Omerta: City Of Gangsters

Omerta: City Of Gangsters
Genovese Dan Torento


__ADS_3

Mobil truk yang di tumpangi oleh group Paul telah sampai di distrik Lower side, Fanucci kemudian memarkirkan kendaraannya di sebuah tempat di dalam gang yang jauh dari keramaian. Mereka bertiga kemudian turun dari mobil.


"Baiklah saat nya berbisnis kawan-kawan, Enzo kau naik keatas bak, lemparkan kearahku barang yang ku pinta nanti"


"Ok tuan paul"


"Fanucci turunkan alkoholnya" Perintah paul yang hanya di balas anggukan oleh Fanucci.


Paul kemudian berdiri di depan bak mobil sembari menyalakan sebatang rokok miliknya, salju menutupi jalanan dan udara dingin terasa menusuk kulit walaupun mereka sudah memakai mantel yang cukup tebal.


Beberapa menit kemudian 3 orang pria berumur 25 tahun, memakai mantel kulit berwarna coklat datang menghampiri mereka.


"Hey paul, biasa"


"Enzo beri aku tiga bungkus tembakau yang berada di dalam kotak merah nak. "


Enzo kemudian mengambil 3 bungkus tembakau dari kotak merah lalu ia melemparkan nya satu persatu kepada paul.


"Terimakasih nak"


"Ini, jadi total 60 sen kawan"


"Yeah Terima kasih paul" Ucap pria itu sembari menyerahkan 6 keping uang 10 sen kepada paul, setelah itu paul memberikan 3 bungkus rokok yang berada di tangan nya kepada orang tersebut.


"Senang berbisnis dengan mu"


Setelah paul mengatakan itu ketiga pria itu lekas pergi dari tempat mereka. Bebarengan dengan belasan orang yang mulai berdatangan dari depan gang.


-3 jam kemudian-


Setelah pembeli terakhir pergi Fanucci menaikan kembali kotak alkohol keatas bak, begitu juga Enzo yang mulai turun dari atas bak.


"Kemana lagi kita pergi paul? " Tanya Fanucci.


"Harlem, kita akan distribusikan sisa dari barang-barang kita"


Tiba-tiba mobil polisi muncul menerobos masuk kedalam gang dan berhenti di depan mereka bertiga. hal itu membuat Enzo dan Fanucci panik.


"Sialan paul ada polisi"


"Tenang"


Seorang pria berumur 35 tahunan memakai pakaian dinas kepolisian East bay berwarna biru keluar dari dalam mobil tersebut, kemudian pria itu berjalan menghampiri paul.


"Hey, amigo aku ingin satu bungkus cerutu apa masih ada? "


"Masih ada sisa"


Paul kemudian memberi isyarat kepada Enzo untuk mengambil barang yang dimaksud, anak itu kembali naik keatas bak dan mencari barang yang di pinta, setelah menemukan nya enzo lalu melemparkan nya pada Paul.


"Berapa?"


"Tidak,petugas, anda tidak usah membayarnya"


"Kau yakin?"


"Yeah, anggap saja ini pemberian dari teman" Ucap Paul sembari menyodorkan bungkus cerutu di tangannya, polisi itu kemudian mengambil nya dan memasukannya kedalam saku.


"Terimakasih" Ucap polisi tersebut, sembari kembali masuk kedalam mobil dinasnya.


"Datang kembali"


Setelah memberikan klakson 3 kali mobil polisi itu melaju pergi keluar dari dalam gang.


"Kau yakin dengan hal ini Paul?, apa petugas itu tidak akan membuka mulut?" Tanya fanucci.


"Polisi juga perlu kesenangan, diamana lagi dia bisa mendapatkan sebungkus cerutu murah selain dari kita?"


"Hahaha, kau benar Paul"


"Enzo tutup pintu bak, kita akan pergi ke harlem"perintah Paul sembari masuk kedalam mobil bersama fanucci.


Enzo mengangguk, anak itu kemudian menutup pintu belakang dan turun dari atas bak, setelah itu bergegas masuk kedalam truk.


-Harlem-


Mobil truk itu melaju pelan lalu masuk kedalam halaman gudang kosong, di dalam lingkungan gudang kosong itu mereka melihat seseorang pria yang membawa ransel besar, pria itu nampak sedang menjual sesutu kepada orang-orang.


"Hey paul, tampaknya ada tikus di wilayah kita"


"Beri orang itu pelajaran fanucci"


Fanucci memberhentikan mobil truk yang dikendarai nya setelah itu ia turun dari mobil, kemudian ia berlari kearah pria tersebut dan mendorongnya ke tembok dengan sangat kuat. Melihat kejadian itu Orang-orang yang berkerumun disana segera berlari pergi dari lokasi.


"Hey kawan kau menjual cukup banyak hah?"


'Buakh, buakh, buakh'


Fanucci memukuli wajah pria malang tersebut, ia kemudian menjambak rambutnya dan membenturkan nya ke tembok dengan keras, hingga membuat kepala pria itu berdarah.


Paul dan enzo kemudian menghampiri mereka, fanucci lalu mengunci bahu orang tersebut.


Paul kemudian melihat isi dari tas ransel, uang sebesar seratus dollar, belasan bungkus rokok, cerutu, dan beberapa botol Luiqor berada di dalam sana. Setelah melihat-lihat ia kemudian menyerahkan tas itu padan Enzo.


"Dari kelompok mana kau berasal?" Tanya Paul pada pria itu. Meski sebenarnya Paul sudah tahu kalau pria ini anggota gangster yahudi, melalui tato bintang David di tangan pria itu.


Bukan nya menjawab pria itu tersenyum kecut.


"Persetan orang-orang Italia"


"Hah?....Enzo berikan topimu padaku" Perintah Paul, Enzo menurutinya dan memberikan topi appolonya kepada pria itu.


Paul menyibakan salah satu silet di balik topi appolo Enzo, ia lalu memotong secuil telinga bagian kiri dari pria tersebut.


"Akkkhhhhhh!!!!! Sialan!!!!!" Teriak pria itu kesakitan saat telinga kirinya terpotong, Paul lalu menunjukan secuil potongan telinganya kepada pria itu. Sesudah itu ia melemparkan nya ke tanah.


"Akhhhh bajing** pria tertersebut terus meringis kesakitan sembari mengucapkan kata kata serapah kepada mereka bertiga. Paul lalu mencekik mulut pria itu.


"Kau pikir kami bermain-main hah?, Dengar sialan, dengarkan aku" Seru Paul sembari menampar-nampar pria tersebut untuk berhenti berteriak.


"jangan sekali-kali kau menjual barang di wilayah ini, kau tahu kenapa?, karena wilayah ini berada di bawah pelindung Keluarga Genovese, sampaikan itu pada bosmu juga sialan," Ucap Paul sembari menunjuk, nunjuk wajah pria tersebut.


"Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kembali"

__ADS_1


Fanucci lalu melepaskan kuncinya terhadap pria yahudi itu, dengan rasa marah pria itu pergi meninggalkan gudang sembari memegangi telinga kirinya.


"Dia anak buah james kimber, bajingan itu mengingkari janji lagi" Gumam Paul dengan nada marah.


"Sudahlah Paul, aku yakin anak itu tidak akan berani kesini lagi untuk beberapa saat, dia akan bersembunyi di idelwood, lebih baik kita fokus pada tujuan kita hari ini" Balas fanucci sembari menepuk-nepuk pundak Paul.


Paul mengangguk setuju, fanucci benar tujuan mereka hari ini adalah untuk mencari uang, lagi pula ada kemungkinan begundal itu bergerak tanpa sepengetahuan dari james kimber.


"Enzo ke posisi, Fanucci turunkan alkoholnya"


"Ya,ayo dapatkan uang sebanyak-banyaknya"


- 3 JAM kemudian-


Mereka bertiga sudah kembali pulang ke kediaman Paul, setelah seluruh barang habis terjual.


Paul mengeluarkan seluruh uang dari dalam tas keatas meja dan menghitung uang tersebut satu-persatu.


"tiga ribu dollar" Ujar paul sembari memisahkan uang koin dan kertas.


"Ini bagian kalian, masing-masing lima puluh dollar" Terus nya sembari memisahkan uang kertas bagian Fanucci dan enzo.


Mereka berdua kemudian mengambil uang tersebut.


"tiga ratus dollar bagian ku, dan sisanya untuk keluarga" Paul kemudian mengambil bagian nya dan memasukan kembali sisa uang ke dalam tas.


'Test!!teet!!!Teet!!' Tiba-tiba bel rumah berbunyi dengan tempo cukup cepat.


"Siapa itu?"


"Biar aku yang bukakan" Ujar enzo sembari beranjak dari sofa, lalu pergi ke gerbang depan.


Enzo kemudian membuka gerbang, seorang pria berumur 28 tahun dengan jas berwarna coklat dan berambut hitam ke merahan berdiri di depan enzo.


"Apa Paul ada di dalam, ada berita gawat yang harus ku sampaikan"


"Dia ada di ruang tengah, tuan salieri"


Pria itu bernama Vincent Salieri, ia seorang Caporegime dari keluarga genovese yang memegang wilayah ST Seven Village.


Setelah mendengar jawaban Enzo pria itu bergegas masuk kedalam rumah di ikuti oleh enzo di belakang nya.


"Paul!! Ada kabar tidak mengenakan!! " Ucap pria itu dengan nada tinggi. Sesaat ia sampai ke ruang tengah.


"Ada apa salieri?"


"Leo, Dia di tembak oleh bajingan torento di central side"


"Apa!!? Bagaimana keadaan nya! ??"


"Dia kritis sekarang berada di rumah sakit saint helena, karena itulah don meminta kita berkumpul di kediamannya" Jelas salieri yang di ikuti anggukan oleh Paul.


"Kalian berdua tunggu di sini, aku akan pergi bersama salieri" Perintah Paul kepada fanucci dan enzo.


Setelah mengatakan itu, Paul membawa tas yang berisi uang lalu beranjak pergi dari rumahnya bersama salieri.


-kediaman Don Carlo Genovese-


Paul dan salieri telah sampai di kediaman sang Don, anak buah salieri lekas memarkirkan mobil yang mereka tumpangi di halaman mansion. Kedua capo itu kemudian turun dari dalam mobil.


"Setelah penembakan leo, Don sangat marah dia meminta ku dan tessio untuk mengumpulkan pasukan, Lima puluh orang bersiaga di sini, dan seratus pembunuh berkeliaran di luar sana untuk mencari Orang-orang torento yang terlibat."


"Terdengar seperti sebuah perang"


"Ya" Timpal Salieri.


"Kalian berjagalah di gerbang" Perintah salieri kepada 2 orang bawahan yang mengawalnya saat menjemput Paul. Mereka berdua mengangguk dan pergi ke bagian depan mansion.


Paul dan salieri kemudian masuk kedalam mansion, di ruang tamu duduk dua orang anak laki-laki yang berumur 7 tahunan bersama seorang wanita yang berusia 29 tahun, berambut hitam dan memiliki mata biru dengan gaun hitam yang membuatnya terlihat elegan, wanita itu merupakan ibu dari dua anak tersebut. Paul kemudian menghampiri kedua anak laki-laki.


"Hai Anthony,Frank aku punya hadiah untuk kalian" Ucap Paul sembari menyodorkan sebuah permen dari balik saku jasnya, anthony dan Frank terlihat senang akan hal itu. Mereka berdua merupakan putra sang Don.


"Suami ku menunggu kalian berdua di ruang kerja nya" Tutur wanita tersebut, ia bernama Carina genovese, Istri dari Don Carlo.


"Baiklah, kalau begitu permisi madam" Balas salieri.


Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruangan kerja Don Carlo, sesampainya di sana Paul mengetuk pintu.


"Masuk" Perintah Don Carlo dari dalam ruangan.


Setelah mendengar perintah tersebut, kedua capo itu lekas masuk kedalam.


Di dalam ruangan Don Carlo tengah duduk di sebuah sofa melingkar, di sebrang sofa sang Don telah duduk juga dua orang pria berumur 30 tahun, pria yang memiliki hidung yang besar, tinggi dan tubuhnya kurus, dia adalah Tessio Macchione pemegang distrik west side, sedangakan pria satunya yang memiliki tubuh agak gemuk serta memiliki sebuah luka gores di pipi kirinya dia bernama Rocco Eddie Scarpa. Pemegang central side.


Mereka berdua merupakan caporegime dari genovese, keluarga genovese memiliki total 4 capo yang mengontrol oprasi keluarga di setiap distrik di dalam wilayah genovese.


Keluarga kriminal ini memiliki pengaruh kuat di 4 distrik diantaranya, ST seven Village, West side, Central Side dan Harlem bagian utara.


"Duduk lah" Perintah Don Carlo kepada Paul dan salieri, mereka berdua kemudian duduk di sofa.


Don Carlo menuangkan wine kedalam gelas, mata hitam sang Don melihat satu persatu kearah wajah para letnan nya. Tidak ada satupun diantara para rezim nya yang mencoba memulai pembicaraan.


"Kalian mau?" Tawar Don Carlo kepada 4 orang Letnan nya yang di balas gelengan Kepala. Don Carlo kemudian menutup kembali botol anggur miliknya dan menaruh nya di atas meja di samping sofa. Ia kemudian menghela nafas.


"Dulu kita mempunyai perjanjian dengan keluarga torento, untuk mencegah perang, kita biarkan mereka berbisnis di wilayah harlem bagian utara dan memberi mereka akses ke pelabuhan, dan sekarang mereka mengkhianati ku, mereka menembak salah satu orang kepercayaan ku dan mungkin akan membawa kita semua kepada jalan yang penuh darah kedepan nya " Jelas Don Carlo.


"Torento tampaknya menginginkan seluruh distrik harlem di bawah kekuasaan nya, mereka sepertinya sudah merencanakan ini, tapi sejujurnya ini bisa menjadi kesempatan bagi kita menyatukan seluruh distrik harlem, kita akan dapat dukungan mengingat mereka yang memprovokasi kita terlebih dahulu" Ucap Tessio mengungkapkan pendapat miliknya.


"Lalu bagaimana tanggapan dari dua keluarga yang lain?" Tanya Rocco.


"Keluarga Moreli dan Falcano tidak memberi tanggapan apa-apa tampak nya mereka tidak ingin terseret dalam Kerusuhan" Balas Tessio.


"Falcano memiliki beberapa masalah terkait bisnis dengan torento di selatan, jika kita berperang dia mungkin akan memanfaatkan itu untuk melemahkan torento, yang perlu dikhawatirkan adalah Moreli yang berbatasan langsung di timur dengan wilayah kita, jadi untuk jaga-jaga aku akan memperkuat wilayah timur kita, Rocco aku percayakan itu kepada rezim mu." Ujar Don Carlo.


"Baiklah, anda bisa percayakan itu pada ku" Balas Rocco sembari kepalanya mengangguk setuju.


"Aku juga akan menurunkan tentara untuk mencari pelaku penembakan"


"Tidak Paul, jangan perintahkan pasukanmu keluar aku telah menyerah kan tugas itu pada salieri dan tessio, ingat wilayahmu tepat berbatasan dengan mereka perintahkan rezim mu untuk menjaga seluruh oprasi kita di harlem, torento pasti akan mencoba mengambil alih bisnis kita satu persatu."


"Baiklah Don, tapi bila anda butuh bantuan aku akan selalu siap untuk di perintah kan"


"Paul cepat atau lambat aku akan membutuhkan bantuan mu, sekarang aku akan perjelas tugas kalian, Rocco akan mengawasi wilayah timur, salieri dan tessio kalian berdua akan mengawasi mereka perintah kan anak buahmu untuk mengawasi dan mencari para letnan letnan mereka, sedangkan Paul, kau perketat kemanan seluruh bisnis keluarga di wilayah mu, dan ingat jangan ada yang memulai melakukan serangan terlebih dahulu tunggu perintah lebih lanjut dariku" Tegas Don Carlo yang di balas dengan anggukan kepala oleh mereka berempat.

__ADS_1


"Lakukan tugas kalian" Terus Don Carlo sembari memberi isyarat dengan tangan nya untuk keluar dari ruangan. Mereka berempat kemudian berdiri dari atas sofa lalu berjalan kearah pintu keluar.


"Don" Paul menaruh tas yang berisi uang dari hasil penjualan barang seludupan nya, Don Carlo kemudian mengambil tas itu dari atas meja.


"Kau sudah mengambil bagian mu? "


"Sudah, dan juga Don aku menemukan orang yahudi di wilayah ku, "


"Lalu apa Kau Membunuhnya? "


"Kami hanya memberinya sedikit pelajaran,"


"Kita bisa urus orang yahudi itu nanti,"


"Baiklah, aku akan kembali ke rumahku"


"Ya, Hati-hati, minta tessio untuk mengantarkan mu pulang"


Paul lalu keluar dari dalam ruangan kerja Don, dan meminta tessio untuk mengantarkan nya pulang.


-esok hari pukul 6 sore-


'kringgg kringgg' suara dering terdengar dari telepon engkol, paul yang berada di lantai atas bergegas turun kebawah ia kemudian mengangkat gagang telepon tersebut ke telinganya.


"dengan kediaman Castelano"


"Ini Tessio, kau tidak akan keluar untuk hari ini?"


"Tidak, ada apa?"


"Aku akan kesana" Telepon itu kemudian di tutup.


Meski Tessio mengatakan ia akan datang ke kediaman paul, ia sebenarnya tidak akan datang, telepon itu hanya untuk memastikan kalau Paul ada dirumah, itu berarti utusan yang membawa perintah dari don carlo akan segera datang.


Semua ini untuk mengecoh penyadapan dari polisi atau orang lain.


Don Carlo tidak pernah menelepon atas dirinya sendiri, biasanya konselor nyalah yang melakukan hal itu, tapi sekarang leo tengah terbaring sekarat di rumah sakit dan Tessio yang mengambil alih posisi itu untuk sementara.


Beberapa belas menit kemudian bel rumah Castelano berbunyi, ia menyuruh enzo untuk membukakan pintu.


Seorang pria dengan tubuh kekar masuk kedalam rumah, pria itu memakai jaket kulit berwarna hitam dan topi fedora yang di tekuk kebawah menghalangi wajahnya, keberadaan dirinya menimbulkan aura intimidasi yang kuat, bisa di pastikan Orang biasa yang berurusan dengan Pria itu bisa terkencing ketakutan, ia kemudian berjalan kearah Paul yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Aku pembawa pesan" Ucap pria itu sembari duduk di sebuah sofa berlengan. Sekali pandang Paul langsung tahu kalau pria itu adalah anggota Rezim Tessio, maklum Rezim Tessio menjalankan bisnis lintah darat dan pemerasan tentu saja ia memiliki bawahan dengan aura intimidasi yang kuat.


"Ada apa?"


"Aku berbicara atas nama sang Don, Ada dua orang pelaku penembakan konselor dan salah seorang pelakunya ada di harlem, anda bisa bertanya padaku dan aku akan menjawab berdasarkan apa yang di jelaskan Don padaku"


"Siapa namanya?"


"Saya tidak tahu akan nama aslinya tapi dia sering di kenal dengan panggilan Fabio, yang saya tahu dia anggota Rezim Maranzano dari keluarga Torento"


"Ciri-ciri nya"


"Pria itu sering memakai jas berwarna nyentrik, dan juga sebuah luka pisau yang melintang dari pipi kiri ke dagunya, dari yang saya dengar dulunya ia tukang kayu, maranzano memberinya kepercayaan dan mengangkat nya menjadi seorang Soldato di bawah Rezim nya,"


saat pria itu mengucapkan tukang kayu, Enzo teringat akan ayahnya,ia penasaran apa ayahnya masih hidup atau tidak, anak itu segera menggelengkan kepalanya, ia marah untuk apa ia menghawatirkan si bangsat itu?. Paul lalu melihat kearah Enzo.


"Enzo ambilkan aku sebotol amaretto"


"Baik tuan paul" Enzo lekas pergi ke dapur untuk mengambil minuman yang di maksud oleh pria besar itu. Pandangan paul tertuju kembali kepada anak buah Tessio.


"Lalu bagaimana dengan satu orang lagi? "


"Kelompok Rezim Salieri akan mengurus nya" Balas Pria itu di ikuti anggukan oleh paul.


Tidak berselang lama Enzo kembali sembari membawa sebotol Amaretto berwarna merah ia kemudian menyerahkannya kepada paul.


"Baiklah selanjutnya aku akan mengirim orang kesana"


"Don bilang anda harus menangani nya dengan rapih, terutama dari pihak berwenang, dan juga situasi kita dengan torento belum jelas, tidak ada serangan dari pihak torento maupun kita. Pembunuhan di depan publik pasti akan menjadi kasus yang merepotkan dan menjadi sebuah berita besar di kota, jadi anda harus menghilangkan seluruh bukti. Setelah fabio di singkirkan Don bilang Torento yang akan memilih."


Bisa ditebak meski Don Carlo sangat marah akan insiden penembakan itu ia tetap menahan diri dan tidak ingin menjadi orang pertama yang memulai kerusuhan, tapi ia kan melakukan balasan dengan menghabisi para pelaku penembakan, semua itu demi menjaga kepercayaan dan loyalitas keluarga pada dirinya. Dan dua keluarga lain tidak akan menentang keputusan nya karena itu adalah pembalasan untuk kehormatan orang Sisilia. Bila torento tidak membalas semuanya akan kembali normal.


Tapi bila torento melakukan balasan, ia tidak akan di salahkan karena kerusuhan ini, karena sebelumnya Don Carlo sudah menahan diri dengan hanya menghabisi pelaku penembakan.


Paul lalu memengulurkan botol amaretto pada pria itu.


"Ini untukmu, rasa manis nya pas menurut ku dan juga tidak terlalu pahit, itu sangat enak" Jelas Paul Minuman Alkohol Amaretto berasal dari saronno Italia terbuat dari biji aprikot, sangat sulit mencari minuman ini di Amerika.


"Grazie tuan Paul" Ucap pria tersebut sembari menerima botol itu.


"Prego"


"Kalau tidak ada yang mau anda tanyakan lagi saya mohon pamit"


"kau bisa pergi sekarang"


"Baiklah kalau begitu" Pria itu kemudian berdiri dari sofa lalu melangkah keluar rumah di ikuti Enzo di belakang nya.


Paul kemudian berjalan menuju telepon ia lalu menarik tuas engkol telepon rumahnya, suara tuut berbunyi beberapa kali sampai terdengar suara seorang perempuan dari sebrang telepon.


"Ada yang bisa saya bantu"


Telepon engkol memang sangat merepotkan karena kita harus menghubungi pusat telepon terlebih dahulu untuk menyambungkan ke telepon tujuan. Karena itu lah telepon ini rentan untuk disadap.


"Sambungkan telepon ke kediaman Antonio Blasamo, apartment lantai lima nomber tiga belas jalan abrahm Lincoln west Side"


"Baik tunggu sebentar" Setelah beberapa menit menunggu, terdengar suara laki-laki dari balik telepon.


"Dengan Antonio"


"Antonio datang kerumahku malam ini, ajak juga fanucci"


"Baik" Paul lalu menutup telepon nya.


Pukul 7 malam Antonio dan fanucci telah sampai ke kediaman Paul. Antonio pria tampan dengan rambut berwarna hitam mengkilap dengan bentuk dagu segitiga serta postur tubuh yang tegap, ia masih berumur 25 tahun, ia merupakan anggota mafia genovese dengan pangkat Soldato, atas rekomendasi Paul kepada sang Don ia diangkat menjadi bagian keluarga genovese di bawah Rezim miliknya.


"Ada apa Paul? Kenapa kau memanggil kami? " Tanya Antonio membuka pembicaraan.


"Aku ingin kalian menyelidiki orang yang bernama fabio dari keluarga torento, dia mempunyai luka sayatan di pipi kirinya, laporkan seluruh aktifitas dan jadwal setiap jam nya padaku, dan jangan hubungi aku pakai telepon bila kau ingin mengatakan sesuatu datang langsung ke rumahku" Antonio dan fanucci mengangguk mendengar perintah Paul.


"Satu lagi rubah penampilan kalian dan jaga jarak dengan orang-orang torento, menyamar lah sebagai orang biasa dan jangan menimbulkan kecurigaan dari mereka, terutama kau Antonio karena kau sudah menjadi bagian dari genovese, mungkin mereka sudah mengenali wajahmu, Sekarang kalian bantu aku untuk membuat spagetti untuk makan malam "

__ADS_1


"Seperti yang kau perintahkan Paul" Balas Antonio, mereka bertiga kemudian beranjak ke dapur.


__ADS_2