
Astrid lekas berlari menghampiri Michael, dengan rasa khawatir tergambar jelas di wajah anak perempuan itu, Astrid kemudian membantu Michael berdiri.
"Hey kamu tak apa-apa?," Tanya Astrid dengan nada khawatir, tangan mungilnya mencoba merapihkan mantel milik michael tapi di tepis oleh nya.
Dengan sempoyongan michael mengambil gelang kayu yang terjatuh tadi, lalu ia lekas memasukannya kedalam saku mantelnya.
"Astrid!! "
Muncul seorang wanita yang terlihat seperti salinan versi dewasa Astrid tapi bedanya ia memiliki rambut hitam tanpa ada warna pirang, wanita itu terlihat sangat cantik dan mungkin baru berumur 28 tahun.
Ia merupakan orang tua Astrid, dengan rasa khawatir dan marah di wajah ibunya, ia menghampiri putrinya.
"Sudah ibu bilang untuk tunggu di depan, kamu malah pergi jauh, ibu khawatir ibu pikir kamu diculik" Ucap nya sembari memeluk Astrid.
"Aku hanya jalan jalan sebentar ibu"
"Kamu selalu saja begitu, lain kali jangan pergi tanpa sepengetahuan ibu" Nasehat wanita itu sembari menyentil dahi anaknya.
"Aduh baik bu,"
Kemudian ibunya Astrid melihat kearah Michael.
Melihat tubuhnya yang penuh memar, dan kesakitan sembari tangan nya memegang perut ibu Astrid merasa kasihan kepada michael.
"Hey dik, lebih baik kita ke rumah sakit terlebih dahulu"
Tapi sayang perkataan nya tak di gubris oleh Michael, dengan berjalan sempoyongan michael beranjak meninggalkan tempat itu. Tapi astrid memegang tangan michael.
"Kamu harus ke rumah sakit" Ucapnya dengan nada kasihan, michael berhenti lalu melihat anak itu.
"Saya tidak tahu apa masalahnya sampai kamu dikroyok, tapi melihat luka di tubuh mu lebih baik kita memeriksanya terlebih dahulu, untuk biaya saya yang akan bayar" Ucap Ibu Astrid.
Michael hanya tertegun, baru kali ini ada orang asing yang khawatir terhadap dirinya, jujur saja rasa sakit di perutnya terasa sangat menusuk, Dengan pelan ia mengangguk, ia tidak punya pilihan, orang ini menawarkan pengobatan gratis, daripada menggunakan biaya sendiri yang cukup mahal bagi dirinya.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk ke mobil"
"Sini aku bantu" Astrid kemudian melingkari tangan michael ke pundaknya membantu nya berjalan.
Mereka bertiga bergegas ke arah mobil yang terparkir sekitar 30 meter dari gang kumuh itu, tepat disamping sebuah toko makanan.
sesampainya di sana Michael melihat Sebuah mobil Lancia Lambda keluaran tahun 1922, mobil tipe terbaru dan harganya yang terbilang cukup mahal, membuat michael bertanya tanya siapakah sebenarnya orang yang menolong nya ini?. mereka bertiga pun masuk kedalam kendaraan tersebut.
-rumah sakit Saint Helena, East lower side distrik-
10 menit berlalu, sinar mentari sudah mulai menembus awan mendung di langit dan menyinari kota, memberikan sebuah kehangatan di bulan November yang dingin ini, mobil Lambda itu menuju kearah parkiran depan Rumah sakit yang tidak terdapat begitu banyak kendaraan terparkir.
'Krieet' suara tarikan rem tangan berbunyi, mobil Lambda itu terparkir dengan sempurna.
Dengan di bopong oleh astrid mereka bertiga bergegas masuk rumah sakit Saint Helena, yang merupakan satu-satunya rumah sakit terbesar yang dimiliki kota East bay.
Setelah mereka masuk kedalam, ibu Astrid segela menghampiri perawat yang berdiri di meja Resepsionis
"Saya butuh perawatan cepat tanpa harus menunggu untuk anak laki laki itu, dan tentu saja saya akan membayar lebih"
Perawat itu kemudian menganggukkan kepala, ia lekas menuntut mereka bertiga ke ruang pemeriksaan. Michael di baringkan di kasur yang tersedia di ruangan itu.
Perawat itu segera keluar dari ruangan, tidak menjelang lama dokter dan 2 perawatnya masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
"Halo dik, saya dokter anton ijin akan melakukan pemeriksaan" Ucap dokter itu pada michael. Yang hanya dibalas dengan anggukan.
Setelah itu dokter Anton segera melakukan pemeriksaan, meskipun pada tahun itu sudah tersedia Rentogen yang ditemukan pada tahun 1895, tapi alat itu hanya tersedia di rumah sakit besar saja.
Luka lebam Michael telah selesai di obati oleh dua perawat tadi, sembari dokter melakukan pemeriksaan terhadap dirinya yang memakan waktu tiga puluh menit. Menarik nafas dokter Anton lalu tersenyum, kemudian ia menatap kearah ibunya Astrid.
"Adik ini tidak apa-apa, kemungkinan hanya lambungnya cidera ringan dan mengalami syok, beruntung benturan nya tidak terlalu keras." Ucap dokter Anton sembari mencatat obat yang harus di berikan.
"Tidak perlu di rawat kah dok? "
"Tidak, istirahat yang cukup saja dan minum obat teratur" Ucapnya sembari menyerahkan resep obat pada ibunya astrid.
"Kalau perutmu terasa masih sakit, kamu datang lagi kesini, baiklah kalau begitu terimakasih" Ucap dokter anton sembari beranjak dari ruangan pemeriksaan.
Akhirnya michael bisa bernafas lega saat mengetahui kalau ia hanya mengalami cidera ringan. Rasa sakitnya mulai agak tidak terasa saat dokter anton menyuruhnya meminum obat pereda rasa sakit sewaktu pemeriksaan tadi.
"Syukurlah nak, kamu tak mengalami cidera berat," ucap wanita itu sembari menyerahkan topo appolo milik michael.
"Saya sangat berterima kasih atas pertolongan anda,nyonya" Jawab michael sembari menundukan kepalanya.
"kalau begitu saya akan ambil obat dan administrasi terlebih dahulu, Astrid kamu tunggu di sini"
Ibu astrid kemudian pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengurus administrasi.
Astrid kemudian melihat kearah michael.
__ADS_1
"Hey, siapa namamu? " Tanya astrid
"Michael"
"Namaku Astrid Fiona Callista," Balas astrid.
"Itu nama yang sangat bagus" Ucap Michael, dirinya paham akan arti dari nama Astrid.
Astrid berasal dari kata Norse Kuno yang bermakna "Dewi Cantik".Fiona berarti Putih, suci, bersih, adil.dan Callista yang berarti Indah, cantik, mempesona. Nama anak itu penuh dengan perpaduan kebaikan, dari nama itulah Michael bisa memahami akan harapan orang tua Astrid bagi anaknya.
"Berapa umurmu?" Tanya Michael kepada Astrid.
"Lima tahun"
"Wah kamu seumuran adik perempuan ku, hari ini usianya tepat 5 tahun"
"Kamu punya adik perempuan? "
Michael selalu semangat saat ia membicarakan adiknya, sebagai seorang kakak tentu saja itu wajar. kemudian Mereka berdua membicarakan banyak hal mulai dari adik perempuan Michael sampai dengan hobi mereka. obrolan itu terus berlalu Sampai ibunya Astrid kembali.
Melihat ibunya kembali Astrid segera lompat dari atas kasur dan memegang tangan ibunya.
"mama, mama, Astrid juga ingin punya adik perempuan"
"eeh, kok tiba tiba bilang begitu? "
"soalnya Michael cerita tentang adik perempuannya, Astrid juga ingin punya Adik"
ibu Michael tidak membalas ucapan Astrid, ia hanya mengacak-acak rambut milik putrinya, yang membuat anak itu menggembungkan kedua pipinya karena kesal akan respon ibunya itu.
"Ayo pulang nak saya akan antar kamu sampai rumah" Ucap Ibu Astrid kepada Michael.
-DISTRIK HARLEM-
Mobil lambada hitam itu menembus jalanan kotor di bagian barat distrik harlem, dan menjadi pusat perhatian di tengah aktifitas orang orang disana.
"Um nyonya, saya akan turun di sini saja" Ucap Michael
"Rumah mu disini?"
"Ya,"
"Ini obatnya, jangan lupa minum secara teratur"ibu astrid menyerahkan obat yang berada di dalam tas nya kepada Michael.
"Sama-sama, jangan terlalu di pikirkan"
Michael pun segera turun dari mobil lambada hitam itu.
"Semoga kita ketemu lagi Michael!!!" Ucap Astrid sembari melambaikan tangan nya dari jendela mobil kursi bagian depan.
"Ya, terimakasih" ucap Michael. sembari Menundukkan kepalanya, setelah memberi klakson 2 kali mobil lambada hitam itu beranjak pergi sampai benar benar hilang dari pengelihatan Michael.
Selepas itu ia berjalan kearah gang sempit, melewati orang orang yang tepar karena mabuk mereka menghiasi gang kumuh nan becek ini, Michael melewati orang-orang ini dengan cukup hati-hati, orang mabuk memang sangat merepotkan.
di dalam sana terdapat sebuah apartemen dengan tinggi 5 lantai. Michael dan keluarganya sudah tinggal di apartemen ini selama kurang lebih satu setengah tahun. Dengan biaya sewa perbulan nya mencapai 40 dollar, dengan satu kamar tidur, satu Toilet dan dapur yang menyatu dengan ruang keluarga, tidak nyaman memang untuk di tempati 4 orang, tapi apartemen ini merupakan apartemen termurah di kota ini, setidaknya itu lebih baik dari pada tidur di jalanan atau di rumah sewa dekat pelabuhan yang kondisinya hampir roboh dan banyak sekali tikus.
Michael berdiri tepat di depan pintu apartemen yang terletak di lantai tiga bangunan tersebut, tulisan Romano terpampang di depan pintu itu, ia menarik nafas, sembari memikirkan alasan apa yang harus ia katakan untuk ibunya, setelah yakin ia membuka pintu apartemen.
"Aku pulang"
"Ben arrivato Michael" Ucap ibunya Michael sembari menghampiri anaknya.
Ibu Michael bernama asli Maria Talista, ia menikah dengan Vito Romano 8 tahun yang lalu di Sisilia Italia, selepas menikah Maria merubah nama belakangnya menjadi Romano, dan sekarang wanita itu telah berumur 29 tahun, selisih 2 tahun lebih muda dari pada suaminya.
"Oh Tuhan, kenapa wajahmu memar seperti ini Michael? " Ucap Maria sembari memegang wajah anaknya.
"Aku jatuh dari sepeda, jalan nya sangat licin wajahku terbentur aspal cukup keras"
"Kamu akhir-akhir ini sering pulang dalam keadaan seperti ini, itu benar benar aneh, jujur pada ibu Michael apa yang sebenarnya terjadi"
"Iya itu benar bu, aku hanya kurang fokus lagi pula jalan nya sangat licin karena hujan" Kelak Michael ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Maria menatap lekat kearah kedua bola mata anaknya, memastikan kalau ia tidak berbohong, Michael berusaha keras memasang ekspresi datar, agar ibunya percaya dengan alasan yang diutarakannya.
"Hah..., lain kali kamu harus hati-hati, sini ibu kompres luka mu dengan air hangat"
"Iya, Terima kasih bu" Ucap Michael lega, jujur saja setiap mukanya memar di hajar gang si luca ia selalu berbohong terhadap orang tuanya, mulai dari jatuh dari selokan, terpleset, dan jatuh dari pohon saat mencoba menyelamatkan anak kucing yang nyangkut. terkadang ia merasa bersalah akan hal itu.
Michael lekas duduk di sofa kusam, sembari melihat ibunya yang tengah mengucurkan air panas dari termos ke sebuah baskom, kemudian mengambil handuk kecil yang berada di atas laci.
Maria lalu menghampiri Michael, dia lalu duduk di samping putranya, air kompresan nya di letakan di atas sofa,ia kemudian mencelupkan handuk kecil itu kedalam baskom setelah itu memeratnya, dengan perlahan ia mulai mengompres luka-luka lebam di wajah Michael
"Dimana isabela? " Tanya michael.
__ADS_1
"Dia sedang tidur, tampaknya kelelahan setelah membantu ibu merapihkan rumah, kamu tahu ia menyapu rumah ini sendirian."
"Ia cukup rajin, " Ucap michael sembari tersenyum kecil.
"Michael, ibu minta maaf tidak bisa menyekolahkan mu, padahal ibu sangat ingin kamu mendapatkan pendidikan yang layak," Ucap ibunya dengan raut sedih.
"Tidak apa bu, aku masih punya guru terbaik di dunia ini, ibu selalu meluangkan waktu untuk mengajari ku banyak hal, setidaknya aku bisa membaca dan menghitung"
Maria meletakan tangan kanan nya diatas kepala Michael, lalu ia mengacak-acak rambut putranya itu sembari tersenyum.
"Ibu akan selalu berdoa untukmu, semoga suatu hari nanti kamu akan jadi orang besar, memiliki kehidupan yang lebih baik daripada sekarang,dan bisa berguna serta menolong orang lain. " Ucap Maria dengan penuh harapan di wajahnya.
"Amin" Jawab Michael sembari memejamkan matanya.
"Ah, ibu bisa mengajariku tentang perkalian?" Tanya michael.
"Tentu saja, ibu akan mengajar mu semampu yang ibu bisa" Jawab Maria sembari tersenyum.
-SORE HARI PUKUL (15.30) -
Maria tengah memotong, bawang merah, bawang bombay di meja dapur, michael yang tengah mengerjakan soal perkalian dari ibunya merasa penasaran ia kemudian menghampiri ibunya tersebut.
"Sedang memasak apa bu?
"Sup Vegetarian Minestrone, kebetulan ibu dapat bahan sisa dari restoran, isabela menyukai sayuran karena sekarang hari ulang tahunnya, ibu kepikiran untuk membuat ini"
"Boleh aku membantu,"
"Soal mu bagaimana?"
"Nanti aku kerjakan," Ucap michael sembari mengambil pisau di rak tempat piring.
"Kalau begitu potong kasar wortel-wortel ini" Ucap isabela sembari memberikan 6 buah wortel, yang bagian bagian nya banyak di buang karena busuk, setidaknya wortel masih bisa dimakan.
Sudah hampir 15 menit ibu anak itu bergelut di dapur, harum soup vegetarian yang tengah dimasak merebak ke seisi ruangan, isabela yang tengah tertidur dikamar terbangun karena aroma yang begitu enak tersebut.
Maria adalah, seorang pelayan restouran, terkadang ia juga membantu sang koki memasak, oleh karena itu kemampuan memasaknya cukup bagus. Ia mampu membuat bahan bahan yang sudah berkualitas buruk itu menjadi hidangan yang enak bagi keluarganya.
"Ibu sedang masak apa? " Tanya isabela yang sudah berdiri di depan kamar.
"Kamu sudah bangun putri ibu, michael ajak dulu isabela main sampai sup nya matang sekitar 5 menit lagi"
"Baik bu" Ucap michael sembari menghampiri adik kecilnya.
"Aku Pulang!!! " Teriak laki laki sembari di ikuti suara pintu terbuka.
"Yay ayah dah pulang" Ucap isabela sembari berlari kearah Vito.
"Putri kecil ayah" Ucapnya sembari menciumi pipi putrinya itu.
"tumben pulang cepat? " Tanya Maria kepada suaminya
"Hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan" Jawab Vito sembari mencium kening istrinya, ia kemudian merogoh uang senilai 10.5 dollar dari sakunya lalu menyerahkan nya pada maria.
"Ini upah minggu ini," Ucapnya.
Vito bekerja di pelabuhan dengan bayaran 14 dollar per minggu, atau 2 dollar perhari, upah itu di bayarkan tiap minggunya. Ia selalu menyerahkan uang itu kepada istrinya setiap kali gajian, sedangkan Maria mendapatkan upah perminggu mencapai 56 dollar, 8 dollar perharinya. tempat Maria bekerja memang sering memberi upah karyawan cukup tinggi diantara yang lain, mungkin Dikarenakan pemiliknya yang baik hati dan tidak membedakan imigran dan pribumi.
dalam satu bulan mereka mendapatkan 280 dollar, di kurangi biaya sewa apartemen 40 dollar sisa 240 dollar, di kurangi untuk biaya listrik dan air perbulan, serta biaya bahan makanan sehari harinya, setidaknya mereka punya uang dingin sebesar 20 sampai 30 dollar dalam satu bulan untuk ditabungkan.
"Waktunya makan, soup nya sudah matang nih" Ucap Maria sembari menyiapkan piring di meja makan"
"Tampaknya menu kali ini enak, oh tunggu ayah punya hadiah untuk isabela" Ucap Vito merogoh sesuatu dari saku celana nya, sebuah kalung sederhana dengan ukiran tangan di atas sebuah kayu papan kecil bertulisan S, benang sederhana digunakan sebagai pengikatnya. Meski begitu isabela tampak senang sekali menerima nya.
"Bagaimana?, ayah yang bikin loh" Ucapnya sembari memasangkan kalung itu ke leher putrinya.
"Kalau ibu...." Maria mengeluarkan sepasang sepatu yang masih tampak bagus dari dalam lemari, sepatu ini pemberian dari istri pemilik restoran tempat ia bekerja yang kebetulan juga mempunyai anak perempuan seumuran dengan isabela, sepatunya sudah agak rusak tapi Maria memperbaikinya saat waktu luang.
"Giliran kakak ya" Ucap michael agak malu, ia kemudian mengeluarkan gelang kayu yang tadi di belinya di jalan kemudian memasangkan nya di tangan kanan isabela.
"Selamat ulang tahuan Putri/adik kecilku" Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Telimakasih Ibu, Ayah, kakak, aku senang sekali' ucap nya dengan nada cadel, isabela merasa sangat senang sekali akan hadiah dari keluarganya.
Di tengah keluarga yang serba pas-pasan ini Michael selalu bersyukur. Ia mempunyai keluarga yang baik, saling melengkapi dan menyayangi satu sama lain, ia sangat bersyukur meski tidak memiliki begitu banyak uang, tapi kehangatan ini lah yang selalu ia inginkan, tanpa sadar air matanya terasa akan jatuh ia buru buru mengelap kedua matanya.
bagi Michael harta terbesar untuk dirinya adalah keluarga.
"Kalau begitu mari makan" Ucap Vito yang kemudian duduk di kursi meja makan di ikuti oleh yang lain nya.
Selepas itu mereka berempat berdoa terlebih dahulu sebelum menyantap makanan.
Perut michael mulai terasa sakit, ia belum meminun obat pemberian dokter anton, michael akan meminumnya secara sembunyi sembunyi di kamar mandi setelah ia makan, michael tidak ingin keluargnya khawatir terhadap dirinya...
__ADS_1