
Gideon membimbing Thalita masuk ke dalam rumah, seolah gadis itu sedang menderita sakit yang sangat parah. Mama Thalita sampai melempar rajutannya, dan tergopoh menghampiri anak semata wayangnya.
"Thalita kenapa nih, Yon?" tanya Mama khawatir.
"Thalita gak kenapa-napa kok, Ma. Cuma agak pusing doang, dia aja yang modus dan lebay." Thalita yang menjawab pertanyaan Mama pada Gideon.
"Gak kenapa-napa gimana sih, Sayang? Kamu ini pucat banget lho. Ya kan, Tante?" kata Gideon.
"Lebay ah!"
Thalita mendorong tubuh Gideon, sampai cowok itu hampir terjatuh, untung saja ada tembok di belakangnya, jadi Gideon tertolong.
"Ya udah, kamu ganti baju, terus makan, Tha! Abis itu minum obat penurun panas, ada tuh di kotak obat!"
"Iya, Ma," jawab Thalita lemah, karena sedang pusing dan meriang.
"Kamu juga, Yon. Cuci tangan sana, terus temani Thalita makan!" perintah Mama.
"Siap, Tante. Terima kasih ya, sudah mau kasih makan seorang musafir yang tersesat."
"Heleh, sok-sokan musafir, orang pergi cuma beda kecamatan doang. Benar-benar lebay kamu, Bang."
"Kenapa sih kamu, Sayang? Dari tadi sirik banget sama Abang? Lagi PMS ya?"
"Iya tuh. Makanya jangan cari ribut sama Thalita! Kalau sedang PMS gini, kejedot tembok aja, temboknya yang benjol kok."
"Udah, jangan berantem! Pusing Mama dengar kalian berdua ini berantem mulu. Kamu juga, Yon! Kan kamu yang lebih tua, harusnya bisa ngalah sama Thalita!" bentak Mama.
"Iii ... Iya, Tante."
Gideon menunduk, tak menyangka sang Calon Mertua akan membentaknya. Biasanya mama Thalita lebih membela dirinya, dari pada membela anaknya sendiri, Thalita.
"Thalita! Cepat ganti baju sana!"
Thalita melangkah dengan gontai ke kamarnya, kemudian menutup pintu. Tak lama cewek itu keluar lagi dengan mengenakan baju rumahan, t-shirt dan celana pendek. Rambut panjang Thalita dikuncir ekor kuda, membuat cewek itu terlihat sangat manis.
__ADS_1
"Cepat makan, terus minum obat! Makanya jadi anak itu jangan bandel! Kalau dinasehati mamanya itu nurut! Udah dibilang jangan minum es, kalau ke kampus bawa jas ujan, bawa payung! Ini masih aja bandel, kalau udah kena flu kayak gini, kan Mama juga yang susah, harus ngomel-ngomel terus sama kamu."
Gideon melongo. Mama Thalita berubah jadi sangat bawel karena anak semata wayangnya sedang kena flu. Pantas saja tadi sang Calon Mertua membentaknya, rupanya karena dia merasa sangat khawatir pada anaknya.
Thalita memang gampang terkena flu, tubuhnya sedikit lemah, karena itu mamanya selalu bawel dan suka memberi nasehat ini dan itu. Tapi dasar Thalita, mana mau cewek itu dibilang lemah, dia akan selalu menutupi kelemahannya dan sering kali bersikap sok kuat. Gideon harus mengerti hal ini, jika ingin mengambil simpati Thalita kembali.
"Nih, minum air putih yang banyak, Sayang! Biar sakitnya cepat luntur," kata Gideon sambil memberi segelas air putih pada Thalita.
"Ogah. Gak ada rasa, aku maunya minum teh manis hangat aja," ujar Thalita sambil cemberut.
Mama segera beranjak ke dapur, untuk membuatkan Thalita teh manis, seperti permintaan anak gadisnya.
"Eh, Bang! Gak usah sok perhatian sama Thalita di depan Mama! Juga gak usah panggil-panggil sayang ke Thalita, geli dengarnya tau. Ingat, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi!"
Thalita menggunakan kesempatan selama mamanya ke dapur untuk memberi peringatan pada Gideon.
"Siapa bilang, kalau kita udah gak ada hubungan apa-apa? Thalita tetap pacar Abang kok, sampai kapanpun Abang gak mau putus sama Thalita, pokoknya."
"Emang Thalita mau?"
"Pasti mau, dong!"
"Abang paksa biar mau."
Thalita cemberut, menghabiskan makannya dengan cepat, dan menyusul mamanya ke dapur. Setelah minum obat flu, cewek itu masuk ke kamarnya, tanpa pamit pada Gideon.
"Kamu yang sabar ya, kalau ngadepin Thalita! Dia itu memang anak manja, karena memang anak satu-satunya, kamu harus bisa mengalah sama dia, kalau masih tetap mau jadi pacarnya!" nasehat mama Thalita pada Gideon.
"Iya, Tante. Gideon sekarang udah lebih paham kok, dengan sikap anak Tante. Kalau kemarin-kemarin, mungkin Gideon sedikit egois pada Thalita, tapi mulai sekarang, Gideon bakal lebih mengalah kok."
"Bagus deh kalau begitu."
"Iya, Tante. Gideon pamit dulu ya, terima kasih buat makan siangnya, masakan Tante enak banget. Nanti ajari Thalita masak seenak Tante, ya! Biar Gideon jadi subur kalau jadi suaminya, hahaha."
"Belum jadi mantu kok udah berani-berani nyuruh-nyuruh Tante sih?" mama Thalita cemberut.
__ADS_1
"Maaf, Tante! Cuma request aja kok. Pamit dulu, Tante."
Gideon meninggalkan rumah Thalita dengan hati berbunga. Sang Calon mertua sudah mendukungnya, tinggal bagaimana mengambil hati anaknya saja.
*****
Lily berjalan dengan langkah pincang menuju halte bus yang agak jauh dari depan kampusnya. Niatnya meminta antar Gideon, ditolak mentah-mentah oleh cowok itu. Bahkan Gideon sengaja pamer kemesraan di depan matanya, siapa yang tak cemburu dan sakit hati coba?
Uang yang ada di dompet Lily hanya cukup untuk ongkos naik bus kota, jadi cewek itu harus sedikit berjuang untuk pulang, karena tak cukup ongkos untuk naik ojol.
"Sial banget, gara-gara si Buntelan aku jadi menderita kayak gini. Mana duit udah habis buat bayar ongkos urut dia, ini aku masih aja dibikin timpang. Emang kurang ajar tuh si Buntelan," gerutu Lily.
Cewek itu berjalan timpang sambil sesekali menyeka keringat. Halte yang sebetulnya berada tak begitu jauh dari depan kampus, serasa berubah jarak puluhan kilo meter.
"Lho? Kok ada seleb jalan kaki, sih? Apa udah turun pamor nih?"
Deasy menghentikan motornya di sebelah Lily, bermaksud untuk meledek cewek itu. Deasy merasa senang, melihat Lily ngamok dan kebakaran jenggot.
"BERISIK!"
"Widih, sok galak nih ye? Itu kaki kenapa Mbak Seleb? Abis jatuh saat dikejar massa karena ketahuan nyolong jemuran? Hahahaha."
"BERISIK!! PERGI SANA!!"
"Ogah ah, kan aku mau nemenin Mbak Seleb jalan-jalan, kan aku setia kawan. Tapi karena kakiku sedang pincang, aku jalan-jalannya mau pakai motor aja, hahahaha."
Lily semakin kesal mendengar ledekan Deasy. Andai saja kakinya tak sedang sakit, Lily akan meladeni Deasy dan mengajaknya gelud sekalian. Karena kondisi yang tidak memungkinkan, Lily memilih diam.
Deasi tetap menghentikan motor, dan sibuk dengan ponselnya. Lily terus melangkah dengan pincang. Sampai beberapa lama, Deasy masih belum menyusul langkah Lily, hingga cewek itu bernapas lega.
"Pasti dia males gangguin aku lagi, karena ku cuekin, trus sekarang lagi curhat pada Thalita. Hahahaha, Deasy-Deasy, wong Lily kok dilawan. Lily itu kan orangnya---"
CRAAATTTT
"HAHAHAHAHAHA....."
__ADS_1
Deasy melindas air yang menggenang di dekat Lily berjalan dengan motornya, kemudian berlalu sambil tertawa-tawa.
"KURANG AJAR!!!"