
"Aduh, kenapa sih kalian berdua ini? Gak suka banget lihat orang seneng," gerutu Deasy ketika kedua tangannya ditarik paksa Gideon dan Thalita.
"Udah ketularan si Mak Lampir, ya? Caper di depan umum?" tanya Thalita sarkas.
"Jangan tarik-tarik dong! Nanti aku jadi panjang tangan lho!"
"Biarin aja, karena gak mungkin kamu jadi panjang hidung, kan kamu orang, bukan gajah."
Deasy mendengkus kesal, jika terus melawan cewek itu pasti akan terus dirundung oleh pasangan kekasih, eh pasangan mantan yang otewe balikan itu. Thalita mendudukkan Deasy di bangku, kemudian berkacak pinggang di depan gadis itu. Udah persis emak-emak yang hendak memarahi anaknya.
"Ngapain sih kamu julid sama Mak Lampir itu, Des? Gak malu apa jadi tontonan para mahasiswa kampus ini? Mau numpang tenar kayak si Kutil Onta ini, hah?" kata Thalita sambil menunjuk hidung Gideon saat menyebut kutil onta.
Deasy yang sebelumnya hendak membantah omongan Thalita, seketika ngakak melihat tampang kusut Gideon yang ditunjuk-tunjuk oleh Thalita.
"Kenapa tertawa? Emang ada yang lucu, hah?" bentak Thalita kesal.
Deasy semakin terbahak, melihat tampang serius Thalita. Sepertinya, mantan Gideon itu tak menyadari kalau omongannya sangat lucu.
"Gak kok, gak ada yang lucu. Aku tertawa karena teringat Winny yang tiduran di lantai tadi. Udah persis ikan duyung yang di kebun binatang, hahahaha."
Thalita mendelik kesal, karena merasa diabaikan oleh Deasy, sedang Gideon cuma nyengir. Cowok itu mengacungkan dua jempol buat Deasy yang berhasil ngeles dengan baik dari amukan Thalita.
"Awas aja ya, Des! Kalau kamu nyari gara-gara lagi sama si Mak Lampir itu, aku gak mau lagi berteman sama kamu! Cukup si Kutil Onta ini aja yang dekat sama si Mak Lampir itu, kamu jangan! Nanti aku gak punya teman lagi. Semua-semua beralih ke Mak Lampir, apa bagusnya sih dia itu? Apa karena dia selebgram, makanya kalian mau dekat-dekat sama dia? Mau numpang pansos? Iya, gitu?"
Thalita berbicara dengan amarah yang berapi-api, membuat Gideon dan Deasy melongo saat melihatnya. Gideon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cowok itu cukup lama mengenal Thalita, mantan kekasihnya itu sedang meluapkan kekesalan yang selama ini dia pendam.
Deasy juga memahami, sahabatnya itu mengungkapkan kekesalannya pada Gideon, tapi menggunakan dirinya sebagai tumbal. Karena itu, Deasy hanya nyengir, tanpa ada niat membantah kata-kata Thalita.
"Maaf ya, Des, Tha! Abang mau ke kelas Abang dulu, sebentar lagi kelas akan dimulai," pamit Gideon.
Deasy mengangguk, tapi Thalita diam saja. Cewek itu malah tidak menoleh sedikitpun pada Gideon, apalagi membalas pamitnya.
Dengan menghela napas berat, Gideon meninggalkan kelas Deasy dan Thalita. Deasy hanya menatap dengan pandang prihatin, cewek itu tak mau memperkeruh suasana.
__ADS_1
"Kamu masih kesal sama Bang Gideon ya, Tha?" tanya Deasy hati-hati, setelah Gideon pergi.
"Menurutmu?" Thalita balik bertanya dengan ketus.
Deasy menghela napas, cewek itu sangat paham dengan sifat Thalita yang sok gengsi. Padahal, Thalita jelas masih sayang pada Gideon, dan berharap hubungan mereka bisa kembali seperti dulu.
"Menurutku, kamu cuma pura-pura kesal aja sama dia, tapi sebenarnya kamu kangen. Kamu juga berharap, Bang Gideon mau ngejar kamu lagi kayak dulu. Dan---"
"Hem."
Deasy nyengir, dugaannya ternyata benar. Selama ini Thalita memang belum melupakan Gideon.
"Siapa, Kak Moses?" tanya Deasy tiba-tiba.
"Sepupu, anaknya Pakdhe."
Thalita menjawab pertanyaan Deasy dengan setengah sadar. Otak Thalita masih memikirkan Gideon, hingga dia jujur menjawab pertanyaan Deasy. Thalita sampai lupa, dia kan sedang bersandiwara, kalau Moses itu pacarnya.
" Ya enggaklah, Des dia kan se---"
Thalita menutup mulutnya dengan tangan, sadar telah keceplosan mengatakan bahwa Moses sepupunya. Deasy hanya ngakak dan mengerling lucu, membuat Thalita kembali merasa kesal.
"Jangan kasih tau Bang Gideon, Des!"
"Kenapa? Biar Bang Gideon masih mikir, kalau Kak Moses itu pacar kamu?"
Thalita mengangguk ragu. Hati kecilnya mengatakan, untuk menyudahi saja sandiwaranya, agar dia dan Gideon tidak sama-sama menderita.
"Berhenti bersikap kayak anak kecil, Tha! Atau kama akan---"
"Selamat pagi saudara-saudara."
Suara salam dari dosen yang akan mengajar di kelas pagi itu, membuat obrolan Thalita dan Deasy terpaksa berakhir. Thalita mengikuti perkuliahan dengan setengah hati, pikiran cewek itu belum lepas dari Gideon. Di kelasnya, Gideon juga tak begitu bersemangat mengikuti perkuliahan hari itu, pikirannya masih tertuju pada Thalita.
__ADS_1
Lily dan Winny tak tampak batang hidungnya, rupanya tragedi tadi pagi berakibat fatal pada Winny. Kaki Winny mengalami keseleo yang cukup parah, hingga cewek itu tidak bisa berjalan karena kakinya bengkak. Winny juga menuntut Lily untuk bertanggung jawab.
Lily terpaksa membawa Winny pulang ke tempat kost-nya, dan memanggil tukang urut untuk mengurut kaki Winny yang bengkak.
"Haduh, Neng, kok bisa sampai bengkak begini sih kakinya? Gimana sih jatuhnya?" tanya Mak Ijah, tukang urut yang dioanggil Lily.
"Itu bukan bengkak, Mak. Udah dari sononya memang kayak gitu kok," celetuk Lily.
"Diam kamu! Mau ngatain kalau aku gendut, hah?" tukas Winny kesal.
"Memangnya kamu merasa langsing? Bodi udah kayak drum aja ngaku langsing."
"Kurang ajar kamu ya, Ly! Coba kakiku gak sakit, ku sikat bibirmu itu sampai bersih pakai sikat kamar mandi!" teriak Winny.
"Waduh! Kok malah jadi berantem sih?" Mak Ijah jadi merasa bersalah.
"Lha dia duluan, Mak. Aku kayak gini, gara-gara dia tuh. AAAAARRRHHHH, SAKIT, MAK! PELAN-PELAN DONG!"
"Maaf, Neng! Emak udah pelan pijatnya kok, tapi karena di situ pusat keseleonya, jadinya sakit, hehehehe."
Mak Ijah memang sengaja memijat kaki Winny dengan kuat, wanita tua itu berharap, sesion memijat segera selesai. Kamar kost yang sempit dan kurang ventilasi, membuat aroma memabukkan badan Winny tercium tajam.
"Pelan-pelan ya, Mak! Sakit banget nih," renggek Winny. Mak Ijah hanya mengangguk.
Lily juga merasa tak betah berada di kamar itu, karenanya, cewek itu keluar untuk menghirup udara segar.
"Mending aku bikin video buat konten aja, daripada di dalam nungguin gajah lagi diurut, hihihi."
Lily segera meraih ponselnya dari dalam tas, dan berpose seperti seorang selebgram viral yang menyapa para penggemar. Saat sedang asik syuting, sebuah motor memasuki halaman kost. Tampak sepasang muda-mudi turun dari motor.
Lily menyipitkan mata, sambil melihat ke layar ponselnya yang sedang merekam. Sang cowok mencium kening sang cewek sebelum pamit pulang. Dan cowok itu, sepertinya sangat familiar.
Lily menyudahi syuting untuk kontennya, dan memutar ulang hasil rekaman. Seketika wajah Lily menyeringai senang, ketika teringat siapa cowok yang tak sengaja tertangkap layar kameranya.
__ADS_1