
Kekesalan Lily berubah jadi emosi, saat melihat pantulan wajahnya dari layar ponsel miliknya. Tampang selebriti yang selama ini dia bangakan, berubah jadi tampang copet yang abis kecebur comberan karena dikejar massa.
Maskara dan pensil alis yang dipakai Lily bukan produk waterproof, jadi bisa dibayangkan, bagaimana tampilan wajahnya setelah terkena cipratan air kubangan yang tadi dilindas oleh Deasy. Luntur lah chyiiiin, hahahaha.
"KUTIL MONYET SIALAN!! AWAS AJA, KU LAPORKAN KAMU KE KOMNASHAM!!" umpat Lily.
"Hahahaha, gak sekalian aja lapor ke KPK tuh? Atau ke Bareskrim, hahahaha," Deasy tertawa-tawa sambil duduk di atas motornya. Cewek itu sengaja menghentikan motor, cuma untuk meledek Lily.
"Lu emang kurang ajar sama orang yang lebih tua! Gua sumpahin lu kena sial tujuh turunan!" kata Lily penuh emosi.
"Gak sekalian tujuh tanjakan juga nyumpahinnya, Buk? Biar makin mantul gitu lho, masa turun mulu, gak pernah nanjak? Hahahaha."
Deasy masih asik meledek Lily. Beberapa mahasiswa dan pengguna jalan yang kebetulan lewat, sampai ada yang berhenti untuk menyaksikan keributan di sore itu. Lily semakin terbawa emosi, sampai melupakan statusnya sebagai selebgram yang lagi naik daun. Lily masih saja nyerocos meladeni Deasy yang terus memancing emosinya.
"Bener-bener lu ya, Bocah! Minta dikutuk jadi kecebong nih anak. Jadi kodok mah kebagusan!" Lily masih terus mengumpat.
"Duh duh duh, ngaca dong Bu Seleb! Eh, padahal tadi udah ngaca di HP, tapi tetap aja gak tau muka sendiri. Yang lebih mirim kecebong itu kan elu, bukan gua. Ya kan, Gaes?"
Deasy sengaja bertanya pada orang-orang yang sedang menonton perseteruan mereka, sambil menirukan gaya Lily ketika sedang live streaming. Hampir semua orang terpingkal, melihat gaya Deasy yang sangat lebay.
"Sini! Turun lu kalau berani! Biar gua celupin kepala lu ke kubangan ini! Biar lu nyadar, berhadapan dengan siapa!"
"Yeee, dari tadi gua nyadar kok, kagak pingsan. Lu aja yang amnesia, karena kebanyakan minum air kubangan,hahahaha."
Bahasa gaul ala anak Ibukota, secara reflek digunakan lagi oleh Deasy, karena terpancing Lily yang sedari tadi ber-elu gua dengannya.
Dengan penuh emosi, Lily mengambil batu, dan melemparkannya ke arah Deasy. Lemparan yang penuh emosi, hingga dengan mudah berhasil dihindari oleh Deasy. Batu itu secara tak sengaja, mengenai seorang anak punk yang kebetulan sedang lewat bersama kelompoknya.
"SIAPA YANG BERANI LEMPAR-LEMPAR BATU, HAH? SINI MAJU, BIAR KU BIKIN PERKEDEL!" ancam si Anak punk.
"Dia tuh, Mas, yang lempar-lempar. Banyak kok saksinya. Mas tanya aja sama mereka ini, kalau gak percaya!" kata Deasy sambil menunjuk muka Lily.
Anak punk itu mendekati Lily dengan berkacak pinggang. Matanya melotot dan terlihat sanggar. Nyali Lily menjadi ciut ketika melihatnya.
"Bu ... bukan aku kok yang melempar, Mas. Tapi dia tuh, cewek yang lagi nangkring di atas motor," Lily balik menuduh Deasy.
"Lu mahasiswa bukan?"
__ADS_1
"Ma ... mahasiswa, Mas. Emangnya kenapa?" tanya Lily heran.
Sudah jelas-jelas Lily anak kuliahan, kenapa preman itu malah bertanya, dia mahasiswa atau bukan, kan aneh.
"Kalau lu mahasiswa, aturan pintar dong! Masa iya cewek yang lagi duduk di atas motor, bisa ngambil batu buat nyambit orang? Justru lu, yang paling masuk akal sebagai pelaku."
Lily mulai tampak gemetar ketakutan, baru kali ini dia berhadapan dengan anak punk yang sanggar. Apalagi sekarang si Anak Punk tampak sangat marah, karena kepalanya benjol sebesar telor puyuh.
"Be ... beneran bukan aku kok, Mas. Dia tadi yang sambit kepalanya Mas. suer, aku gak bohong, Mas."
"Lu kira gua bego? Gini-gini juga gua punya otak. Gak kayak elu, ngakunya aja mahasiswa, tapi telmi. Sini bagi duit, buat ganti rugi kepala gua yang lu bikin benjol!!!"
"Aaaa ... aku gak punya duit, Mas. Ini aja cuma cukup buat bayar angkot," kata Lily memelas.
"Lu pikir gua percaya omongan elu? Dandanan elu aja menor kayak ondel-ondel gini, masa iya elu kere? Atau yang lu pakai itu bukan makeup, tapi crayon ya?"
"Hahahahaha," suara tawa teman-teman si Punk membahana. Membuat sebagian mahasiswa yang ada di tempat itu, ikut tertawa terbahak-bahak.
Lily semakin gondok, apalagi melihat Deasy yang tertawa paling keras, mendengar candaan si Punk yang menurutnya sama sekali tak lucu. Teman-teman si Punk mulai berdiri mengelilingi Lily, membuat cewek itu sedikit takut dan gemetar.
"Cepet sini, bagi ganti rugi! Atau kamu mau ..."
"Aaa ... atau apa?" tanya Lily gagap karena panik.
"Atau kamu harus jadi pacarku, hahaha. Setuju gak, teman-teman?" tanya si Punk pada teman-temannya. Semua gerombolan itu mengangguk setuju.
"ORA SUDI! Mana mau aku punya pacar kayak kamu. Mandi aja kamu jarang kok. Baumu udah mirip banget sama kambing. Bisa gatel-gatel aku nanti," kata Lily sewot.
"GAK USAH BELAGU LU! CANTIK KAGAK, MULUT JUGA BOBROK. LU KIRA LU GAK LEBIH MIRIP KAMBING HAH? BAU LU AJA LEBIH BUSUK DARI COMBERAN."
Si Punk benar-benar marah. Cewek di depannya sudah berani menghinanya di hadapan para pengikutnya. Ya, rupanya si Punk itu ketua gerombolan mereka.
"APA LU MELOTOT KE GUA, HAH? SINIIN GANTI RUGI BUAT JIDAT GUA YANG BENJOL. CEPAAAAAAT!!"
Teriakan si Punk yang sangat keras di dekat telinga Lily, membuat telinga cewek itu terasa tuli. Lily meniup gengaman tangannya, kemudian mengarahkannya ke telinga.
"Kalau gua gak mau bayar, kamu mau apa?" tantang Lily.
__ADS_1
"Mau bikin lu menderita."
Si Punk berjalan mendekati Deasy dan motornya, kemudian tersenyum manis pada cewek itu.
"Kamu kan, yang tadi nyipratin air ke ondel-ondel itu?" tanya si Punk sambil menunjuk Lily.
"Woiya jelas, Bang. Sampai motorku kotor kena lumpur nih. Tapi gapapa deh, cuci motor sepuluh ribu juga udah kinclong kok," kata Deasy nyengir.
"Kalau gitu, gak keberatan kan, kamu cipratin dia beberapa kali lagi, Cantik?"
"Dengan senang hati, Bang, hahaha. Mau berapa kali?"
"Lima kali aja cukup, Cantik," si Punk menunjukkan lima jarinya.
"Oke siap."
Deasy menstrat motornya, dan bersiap kembali melindas kubangan air. Si Punk menyuruh teman-temannya minggir, dan mengancam Lily untuk tetap berdiri di situ.
BREM BREM CRAAATTTT
"SATUUUUU."
BREM BREM BREM CRAAAAT
"DUAAAAAAA."
NGENG NGEEENG NGEEEENG CRAAAAAT
"TIGAAAAAA."
NGEEEENNG CRAAAAAAT CUIIIITTT
"EMPAAAAAAT."
BREM BREM BREM NGEEEEEENG CRAAAAAAT CUIIIIIIT
"LIMAAAAA. MAKASIH YA, CANTIK!"
__ADS_1
Deasy melambai, kemudian melajukan motornya, meninggalkan Lily yang sekarang ini lebih mirip Hanin of Hanzawa, tokoh misterius di komik Detective Conan.