
Mama Gideon, menghubungi mama Thalita, untuk mengkonfirmasi hubungan anak-anak mereka. Sama dengan mama Gideon, mama Thalita juga baru mendengar kabar, kalau mereka sudah putus. Mama Thalita juga sangat menyayangkan, karena sudah merasa cocok dengan Gideon.
"Memangnya Thalita gak cerita ya, Jeng? Kalau udah putus sama Gideon?" tanya mama Dion.
"Enggak tuh, Jeng. Cuma kemarin itu aku nanya sama dia, kok Gideon lama gak keliatan. Baru Thalita bilang, kalau udah putus. Katanya lagi, gara-gara Gideon selingkuh. Benar gak sih, Jeng?"
"Entahlah, aku juga gak tau. Tapi kata Karin, ada cewek di kampus yang ngejar-ngejar Gideon gitu. Orang e cantik dan suka narsis, kayak selebgram gitu lho, Jeng."
"Terus? Sama Gideon diladeni, ceweknya?"
"Sepertinya sih iya. Buktinya Thalita marah dan minta putus."
"Baguslah kalau gitu, Jeng. Berarti memang anak sampeyan gak cocok sama Thalita anakku. Anggap saja mereka gak berjodoh," kata mama Thalita sedikit kesal.
"Ya jangan gitu lah, Jeng! Aku tuh udah sreg banget sama Thalita, kalau jadi calon mantuku. Gak mau aku punya mantu selebgram, nanti anakku dibuat mainan sama dia. Jeng Anna kan tau sendiri, gimana Gideon anakku. Anaknya kan beda dari yang lain, antik, kalau kata orang."
"Tapi, Jeng Hesti juga harus ngerti gimana perasaan Thalita! Dia kan udah menerima Gideon dengan segala keantikannya, tapi anakku malah ditinggal selingkuh. Ya jelas sakit hati dong, Jeng."
"Iya, aku paham kok, Jeng. Makanya nanti Gideon mau ku tatar, biar sedikit pinter gitu, lho."
"Ya silakan saja, itu kan haknya Jeng Hesti sebagai mamanya Gideon. Tapi aku gak menjamin juga, kalau Thalita mau balik sama Gideon. Anakku kan gak jelek-jelek amat juga, pasti banyak cowok yang naksir deh," mama Thalita masih kesal.
"Iya, Jeng, aku paham. Mewakili Gideon, aku minta maaf sama Jeng Anna dan Thalita, ya."
"Iya, Jeng. Aku juga minta maaf, mungkin ada kata-kataku yang bikin Jeng Hesti sakit hati. Naluri seorang mama, kalau anak semata wayangnya disakiti."
"Iya, Jeng, aku paham kok."
Setelah menelepon mama Thalita, bergegas mama Gideon menggedor pintu kamar anak lelakinya. Gideon yang merasa takut, membuka pintu kamar berlahan.
"Iya, Ma?"
__ADS_1
"Kamu ini bener-bener ya Gideon, bikin malu Mama aja. Masa mainin anak orang, kayak kamu kecakepan aja. Mbok ya sadar diri dikit dong!"
"Maksud Mama, apa?"
"Gak usah berlagak beg* kamu! Itu Thalita kamu apain? Sampai mamanya ngomel-ngomel ke Mama?"
"Gak diapa-apain, Ma, suer! Gideon aja gak pernah nyentuh dia, kecuali di tangan doang kok," kata Gideon sambil mengangkat kedua jarinya, membentuk huruf v.
"Bukan gitu maksud Mama!"
"Terus? Gimana?"
"Kan kamu yang ninggal dia selingk*h sama Mak Lampir, sekarang Thalita jadi sakit hati. Kamu harus berhasil merebut hatinya lagi. Mama gak mau tau caranya. Yang penting, Thalita harus jadi mantu Mama, titik!"
Gideon menggaruk kepala yang tak gatal. Jangankan Mama, dia juga sebenarnya gak rela putus dengan Thalita. Gideon sudah cinta mati dengan gadis itu. Sekarang saja, Gideon sangat menyesal, kenapa sampai tergoda dengan pesona Lily.
Mama yang melihat anaknya cuma diam, menjadi sangat gemas. Mama menjewer telinga anaknya sampai sang pemilik telinga menjerit kesakitan.
"ADUH, SAKIT, MA! Kalau telinga Dion putus, gimana? Mama mau punya anak kayak George Weasly yang telinganya copot?" Gideon mengelus telinganya yang barusan dijewer sang Mama.
"Siapa yang dibawain martabak? Thalita atau mamanya?"
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? Ya dua-duanya lah. Mereka berdua suka martabak kan?"
"Iya, suka. Cuma seleranya beda, Thalita suka martabak manis dengan topping coklat kacang, mamanya suka martabak telur dengan bawang prei yang banyak."
"Oh gitu. Beliin ke duanya!! Kalau perlu, abangnya juga bawa ke sana!"
Mama yang masih kesal, meninggalkan Gideon yang masih kebingungan. Beli martabak sih gampang, asal ada duitnya. Lha ini mamanya cuma nyuruh doang, gak ngasih duit, ya masa Gideon harus nyunat jatah bensin? Ah, gak keren deh mama Gideon kalau kayak gini.
Singkat cerita, Gideon sudah memarkirkan motornya di depan rumah Thalita. Di tangannya, ada kantung kresek berisi dua kotak martabak, satu martabak manis, satu lagi martabak telur. Dengan terpaksa, Gideon harus merelakan uang bensinnya terpotong untuk membeli buah tangan itu. Termasuk juga dia harus memakai bensin campur untuk motornya, campur dorong.
__ADS_1
Dengan dandanan seperti biasa dan rambut yang disisir klimis, Gideon memantapkan langkah menuju pintu rumah Thalita dan mengetuknya sambil mengucap salam. Tak lama, sang Pujaan Hati yang membuka pintu.
"Oh, Bang Dion. Tumben, Bang? Cari siapa?"
"Iya, Tha. Abang ada perlu sedikit sama mama kamu. Mamanya ada kan?"
"Ada kok, Bang. Yuk masuk, bentar Thalita panggilkan!"
Gideon memberikan martabaknya, kemudian duduk manis di sofa ruang tamu rumah Thalita. Sang pemilik rumah, masuk ke dalam untuk memanggil mamanya. Tak lama, Tante Anna menemui Gideon.
"Malam, Tante," kata Gideon sambil mencium tangan Tante Anna.
"Kata Thalita, kamu ada perlu sama Tante? Ada apa nih, Yon?"
"Cuma pengen main aja ke sini kok, Tante. Kan udah lama Gideon gak ke sini. Karena Thalita lagi ngambek sama Gideon, ya Gideon bilang aja pengen ketemu Tante gitu," kata Gideon sambil nyengir.
"Tante udah dengar sih ceritanya, baik dari Thalita, maupun dari mama kamu. Tapi Tante masih pengen dengar dari kamu, gimana tuh kronologinya?"
"Gideon itu, gak ada perasaan apa-apa sama Lily, Te. Cuma kapan hari itu, kita sempat ngerjain tugas bareng. Ketemunya juga gak sengaja, di kebun raya. Waktu itu, Dion ajak Thalita, tapi dia gak bisa, ada janji sama Deasy."
"Terus?"
"Ya terus, sejak itu kami jadi dekat. Gideon sering bantuin dia bikin konten toktik. Katanya, dengan adanya Gideon, ratingnya dia jadi naik. Terus banyak terima endorse."
"Kamu dibagi?"
Gideon menggeleng lemah, kepalanya juga menunduk, tak berani memandang wajah mantan calon mertuanya itu. Tante Anna, tentu saja merasa iba. Wanita itu tau, Gideon masih sangat menyayangi anaknya. Dalam hati wanita itu berjanji, akan membantu Gideon berbaikan dengan anaknya.
"Ya sudah kalau begitu. Itu tandanya, cinta kamu dan Thalita sedang mendapat ujian. Kalian harus dapat melaluinya dengan baik! Tante akan bantu kamu, untuk baikan dengan Thalita."
"Wah, terima kasih ya, Tante."
__ADS_1
"Iya, Dion, sama-sama."
Gideon pulang dari rumah Thalita dengan wajah ceria. Dalam hati, cowok itu merasa yakin, akan mendapat cinta gadis itu kembali.