
Deasy duduk di bangku sebelah Thalita, dan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Cewek itu tau, Thalita akan bertanya, kenapa dia bisa diantar oleh Gideon sampai ke kelas. Thalita masih kepo tentang Gideon, cuma malu-malu meong, sok jual mahal.
Deasy membuka aplikasi toktik, dan mencari akun milik si Nenek Lampir. Ingin sekali Deasy rusuh di akun itu dengan komentar-komentar pedas yang akan membuat sang Seleb malu, itu juga kalau memang dia masih punya rasa malu.
Thalita masih sering melirik Deasy yang asik senyum-senyum sendiri. Tapi, untuk memulai obrolan, Thalita merasa enggan. Jujur saja, dia memang cemburu melihat Deasy dengan Gideon tadi. Dan, gengsi Thalita terlalu tinggi untuk mengakuinya.
"Tha, lihat ini deh!" Deasy menunjukkan ponselnya pada Thalita.
"Apaan ini?"
"Akun toktik milik Mak Lampir. Kira-kira, kapan video itu dibuat?"
Thalita melihat video yang diunggah oleh Lily delapan jam yang lalu. Latar tempat pengambilan video, sepertinya sangat familiar bagi Thalita. Juga baju yang dikenakan Gideon di video itu. Kebun Raya, di hari Thalita menolak menemaninya untuk meneliti tumbuhan kantong semar. Hari dimana Gideon bertemu dengan Lily.
"Video ini dibuat waktu itu, yang aku nolak temani Bang Gideon ke Kebun Raya," jelas Thalita.
"Berarti udah lama dong ya? Kenapa baru diunggah hari ini? Pasti ini si Mak Lampir ada udang di balik rempeyek."
"Ya biarin aja lah, kan udah biasa tuh si Lily bikin sensasi, untuk naikin rating kali."
"Ya aneh aja, kenapa baru diunggah. Mungkin dia mau dekati mantanmu lagi."
"Kan cuma mantan, toh gak ada hubungan lagi, bebas-bebas aja dia mau ngapain."
"Yakin, Tha?"
"Yakin dong, Des."
"Gak cemburu kalau Bang Gideon dekat lagi sama Lily?"
__ADS_1
"Ya ngapain cemburu? Toh Lily itu levelnya masih di bawah aku. Yang jelas, orang akan mencibir Bang Gideon kalau dia masih nekad dekat sama Lily."
"Hahahaha, benar juga kamu, Tha. Level Lily ada di bawah kamu, pasti kamu gak bakal cemburu. Beda lagi kalau Bang Gideon dekatnya sama aku, pasti tuh kamu bakal cemburu, kita kan di level yang sama."
"Maksud kamu apa, hah?" Thalita tampak tersinggung dengan ucapan Deasy.
"Gak kok, gak ada maksud apa-apa juga. Lagian kan Bang Gideon sudah jadi mantan kamu, boleh dong kalau sekarang dekat sama aku, toh kalian udah gak ada hubungan juga," kata Deasy sambil mengerling lucu, sementara Thalita mendengkus kesal.
Untung saja dosen yang mengajar jam itu sudah masuk ke kelas, membuat Thalita selamat dari ledekan Deasy. Tapi bukan Deasy namanya, kalau berhenti sampai di situ saja, pasti nanti, dia akan lanjut menggoda Thalita, menunggu moment yang tepat.
Di kelas Gideon, Lily dengan cuek memilih tempat duduk di sebelah cowok antik itu. Matanya sedari tadi mengamati penampilan Gideon, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Rambut klimis oleh minyak rambut, dan disisir rapi dengan belah tengah. Kemeja berbahan drill tebal yang dikancingkan sampai krah. Kemeja itu berwarna kuning kunyit yang cerah, secerah hati Lily saat ini. Celana bahan di atas mata kaki seperti orang kebanjiran dengan warna hijau botol minyak kayu putih yang menyejukkan. Tak lupa sepatu berbahan kulit warna hitam mengkilap oleh semir, dan kaos kaki putih yang baru dicuci. Perfect, cakep nya layak diacungi dua jempol, batin Lily.
"Ngapain kamu duduk di sini, hah? Bikin gatel-gatel aja. Kamu orang apa ulat bulu, sih?" tanya Gideon ketus.
"Tapi aku gak suka, duduk dekat kamu!"
"Ya tinggal pindah aja, apa susahnya sih?" kata Lily santai.
Gideon mendengkus kesal, kemudian menyambar ranselnya, dan berpindah tempat duduk. Lily melihatnya sambil tersenyum jahil. Setelah tau di dekat tempat duduk Gideon yang baru adalah bangku kosong, Lily ikut mengambil tote bag miliknya dan pindah di sebelah Gideon.
"Kok kamu ikut ke sini? Kan udah ke bilang, badanku gatel-gatel kalau dekat kamu!"
"Lha kenapa? Kan suka-suka aku mau duduk dimana, toh aku sama kayak kamu bayar UKT nya."
"Dasar gemblung!" kata Gideon kesal.
Gideon memilih memainkan game ular naga panjang di ponselnya, daripada meladeni Lily yang seperti sengaja membuatnya kesal. Lily tampak nyengir, sambil terus memandangi wajah tampan Gideon.
__ADS_1
"Cie cie cie, sepertinya ada pasangan yang rujuk nih, Gaes." mulut ember Winny mulai beraksi.
"Siapa, Win?" tanya Lily.
"Kok malah nanya? Ya kamu sama Gideon yang rujuk, siapa lagi? Kan kemarin-kemarin kalian sempat cerai, sekarang udah akur lagi kayak e."
"Enggak kok, Win. Dari kemarin-kemarin kami baik-baik aja, cuma lagi hiatus aja kok, hehehe," kata Lily.
"Wew, udah kayak seleb beneran aja, pakai hiatus untuk bikin sensasi," ledek Winni.
"Kan emang aku ini seleb, followers ku aja udah lebih sepuluh ribu kok. Dikit lagi aku bisa saingan sama Nikhita Mirzani nih."
"Hebat pisan kamu, Ly. Gak nyangka aku, bisa punya teman sekelas selebriti. Bisa dong nanti aku pansos?"
"Ya jelas bisa dong. Ini saja, baru berapa hari Gideon jadian sama aku, dia udah famous kan? Padahal sebelumnya siapa juga yang kenal dia? Ya kan, Win?"
Gideon melotot mendengar obrolan Lily dan Winny. Makin ngawur aja nih si Seleb karbitan. Membuat Gideon semakin illfil. Menyesal rasanya pernah dekat dengan mahluk ini. Andai waktu bisa diputar kembali, Gideon memilih untuk tak mengenal mahluk ajaib satu ini. Pasti dia juga masih berbahagia dengan Thalita.
"Eh, Win! Kamu udah lihat belum, konten yang semalam ku unggah di akun toktik ku? Lihat aja di situ, nih Ayang Beb belum terjamah oleh tangan kreatif ku, masih natural banget dandanannya," kata Lily sambil mengerling Gideon.
"Oh, ya? Nanti deh di rumah ku lihat, kan ada wifi. Sekarang ini kuotaku lagi sekarat. Kalau ada yang mau ngisi sih, aku sangat bersyukur," kata Winny berharap.
"Apa sih yang enggak buat kamu, Win? Tar ku isi deh, pakai nomor WA kan nomor datanya? Tapi tonton konten ku lho! Jangan lupa, like komen dan share juga."
"Beres, Bos. Nanti ku doakan kamu juga langgeng sama Ayang Beb. Kalau bisa sampai nikah dan punya anak cucu yang buanyak."
"Amin. Makasih ya, Win."
Gideon semakin frustasi mendengar obrolan Lily dan Winny. Cowok itu mengacak rambutnya gusar. Ingin rasanya menutup mulut keduanya dengan lakban. Benar-benar mahluk yang tak ada akhlak memang.
__ADS_1