Pacar Antik

Pacar Antik
Part 33 : Keras Kepala


__ADS_3

Thalita masih merajuk, bibirnya keliatan maju sampai lima senti meter, membuat wajahnya lebih mirip bebek. Turun dari motor, dia tak mengucapkan terima kasih pada Moses yang sudah menjemputnya ke kampus, tapi langsung aja masuk ke rumahnya dengan langkah kaki lebar-lebar.


Moses yang sudah hafal betul dengan sifat sepupunya yang masih kayak bocah, memasukkan motornya ke halaman rumah Thalita, dan menyusul gadis itu masuk ke dalam.


Mama Thalita sedang asik merajut di beranda samping rumah, ketika Thalita masuk tanpa mengucapkan salam dan berlalu ke kamarnya, anak gadisnya juga terdengar membanting pintu. Setelah itu, Moses ikut masuk dengan buru-buru, menunjukkan mereka pasti sedang tidak akur.


"Kenapa, Ses?" tanya mama Thalita mengejutkan Moses.


"Eh, Tante. Sore, Tan. Itu, anak Tante yang paling cantik, sedang ngambek," kata Moses sambil mencium tangan tantenya.


"Lha ngambek kenapa? Kamu apakan tuh Anak Manja?"


"Gak ku apa-apakan juga kok. Dia ngambek karena aku ngobrol dengan cowoknya."


"Cowoknya? Gideon, maksudnya?"


"Iya, Tante. Si Manja ngira aku yang ngasih tau Gideon kalau dia sepupuku. Padahal dia sendiri yang keceplosan. Makanya dia ngambek kayak gitu. Betewe, Tante masak apa? Minta makan dong, Te!"


"Oh gitu ceritanya, biarin aja tuh anak keras kepala! Ke dapur aja kamu, tadi Tante masak kare ayam! Itu kan makanan kesukaan kamu."


Dengan girang Moses mengecup pipi tantenya, kemudian berlalu ke dapur dan mengambil piring. Cowok itu memang sudah sangat lapar. Tadi di kampus dia sengaja tak makan siang, karena ceweknya yang kost dekat si Winny, minta traktir makan mie ayam. Sebagai seorang mahasiswa yang belum punya penghasilan sendiri, harus pinter-pinter ngatur keuangan. Masa buat kencan sama pacar, harus jadi beban ortu juga?


Thalita keluar dari kamarnya setelah bertukar pakaian dengan baju rumah, celana gemes dan kaos oblong. Cewek itu langsung ke dapur dan ikut makan bareng Moses.


"Eh, Tuan Putri lapar juga rupanya?" tanya Moses.


"Kok numpang makan disini sih? Gak dimasakin ya, sama Budhe?"


"Budhe kan wanita karier, mana sempat masak, yang ada beli masakan siap saji mulu, bosen Kakak."


"Terus numpang makan di sini, gitu? Ih, gak modal amat sih Kak Moses ini!"


Thalita masih kesal, karena Moses yang tadi kepergok lagi ngobrol dengan Gideon, jadi cewek itu masih memasang muka manyun.


"Tha?"


"Hmm."


"Thalita?"

__ADS_1


"Apa sih, Kak? Gak jelas banget deh Kakak ini."


"Kamu gak mau balikan aja sama Gideon? Kakak lihat, dia tuh masih cinta lho, sama kamu."


"Gak mau."


"Kenapa?"


"Ya karena dia udah selingkuh lah, Kak. Mana selingkuhannya masih di bawah standar Thalita, kan ngeselin."


"Hahahaha, jadi kalau selingkuhan si Gideon standarnya di atas kamu, kamu bisa maklum?"


"Ya gak juga."


"Terus? Mau kamu gimana tuh?"


"Ya mau Thalita, dia gak boleh selingkuh. Harus tetap setia sama Thalita. Harus sabar ngadepin Thalita. Harus bisa ngemong Thalita."


"Kok kesannya kamu yang egois?"


"Ya gapapa kalau Thalita yang egois. Cewek cantik mah bebas."


"Heleh, cantik dari Hongkong? Hidung aja pesek gitu kok, terus jerawatan pula."


"Ada apa sih? Kok pakai teriak-teriak? Kalian berantem lagi?" tanya Mama.


"Enggak kok, Tante. Ini lho, kakinya Moses kejepit kaki meja," kata Moses sambil melirik Thalita.


Thalita sudah mengirim pandangan mengintimidasi pada Moses, membuat cowok itu terpaksa mengarang cerita. Moses juga tak mau, cubitan maut part dua mendarat di tubuhnya lagi. Panas dan perih di lengannya masih terasa, dan kulit di lengan itu mulai tampak membiru.


"Awas aja kalau kalian masih suka berantem ya! Udah pada gede gini kok. Bukan lagi anak SD yang hobi cakar-cakaran kayak Tom dan Jerry."


"Haduh, Mama. Masa Thalita dan Kak Moses kayak Tom and Jerry sih? Gak keren banget penggambarannya. Kita ini kan kayak Takagi dan Nishikata, ya kan, Kak Moses?"


"Siapa pula itu Takagi dan Nishikata?" tanya Moses.


"Ih, itu lho, tokoh anime Karakai Jouzu no Takagi San, masa gitu aja gak tau sih?" dengkus Thalita kesal.


Sejenak Moses berpikir, anime mana yang Thalita maksudkan. Mereka berdua memang wibu, suka banget nonton anime. Ketika sudah dapat mengingat, Moses cemberut kesal.

__ADS_1


"Kenapa, Ses?" tanya mama Thalita.


"Ogah Moses kalau jadi Nishikata, Te! Dia itu gambaran cowok yang selalu ditindas sama ceweknya. Ogah banget deh kayak gitu. Biar Gideon aja tuh yang jadi Nishikata."


Mama Thalita cemberut, karena tak memahami bahasan anak dan keponakannya. Mungkin itu obrolan anak muda kekinian, makanya dia tak paham.


"Jadi, kamu mau balikan lagi sama Gideon, Tha?"


"Enggaklah, Ma. Ngapain juga. Haram hukumnya balikan sama mantan."


"Siapa bilang? Kakak juga baru saja balikan sama mantan nih."


"Itu kan karena Kak Moses tak laku, makanya mau aja diajak mantan buat balikan," kata Thalita.


"Mana ada kayak gitu? Jelek-jelek gini kan Kak Moses ini idola para gadis di kampus. Pada ngantri tuh yang mau jadi pacar Kakak."


"Kalau kayak gitu, kenapa balikan?"


"Ya mending aja, dari pada sama yang baru, belum tentu juga cocok, kan? Kalau sama mantan, kita itu udah tau borok-boroknya juga, jadi gak usah jaim-jaim lagi."


Thalita terdiam, omongan Moses memang ada benarnya. Pacaran lebih tiga tahun dengan Gideon, membuat cewek itu paham gimana sifat cowok itu. Bukan hanya sifat baiknya, tapi juga sifat buruknya. Thalita juga tak perlu jaim di depan Gideon, karena cowok itupun sama, sudah sangat memahami Thalita.


"Duh, bahaya nih, Tante. Anak Tante kesambet, tuh. Lihat aja, jadi bengong kayak gitu!"


"BERISIK!!"


Thalita mengambil piring kosong di depan Moses kemudian membawanya ke tempat cuci piring.


"Cuci sekalian, Tha!"


"BAWEL!"


"Tapi, benar juga tuh, Tha, apa kata Moses. Mending kamu balikan lagi sama Gideon dari pada cari pacar baru. Keluarga dia semua Mama sudah kenal baik, demikian juga sebaliknya, jadi Mama tak lagi merasa was-was kalau kamu pergi sama Gideon."


"Apaan si, Ma? Kalau Mama suka sama Bang Gideon, ya Mama aja yang pacaran sama dia! Gitu aja kok repot."


"Terus? Papa kamu mau dikemanakan?"


"Di tukar sama bawang."

__ADS_1


"Sembarangan! Tar kalau Papa pulang, Mama aduin biar uang saku kamu dipotong."


Mama Thalita meninggalkan dapur, untuk kembali merajut di beranda. Thalita segera saja menyusulnya, cewek itu tak mau, kalau uang sakunya disunat. Dia akan berjuang untuk merayu mamanya.


__ADS_2