
Michael merasa hampa, perlahan air matanya mulai mengalir dalam perjalanan pulangnya, sekarang dia terlihat seperti seorang anak cengeng, ia berkali-kali mengusap air mata itu dengan tanganya mencegah nya untuk tidak menangis lebih besar lagi.
Apa yang harus ia katakana kepada ibunya?, ia merasa kesal, marah, jengkel yang ia sendiri tidak tahu perasaan itu diarahkan kemana. Kepada ayahnya atau Mungkin kepada dirinya sendiri.
Di perjalananya keluar dari dermaga, ia bisa mendengar bisik-bisik dari dua orang buruh yang tengah berdiri di dekat tumpukan kotak kayu, dua pasang mata itu menatap kearah Michael dengan tatapan iba yang terasa aneh.
“kasihan sekali anak itu, ia menanyai tiap orang disini tentang ayahnya”
“ya, mungkin ayahnya kabur deh, atau mungkin dia selingkuh dan tinggal dengan selingkuhanya”
“mungkin……..”
Michael Mendengar pembicaraan dua buruh itu, obrolan yang menurut Michael terdengar seperti tengah menjelekan ayahnya. Dengan spontan amarah anak itu meledak.
“ayahku bukan oang seperti itu bangsat sialan!!!!” tanpa memperdulikan norma sosial dan perbedaan umur yang jauh, Michael memaki orang-orang yang menuduh ayahnya itu. dua pekerja itu kaget karena tidak menyangka pembicaraan mereka terdengar oleh anak itu.
Karena makian dengan nada tinggi yang dilontarkan olehnya, ia menjadi pusat perhatian diantara orang-orang yang berada di sekitar sana, malu menjadi pusat perhatian, Michael lari dari sana dengan penuh rasa kekesalan di dalam hatinya.
‘ayahku bukan orang yang seperti itu, dia orang yang bertanggung jawab……sialan! Sialan!’ gerutu nya dalam hati.
Ia berlari menyusuri blok bangunan di dermaga hingga ia sampai di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, sebuah gang sempit yang terletak di bagian ujung dermaga, dengan nafas yang tersengal-sengal Michael duduk di dekat sebuah pembatas yang terbuat dari coran, kedua matanya menatap kearah lautan lepas sembari menahan kegundahan di dalam hatinya.
Ia duduk cukup lama di sana menatap kearah sang surya yang tengah mengintip dari ufuk timur, memberikan seberkas cahaya pada dunia, angin laut terasa menghepas tubuhnya membuat tubuhnya bergetar kedinginan, tapi keindahan alam itu tidak mampu menghapuskan rasa gundah yang kini tengah membelit hatinya.
Anak itu kemudian memukul tembok dengan cukup keras, mencoba menyalurkan kekesalanya meninggalkan luka memar di jari jemarinya,ia melakukan nya beberapa kali sampai sebuah suara mengalihkan perhatian Michael.
“hoy anak mana kau?, ini tempat nongkrong kami sialan” seorang anak laki-laki yang berusia 2 tahun lebih tua dari Michael beserta dua orang temanya yang berumuran sama menghampiri Michael.
Anak laki-laki yang bertanya padanya berdiri paling depan, anak itu mengingatkanya pada si bangsat luca, wajah songongnya dan tampilan berandal yang di buat-buat. Tapi dia bukan orang italia dari aksen bahasa nya ia mungkin orang irlandia. Tatapan matanya seperti memberi isyarat ‘aku boss nya di sini’
Karena Michael tidak menjawab, Anak itu kemudian mendekat kearah Michael ia kemudian menarik kerah baju Michael “aku sedang bicara dengan mu ban-“
‘Buakh!!!’ belum menyelesaikan ucapanya, Michael membungkam mulut anak itu dengan mengirimkan tinju kearah pipi kiri nya, membuatnya tersungkur ke lantai, Michael kemudian beranjak dari tempat ia duduk, mood nya yang sudah sangat buruk di perburuk dengan kedatangan berandalan-berandalan ini terlebih lagi muka songong anak di depanya ini mirip dengan si bajingan luca yang suka membulinya.
Anak yang tersungkur itu meringis kesakian memegangi pipinya yang sudah membiru, Michael menghantamnya sangat keras tanpa keraguan, Michael berjalan mendekati lawannya yang sudah terbaring di lantai kemudian ia menginjak-nginjak kepala anak itu.
Melihat temanya terpojok dua orang yang sedari tadi terdiam melihat aksi spontan Michael mencoba menyerang anak itu. entah dapat kekuatan dari mana, salah satu anak mencoba memukul kepala Michael, Michael menangkap pergelangan lenganya dan membantingnya ke lantai beton dengan sangat keras.
__ADS_1
Satu anak yang tersisa berlari mengarahkan tinjunya pada Michael, mereka berdua beradu tinju, Michael berhasil menghantam hidung anak itu membuatnya berdarah,sedangkan tinju dari musuhnya hanya memberikan sedikit lebam di pipi kirinya. Anak itu mengambil beberapa langkah ke belakang sembari memegangi hidungnya, tanpa memberi jeda Michael kemudian menutup jarak dan menghantam wajah anak itu dengan tendangan memutar yang membuat nya pingsan seketika.
“kaprat sialan!!!” si anak yang di banting perlahan kembali berdiri, ia masih merasakan rasa sakit pada tulang-tulangnya. Ia kemudian merogoh sesuatu dari saku jas nya, begitu keluar sebuah piasu lipat telah berada di tangan kanan anak itu. Michael sempat terkejut melihatnya mengeluarkan senjata tajam, ia pikir mereka tidak akan sampai sejauh itu, tapi keterkejutan nya itu bisa ia tutupi dengan mencoba bersikap tenang, agar lawanya tidak bisa membaca kelemahanya.
ia kembali menerjang kearah Michael kali ini dengan piasu yang siap menusuk tubuh anak itu, Michael memegang tangan anak itu yang mencoba menusuk kearah dadanya, beruntung bagi dirinya ia memiliki tenaga yang lebih besar daripada lawannya, ia kemudian mengangkat tangan kanan lawanya yang memegang pisau keatas setelah itu Michael mendorong anak itu sampai membentur tembok dengan punggung lenganya menekan tenggorokan nya membuatnya sulit untuk bernafas.
Tubuh lawanya melemas karena kekurangan oksigen, pisau yang di pegangnya terlepas dari genggaman, Michael kemudian melepaskan peganganya dari tangan kanan anak itu, ia lalu menghantam perut musuhnya yang sudah lemas karena kekurangan oksigen.
“ukhh” Michael melepaskan kuncian tenggorokanya membuat anak malang itu kembali bisa bernafas dengan normal, tapi rasa sakit di perutnya membuat tubuhnya merosot kebawah, Michael kemudian memberikan serangan terakhir pada anak itu, ia menghantam kepala nya dengan tinju sekuat tenaga, membuat anak itu tergletak tidak sadarkan diri.
Michael terdiam sesaat sembari merasakan nyeri di jari jemari tangan kananya, ia melihat kearah anak-anak yang tidak sadarkan diri, melihat apa yang sudah di lakukan olehnya.
‘PROK!PROK!PROK!’ tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari depan gang, Michael langsung mengalihkan pandangan matanya kearah suara itu berasal.
Sosok pria besar, Paul castelano tengah berdiri di depan gang memperhatikan michael, ia lalu berjalan menghampiri Michael yang terkejut.
“wow itu pertunjukan yang sangat hebat!!, siapa namamu bocah?” Tanya nya.
Ada keheningan sesaat sebelum akhirnya Michael menjawab dengan suara yang sangat pelan “michael”
“messina, sisilia”
Castelano mengangguk “kita berasal dari daerah yang sama, aku dari Trapani, dan juga aku terkejut kau bisa mengalahkan mereka bertiga sendirian,apa yang sebenarnya terjadi, kau punya masalah dengan mereka?”
Michael tidak menjawab pertanyaan paul ia hanya diam, karena respon anak itu, castelano kemudian menarik nafas. Castelano tidak sengaja melihat perkelahian Michael, awalnya ia berpikir kalau Michael akan di hajar habis-habisan tapi perkiraan nya itu ternyata salah, castelano merasa kalau anak itu punya ‘bakat’ seorang yang mirip seperti enzo.
“kau tahu nak kau punya bakat, jika kau membutuhkan pekerjaan kau bisa menemuiku di gedung depan gang ini, aku punya pekerjaan yang cocok dengan mu, dan juga untuk bayaranya itu lebih baik daripada bekerja di pelabuhan”ucapnya sembari menunjuk kearah gedung yang di maksud, castelano kemudian berbalik dan melangkah pergi. “ sebut namaku jika kau tidak di izinkan masuk, sampai jumpa di lain waktu nak, semoga harimu menyenangkan”
Setelah castelano pergi, Michael kembali melihat kearah anak yang dihajar nya itu, mereka masih belum sadarkan diri, sebenarnya Michael tidak menyangka dirinya akan lepas kendali sampai seperti ini,baginya itu berlangsung begitu saja ini karena ia di kuasai amarah, pikiranya panas sehingga ia tidak bisa berpikir rasional, Michael kembali mengingat nasehat ayahnya, jika kita mendapatkan masalah jangan biarkan perasaan mengambil alih pikiranmu, tetaplah tenang agar kita bisa mencari jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.
Michael menarik nafas panjang mencoba mendinginkan kepalanya, pertama ia harus segera pergi sebelum orang lain melihatnya di sini, sembari berjalan pulang ia memikirkan tentang apa yang harus ia katakan kepada ibunya.
Tanpa terasa sekarang ia telah berdiri di depan pintu apartemen nya, dengan perasaan yang sangat berat ia membuka pintu
Ia bisa melihat ibunya yang sudah memakai pakaian kerja, tampaknya ia menunggu dirinya, melihat anaknya membuka pintu Maria langsung menghampiri nya.
"Michael darimana saja kamu!!?" Tanya ibunya.
__ADS_1
"Aku mencari ayah di pelabuhan, tapi ia tidak ada di sana, aku juga sudah bertanya kepada orang-orang tapi mereka tidak mengetahui sesuatu"
Ibunya langsung memeluk michael.
"Sudahlah nak, biarkan saja" Michael mengintip kearah wajah ibunya, ibunya masih tenang tidak menangis ataupun sedih. Sebenarnya apa yang terjadi?, Apakah ayahnya punya masalah dengan ibunya sampai ia tidak mau pulang?.
"Apa ibu berpikir ayah selingkuh dari ibu?, Dan juga Kenapa ibu tidak merasa sedih? Apakah ibu punya masalah dengan ayah?" Ibunya melepaskan pelukannya dan menatap langsung ke mata anaknya, disana tiba-tiba Michael menyadari kalau ibunya tengah menahan emosi dalam dirinya. Meski wajahnya tetap tenang tapi hatinya menangis.
"Tidak ada Michael, tidak ada masalah apapun,"
"Lalu kemana?, Kemana sebenarnya ia pergi?!!!!, ia meninggalkan kita keluarganya padahal dia selalu memberiku nasehat untuk menjadi pria yang bertanggung jawab!! Apa benar dia selingkuh dan kabur bersama selingkuhanya seperti yang di bilang orang-orang dermaga!!!?" Apa yang telah dipikirkan oleh anak itu sejak dari dermaga tertumpah begitu saja. Ibunya memegang tangan Michael.
"Tidak Michael ayahmu bukan orang seperti itu"
"Lalu menurut ibu kenapa ia tidak pulang kerumah!!!!!?" Untuk pertama kalinya Michael membentak ibunya.
"Kamu percaya sama ibu?" Michael mengangguk "kamu percaya sama ayahmu seperti ibu?". Michael terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk dengan pelan.
"Ia akan pulang Michael, kita akan bertemu lagi dengan nya"
"Ta-api kapan?"
"Setelah semuanya selesai"
"Apa ayah punya masalah? Sampai harus pergi jauh?" Michael masih belum paham akan apa yang di katakan oleh ibunya.
Ibunya mengangguk pelan "jadi Michael tidak usah mencari ayahmu lagi"
Michael tidak mengerti kenapa ibunya menyuruhnya untuk tidak mencari ayahnya?, Ia tidak habis pikir akan hal itu.
"Ke-napa ibu berkata begitu apa ibu tidak mencintai ayah lagi?"
" ibu sangat mencintai ayahmu meski ayahmu tidak ada di sini aku selalu mencintai nya karena ia cinta pertama dan terakhir ibu, jadi Michael semua nya akan baik-baik saja, percayalah pada ibumu" ucap ibunya.
Michael hanya melamun setelah mendengar perkataan ibunya. Maria kemudian mencium pipi putranya "ibu harus berangkat kerja, tolong jaga Isabela ya"
"Ya" jawab Michael dengan nada lesu.
__ADS_1