
Setelah Deasy pergi menggunakan motornya, si Mas Punk mendekati Lily yang tampak berdiri dengan gemetar, antara marah, takut, dan kedinginan, karena air kubangan sudah membuatnya basah kuyup dan menghitam.
"Gimana? Masih mau sok cantik lagi Mbak Ondel-Ondel? Kalau kayak gini, jangankan naik ojol, naik becak juga bakal ditolak. Jadi, selamat berjalan kaki, hahahaha."
"HAHAHAHAHA."
Para anak buah Mas Punk juga tertawa, mengikuti ketua mereka. Juga mengekor ketika Mas Punk pergi meninggalkan tempat itu. Para mahasiswa yang tadi ikut menonton, membubarkan diri karena tontonan mereka sudah dirasa tamat.
Kini, tinggal Lily sendirian yang masih berdiri di tempat itu, dengan hati yang rasanya entah. Hari yang benar-benar sial bagi Lily, mungkin paling sial seumur hidupnya.
Winny yang juga masih pincang saat berjalan, keluar dari gerbang kampus dan berjalan terseok menuju halte. Sebagai anak kost yang hidup serba pas-pasan dan jauh dari orang tua, Winny memang harus pandai berhemat. Setiap hari cewek itu pergi dan pulang sekolah menggunakan angkot.
"WIN, WINNY! TUNGGU!"
Winny menoleh pada sosok Hanin of Hanzawa yang tadi memanggilnya, cewek itu mengerutkan kening, ketika orang yang memanggilnya, berjalan terseok menghampirinya.
"Win, tolong pinjemin aku uang, buat ongkos naik taksi!"
"Hah? Lily? Kenapa kamu cosplay jadi Hanin of Hanzawa? Lagi buat konten?" tanya Winny terkejut melihat penampilan Lily.
"Ceritanya panjang, besok saja ku ceritakan. Sekarang, tolong pinjemin aku uang ya, please!"
Lily benar-benar menurunkan egonya di titik paling rendah, cewek itu merasa Winny harapan terakhirnya untuk bisa mendapat pinjaman saat ini.
"Oke. Aku pinjemin kamu seratus ribu, tapi besok harus balik! Itu uang makanku buat dua hari ke depan, sambil nunggu transferan. Kalau kamu gak balikin, lihat aja!"
"Iya, Win. Makasih ya."
Winny membuka dompetnya, dan mengulurkan dua bapak-bapak terakhir yang menghuni dompetnya pada Lily, dengan sedikit perasaan tak rela. Dengan cepat Lily mengambilnya, takut Winny berubah pikiran.
"TAKSIIIII."
__ADS_1
Lily segera memanggil taksi yang kebetulan lagi mangkal di tempat itu. Dengan perdebatan yang cukup alot, driver taksi mau mengantar Lily, dengan syarat Lily duduk manis di atas kantong kresek yang digelar di atas jok taksi. Lily terpaksa menyanggupi.
Sampai di rumah, Deasy menceritakan apa yang baru saja dia lakukan pada Lily via telepon pada Thalita. Thalita yang sedang pusing, semakin pusing dibuatnya, karena jadi terlalu banyak tertawa.
"Kamu tuh ya, Des, ngawur banget jadi orang. Gimana Lily bisa pulang coba? Dengan keadaan kayak gitu, mana ada kang ojol yang mau ngangkut?" tanya Thalita sambil berusaha meredam tawanya.
"Biarin lah! Biar tau rasa tuh Nenek Lampir. Abis, songgongnya itu keterlaluan banget lho, Tha, kan aku jadi gemes. Wong dengan keadaan kayak gitu ae, masih aja songgong ke Mas Punk kok."
"Emang udah cetakan dari sananya kayak gitu, mau diapain lagi?"
"Ya dikasih pelajaran dikit lah, siapa tau bisa insaf, ye kan? Itu artinya kita membuka ladang pahala tau, membuat orang bertobat, pahalanya gede tau, hahahaha."
"Pahala dari Hongkong? Yang ada, dosa kamu tuh yang tambah gede, udah julid sama anak orang, hahahaha."
"Gampang lah itu, Tha. Nanti aku bakal bertobat kok, tapi gak sekarang sih. Sekarang masih pengen julid dulu sama Nenek Lampir, hahaha."
"Dasar bocah gemblung, hahahaha. Udah-udah, Des! Makin pusing aku kamu telponin. Kebanyakan tertawa makin berdenyut ini kepala."
"Untuk sementara, kamu colab aja sama Bang Gideon, Des! Pasti makin seru tuh, si Nenek Lampir bisa makin kebakaran jenggot, karena cemburu kamu dekat-dekat dengan Bang Gideon."
"Kamu gak cemburu juga?"
"Ya enggaklah, secara kan levelku tuh jauh di atas kamu. Jadi gak mungkin Bang Gideon itu ninggalin aku, buat sel*ngkuh sama kamu, hahahaha."
"Kampret kamu, Tha. Hahahaha!"
Kedua cewek itu masih terus ber haha hihi di telepon untuk waktu yang cukup lama, membuat Gideon yang sedari tadi menelepon Thalita, tidak tersambung. Thalita sedang berada di panggilan lain.
"Thalita ini, katanya sakit, tapi telponan mulu, sama siapa sih? Lama bener kalo nelpon, udah sejam lebih, tapi masih di panggilan lain," gerutu Gideon.
Untuk kesekian kalinya, cowok itu berusaha nelpon Thalita, tapi masih saja berada di panggilan lain. Baru saja Gideon meletakkan ponselnya, benda itu sudah berdering nyaring. Tanpa melihat nama pemanggil, Gideon segera menggeser ikon bergambar telpon ke arah warna hijau.
__ADS_1
"Halo, Tha. Lama bener, lagi nelpon sama siapa sih dari tadi, Sayang?" sapa Gideon.
"Ini baru pulang kok, Sayang. Aku mau curhat sama kamu, Ganteng. Tadi tuh aku---"
"Wait! Ini siapa sih? Kok seenak udel panggil-panggil sayang," potong Gideon.
"Masa sih kamu gak ngenalin suara aku, Ganteng? Aku ini bebebmu, Lily. Jangan ngeprank ya, Sayang! Aku lagi badmood, pengen curhat," kata Lily kesal.
"Aku males banget kamu curhatin. Jadi, mending kamu curhat sama tembok aja, pasti mau tuh tembok."
"Peduli setan kamu gak mau ku curhatin, yang penting aku mau curhat! Jadi gini, Sayang, teman mantanmu, si Deasy itu, kayak e cemburu banget kalau aku dekat sama kamu. Tadi aja nih, dia bully aku, gara-gara lihat kita ngobrol tadi pagi."
"Lha? Kok ngawur gitu asumsimu? Aku sama Deasy gak ada hubungan apa-apa, ngapain juga dia cemburu? Mikir tuh pakai otak, jangan pakai dengkul mulu!"
"Itu fakta kok! Kalau bukan karena cemburu, ngapain dia bully aku hayo?" kata Lily sewot.
"Deasy itu suka usil. Mungkin karena kamu gampang dibully, makanya dia seneng bully kamu. Jujur aja deh, tujuan kamu nelpon aku tuh apa!?"
"Cuma mau ngobrol dan curhat, gak boleh?"
"Gak, karena aku mau nelpon pacar aku, Thalita. Jadi, aku mau matiin telpon mu."
"Gak boleh! Kamu gak boleh nelpon Thalita! Aku cemburu lihat kalian dekat lagi. Putusin dia sekarang!"
Tuuuuutttttt
Gideon mematikan panggilan dan memblokir nomor Lily untuk kesekian kalinya.
"Dasar cewek gak waras! Kok bisa lho, bilang cemburu, wong bukan pacar. Thalita aja gak se-rese mahluk satu itu."
Gideon tersenyum lebar, karena setelah memblokir Lily, sambungan telepon Gideon pada Thalita, berubah jadi berdering.
__ADS_1