, Paul memberi isyarat untuk memukulnya lebih banyak lagi, mau tak mau ia harus mematuhinya.
'Buakh!!!! Buakh!!! Buakh!!! krakk!!'
enzo memukuli pria itu sebanyak 5 kali, kepala pria itu sampai darah membanjiri wajah pemuda malang tersebut, tapi pria malang itu tampaknya masih belum mati, tubuhnya masih terlihat bernafas.
'Klontang'
enzo membuang besi itu dari tangannya, ia kemudian melihat kearah tangan kanannya yang gemetaran dan terciprat darah, rasa bersalah terlihat dari raut muka anak itu.
"Bagus enzo" Ucap Paul, pria besar itu kemudian menghampiri enzo, ia lalu memberikan sapu tangan miliknya kepada enzo dan menyuruhnya mengelap noda darah yang ada di tangan nya.
"Aku bukan orang yang mengingkari janji," Paul lalu mengeluarkan uang dari balik mantel hitamnya, ia kemudian menghitung segepok uang di Tangannya,setelah nilainya sesuai ia memberi enzo 20 dollar dalam pecahan 2 dollar.
Enzo menerima uang tersebut dengan tangan gemetar, ia lekas memasukan uang 20 dollar itu ke dalam sakunya.
"Sekarang Apa yang harus kita lakukan kepada mereka tuan Paul? " Tanya enzo, pandangannya terarah ke 4 pemuda malang yang tidak sadarkan diri serta berlumuran darah.
"Biarkan saja, nanti temannya akan melihat, ini hanya sebagai pesan" Ucap Paul sembari menyalakan satu batang rokok, ia menghisap tembakau itu dengan sangat dalam kemudian mengeluarkan nya dengan halus, asap tebal mengepul dari hidung dan mulutnya.
"Jadi enzo, kau telah memutuskan nya? Kau ingin jadi orang terhormat? " Tanya Paul. Ia kemudian kembali menghisap candu tersebut.
Enzo menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
"Baiklah, kau akan bekerja bersama ku, dan tentu saja aku akan membayar mu dengan upah yang sesuai dengan pekerjaan yang kita lakukan, lalu untuk tempat tinggal, sementara kau tinggal di rumah ku untuk beberapa tahun ke depan" Jelas Paul.
"Ya"
sejujurnya enzo masih merasa ragu, apalagi saat ia mendengar kata pekerjaan dari mulut Paul, enzo paham Paul mungkin seorang preman atau kriminal, tapi selagi ia bisa menghasilkan banyak uang dari dirinya ia akan setuju, ia berpikir ini hanya untuk bertahan hidup, untuk impiannya dan, untuk merubah kehidupan kaperat ini.
"Sekarang kita akan kemana lagi tuan Paul? " Tanya enzo.
"Ke rumah ku" Jawab Paul singkat, mereka berdua kemudian lekas meninggalkan tempat tersebut meninggalkan 4 orang yang tengah terbaring sekarat di sana.
Mereka berjalan kearah mobil paul yang terparkir di pinggir jalan, tangan nya masih gemetaran, ini pertama kali bagi dirinya melakukan hal tersebut, bahkan saat di keroyok pun ia tak pernah melawan. Tapi berbeda dengan paul, wajahnya datar seakan tidak terjadi apa apa, enzo mengerti, orang itu sudah terbiasa melakukan hal seperti ini, jadi ia pikir perlahan-lahan dirinya juga akan ikut terbiasa.
Mereka berdua kemudian menaiki mobil locco, dan kemudian melesat menuju rumah paul yang terletak di seven village.
-kediaman paul Castelano-
Mobil locco merah itu berhenti di depan garasi Rumah 2 lantai yang cukup mewah di kelilingi oleh Pepohonan hijau. Rumah itu cukup jauh dari lingkungan perkotaan, berada di sebuah tempat terpencil di seven village yang penuh dengan hutan perbukitan.
"Apa Ini rumah mu tuan paul? " Tanya enzo takjub, baru kali ini dalam hidupnya ia melihat imigran italia mempunyai rumah sebesar ini.
"Ya enzo, rumah ini pemberian dari seseorang" Jawab paul.
"Dari siapa itu? "
"Atasan ku" Jawaban paul membuat enzo semakin bingung, sebenarnya paul bekerja untuk siapa?.
paul lalu turun dari mobil membuka pintu garasi dan memasukan mobil locco merah itu kedalam sana.
Mereka berdua lekas masuk kedalam rumah tersebut, enzo tak berhenti nya terkagum-kagum, interior rumah ini klasik dan berkelas, dengan tembok coklat kayu menonjolkan estetik seni klasik era victoria.
"Kamar mu ada di atas, aku akan menunjukan jalan nya" Ucap paul sembari menaiki tangga.
"Tuan paul, aku sungguh sangat berterima kasih atas kebaikan anda" Ucap enzo dengan sedikit takut tapi masih ada ketulusan dalam nada bicaranya, bagaimanapun juga pria ini yang menyelamatkan nyawanya meski dirinya sebenarnya masih terbayang versi brutal paul di pikiran nya, bahkan ia sangat sulit percaya akan hal itu, pria ini seperti mempunyai 2 kepribadian.
__ADS_1
"Di sana" Paul menunjukan kamar yang terletak di bagian ujung lantai 2, enzo lekas membuka pintu kamar tersebut, interior kamar itu cukup sederhana, sebuah kamar yang memang di peruntukan untuk tamu yang menginap, kamar inilah yang akan menemani nya beberapa tahun ke depan.