Pacar Antik

Pacar Antik
Part 35 : Mengambil Hati Mantan


__ADS_3

Esok harinya, Gideon sudah muncul di rumah Thalita pagi-pagi. Seperti dulu saat masih pacaran, Gideon selalu mengantar dan menjemput Thalita. Mulai hari ini, Gideon bertekad melakukan lagi kebiasaan itu, karena dia yakin, bakal berhasil mengajak Thalita balikan.


"Eh, udah lama, Yon? Kok gak masuk aja? Thalita paling masih siap-siap," tegur mama Thalita yang baru datang dari warung.


"Gideon baru sampai kok, Tante, baru mau masuk. Tante abis belanja ya?"


"Iya, belanja sayur dan lauk buat masak besok pagi, biar gak keteteran siapin sarapan, Om kamu kan jam enam udah berangkat kerja. Yuk masuk!"


Gideon mengekor di belakang mama Thalita, kemudian duduk di bangku teras.


"Kok malah duduk di situ, Yon? Masuk aja, ikut sarapan bareng Thalita di dalam!"


"Gideon udah sarapan kok, Tante. Biar Gideon nunggu Thalita di sini aja, sambil jagain motor, takut digondol maling."


"Ya udah kalau gitu, Tante masuk dulu, buat panggil Thalita. Tuh anak kalau dandan suka lama, sok kecantikan," gerutu mama Thalita.


"Hahaha, anak Tante kan memang cantik, buktinya bikin Gideon bucin."


"Ya emang kamu itu dipelet sama Thalita, bisa bucin kayak gitu."


"Gapapa, Tante. Justru Gideon seneng, dipelet sama cewek secantik anak Tante."


"Mama ini apaan sih? Gitu amat sama anak sendiri. Ngapain juga Thalita susah-susah melet kutil onta, kan mending melet


Ji Chang Wook."


Tiba-tiba Thalita sudah muncul di teras dan tampak sudah siap berangkat ke kampus. Gideon hanya tertawa menanggapi omongan gadis pujaannya, sedang mama Thalita cuma nyengir.


"Abang juga, ngapain juga pagi-pagi udah di sini? Lagi modus sama emak-emak, ya?" tanya Thalita ketus.

__ADS_1


"Namanya juga usaha, Neng. Modus ke emaknya dulu, biar dikasih anaknya. Ya kan, Tante?" kata Gideon sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Udah, jangan ribut mulu kalian ini! Cepat sana berangkat, nanti telat!"


"Pamit dulu, Tante," pamit Gideon sambil mencium tangan mama Thalita.


"Thalita berangkat, Ma," Thalita mencium kedua pipi mamanya.


"Abang mau dong, Neng, digituin juga," kata Gideon sambil menyodorkan pipinya.


"Hus, belum muhrim, Yon!" kata Mama.


Gideon hanya tertawa, melihat Thalita yang makin manyun, sampai bibirnya bisa dikuncir pakai karet gelang.


"Sayang, bawa helm lah! Ntar Abang kena tilang lho!"


Gideon menegur Thalita yang melenggang tanpa membawa helm.


"Jangan, Sayang! Abang ambilkan deh helmnya. Tunggu di situ."


Gideon berlari masuk ke dalam rumah Thalita, dan meminta helm pada mama Thalita. Kemudian berlari lagi ke arah Thalita yang sudah berdiri di samping motor Gideon. Cowok itu kemudian memasang helm ke kepala gadisnya.


"Bilang apa, Sayang?"


"Sama-sama, Bang."


Meski jengkel, Gideon tak lagi cerewet pada Thalita, cowok itu menjalankan motornya perlahan, ketika Thalita sudah duduk di boncengan.


Di kampus, Lily sudah menunggu Gideon di parkiran, cewek itu berharap akan mendapat perlakuan mesra dari cowok yang ditaksirnya, Gideon. Tapi Lily tentu saja sangat kecewa, melihat Gideon datang bareng Thalita, bahkan cowok itu membukakan helm yang dipakai cewek itu.

__ADS_1


"Yuk, Sayang! Abang antar kamu ke kelas, biar aman. Takutnya kamu nanti dilirik para biawak fakultas teknik," kata Gideon sengaja keras, supaya terdengar oleh Lily.


"Ya gapapa lah, itu membuktikan kalau Thalita cantik, jadi banyak yang ngelirik. Kalau Abang kan pas-pas an, jadi yang ngelirik Mak Lampir doang."


Thalita berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lily, padahal cewek itu menatap Thalita dengan pandangan penuh rasa benci.


"Makanya, Abang bakal jagain kamu, biar gak ilang."


Gideon merangkul pundak Thalita di depan Lily, membuat hati Thalita berdesir happy. Hati kecil Thalita merindukan saat-saat masih bersama dengan Gideon. Cowok itu sangat sabar, perhatian dan selalu mengalah pada Thalita. Melihat Gideon selingkuh dengan Lily, sebenarnya membuat hati Thalita sangat hancur, tapi dia tak pernah membenci cowok itu.


Rasa cinta dan sayang Thalita pada Gideon, membuat gadis itu selalu memaafkan, setiap kali Gideon menyakiti hatinya. Pun ketika mendapati Gideon dekat dengan Lily, Thalita kecewa, tapi tak bisa membencinya.


Melihat kemesraan pasangan itu, Lily mencibir, dan berlagak sedang mual.


"Kok ada ya, cowok yang mau-maunya dimanfaatin sama cewek. Giliran punya gebetan, cowoknya dibuang-buang. Setelah gebetannya punya selingkuhan, balik lagi ke cowoknya. Haduh, emang g*bl*k sih tuh cowok, mau-maunya dikadalin sama ceweknya."


Kuping Thalita panas mendengar sindiran Lily, tapi gadis itu tak tau, apa maksud omongan Lily padanya. Siapa gebetan dan siapa selingkuhan gebetan Thalita, masih jadi tanda tanya di benak gadis itu.


Gideon yang paham maksud perkataan Lily, segera membela pacarnya itu.


"Sepupu kamu yang biasa bareng kamu itu kemana, Sayang?" tanya Thalita.


"Kak Moses?"


"Iya, yang sering dikira pacar kamu itu lho."


"Lagi sibuk pacaran dia mah. Katanya sih, ceweknya cantik."


"Masih cantik juga kamu kok, Sayang."

__ADS_1


"Kalau itu mah jelas. Kalau dibandingin sama kecantikan si Seleb karbitan itu sih jauh, cantikan aku kemana-mana."


Gideon nyengir, melihat Lily bermuka seram karena geram. Kata-kata Thalita, membuat Lily ingin berduel dengan gadis itu.


__ADS_2