Omerta: City Of Gangsters

Omerta: City Of Gangsters
Ayah Baptis


__ADS_3

Rabu, 17 November 1923, Chicago, brookfield, studio musik van Allen.


Seorang pria dengan cukuran rambut undercut, memiliki tinggi 180 cm serta tubuh yang cukup berisi, tengah berdebat dengan seorang pria yang lebih tua darinya.


"Sudah kubilang aku ingin keluar dari studio musik sialan ini!!"


"Tentu saja kalau kau lakukan itu kami akan menuntut mu, kemarin kau setuju dan menandatangani perpanjangan kontrak yang kuberikan" Ucap pria tua itu sembari menunjukan salinan kontrak di tangannya.


Kemudian Pria yang lebih muda terlihat emosi.


"Sialan kau dasar bajingan tua licik!!!, itu tidak legal kau membuatku mabuk dan memaksaku untuk menandatangani kertas itu!!!" Pria muda itu mengangkat kerah baju lawan bicaranya.


Si pria tua tersenyum mengejek. "Kau mau memukulku? Lihat orang-orang melihat kita, reputasi mu bisa hancur karena hal itu"


Sang pria muda hanya bisa mendesis dan melepaskan genggamanya dari kerah baju orang tua itu. Ia lalu bergegas pergi dari sana.


Pria muda itu bernama sebastian mayer seorang penyanyi pop yang tengah naik daun, dan orang tua itu adalah manager nya bernama abraham colinham, mayer ingin mengakhiri kontrak dari studio milik pria tua itu, karena ia mendapatkan tawaran dari sebuah studio besar di California tapi si rubah itu menjebaknya, dia mengundang mayer ke sebuah klub malam dengan dalih perayaan atas keberhasilan dirinya, membuatnya mabuk dan secara tidak sadar ia menandatangani perjanjian kontrak baru.


Terlebih Dalam Perjanjian kontrak itu, ia mendapatkan sebagian kecil royalti dari album miliknya. Hal itu membuat dia benar-benar kesal.


"Bangsat, si bangsat sialan" Gerutu mayer dalam hati.


Sekarang apa yang harus ia lakukan?, sejujurnya bila ia mengadu ke ayah baptis nya semua ini akan selesai dengan cepat. Ya dia harus pergi dan meminta pertolongan darinya.


Don carlo, ayah baptis nya akan bisa menyelesaikan ini semua, pria tua itu tidak mengetahui kalau mayer mempunyai hubungan dengan salah satu keluarga mafia italia, terlebih hubungan nya dengan don carlo yang cukup sakral.


Mayer di besarkan oleh don carlo, ia menjadi ayah baptisnya, ia juga yang membawanya ke industri selebriti melalui seluruh koneksi yang ia punya, tapi sejak mayer pindah ke chicago ia sangat jarang menghubungi ayah baptisnya itu.


Don carlo menjaga jarak dengan mayer setelah namanya mulai bersinar, semua itu demi nama baik anak baptisnya itu, ia tidak ingin berita buruk muncul dan mempengaruhi karir nya.


Tapi sekarang ia tidak punya pilihan, untuk melawan manager nya tentu ia harus meminta bantuan kepada sosok yang lebih tinggi dan berkuasa dari nya. Sosok yang bisa menundukan polisi dan hukum, serta jaringan koneksi di pemerintahan yang kuat. Tidak ada sosok yang kuat yang ia kenal selain don carlo. Oleh karena itu besok ia akan pergi ke East bay sembari mengunjungi ayah baptisnya itu.


Mayer kembali pulang ke rumah mewah miliknya di grantpark bagian selatan chicago. Sesampai nya di sana ia segera meredakan emosi nya dengan bermain piano sembari mencari inspirasi untuk menulis lagu barunya.


#


Esok hari, East Bay, restoran Anthony&Frank keluarga genovese,


Dua orang memakai setelan jas hitam dengan topi fedora tengah duduk di kursi dekat tangga menuju lantai dua, mata mereka melihat sekitar mengawasi gerak gerik orang-orang, pria berpakaian sama juga terlihat di setiap ujung ruangan di restoran itu.


Di sebuah ruangan di lantai ke tiga paling ujung dari restouran ini terdapat kantor, yang dimana Don carlo selalu berada di sana. Itulah kenapa tempat ini sangat di jaga ketat.


Don Carlo tengah duduk di meja kerjanya, ia tengah memikirkan tentang anak-anaknya, anthony sekarang telah berumur 17, anthony tumbuh sesuai harapan ayahnya, ia tidak membuat banyak masalah di sekolah dan mampu menjadi ketua OSIS, menjadikanya memiliki kemampuan yang sangat di perlukan di keluarga, kemampuan berorganisasi, dan menjadi seorang pemimpin, sedangkan adiknya Frank berumur 16 tahun malah menjadi pembuat masalah.


Don carlo selalu merasa pusing saat memikirkan anak keduanya itu, dia sering terlibat aksi kriminal bersama teman-temanya bahkan yang terbaru dia mencoba mencuri sebuah mobil yang membuatnya di tahan selama beberapa minggu.


Ia selalu berpikir kenapa dia nekat mencoba mencuri mobil yang bila di jual tidak akan lebih dari beberapa ratus dollar? Dan uang itu harus dibagi dengan kawan-kawanya yang mungkin ia hanya mendapatkan beberapa puluh dollar, padahal ayahnya bisa memberinya seribu dollar bila ia Memintanya.


Saat Mendengar kabar itu dari leo ia langsung marah besar dan menegur anak keduanya itu, tapi Frank selalu mengelak ia selalu menjawab "aku tidak mau mendengar itu dari seorang pemimpin penjahat" Tentu saja Don carlo tidak bisa membantah omongan anaknya.


Frank sangat tertarik dengan bisnis keluarga, Don sendiri sudah bisa menebak, begitu keluar anak keduanya itu pasti akan meminta kepada dirinya untuk membantu urusan keluarga. Memikirkan anak keduanya ini membuat Don menghela nafas. Pikiranya beralih kepada anak bungsu nya, carmela genovese yang baru berusia 14 tahun, dia tumbuh menjadi wanita yang cantik sama seperti ibunya, Don sering memberikan perhatian lebih untuk anak perempuannya, ia tidak terlalu mengerti tentang pelajaran wanita jadi ia serahkan hal itu pada istrinya, tapi Don carlo selalu mengingatkan putrinya tentang kehormatan keluarga.

__ADS_1


Suara ketukan pintu mengalihkan pikiran Don carlo.


"Don utusan dari keluarga new York ingin bertemu dengan mu"


Don carlo mengerinyitkan dahinya, mengapa keluarga mafia dari new York datang kesini?, mafia new York sudah menjadi pusat perhatian sepanjang tahun 1920 di Amerika, persaingan antara morello dan D aquila telah menimbulkan banyak tragedi.


"Persilahkan masuk" Perintah Don carlo. Pintu lalu terbuka, seorang pria berambut cepak dengan stelan jas berwarna putih berjalan masuk kedalam kantor, di ikuti oleh dua orang anak buah Don carlo di belakangnya, utusan itu berdiri didepan meja kerja sang Don, salah satu anak buah Don carlo berdiri tepat di belakang utusan itu seperti sudah siap untuk menikam mangsanya, sedangkan yang lainnya menutup pintu ruangan dan berdiri di sana mengawasi dari belakang.


Don carlo memberi isyarat kepada pria itu untuk memperkenalkan dirinya.


"Aku perwakilan dari keluarga D Aquila, namaku Umberto Valenti"


Mendengar itu Don carlo mengangguk, ia tahu siapa Umberto Valenti, salah satu capo dari Don Salvatore D aquila. Tampaknya aquila ingin membicarakan sesuatu yang penting sampai mengutus langsung bawahan terpercaya nya, don carlo lalu berdiri dari kursi kerjanya dan duduk di sofa.


"Selamat datang di East bay, kau mau minum segelas whisky?" Tanya Don carlo sembari memberi isyarat kepada Valenti untuk duduk di depan nya.


"Ku pikir itu tidak masalah" Balas Valenti sembari duduk di sofa.


Don carlo menyuruh anak buahnya untuk mengambil satu botol whisky dan dua buah gelas dari lemari, anak buahnya mengangguk ia lalu mengambilnya dan meletakannya di atas meja sembari menuangkanya satu persatu kedalam gelas.


"Kau bersama rombongan?"


"Delapan orang semuanya berada di bawah, orang-orang anda bilang hanya aku yang bisa masuk kesini,"


"Seharusnya kau memberi tahu ku terlebih dahulu, aku bisa menyiapkan tempat untuk pertemuan"


Valenti mengernyitkan dahi "Tampaknya Don aquila lupa memberi tahu anda"


Salvatore D aquila dulunya adalah kapten dari kelompok morello, sebelum akhirnya dia memisahkan diri dari keluarga morello saat si rubah tua giuseppe morello di penjara pada tahun 1910. melalui keluarga kriminal yang ia bangun ia mengklaim gelar capo de capi (bos dari bos) di newyork yang sebelumnya di pegang oleh morello. Pada tahun 1920 giuseppe dibebaskan dan D aquila mencoba Membunuhnya, hal itu menyebabkan konflik antar dua keluarga.


"Dia sangat sehat, lagipula situasi di newyork sudah cukup mereda, perang menguras banyak uang dan menghancurkan banyak bisnis, kami dan morello merasakan hal itu"


"Lalu apa tujuan kalian datang kepadaku? " Tanya Don carlo sembari meneguk whiskey miliknya. Raut wajah Valenti berubah menjadi serius.


"Bisnis, Don aquila ingin mengajak anda untuk berinvstasi pada casino yang akan di bangun oleh keluarga D aquila di Brooklyn" Valenti meneguk whisky miliknya untuk menghormati sang Don.


"Berapa banyak?"


"Delapan ratus ribu dollar, anda akan mendapatkan 45 persen bagian dari kepemilikan kasino, untuk kemanan keluarga D aquila akan menjamin nya, anda juga bisa bisa menempatkan orang-orang anda disana untuk mengawasi pengelolaan kasino" Jelas Valenti.


Don carlo berpikir sejenak, tawaran dari keluarga aquila cukup menarik bagi dirinya, sebenarnya ia sudah punya jawaban di pikirannya, tapi dia harus mendengar pendapat dari konsleor dan para rezim terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.


"Katakan pada D aquila, bila hari sabtu aku datang menemuinya di newyork berarti aku setuju dengan tawaran itu, tapi bila aku tidak datang di hari itu kalian pasti tahu apa jawaban ku"


Valenti mengangguk mendengar jawaban itu, ia kemudian meminum kembali seteguk whisky, selepas itu ia berdiri.


"Sungguh Don sebuah kehormatan bertemu dengan anda, aku akan menyampaikan pesan itu kepada Don aquila"


"Katakan pada anak buah mu untuk memesan apa yang mereka mau, aku yang akan membayarnya"


"Grazie Don carlo, kami menantikan jawaban anda" Ucap Valenti sembari berjalan mundur kearah pintu keluar.

__ADS_1


"Prego"


Dua bawahnya mengikuti Valenti keluar tapi Don carlo memanggil salah satu dari mereka. Orang yang di panggil mendekat.


"Sampaikan kepada para rezim dan Consigulere untuk berkumpul di sini sore nanti" Bisik Don carlo pada pria itu. Dia mengangguk lalu lekas pergi dari ruangan.


Don carlo berjalan kearah rak buku ia kemudian melihat koleksi buku miliknya, mata hitamnya tertuju pada buku berwarna hitam berjudul The inner law, William Harben nama sang penulis tertera di bawah judul serta tahun terbit 1915. kemudian dia mengambil buku tersebut dan kembali duduk di kursi kerjanya selepas itu dia membaca buku itu dari halaman pertama.


Halaman demi halaman telah ia lewati sudah hampir setengah jam ia membaca buku tersebut sampai suara ketukan kembali mengalihkan perhatiannya.


"Sebastian Mayer Ingin bertemu dengan anda" Ucap anak buah nya dari balik pintu.


"Suruh dia masuk" Perintah Don carlo ia lalu menaruh buku yang di baca nya ke atas meja kerja, selepas itu ia berdiri dari kursi nya.


Pintu kembali terbuka, pria dengan cukuran rambut undercut serta memiliki wajah segitiga itu tersenyum sembari menghampiri Don carlo, Sebastian lalu memeluk Don carlo layaknya seorang anak yang baru bertemu ayahnya setelah sekian tahun.


"Sudah dua tahun kau tidak kembali kesini, bagaimana kabarmu di chicago?" Tanya Don carlo sembari melepaskan pelukan dari anak baptisnya.


Wajah Mayer yang terlihat bahagia berubah menjadi muram. Melihat perubahan itu Don carlo mengerti kalau anak baptisnya itu dalam masalah. Ia lalu menuangkan whisky kedalam gelas


"Apakah itu wajah yang di tunjukan oleh artis yang baru saja bersinar?," Don carlo memberikan segelas whisky kepada mayer. Ia lalu meminum satu teguk tapi mulutnya masih terasa berat untuk mengeluarkan keluhan nya, akhirnya ia menghabiskan satu gelas langsung.


"katakan padaku apa yang terjadi?" Tanya Don carlo.


Setelah itu Mayer menghela nafas "ini tentang menajer ku, aku terjebak dalam sebuah siasat busuk, ada sebuah studio besar di California yang menawariku kontrak, mereka menawarkan bagian yang besar dan aku tertarik akan hal itu, tapi menajer dari studio lama ku mengetahui itu dan tidak menyetujui nya, ku pikir itu tidak akan terlalu menjadi masalah karena masa kontraku dengan nya sebentar lagi berakhir, tapi dia menjebak ku, dia mengajak ku minum dia bilang ini adalah perayaan atas keberhasilan ku sekaligus perpisahan, dia membuatku mabuk berat begitu tersadar aku telah menandatangani kontrak baru yang bahkan tidak menguntungkan ku sama sekali, dalam kontrak itu aku hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil karyaku" Don carlo tetap diam.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dia mengancamku dengan hukum" Terus Mayer.


Don carlo kemudian berjalan kearah jendela, kedua matanya mengawasi keadaan di luar.


"Sudah dua tahun kau tidak berkunjung atau memberi kabar kepadaku, sekarang kau datang membawa masalah?"


"Tidak godfather, aku kesini untuk mengunjungi mu, anda tahu aku sangat sibuk menulis lagu, aku habiskan banyak waktu untuk itu"


"Sibuk, ya aku bisa memaklumi hal itu, apa kau tahu sahabat kecil mu santiago, sekarang menjadi seorang supir truk?, enam bulan yang lalu ibunya meninggal dan kau tidak datang kesini untuk mengucapkan belasungkawa kepada sahabat mu, Sesibuk-sibuknya dirimu setidaknya kau tidak boleh melupakan orang terdekat mu"


Mayer mendengarkan perkataan Don carlo sembari wajahnya menunduk, Don carlo kemudian menghampiri mayer.


"Sekarang temui sahabatmu"


"Tapi godfather, aku harus segera kembali ke chicago secepatnya, manajer itu akan marah padaku karena aku pergi tanpa memberitahunya"


"Kau terlalu banyak bekerja, kau terlalu fokus mencari uang sehingga kau melupakan segala sesuatu di sekitar mu, ada satu hal yang harus kau ingat ketulusan tidak akan bisa di beli oleh uang, sekarang temui sahabatmu, perbaiki hubungan mu dengan nya,"


Mayer mengangguk lemah "baiklah godfather" Ia terlalu fokus dengan karirnya, kalau saja Don tidak memberitahu nya, ia tidak akan tahu kalau sahabat terdekat nya mengalamai begitu banyak kesulitan.


"Dan saat kau kembali ke chicago, semua masalah mu akan selesai" Terus Don carlo.


"Grazie godfather" Ucap Mayer sembari mencium tangan ayah baptisnya, setelah itu ia keluar dari ruangan.


Don carlo menghela nafas, begitu banyak hal yang harus ia selesaikan, ia bisa mengurus manajer itu setelah urusan nya di newyork selesai. Don carlo kembali duduk di kursi kerjanya, ia melanjutkan kembali kegiatan membacanya sembari di iringi lantunan musik jazz.

__ADS_1


__ADS_2