Pacar Antik

Pacar Antik
part 28 : Belum Move On


__ADS_3

Mama tiba di rumah dengan wajah kusut, kesal karena Gideon tak mau menjemputnya, juga kesal karena ojol yang ditumpanginya sempat ke tambal ban karena bocor. Sebenarnya Mama bisa saja mencari ojol lain, tapi sang driver dengan sangat mengiba, meminta Mama untuk menggunakan jasanya. Driver itu belum dapat penumpang seorangpun siang itu.


"Kusut banget sih, Ma? Pasti marah sama Bang Gideon nih," tebak Karin.


"Gimana Mama gak marah? Masa anak Mama dimintai tolong aja gak mau. Ini Mama masih sehat, masih dibutukan udah diperlakukan kayak gini. Gimana nanti kalau Mama udah jompo dan jadi beban? Bisa-bisa Mama malah dibuang ke jalanan."


"Jangan ngomong kayak gitu dong, Ma! Kan Karin jadi sedih dengarnya. Coba Karin bisa naik motor, pasti Karin mau kok, disuruh-suruh sama Mama."


Gideon mendengar juga obrolan Mama dan Karin. Cowok itu menyesal, kenapa tadi menolak menjemput mamanya. Andai saja sang Mama tak pergi ke rumah Thalita, Gideon pasti mau menjemput. Tapi ini ke rumah Thalita. Gideon belum sanggup kalau harus berkunjung ke rumah itu lagi.


Terlalu banyak kenangan Gideon yang terjadi di rumah Thalita. Berpacaran selama empat tahun dengan cewek itu, membuat Gideon entah berapa ratus kali ke tempat itu.


Dulu, waktu SMA, Thalita adalah adik kelas Gideon. Saat itu, Gideon duduk di kelas 12 dan Thalita di kelas 10. Setiap hari, Gideon berangkat dan pulang sekolah bareng Thalita. Kebiasaan itu terhenti ketika Gideon lulus dan kuliah. Kemudian kembali terjadi ketika mereka kuliah di kampus yang sama.


Mama Thalita bahkan sudah menganggap Gideon seperti anaknya sendiri. Mama Thalita sering memasak makanan kesukaan Gideon, kemudian mengajaknya sarapan atau makan siang bareng.


Berat sekali bagi Gideon untuk menginjakkan kaki di rumah itu setelah putus dengan Thalita. Cowok itu yakin, komunikasinya dengan mama Thalita akan kaku dan kikuk, tak lagi luwes seperti dulu. Itulah kenapa, Gideon menolak menjemput mamanya.


"Terus, Mama harus ngomong apa? Kamu belum jadi seorang mama, Rin, jadi kamu belum tau rasanya ditolak sama anak waktu meminta tolong."


Tak kuat mendengar keluhan Mama, Gideon keluar dari kamarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan Gideon ya, Ma! Gideon menolak menjemput Mama, karena Gideon masih belum bisa ketemu dengan Thalita. Hati Gideon masih sakit, setiap kali melihat dia, Ma. Bukan maksud Gideon, untuk membuat Mama sedih. Saat Mama bilang kalau Gideon dan Karin tidak peduli sama Mama, hati Gideon rasanya sakit."


Gideon mulai menangis, meski tak bersuara. Tapi Mama tau, hati anak bujangnya itu pasti sedih, mendengar keluhannya tadi.


"Mama minta maaf sama kalian berdua, bukan maksud Mama juga membuat kalian sedih. Mama tadi memang sempat kecewa, tapi Mama mengerti alasan Gideon. Memang berat rasanya bertemu dengan mantan, apalagi mantan tersayang. Maafkan Mama ya, Gideon, Karin!"


Gideon dan Karin memeluk Mama, ketiganya jadi seperti teletubbies yang gemar berpelukan. Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu, sampai Papa yang baru saja pulang kerja merasa heran. Papa juga ikut berpelukan, jadi mereka sekarang persis para tubbies beneran.

__ADS_1


"Haduh Papa ini, datang-datang main nimbrung aja, bau acem, nih!" gerutu Mama.


Papa malah mengarahkan wajah Mama ke arah keteknya, membuat Mama semakin ngamok-ngamok. Karin dan Gideon tertawa melihat ulah kedua orang tuanya.


Setelah beberapa saat bercanda, Mama dan Karin ke dapur, untuk membuatkan Papa kopi dan memasak makan malam. Papa dan Gideon ngobrol di teras.


"Kok Papa lama gak lihat Thalita kamu bawa ke sini, Yon?"


"Gideon udah putus sama Thalita, Pa."


"Lha kenapa? Bukankah kemarin-kemarin kalian baik-baik aja?"


"Gideon yang salah, Pa. Gideon dekat sama cewek lain, dan Thalita cemburu, terus minta putus."


"Cewek kayak apa yang membuat kamu tergoda? Apa dia lebih baik dari Thalita?"


"Dia seorang selebgram, Pa. Awalnya Gideon jenuh dengan hubungan Dion dan Thalita, Thalita terlalu cuek sama Gideon. Terus ada si Lily ini yang perhatian sama Dion, jadi Dion jalan sama dia."


"Terus Thalita tau, dan minta putus."


"Kamu kabulkan?"


"Iya, Pa. Karena waktu itu Lily kelihatan jauh lebih baik dari Thalita, jadi Gideon lebih nyaman sama dia. Tapi---"


"Tapi apa?"


"Gideon ternyata cuma dimanfaatkan oleh Lily. Dengan penampilan Gideon yang katanya antik, Lily menjadikan Gideon penarik minat viewer akun toktik dia. Gideon jadi nyesel, udah putus sama Thalita," kata Gideon sedih.


"Waduh!! Kamu udah minta maaf sama Thalita?"

__ADS_1


"Udah kok, Pa."


"Udah ngajak balikan?"


"Udah juga, tapi Thalita menolak. Sepertinya dia sakit hati sama Gideon."


"Ya jangan sekali minta maafnya, berulang kali, sampai berhasil!"


"Uuu ... udah kok, Pa."


"Tapi belum berhasil, kan? Coba lagi! Jadi cowok itu jangan gampang menyerah! Harus ulet kalau berjuang! Papa aja nih, dulu dapatin mamamu susah banget. Berapa kali tuh Papa ditolak, tapi Papa pantang mundur. Akhirnya, Papa dapat mamamu juga kan?"


"Ya iya lah. Kan Mama terpaksa nerima papamu, karena risih digangguin mulu. Setiap cowok yang dekat Mama, diancam tuh sama papamu," sahut Mama yang tiba-tiba saja sudah muncul dan mendengarkan obrolan Gideon dan Papa.


"Kok kayak ada orang ngomong ya, Yon? Kamu dengar gak? Tapi gak ada wujudnya, hiiiii serem, jangan-jangan rumah ini ada hantunya," kata Papa sambil celingukan seperti mencari seseorang yang tak nampak.


Gideon ngakak melihat aksi Papa, sedang Mama nampak sewot. Mama meletakkan cangkir kopi Papa dengan kasar, hingga ada sebagian yang tumpah. Papa ikutan ngakak melihat reaksi Mama.


"Cie cie ada yang sewot nih. Iya deh iya, Mama terpaksa nerima Papa karena Papa gangguin terus. Tapi kan Mama juga suka Papa gangguin. Jadi kita sama-sama suka deh, hahahaha."


"Mama gak suka kok sama Papa. Mama sukanya sama si Erik yang dokter itu!" kata Mama gondok.


"Terus? Si Erik emang suka sama Mama? Kan enggak, hahahaha. Erik sukanya kan sama Erni yang bahenol itu, hahahaha."


Mama semakin gondok, Papa sengaja menggodanya. Wanita itu masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kaki, membuat Papa dan Gideon semakin ngakak.


"Intinya gitu deh, Yon! Kalau kamu masih belum bisa move on dari Thalita, masih cinta sama dia, masih butuh sama dia, ya kejar! Jangan menyerah sebelum berhasil. Buktinya, mamamu aja akhirnya luluh sama Papa yang pantang menyerah kan?"


"Oke, Pa. Gideon akan meneladan pada Papa. Gideon akan terus berjuang untuk mendapat cinta Thalita lagi. Akan Gideon rebut tuh Thalita dari pacar barunya. MERDEKA!!!"

__ADS_1


Papa hanya bengong mendengar tekad anaknya.


__ADS_2