Pacar Antik

Pacar Antik
Part 36 : Balikan


__ADS_3

Gideon mengandeng tangan Thalita, dan disambut mesra oleh gadis itu. Keduanya mengalami sensasi yang sangat luar biasa, berdebar-debar di dalam dada. Keduanya berwajah merah karena malu-malu. Fix, masih ada segudang cinta di antara mereka berdua.


"WOEYYY, kalian balikan, ya?" tanya Deasy membuat kaget pasangan yang baru mengalami jatuh cinta untuk kesekian kalinya itu.


"Ehh!! Enggak kok, Des. Ini tadi cuma buat manasi si Nenek Lampir aja kok. Ya kan, Bang?" Thalita buru-buru melepaskan gandengan tangan Gideon.


"Kalau Abang, gak cuma manasi juga gapapa kok. Abang rela-rela aja dibilang balikan sama Thalita," kata Gideon jujur.


"Yeee, ogah banget. Haram hukumnya balikan sama mantan!" kata Thalita sewot.


"Gapapa sekarang haram, nanti Abang halalkan kok, ya kan, Des?" Gideon mengedipkan sebelah matanya pada Deasy.


"Aku sih, yes. Dari pada cari yang lain belum tentu cocok, mending balikan sama yang lama, udah tau semua borok-boroknya, gak perlu jaim-jaim lagi," kata Deasy berpendapat.


"Nih, Des! Bang Gideon buat kamu aja, kalian kan cocok banget, seperti celana dengan baju!"


Thalita mengambil tangan Gideon, lalu menaruhnya di telapak tangan Deasy, kemudian gadis itu berlalu masuk ke ruang kelas. Deasy dan Gideon cuma ngakak, melihat kelakuan Thalita.


"Abang ke kelas dulu ya, Des. Tolong jagain Tuan Putri, jangan sampai dia dilirik sama yang lain, dia cuma milik Abang seorang."


"Beres, Bos! Laksanakan!"


Sambil bersiul-siul senang, Gideon berjalan ke kelasnya. Hati cowok itu berbunga-bunga, Thalita sudah tak menolak lagi didekatinya, tampaknya gadis itu sudah mulai jinak. Di ujung koridor, Lily menunggu Gideon, cewek itu belum merasa puas, sebelum mendapatkan kepastian dari cowok itu, bahwa ia balikan dengan mantannya.


"Bener kamu balikan, Yon?" tanya Lily to the point.


"Menurutmu gimana, Ly?" Gideon balik bertanya.


"Kalian cuma pura-pura aja balikan, biar aku cemburu."


"Terus, apa untungnya buat kami ngelakuin kayak gitu? Emang kamu pikir, kami kurang kerjaan?"

__ADS_1


"Kan kalian emang kurang kerjaan, suka cari sensasi dan pencitraan. Kalian berdua bakal ngelakuin apapun untuk dapetin semua itu kok," kata Lily mulai nyinyir.


"Kamu ngomong kayak gitu, kayak kamu ngomongin diri sendiri deh, Ly. Makanya, jadi orang itu sering ngaca! Biar bisa mawas diri. Kuman di seberang lautan aja tampak, masa gajah di pelupuk mata tak tampak sih?" sindir Gideon.


Baru saja Lily hendak berdebat dengan Gideon, ketika tiba-tiba Winny datang dan menarik tangan Lily kasar.


"Wooyyy, tanggung jawab kamu jadi orang! Gimana nih kakiku, gak bisa dipakai jalan. Kamu harus ngobatin aku sampai sembuh total seperti sedia kala," kata Winny.


"Eh, Buntelan kentut, lu mau minta tanggung jawab gimana lagi, hah? Mau gua nikahin elu, iya? Yang bener dong kalau ngomong! Lu kan jatuh-jatuh sendiri, kenapa mesti gua yang ngobatin, hah?"


Lily tampak terbawa emosi. Datang-datang Winny membuat cewek itu merasa badmood. Udah bagus Lily membayarkan biaya urut buat kaki Winny, tapi sepertinya cewek itu memang tak tau terima kasih.


"Lu udah bikin gua jatuh dan kaki gua terkilir, jadi lu harus tanggung jawab sampai gua sembuh!"


Winny ikut-ikutan Lily ber elu gua, meski terdengar kaku dan janggal. Winny tak peduli, yang penting Lily harus bertanggung jawab atas tragedy yang dialaminya.


"Gua bikin elu jatuh? Yang bener aja kalau ngomong! Lu jatuh karena badan lu yang segede gajah itu, gak mampu ditopang kakimu yang letoi. Makanya, jadi orang itu diet, jangan makan mulu!"


Duel maut antara Lily dan Winny, membuat mereka berdua menjadi artis dadakan. Banyak mahasiswa yang menghambur keluar, ingin menyaksikan tontonan gratis itu.


"Yon! Kok gak kamu pisah sih mereka? Tuh, pasti Lily jadi bonyok-bonyok kena bogem si Winny," kata seorang cewek pada Gideon.


"Biarin aja, udah gede ini kok. Aturan kan tau, mana yang baik mana yang enggak buat dilakuin. Lagi pula, kalau aku pisah mereka, yang ada aku ikutan babak belur dihajar mereka. Gajah berantem dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah," Gideon mengutip sebuah peribahasa.


"Duh, cowok apaan sih kamu ini, Yon?" tanya si Cewek kesal.


"Ya cowok tulen lah, masa cowok jadi-jadian sih? Mau bukti?"


Gideon memegang gesper yang dia pakai, dan berlagak hendak membuatnya kendur, tapi cewek tadi udah lari terbirit-birit sambil menjerit. Gideon terpingkal melihat tingkahnya.


Sementara itu, Winny dan Lily masih terus berduel, tanpa seorangpun berniat memisah mereka. Semuanya menikmati tontonan gratis di pagi hari itu. Baru ketika Dosen datang, semua orang membubarkan diri. Termasuk Winny dan Lily yang tampak awut-awutan.

__ADS_1


"Lha? Kalian ini abis ngapain, kok berantakan kayak gini?" tanya Pak Dosen.


"Mereka habis bikin konten kok, Pak. Biasalah, namanya juga kan artis toktik, bikin sensasi biar laris," celetuk Gideon yang ditanggapi tawa oleh mahasiswa lain.


*****


Pulang kuliah, Gideon menunggu Thalita yang belum keluar, sambil minum es cendol di depan kampus. Lily yang jalannya masih pincang karena berduel, menghampiri cowok itu.


"Yon, pulang bareng dong! Anterin aku, kakiku sakit banget nih!"


"Ogah banget! Tar ayang aku marah, kalau aku anterin Mak Lampir. Baru juga balikan, masa sih bikin doi kesal?"


"Please lah, Yon! Kaki aku sakit banget nih, tadi kejatuhan si Body tong itu. Bisa jadi patah tulang nih aku."


"Yo sukurin! Siapa juga yang suruh kamu berantem?"


Lily diam, tak ada gunanya berdebat dengan Gideon, karena sekarang ini cowok itu berubah jadi keras kepala, tak seperti dulu, nurut-nurut aja pada Lily. Harus memakai trik, agar Gideon mau menuruti kemauan Lily.


Lily melirik Thalita yang baru keluar dari gerbang, Gideon melambai ke arah gadis itu.


"Hay, Sayang. Mau es cendol?"


"Enggak deh, Bang. Thalita mau langsung pulang aja, gak enak badan nih, meriang."


Gideon memegang dahi Thalita dengan telapak tangannya, memang badan gadis itu terasa sedikit panas.


"Waduh, kamu demam, Sayang. Yuk ku antar pulang, biar bisa cepat minum obat!"


Tanpa membantah, Thalita menerima helm dari Gideon dan memakainya. Keduanya kemudian melaju dari tempat itu, merek meninggalkan Lily tanpa pamitan.


"Ah, dasar kurang ajar! Ternyata mereka memang beneran balikan, ku kira cuma pencitraan. Dasar aku aja yang sial."

__ADS_1


__ADS_2