
Pengintaian Fanucci dan Antonio berjalan sangat sukses, melalui informasi yang di peroleh dari beberapa pemilik toko disana tentu saja dengan sedikit uang agar mereka membuka mulut.
Mereka bisa mengetahui tempat tinggal Fabio sehingga memudahkan pengintaian mereka.
melalui mereka berdua Paul mendapatkan informasi yang cukup berharga, Fabio adalah seorang pria malam, bajingan itu seperti kelelawar, orang yang sering melakukan aktivitas di malam hari, dari pukul tujuh sampai delapan sore ia akan menghabiskan waktu di sebuah rumah judi di jalan broadway bagian selatan harlem, ia akan pergi ke klub saat pukul 10 sesudah makan malam di salah satu restoran Italia langganan nya di west side, germo itu akan berada di sana bercinta dengan sundal-sundal nya sampai pagi, Pola seperti itu terus berulang selama 3 hari pengintaian. Paul bahkan sempat takjub akan stamina pria itu, bagaimana ia bisa bercinta 3 hari berturut-turut sungguh orang yang gila ****.
Tapi Paul masih belum bertindak, ia masih belum yakin jadi ia menunggu selama 2 minggu untuk melihat lebih jelas pola kegiatan dari si germo, ia mendapatkan informasi baru Fabio mampir ke klub itu 4 kali dalam seminggu, ia menemukan kemiripan hari dalam kunjungannya antara minggu pertama dan kedua yaitu, di hari sabtu dan minggu sedangkan sisanya acak. Itu berarti Fabio selalu ada di sana dalam dua hari itu.
Paul sudah yakin akan kesimpulan nya, ia akan mengeksekusi nya tepat saat germo itu kembali ke klub nya di jam 10 malam di hari sabtu, itu adalah waktu yang pas karena orang-orang kebanyakan sudah tertidur di jam itu dan beruntung bagi dirinya Fabio sangat jarang mengajak teman-teman nya.
Jadi metode seperti apa yang akan di pakainya?, menembaknya langsung saat ia turun dari mobil akan menimbulkan banyak masalah, menjerat lehernya dengan kawat akan sangat sulit bajingan itu akan berteriak, jadi hanya ada satu cara pikir paul, dengan membuatnya pingsan lalu membawa nya ketempat jauh dan membunuhnya disana.
Karena itulah hari ini pukul 8 sore Paul memanggil beberapa bawahan ke rumah nya. di ruang tamu rumah telah duduk Antonio, Fanucci, Enzo dan tiga orang lain nya yang memakai tuxedo formal berwarna hitam di balut mantel dengan warna yang sama, tidak lupa juga sebuah topi fedora yang sering menjadi ciri khas para gangster Italia.
"Apa kita akan melakukannya sekarang Paul?" Tanya Antonio sembari menatap wajah sang Capo.
"Ya pukul Sepuluh malam, aku mengumpulkan kalian untuk mendengarkan rencanaku, Antonio mobil apa yang sering di kendarai pria itu?"
"Dia punya mobil cadilac keluaran terbaru tahun 1914 dengan empat pintu, germo itu sangat mencintai mobilnya, dia selalu mengelap mobilnya saat akan maupun sesudah di pakai menjaganya tetap mengkilap"
"Di klub itu apa ada sebuah gang kecil?"
"Ada sebuah jalan buntu hanya berjarak beberapa meter dari klub"
"Baiklah dengar rencanaku, aku, Antonio,Enzo, dan Angelo Akan pergi ke sana kita akan menunggu di gang itu, Enzo kau akan menjadi umpan, saat dia turun dari mobilnya nya lemparkan batu pada kaca depan cadilac itu dan pastikan kaca itu pecah, dia akan memaki mu oke lalu kau segera lari dari dari sana dia akan mengejar mu, bawa dia ke gang setelah itu kami yang akan membuatnya pingsan"
"Kita tidak akan langsung membunuh nya di sana? " Tanya antonio.
"Tidak, aku sudah menentukan tempat eksekusi, kalian berdua dan fanucci buat sebuah kuburan dengan tinggi 3 meter di hutan pinus seven village, pastikan lubang itu sudah siap saat kami kembali itu akan menjadi rumah barunya."
"Baiklah kalau begitu" Angguk mereka berenam.
"Masih ada waktu, aku telah memesan pizza untuk di makan, Fannuci, Enzo ambil di dapur beserta minumannya"
-1 jam 49 menit kemudian-
Loccomobil Model 48 berwarna merah melaju di bawah cahaya remang-remang dari lampu jalan dan bangunan di distrik harlem.
Mobil itu kemudian berhenti di sebuah bangunan dengan cahaya yang paling mencolok di antara bangunan yang lain.
"Ini tempatnya paul" Ucap Antonio dari kursi kemudi.
Tulisan Gladiator dengan lampu LED Berkelap kelip dalam berbagai warna, cahaya LED memantul dari aspal menghiasi gelapnya malam di eastbay, dilihat dari depan tempat itu tidak lebih terlihat seperti bar biasa, tidak ada yang pernah mengira kalau tempat itu adalah sebuah rumah bordil.
"Bukan hanya pelacuran mereka juga menjual obat bius di sini" Jelas Antonio.
"Parkiran mobil ini di gang buntu yang kau maksud"
"Baik"
__ADS_1
Mobilocco itu kemudian masuk ke sebuah gang yang berjarak hanya beberapa meter dari klub. Setelah itu Antonio kemudian mematikan mesin mobil.
Gang ini sangat gelap, penerangannya mengandalkan cahaya dari pantulan lampu jalan,
Mereka berempat lekas turun dari mobil, kemudian mengawasi kearah klub tersebut.
Tidak berselang lama sebuah mobil Cadillac berwarna hitam mengkilap, berhenti tepat di depan klub.
"Itu si germo" Ucap Antonio.
"Baiklah, Antonio kau sembunyi dari balik tempat sampah, saat fabio datang kemari tutup wajahnya dengan kain, dan enzo kau lakukan apa yang ku perintah kan sebelum nya" Perintah paul ia kemudian bergegas kearah bagasi mobil, mengambil sebuah kain lebar dari dalam bagasi kemudian melemparkan nya kepada Antonio, begitu juga dengan enzo yang berjalan menghampiri mobil Cadillac itu.
"Apa kain ini ada obat biusnya?"
"Tidak, aku yang akan membuat nya pingsan" Balas paul sembari mengeluarkan sebuah tongkat baseball yang terbuat dari logam. Dia kemudian bersembunyi di belakang mobil Locco milik nya bersama angelo, kegelapan malam ikut menyamarkan mereka.
Enzo Berjalan pelan menghampiri mobil Cadillac, topi fedora yang di pakai olehnya menyamarkan wajahnya, tangan kanannya yang memegang sebongkah batu di masukan kedalam saku, ia bisa melihat Sang germo turun dari mobilnya.
Fabio memakai sebuah Tuxedo berwarna ungu yang terlihat sangat aneh, dia seperti badut, topi fedora berwarna putih diatas kepalanya terlihat sangat jelas di kegelapan malam, pria itu kemudian menutup pintu mobil, ia kemudian melihat pantulan dirinya dari kaca spion mobil sembari merapikan jas.
Fabio melihat enzo mendekat kearahnya dari arah depan, ia segera mengalihkan pandangannya pada anak itu.
"Hei bocah apa yang sedang kau lakukan di sini malam-malam, apa ibumu tidak mencarimu hah?"
Tanpa menjawab enzo melemparkan batu kearah kaca depan mobil Cadillac itu.
kaca mobil itu pecah, Fabio dengan sepontan meloncat karena kaget, dia lalu melihat kearah kaca depan mobil cadilac seharga sepuluh ribu dollar yang telah bolong terhantam batu, Meski samar Enzo bisa melihat Wajah pria itu memerah, dengan pembuluh darah menonjol di dahinya.
"Bangsat kau Anak Setan apa yang kau lakukan terhadap mobil Cadillac ku Kaperat!!!!" Teriak si germo murka, enzo segera lari dari tempat itu menuju gang, seperti yang di katakan paul dia bisa melihat Fabio mengejar nya dari belakang.
enzo bisa merasakan tatapan membunuh dari pria itu, ia seperti sebuah hewan malang yang tengah di kejar oleh sang predator.
mereka berdua masuk ke gang perangkap itu, Enzo melakukan aktingnya dengan bagus, anak itu pura-pura panik dan terjebak di sana. Sang germo sudah menunggunya di depan gang, pria itu menghampiri Enzo sembari mengkretekan jari jemari nya.
"Hey Bocah sialan!!!, kau mau kabur kemana hah?"
Enzo terdiam sesaat, ia seperti mengenali logat bahasa si germo yang terasa tidak asing di telinganya, si germo mencoba menerjang kearah Enzo, namun saat pria itu melangkakan kaki nya kedepan Antonio dengan sigap menjerat Kepala nya dengan kain.
"Siapa kau bangsat, lepaskan ini kalau tidak kau akan mampus, kau tau siapa aku ini hah? bang-"
'BUAKHH!!'
Paul keluar dari tempat persembunyian nya lalu dia menghantam kepala Fabio sekuat tenaga dengan tongkat baseball ditangan nya. Dalam satu hantaman pria itu tidak sadarkan diri, tubuh pria itu perlahan merosot Antonio memegangi tubuhnya agar tidak jatuh ketanah. Paul dan Antonio lalu menggotong nya masuk kedalam mobil, si germo di dudukan di kursi belakang bersama Paul, Paul lalu merogoh saku jas si germo dan mengambil kunci mobil Cadillac milik nya, ia lalu memberikan nya kepada Angelo.
"Kau bawa mobilnya ketempat brusky" Perintah Paul kepada Angelo yang di balas anggukan.
Angelo lalu berlari kearah mobil Cadillac dan membawanya pergi dari sana.
Antonio kemudian menyalakan mobil dan melaju meninggal kan tempat tersebut menuju tempat eksekusi di seven village.
__ADS_1
Di seven village sebuah kuburan dengan kedalam 3 meter telah disiapkan, beberapa meter dari samping kuburan, fanucci dan dua lainnya tengah bersender ke sebuah mobil ford T berwarna hitam, sembari ditemani dengan asap rokok untuk mengusir nyamuk.
Mobil Locco yang di tumpangi group Paul berhenti tepat di belakang mobil Ford T, Paul lalu keluar dari mobil.
"Hey fanucci, kau sudah menyiapkan lubangnya?"
"Seperti yang kau lihat paul" Balasnya sembari menunjuk lubang dengan isyarat kepala.
"Bagus, sekarang masukan si germo kedalam lubang" Perintah paul sembari berjalan kearah lubang kuburan, tanpa bertanya fanucci dan dua rekan nya segera melaksanakan perintah Sang capo.
"Enzo kesini" Enzo kemudian menghampiri paul dan berdiri di samping nya.
"Ada apa tuan paul?" Paul lalu mengeluarkan Revolver hitam miliknya dari balik jas.
"Aku telah mengajari mu cara menembak, kau berbakat dengan senjata api aku tidak bisa membantah itu, tapi hal terpenting dari menggunakan senjata ini adalah mental, untuk itulah aku ingin kau melakukan nya" Ucap Paul sembari menyodorkan revolver ditangan nya kepada Enzo.
Enzo dengan sedikit ragu mengambil revolver itu dari tangan Paul. Ia kemudian menondongkannya kearah Sang germo yang terbaling terlentang di dalam lubang.
Sang germo menggeliat dari dalam lubang, tampaknya ia telah sadar, pria itu kemudian membuka kain yang menutupi kepala nya, di bawah cahaya bulan Enzo bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, wajah yang familiar bagi dirinya. Sang germo melihat keatas, menatap lurus kearah wajah enzo.
"Enzo Itu kau?" Enzo terdiam saat pria itu menyebut namanya, enzo ingat sekarang, meski penampilan nya telah berubah tapi bagian dari dirinya menyadari kalau itu adalah ayahnya, si bangsat yang menelantarkan keluarga nya sendiri.
"Ini aku, Silvio Ayahmu nak" Ucap pria itu, hati enzo memanas, bukan karena rasa cinta atau rindu tapi karena benci, dirinya merasa kesal saat pria itu menyebut sebagai ayahnya, bajingan itu membiarkan keluarganya menderita sementara dia hidup enak.
"Ayahku telah lama mati,"
"Apa maksud mu ini ak-"
"Brisik kaprat sialan!!!, jangan kau bicara dengan mulut bangsat mu itu!!!!, saat ibu sekarat dan meninggal kau tidak pernah datang!!!padahal dia percaya padamu, ia tidak pernah menyalahkan mu bahkan sampai akhir hidup nya, dia selalu sabar selalu bilang padaku kalau kau akan kembali!!, Tapi!! Kau hidup enak dengan duniamu!!, meninggalkan kami berdua yang hidup dari belas kasihan orang lain!!" Teriak Enzo, ia mengeluarkan seluruh hal yang mengganjal di dalam hatinya, tanpa terasa air mata mulai berlinang di kelopak matanya. Seluruh orang disana terdiam mendengar teriakan Enzo.
Bayangan akan ibunya terlintas di benaknya, entah kenapa tangan nya terasa sangat berat untuk menarik pelatuk revolver, hatinya menjadi ragu, Paul yang melihat itu kemudian mendekati nya.
"Dia ayahmu?" Dengan sangat pelan anak itu mengangguk.
"Aku tahu memang sangat sulit bagi mu, tapi dia membunuh ibumu bukan? Dia membunuh nya dengan sangat menyakitkan, meninggalkan ibumu dan penyakit nya Aku yakin ibumu orang baik semoga dia tenang disana, dia membiarkan kalian kelaparan, meninggalkan dirimu yang terbaring sekarat di gang West side, sebagai kepala keluarga dia tidak bertanggung jawab, padahal kalau dia tidak meninggalkan kalian berdua mungkin ibumu masih hidup sekarang, dia meninggalkan istri yang tulus mencinta nya dan bermain dengan para sundal. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan nya, tapi kau bisa memulai ini dari awal, membangun kehidupan baru mu dan melupakan akan masa lalu, dulu kau bilang ingin menjadi orang terhormat?, aku sudah janji padamu dan kau tahu aku bukan orang yang mengingkari janji" Perlahan Enzo mulai menondongkan pistol nya kembali kepada Silvio. Meski tangan anak itu tampak gemetar.
"Enzo aku mohon aku akan berubah, tolong--"
"Lakukan Enzo, kau harus menghilangkan keraguanmu seperti orang serbia yang menembak Franz Ferdinand. Lakukan"
"Enzo-"
'DOR!!! DOR!!! DOR!!' tiga letusan terdengar dari ujung laras revolver yang mulai mengeluarkan asap, serpihan tengkorak dan otak tercecer di dalam lubang, Silvio tewas seketika di tangan anaknya sendiri.
Tubuh Enzo bergetar melihat jasad ayahnya, kenapa hatinya terasa sedih, kenapa? , anak itu lalu melihat kearah tangan nya yang gemetaran, tubuhnya merosot dan air mata perlahan keluar dari matanya, kenapa? Kenapa dia menangis untuk pria itu?
Entah Seberapa besar anak itu membenci silvio, dia menyadari, Pria itu tetaplah ayahnya, Darah pria itu mengalir di tubuhnya, dan itu adalah fakta yang tidak bisa ia rubah.
Di malam minggu bulan Desember yang dingin, di hari itu anak itu membunuh ayahnya sendiri dengan tangan nya.
__ADS_1