
"Eh, Buntelan, aku pulang dulu ya," Lily tergesa pamit pada Winny yang masih diurut Mak Ijah.
"Kok pulang? Gimana nasibku, nih? Kamu harus tanggung jawab, woy!"
"Ya udah, kamu yang nanggung, aku yang jawab! Kita bagi tugas, oke?"
"Bagi tugas gundul mu! Tar gimana aku selanjutnya? Pasti kakiku bakal gak bisa digerakkan abis ini, kamu harus bantu aku sampai aku sembuh, Ly!"
"Eh, Buntelan, dengar ya! Kamu itu jatuh karena kamu yang pecicilan, jalan gak hati-hati. Bisa-bisanya nuntut tanggung jawab dari aku."
"Aku jatuh itu karena kamu berhenti mendadak, Ly, makanya aku tabrak. Aturan itu, kalau mau berhenti, harus kasih tanda, biar gak terjadi kecelakaan!"
"Bener-bener kamu ya, Win! Dimana-mana, kalau ada tronton nabrak motor, tetap aja tronton yang salah."
Winny merasa tersinggung, Lily mengibaratkan dia itu tronton, dan menggambarkan dirinya sendiri motor. Lupa sedang dipijat, Winny segera bangkit dari tidurannya. Melihat gelagat kurang baik, Mak Ijah memijat bagian kaki Winny yang sakit.
"AMPUN!! Sakit banget, Mak! Pelan-pelan dong!"
Winny merasa sangat kesakitan, dan hal itu membuatnya menangis. Mak Ijah cuma nyengir, sedang Lily menyeringai puas.
"Pokoknya aku mau pulang. Dan aku udah bertanggung jawab sama kamu, karena udah panggilkan tukang urut profesional kayak Mak Ijah ini."
Lily memberikan selembar uang warna merah bergambar dua bapak-bapak, pada Mak Ijah tanpa setau Winny. Kemudian Lily pergi, setelah sekali lagi berpamitan.
Winny merasa panik, karena tak punya uang untuk ongkos urut. Cewek tambun itu memanggil-manggil Lily, tapi tak digubris. Lily udah berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang lagi. Lily takut, jika menoleh ke belakang, dia bisa berubah jadi tiang garam seperti istri Lot.
Sambil menunggu ojol yang sudah dipesan, Lily menyempatkan membuat video untuk konten lagi, karena video yang tadi diambil di depan tempat kost Winny, gak mungkin untuk diupload. Lily mempunyai rencana tersendiri dengan video itu.
"Lihat saja ya, cewek cabe, aku akan merebut kembali Gideon dari kamu! Aku sudah punya senjata ampuh, yang bakal membuatmu tak berkutik," gumam Lily senang.
Tiba di rumahnya, Lily segera naik ke kamarnya di lantai atas, cewek itu berniat menelepon Gideon.
"SIAL! Kenapa sih teleponku ditolak? Awas aja tuh mahluk antik, pasti akan ku balas nanti!"
Lily melempar ponselnya ke atas kasur, dan merebahkan diri di sebelahnya. Kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun, sebagai seorang selebgram dengan ribuan follower, Lily merasa direndahkan karena teleponnya ditolak Gideon. Cewek itu tak berpikir, kalau saat ini kelas masih berlangsung di kampus. Dan tentu saja, Gideon tak akan menjawab telepon yang menurutnya tak penting.
"Hem, kalau dipikir-pikir, apa untungnya juga kalau aku nunjukin video tadi ke Gideon, ya? B*go banget sih aku ini?" Lily menepuk jidatnya yang lebar.
"Itu kan cowok e si Cabe yang lagi sel*ngkuh dengan tetangga kostnya si Buntelan, kalau si Cabe tau, terus minta putus, dia bakal balik ke Gideon lagi dong. Duh, kayak e aku ini kurang piknik deh, makanya jadi lemot gini kalau di suruh mikir."
__ADS_1
Lily ngomong dengan dirinya sendiri, sambil menepuk-nepuk jidat. Tiba-tiba ponsel Lily berdering, dan cewek itu menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Ooyy, Mak Lampir, kamu kok main kabur aja seenak udel sih? Gimana tuh bayar Mak Ijah e? Kamu harus tanggung jawab!"
Winny merepet kayak bebek, saat teleponnya diangkat oleh Lily.
"Bayar sama duit kamu dulu lah, Bun! Masa sih kamu tuh gak ada usahanya sama sekali?"
"HEH! Ini aku Winny, bukan bundamu."
"Iya tau kok, siapa juga yang ngira kamu bundaku?"
"Itu tadi kan kamu panggil aku Bun?"
"Buntelan maksudnya, bukan bunda," Lily bicara dengan santai, tali Winny merasa emosi.
"Bener-bener kurang ajar kamu ya, Mak Lampir. Ngasih nama orang seenak udel aja."
"Kan sama aja, kamu juga panggil aku mak lampir kok, berarti aku boleh dong, panggil kamu buntelan."
"Terserah kamu aja deh, males aku ribut sama kamu. Sekarang gimana nih, mana duit buat bayar Mak Ijah?"
Lily mematikan data, sekaligus mematikan daya ponselnya. Cewek itu sedang tak ingin diganggu oleh Winny, dia sedang ingin merasa tenang, supaya dapat berpikir dengan jernih. Tak lama, Lily tertidur.
Di kampus, jam kuliah Gideon usai dua jam lebih dulu dari Thalita. Cowok itu tak langsung pulang, tapi berniat menunggu Thalita di depan gerbang. Gideon memarkirkan motornya di samping penjual es cendol.
"Es cendolnya satu, Mang!" kata Gideon.
"Oke, Den!"
"Aku juga mau, Mang. Es batunya banyakin ya, biar awet ademnya."
Seorang pemuda, duduk dibangku milik Mamang Es Cendol, dekat Gideon. Ketika Gideon menoleh, cowok itu merasa terkejut, yang duduk di sebelahnya adalah pacar Thalita.
"Mas bukan mahasiswa di sini ya?" Gideon memberanikan diri bertanya.
"Iya, aku lagi nunggu sepupu yang kuliah di sini."
"Oh, gitu. Sepupunya cowok apa cewek, Mas?"
__ADS_1
"Cewek."
"Kalau boleh tau, siapa namanya, Mas? Mungkin saya kenal."
Moses menoleh pada Gideon, cowok itu sedikit merasa kesal, karena cowok yang duduk di sebelahnya terlalu bawel. Tapi, Moses tetap menjawab pertanyaan Gideon, meski singkat-singkat.
"Namanya Thalita."
"Thalita Adelia bukan, Mas?"
Kembali Moses menoleh pada Gideon yang asik meminum es cendolnya.
"Iya, Thalita Adelia."
"Mas tadi bilang, kalau Mas sepupunya Thalita. Mas bukan pacarnya?"
"Bukan lah. Thalita itu anaknya tanteku, adik ayahku yang paling kecil. Emang kenapa sih, kok dari tadi nanya mulu, kayak Dora aja?"
"Ya karena Thalita bilang, kalau Mas itu pacarnya."
"Oh itu. Sengaja aja, biar mantan pacar Thalita itu gak ganggu dia lagi."
"Gideon?"
"Iya, kamu tau Gideon kan? Itu lho, yang busananya kayak mahluk jaman purba, yang kayak bapak-bapak."
"Iya, tau kok, Mas."
"Nah, Thalita itu cuma ngaku, kalau aku ini pacar e, biar tuh mahluk antik gak minta balikan."
"Thalita yang bilang gitu, Mas?"
"Iya lah, siapa lagi kalau bukan dia."
"Emang kenapa, kok Thalita gak mau balikan dengan Gideon, Mas?"
"Ya karena cowok kurang ajar itu berani selingkuh sama selebgram sok cantik yang cuma manfaatin dia aja. Kalau kamu kenal sama Gideon ini, kasih tau dia, biar gak kejar-kejar Thalita lagi."
"Tapi saya masih cinta sama Thalita, Mas. Saya akan terus kejar dia."
__ADS_1
Sekali lagi Moses menoleh, mengamati wajah Gideon, dan menepuk jidatnya.