
Kejadian tak terduga tadi malam membuat Atha dan Vira kini terlihat sedikit canggung. Berbeda dengan Adit yang memang sejak tadi pagi mereka bertemu ia tampak lebih banyak diam.
" Ehemm...kok pada diem semua sih.. " ucap Vira membuka suara.
" Dit... " panggil Vira.
" Apaan..." jawab nya.
" Tuh kan jawaban nya cuek banget... gak seru nih diem- dieman kayak gini. Berasa lagi marahan aja kita bertiga.. " ujar Vira.
" Terus mau lo gimana? " tanya Adit.
" Ke kantin aja yuk.. mumpung jam kosong " ajak Vira.
" Ogah gue.. ntar ketemu guru BK lagi patroli di kira kita bolos jam pelajaran lagi " tolak Atha.
" Yah.. masa cuma diem di kelas doang.. " ucap Vira lesu.
" Oh ya.. pulang sekolah ntar jangan langsung balik ya.. kita ada rapat osis bentar.. " ujar Atha.
" Mau bahas soal acara ulang tahun sekolah kita ya.. " sahut Adit.
" Iya... "
" Berarti sendirian dong gue pulang nya... " ucap Vira.
" Kalo lo mau gabung boleh kok.. " jawab Atha.
" Gak mau ah...gue kan bukan anggota osis.. "
" Gak masalah kali kan ada kita berdua.. " sahut Adit.
" Males gue.. mendingan gue pulang terus tidur deh di rumah " jawab Vira.
" Dasar kebo... " ucap Atha dan Adit kompak.
Bel pulang pun berbunyi, Vira pulang terlebih dahulu sementara kedua sahabat nya langsung menuju ruang osis.
Vira berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari sekolah nya karena hari ini ia tak membawa sepeda. Tiba- tiba sebuh mobil sedan hitam berhenti di depan nya.
__ADS_1
" Kayak mobil papi.. " ucap nya.
Dan benar saja, papi Vira turun dari mobil nya menyapa Vira dengam senyum mengembang di bibir nya.
" Papi..."
" Kamu kok sendirian sayang... mana Atha sama Adit? " tanya sang papi.
" Mereka lagi ada urusan.. tumben banget papi jemput aku " jawab Vira.
" Ada yang mau papi bicarakan berdua sama kamu..ayo masuk dulu " ucap papi nya.
Vira pun menuruti nya, ia masuk kedalam mobil sang papi. Namun betapa terkejut nya saat ia melihat seorang bocah laki- laki yang duduk di samping nya menyapa nya dengan senyuman yang begitu manis.
" Pi..ini..?? "
" Iya sayang dia adek kamu.. nama nya Rio.. ayo Rio salam sama kakak Vira.. " ujar papi Vira.
Vira masih terdiam memandangi wajah bocah di hadapan nya yang terlihat sangat menggemas kan.
" Halo kakak nama aku Rio.. ternyata benar kata papi kak Vira memang sangat cantik.. " ucap nya sambil tersenyum.
Namun saat Vira hendak membuka pintu, pintu nya tak mau terbuka.
" Kali ini aja Vir.. mau ya... " pinta sang papi.
Vira pun akhir nya menuruti nya.
Di perjalanan Rio tampak sibuk bermain dengan gadget nya, sesekali ia menoleh melihat ke arah Vira. Namun dengan cepat ia mengalih kan pandangan nya kala Vira juga melihat ke arah diri nya.
Mobil papi Vira terhenti di sebuah restaurant, mereka bertiga turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restaurant.
" Papi mau ngomong apa? " tanya Vira.
" Vir papi tau kamu masih belum terima semua ini.. tapi Rio ini benar adalah adik mu, anak papi juga.. apa kamu gak bisa nanti nya coba buka hati kamu buat nerima dia.. " ujar sang papi.
" Vira gak tau pi.. " jawab nya singkat.
Tanpa di duga Rio duduk di samping Vira.
" Kak Vira.. kak Vira gak suka sama Rio ya..?? apa karena Rio nakal makanya kak Vira gak suka sama Rio? " tanya nya dengan wajah yang masih begitu polos.
__ADS_1
" Astaga!! berasa jadi orang jahat banget gue.. sampe benci anak selucu ini, dia masih kecil belum tau apa- apa.. " gumam Vira dalam hati.
Melihat wajah Rio yang begitu mungil dan menggemas kan membuat hati Vira luluh juga.
" Kata siapa kak Vira gak suka sama Rio.. Kak Vira seneng kok ketemu sama Rio.. kamu udah sekolah belum? " tanya Vira membelai lembut wajah Rio.
" Udah kak.. tapi masih PAUD.. Rio juga banyak temen di sekolah.. " jawab nya.
Melihat kedua nya mengobrol dengan akrab membuat hati sang papi sedikit lega. Perkataan dengan perbuatan Vira memang sangat bertolak belakang. Sekeras apa pun Vira ia tak akan bisa tahan melihat seorang anak kecil seperti Rio turut merasakan apa yang ia alami saat ini.
" Vir.. sebener nya papi mau minta tolong sama kamu, tolong bujuk mami agar tidak meminta pisah dari papi.. " ucap papi nya.
" Jadi mami beneran mau pisah dari papi.. " pikir Vira dalam hati.
" Emm..untuk itu Vira juga gak janji pi.." jawab Vira.
" Apa kamu juga menyetujui keputusan mami kamu Vir..? papi gak mau kehilangan kalian berdua, papi mohon Vir bantu papi.. papi akan berusaha untuk berlaku adil..papi sayang kalian berdua.. " ucap Papi nya menggenggam tangan Vira.
Vira pun tak kuasa menahan air mata nya.
" Udah terlambat pi untuk menyesali nya.. jujur aku juga sangat kecewa sama papi.. aku akan mengikuti setiap keputusan yang akan di ambil mami, meski itu harus pisah dari mami. Aku akan ikut kemana mami pergi.. " jawab nya berusaha tegar.
Sesekali Vira melirik ke arah Rio yang sedang bermain di ponsel milik nya, takut- takut kalau ia melihat dirinya menangis.
" Di sini ada Rio gak seharus nya papi bahas hal ini di depan dia.. Vira duluan ya pi " ucap Vira beranjak dari tempat duduk nya.
" Sama papi aja ya..."
" Gak usah aku bisa naik taksi atau ojek online aja.." tolak Vira.
" Rio sayang.. kakak minta ponsel kakak ya, kak Vira mau pulang dulu " ucap nya sedikit membungkuk kan badan nya di hadapan Rio.
Rio pun segera mengembalikan ponsel Vira.
" Kak Vira kapan- kapan kita main bareng yuk.. nanti Rio kenalin sama bunda " ucap Rio.
Vira hanya tersenyum sambil mengacak pelan pucuk kepala Rio, kemudian ia pergi keluar restaurant.
" Rio lebih butuh papi dari pada gue.. meskipun sebener nya gue gak rela ngelepasin papi.. " gumam Vira .
To be continued..
__ADS_1