Omerta: City Of Gangsters

Omerta: City Of Gangsters
Sahabat Lama


__ADS_3

Hotel hillton garden, central side


Sebastian mayer tengah berendam di kolam renang lantai atas hotel, cocktail rasa strawbery diatas nampan mengambang di depan nya, tubuh atletis dan kepopulerannya telah membuat dirinya terlihat mencolok, ia bahkan bisa merasakan tatapan-tatapan cabul dari kaum hawa terhadap dirinya.


Tentu saja siapa yang tidak mengenal Sebastian mayer?, penyanyi pop yang tengah naik daun, suara merdu yang ia miliki serta pesona italia nya yang mampu meluluhkan banyak hati wanita. Ia punya segalanya untuk menjadi selebriti papan atas, Hanya tinggal beberapa langkah lagi bagi dirinya untuk mencapai tangga kesuksesan Hollywood.


Bahkan bebereapa wanita-wanita nakal itu berani berenang begitu dekat dengan nya, mencoba mendapatakan perhatiannya.


Tapi ia tidak peduli dengan mereka, dan juga tatapan buas itu, ia tidak peduli tentang apa yang orang-orang gosip kan tentang dirinya sekarang. Pikiranya hanya terfokus pada apa yang ayah baptis nya katakan.


Ia merasa sangat bersalah kepada Sahabat nya,sahabat yang selalu bersama dirinya dari kanak-kanak sampai dewasa, achellio Santiago, teman yang sering menjadi duet bernyanyinya. Ia bahkan tidak tahu tentang kematian ibunya.


Mayer menghela nafas "Apa yang harus ku katakan padanya?"


Ia kemudian melihat arloji anti air yang melingkar di tangan kanannya. Jarum jam telah menunjukan setengah enam sore. Mayer kemudian meminum cocktail nya sampai habis, setelah itu ia beranjak dari kolam renang.air mengalir melewati sela sela ototnya memikat para kaum hawa yang berada di sana.


Mayer mengelap tubuh basahnya dengan handuk sembari berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia lekas memakai pakaian kemeja bermotif bunga musim panas dan celana pendek selutut, untuk menutup identitas dirinya ia memakai topi bucket serta memakai masker yang menutupi wajahnya.


Setelah berpakaian ia lalu mengunci pintu kamar hotel, dan berjalan menuju parkiran, begitu sampai di parkiran ia naik ke mobil ford empat pintu sewaan nya dan melesat menuju rumah achellio di jalan fellmore, di West Side, ia masih ingat dulu Santiago sedang membangun rumah di daerah sana.


Sesampainya di West Side, ia berkendara ke lokasi rumah Santiago, tapi, ia tidak menemukan rumah di sana, hanya ada barisan pertokoan. Mayer mengerinyitkan dahi mencoba mengingat kembali sembari melihat ke sekeliling.


Patokan nya adalah taman di sebelah utara, Mayer turun dari mobil, ia menghampiri seorang pemilik toko bunga, dan seorang pria tua yang berumur 70 tahunan yang tengah duduk di kursi depan toko tersebut.


Mayer bertanya kepada pemilik toko bunga "Permisi pak, apa anda tahu tempat tinggal achilleo Santiago?" Pemilik toko bunga menggeleng dan melihat kearah pria yang lebih tua.


"Coba kamu tanyakan ke orang tua itu, ia tuan tanah di sini" Jawabnya. Mayer mengangguk ia lalu menghampiri si kakek yang tengah duduk di kursi.


"Permisi apa anda tahu dengan orang yang bernama achilleo santiago?"


Dahi pria tua itu mengkerut, ia mencoba mengingat sesuatu "Nama nya seperti tidak asing, tunggu sebentar ingatanku sudah begitu samar karena faktor usia" Ucapnya di ikuti Tawa.


Kedua matanya melebar ia tampaknya telah mengingat sesuatu "achilleo, maksudmu putra dari tuan Heagn?"


"Ya, apa anda tahu tentang nya?"


"Ah, aku membeli tanah ini darinya, dulu dia tengah membangun rumah di sini, tapi entah kenapa dia tiba-tiba menjual nya dengan harga murah, kemudian aku membelinya dan membangun pertokoan di sini" Jelas kakek itu. Mayer mengangguk, jadi achilleo menjual tanahnya, apa dia masih tinggal di apartemen lama nya?. Pikir Mayer dalam hati.


"Terimakasih pak" Ucap Mayer sembari menundukan kepala.


"Sama-sama" Balas kakek tua itu, Mayer lalu kembali naik kedalam mobilnya. Ia lalu segera melesat menuju tempat tinggal lama Santiago di apartemen yang terletak di harlem.


#distrik harlem bagian utara


Meski sudah dua tahun berlalu, Mayer masih mengingat betul lokasi tempat tinggal dari santiago.


Dari kejauhan Mayer bisa melihat barisa apartement setinggi lima lantai yang berjejer. Mobil ford yang ia kendarai melaju pelan menyusuri baris apartement di jalan itu sembari menghitung setiap blok yang ia lewati, ia masih ingat santiago tinggal di blok apartemen nomber lima.


Mobil ford yang di kendarai Mayer berhenti di Apartement bercat merah tua. Ia lalu keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam apartment itu. Mayer menaiki tangga sampai lantai empat dan berhenti di depan pintu paling ujung di lantai itu. Nama Santiago Tertulis dalam papan nama kayu yang tergantung di pintu.


Ternyata dia masih tinggal di rumah lamanya pikir Mayer.

__ADS_1


Mayer berpikir sejenak, dengan rasa ragu ia mengetuk pintu itu, satu kali, dua kali sampai ke tiga kali tidak ada jawaban dari sang pemilik apartment.


"Apa dia tidak ada rumah?" Pikir Mayer dalam hati. Ia lalu mengetuk pintu itu sekali lagi dengan cukup keras.


Karena tidak ada balasan Mayer pikir santiago tidak berada di apertemen nya, ia berbalik arah untuk kembali pulang ke tempat nya menginap. Tapi begitu dia berbalik arah pintu terbuka. Seorang pria dengan rambut gondrong, hidung mancung mengintip keluar.


"Woy siapa kau?" Tanya nya ngegas. Bau alkohol merebak dari mulutnya.


Mayer yang mengenali suara itu lekas membalikan badan.


"santiago?" Mayer balik bertanya.


"Hah? Kenapa kau tau nama ku?" Mayer lalu melepaskan masker dan topi yang di pakainya, Santiago mengerjapkan mata, meski sudah begitu lama ia masih bisa mengenali orang di depanya ini.


"Mayer? Wah kamu balik dari chicago" Mereka berdua berjabat tangan.


"Ya sudah lama kita tidak bertemu kau masih ingat rupa ku ternyata"


"Kita ngobrol di dalam aja" Ucap Santiago sembari membukakan pintu apertmen nya. Setelah Mayer masuk kedalam ia menutup kembali pintu nya.


"Kau datang kapan?"


"Tadi pagi," Jawab mayer Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruang tengah, sembari berjalan Mayer melihat ke sekeliling apertmen, apartemen Santiago bercat pink dengan foto-foto dirinya sewaktu kecil, tidak ada yang berubah disini semuanya masih sama seperti dulu, setelah sampai di ruang tengah santiago menyuruh Mayer untuk duduk di sofa, sedangkan Santiago berjalan sepoyongan menuju dapur untuk membawakan minum.


Mayer melihat kearah Santiago yang kembali dari dapur, teman masa kecilnya itu telah banyak berubah, dulu Santiago sangat menjaga rambutnya, sekarang ia membiarkan nya sampai panjang dan kucel, bahkan tubuhnya terlihat sangat kurus. Santiago yang berjalan sempoyongan hampir terjatuh, Mayer yang melihat itu dengan sigap memegangi tubuhnya.


"Apa kamu Baik-baik saja?" Tanya Mayer.


Mayer menghela nafas,"Aku minta maaf tidak dapat melayat di hari ibumu meninggal, aku terlalu sibuk dengan urusan ku, bahkan aku mengetahui itu setelah enam bulan berlalu, aku benar-benar minta maaf"


"Tidak apa Mayer, jangan terlalu memikirkan itu, kau tahu setelah ibuku meninggal, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Karena sejak dulu aku bekerja untuk ibuku, sejak itulah aku menjadi seorang peminum, bahkan aku sendiri tidak tahu kapan terakhir kali aku bebas dari pengaruh alkohol, setiap aku sadar aku selalu teringat akan wajahnya, yang bisa kulakukan hanyalah lari, lari dari kenyataan itu" Ucapnya sembari terisak.


"Sesuatu terasa hilang dalam diriku.... " Terus nya sembari menghapus air matanya.


Mayer hanya bisa diam, ia bisa membayangkan betapa besarnya kesedihan dari sahabatnya itu, sejak dulu Santiago sangat menyanyangi ibunya, ayahnya adalah seorang kontraktor, ia terbunuh dalam suatu insiden saat seminggu sebelum kelulusan nya, setelah keluar dari sekolah ia meneruskan usaha ayahnya, dan sekarang tampaknya ia telah bangkrut.


Dan entah kenapa melihat sahabatnya menjadi seperti ini Mayer merasa bersalah akan hal itu, ia harus membuat sahabatnya ini kembali seperti dulu kala.


"Bila kamu terus lari dari kenyataan, kamu hanya akan terus terjebak di sana"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?, apa kau punya jalan keluar untuk itu?"


Mayer berdiri dari tempat duduknya"Pertama kita cari angin segar terlebih dahulu, mengurung diri dalam apartemen sempit ini tidak akan membuatmu lebih baik" Ia lalu menghampiri Santiago yang duduk di sebrang nya.


"Ayo kawan" Ucap Mayer sembari mengulurkan tangan nya membantu Santiago untuk berdiri.


"Baiklah" Santiago meraih tangan sahabatnya, ia lalu meminum satu gelas air putih di atas meja untuk meringankan rasa pusing dari alkohol. Setelah itu mereka berdua keluar dari apartemen menuju mobil sewaan Mayer.


Mereka berdua berkendara menuju distrik seven village, distrik perbukitan dengan udara segar serta pemandangan yang sangat indah, tempat yang sangat cocok untuk menjernihkan pikiran. Mobil yang mereka tumpangi melaju sangat pelan untuk menikmati setiap pemandangan itu.


Setelah beberapa belas menit berkendara Mayer melihat kearah Santiago" Bagaiamana apa pikiranmu sudah lebih tenang?" Tanya nya.

__ADS_1


Santiago tersenyum"Ya ku pikir ini cukup menenangkan" Jawabnya.


"Bagaiamana dengan karir mu mayer?" Tanya Santiago, Mayer menghela nafas ia kemudian menceritakan masalah yang dialaminya.


"Pak tua itu benar-benar bajingan, bila itu aku mungkin aku akan menghajarnya dan menelanjangi nya setelah itu aku akan ikat pak tua itu di tiang listrik" Kata Santiago sembari di ikuti gelak tawa oleh mereka berdua.


"Kau tak akan bisa melakukan hal itu kawan, itu akan mengorbankan reputasi mu, terlebih dia punya banyak koneksi dengan hakim dan pengacara di Chicago"


"Kau bekerja dimana sekarang?" Tanya Mayer. Santiago kemudian melihat ke samping jendela, melihat sinar senja yang melukis langit memancarkan sebuah ketenangan.


"Aku bekerja menjadi supir truk, usaha yang di wariskan dari ayahku bangkrut, semuanya kacau aku terkadang berpikir aku tidak mempunyai kemampuan dalam hal ini?, berbanding terbalik dengan ku ayahku adalah seorang pekerja keras, ia ambisius dan juga seorang yang pintar ia membawa bisnis yang ia rintis semakin besar, mungkin karena hal itulah dirinya di singkirkan. Aku tidak mempunyai kemampuan apa-apa kau tahu, aku hanya bisa mengemudi dan beginilah aku berakhir"


"Tidak, kau punya bakat Santiago" Kata Mayer.


"Kau tahu hobi mu, dulu kau senang menulis sebuah lagu, kau bisa menjadikan apapun yang ada dalam pikiran mu menjadi sebuah lagu itulah bakatmu" Terus Mayer, yang di balas senyuman oleh Santiago.


"Kau masih ingat dengan lagu yang dulu sering kita nyanyikan?"


"Tentu, mau menyanyikan nya? "


~Bak surga di antara barisan gunung-gunung, sungai mengalir di idlwood kehidupan telah tua di sana, lebih tua dari pepohonan, lebih muda dari pegunungan, tumbuh bak hembusan angin~


~jalan desa telah membawa ku pulang, ketempat aku dibesarkan, bawa aku pulang wahai jalan pedesaan~


~semua kenangan terkumpul di sekelilingnya, ibu yang tengah memasak, ayah yang sedang memancing dan aku yang bermain dengan sahabatku~


~biru dan tenang, hitam dan berkabut terlukis di langit~


~jalan desa membawaku pulang, ketempat aku dibesarkan, bawa aku pulang wahai jalan pedesaan~


~ku dengar suaranya, di pagi hari dia memanggilku, Radio ingatkanku akan rumahku yang jauh di sana, di saat aku berkendara ku susuri jalan ku dapat perasaan bahwa aku harusnya sampai di rumah, kemarin, kemarin, kemarin~


~jalan desa membawaku pulang, ketempat aku dibesarkan, bawa aku pulang wahai jalan pedesaan~


Nyanyi mereka berdua, lagu yang tercipta sejak mereka kecil, di tengah karya wisata sekolah ke pedesaan di Idllwood. Lagu yang tercipta dari persahabatan mereka.


"Sudah ku bilangkan, itu lagu yang dulu kamu ciptakan, itulah bakatmu"


"Hahaha, aku hanya mengutarakan apa yang ada dalam pikiran ku"


"Kau mau ikut aku ke Chicago? Aku butuh seorang asisten dalam menulis lagu" Tawar Mayer.


"Dan tentu saja kau akan mendapatkan bagian dari karyamu" Terus nya, Santiago nampak berpikir sejenak. Ia melihat ke sekeliling. Setelah itu ia mengangguk mantap.


"Kalau kau tidak keberatan kawanku"


"Tentu saja tidak"


"Ku pastikan lagu yang kutulis akan menjadi karya masterpiece" Ucapnya dengan penuh semangat,


"Ya kita nantikan itu," Balas Mayer, ia telah merasa kalau sahabatnya ini telah mempunyai tujuan dari hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2