Pacar Antik

Pacar Antik
Part 27 : Mencoba Untuk Lupa


__ADS_3

Sejak peristiwa di perpustakaan, Gideon tak lagi berusaha mendekati Thalita, cowok itu takut kecewa, karena sikap cuek Thalita. Rasa sayang Gideon pada Thalita, membuatnya terluka, setiap kali gadis itu bersikap cuek. Gideon masih berharap Thalita bersikap seperti dulu, penuh perhatian.


Thalita juga sebenarnya merasa kehilangan, ketika Gideon menjauh, gadis itu masih berharap, cowok itu masih berjuang untuk kembali dekat dengannya. Tapi, penyesalan datangnya memang selalu terlambat. Thalita menyesal sudah bersikap cuek pada Gideon, dan terlambat, karena Gideon sudah terlanjur menjauh.


Siang itu, dengan langkah gontai Thalita berjalan ke arah gerbang kampus. Panasnya cuaca, membuat keringat membasahi rambut dan wajahnya. Rambut Thalita yang lepek karena keringat, membuat gadis itu terlihat kucel.


Thalita berteduh di halte depan kampus untuk menunggu angkot. Moses tidak menjemputnya hari ini, cowok itu mau jalan ke mall dengan pacarnya.


Gideon melihat Thalita dari kejauhan. Maksud hati hendak menawari Thalita untuk pulang bareng, tapi rasa takut kecewa ketika ditolak, membuat Gideon mengurungkan niatnya.


Dengan terpaksa, Gideon berpura-pura tidak melihat Thalita dan lewat begitu saja di depan gadis itu. Rasa sesak di dada, dirasakan oleh Gideon, karena sudah mengabaikan gadis yang disayanginya. Tapi, memang harusnya seperti itu, harus terbiasa tak lagi peduli pada Thalita.


Thalita melihat, Gideon yang lewat dan mengabaikan dirinya, dengan hati masygul. Tapi apa mau dikata, dirinya juga terlalu gengsi untuk menerima cowok itu dan memaafkan kesalahannya. Tak terasa, butiran bening merembes di sudut mata Thalita, dan segera diusap dengan kasar oleh pemiliknya.


Karin sedang duduk di teras ketika Gideon sampai dan memarkirkan motornya di garasi. Wajah kusut sang Abang, segera membangkitkan jiwa iseng Karin. Dengan suara yang cukup keras, Karin memutar video toktik Lily.


Gideon tak menggubris sang adik, dan langsung nyelonong masuk ke dalam rumah, Karin mengekor di belakangnya. Ketika Gideon membuka pintu kulkas untuk mengambil air dingin, sengaja Karin berdiri di samping abangnya itu.


"Ngapain sih kamu ini, Rin? Kok ngikuti Abang mulu? Kurang kerjaan, ya?"


"Dih, GR deh Abang! Aku cuma mau ngambil rujak buahku di kulkas. Kayak e enak siang-siang gini makan rujak buah."


Gideon mendengkus kesal, kemudian pindah tempat di meja makan. Membuka tudung saji dan melihat menu di situ bukan seleranya, membuat cowok itu semakin kesal.


"Gak makan, Bang?" tanya Karin sambil ikut duduk di meja makan.


"Gak selera. Mama kemana?"

__ADS_1


"Tadi sih bilangnya mau ke rumah calon besan. Mungkin ke rumah Thalita."


"Gak usah ngeledek, Abang lagi kesal nih!"


"Ngeledek gimana? Mama tadi bilang begitu kok. Coba nih, ku video call, ya."


Karin mengutak-atik ponselnya, untuk melakukan panggilan video dengan Thalita. Tak lama, wajah gadis itu sudah memenuhi layar ponsel Karin.


"Kenapa, Rin? Kangen, ya?" sapa Thalita.


"Aku sih gak, tapi ini mahluk di sebelahku sedang kangen sama kamu. Bawaannya jadi emosi dan pengen marah-marah aja. Lihat noh pintu kulkas, abis digigit sama dia karena nahan kangen."


Gideon mendelik ke arah adiknya, dan dibalas dengan cenggiran usil, membuat Gideon semakin kesal.


"Bilang aja sama dia, kalau kangen gak usah ditahan, nanti jadi jerawat! Btw, tumben mama kamu ke sini?"


"Mau ngelamar kamu tuh. Kayak e Mama gak pernah bisa move on dari kamu deh. Boleh minta tolong gak, Tha?"


"Tolong pinjemin HP mu ke mamaku, aku pengen ngomong bentar!"


"Oke, wait!"


Tampak gambar di ponsel Thalita bergoyang-goyang, tanda pemiliknya membawa ponsel itu berjalan, menghampiri para mama yang sedang ngobrol di ruang tamu.


"Tante, ini Karin katanya mau ngobrol sama Tante," kata Thalita pada mama Karin.


"Kok gak nelpon ke ponsel Tante aja tuh anak?" tanya mama Karin sambil menerima ponsel Thalita.

__ADS_1


"Ada apa, Rin?"


"Ini lho, Ma, si Abang gak percaya kalau Mama lagi ngelamar Thalita buat dia," jawab Karin sambil nyengir.


"Mau Mama sih gitu, tapi Thalita nolak tuh."


Mama Karin melirik Thalita yang tampak cemberut mendengar gurauan ibu dan anak itu, sedang mama Thalita hanya senyum-senyum.


"Oh iya, Rin. Kalau abangmu udah di rumah, suruh jemput Mama ke sini dong! Daripada Mama harus naik ojol."


"Wah, pasti mau banget nih si Abang. Bisa punya alasan ketemu sang pujaan hati," Karin mengerling lucu, tapi membuat Gideon semakin sebal.


"Gideon belum pulang kok, Ma. Masih di kampus," kata Gideon reflek.


"Itu tadi siapa yang ngomong, Rin?" tanya Mama.


Karin tertawa ngakak, menertawakan kekonyolan abangnya. Bisa-bisanya bilang masih di kampus, padahal jelas-jelas udah di rumah.


"Bilang sama abangmu, gak usah ngelawak, cepat jemput Mama di rumah Thalita!"


"Oke, Ma. Ditunggu ya!"


Karin mematikan sambungan video, dan mengerling lucu ke arah abangnya. Gideon semakin cemberut, menjemput sang Mama akan membuatnya bertemu Thalita, padahal dia sedang dalam proses melupakan gadis itu.


"Bilang sama Mama, Abang lagi sakit, gak bisa jemput!"


"Sakit? Sakit apaan?"

__ADS_1


"Sakit hati," kata Gideon sambil beranjak ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.


Karin yang menggedor pintu kamar abangnya, tak dihiraukan oleh pemiliknya. Bahkan Gideon memutar musik dengan keras, membuat Karin berhenti berteriak. Terpaksa gadis itu menghubungi sang Mama, dan mengatakan sang Abang tak bisa menjemput.


__ADS_2