Pacar Antik

Pacar Antik
Part 32 : Terus Berjuang


__ADS_3

"Lho? kamu kan Gideon, mantannya Thalita?" kata Moses sambil menunjuk batang hidung Gideon.


"Iya, Mas. Kenalkan, namaku Gideon. Tapi aku belum mau dibilang mantannya Thalita, karena aku masih akan terus berjuang untuk kembali balikan sama dia," kata Gideon sambil nyengir.


"Duh, bisa ngamuk tuh anak, aku keceplosan jujur bilang kalau kami sepupu, bukan pacar. Kamu mau bantuin aku kan, Yon?"


"Bantu apa, Mas? Selagi saya mampu, akan saya bantu."


"Nah, gitu dong! Itu baru calon sepupu ipar yang baik." Moses mengacungkan dua jempol pada Gideon.


"Jadi, aku harus bantu apa, Mas?"


"Nanti kalau Thalita datang, kita pura-pura gak kenal ya! Biar dia gak ngamuk sama aku, tau sendiri kan, gimana sikap cewek barbar itu kalau sudah emosi?"


"Iya, Mas. Aku paham banget soal itu, aku kan pacaran sama Thalita gak cuma sebulan dua bulan, tapi hampir empat tahun."


"Ya udah kalau kamu sudah paham, berarti aman. Ingat!! Kita pura-pura gak kenal!"


"Iya, Mas. Beres."


Tak lama, Thalita beneran muncul di tempat itu. Moses telah mengirim pesan, kalau sudah menunggu gadis itu di tempat Mamang es cendol. Thalita terkejut, di situ juga ada Gideon, tapi dia mencoba bersikap tenang dan santai.


"Lama ya nunggunya, Sayang?" sapa Thalita pada Moses.


Hampir saja Gideon merasa, dirinya yang diajak bicara oleh Thalita, tapi cowok itu segera sadar, ketika Moses menjawab.


"Lumayan, Sayang. Udah abis dua gelas es cendol nih. Enak, seger, gak bikin batuk. Kata si Mamang, pakai gula asli, bukan pemanis buatan."


"Dua gelas? Itu doyan apa karena lama nunggu?"


"Lama nunggu lah, Sayang. Abis kan kamu lelet kayak siput. Nih, aku bungkuskan es cendol buat mama kamu, biar direstui jadi mantu."


Moses melirik pada Gideon yang mencoba menahan tawa dengan menutup mulutnya pakai tangan. Ingin sekali Moses menonyor kepala bocah itu, agar Gideon tak menertawakan aktingnya yang brilian.


"Eh,Thalita, baru selesai ya kelasnya?" sapa Gideon.


"Bang Dion lihat e gimana lho?"


Thalita balik bertanya dengan nada ketus, membuat Moses ingin balik menertawakan Gideon, untung saja cowok itu masih bisa menahan, kalau tidak bisa runyam urusan.


"Abang sih lihatnya kamu baru keluar," jawab Gideon cuek.

__ADS_1


"Kalau tau, gak usah nanya!"


Thalita tetap memasang tampang ketus, membuat Moses hampir tak mampu menahan tawa.


"Abang pengen nanya tuh, emang gak boleh?"


"Gak boleh!"


"Siapa yang gak bolehin?"


"Aku!"


"Emang kamu siapa?"


"Thalita Adelia."


"HAHAHAHAHA."


Akhirnya Moses tak bisa menahan tawa, karena perdebatan Gideon dan Thalita menurutnya sangat lucu.


"KENAPA KAK MOSES TERTAWA?" bentak Thalita.


"Abis kalian berdua ini lucu kalau berantem, udah kayak anak TK aja. Siapa sih dia, Yang?" Moses masih mencoba berakting jadi pacar Thalita.


"Lha? Gimana sih, Yang? Gak kenal kok berdebat, terus kamu kayak e punya panggilan sayang juga ke dia?" Moses menunjuk Gideon dengan dagunya.


"Panggilan kesayangan yang mana? Semua cowok yang lebih tua kan emang ku panggil bang."


"Tapi ke dia gak pakai nama, abang doang, berarti dia istimewa tuh, gak sama kayak lainnya."


Moses masih tetap memancing Thalita, agar mengakui kalau Gideon itu mantan tersayangnya. Moses merasa iba pada Gideon, karena Thalita berlagak tak mengenal cowok itu.


"Gak ada yang istimewa, Thalita gak kenal dia, ayok pulang!"


Thalita menarik tangan Moses, dan mengajak cowok itu segera pergi. Tapi Moses masih ingin di situ, membantu Gideon.


"Sayang, aku belum budeg ya, tapi aku dengar kamu panggil dia Bang Dion, jangan-jangan ini mantan kamu yang kamu ceritakan itu, ya?"


Moses mengedipkan sebelah mata dengan jenaka, niatnya memang menjahili Thalita.


"Katanya tadi Thalita panggil dia abang doang? Kok sekarang jadi bang Dion? Yang benar yang mana sih Kak Moses? Bisa gak, jadi sepupu yang gak nyebelin!"

__ADS_1


Oops, Thalita menutup mulutnya dengan tangan, karena sudah keceplosan menyebut Moses sebagai sepupunya. Gideon tersenyum jahil sedang Moses cuma nyengir.


"Jadi? Mas Moses ini sepupu kamu, Tha?" Gideon masih tersenyum jahil.


"Bodo!"


Thalita pergi meninggalkan kedua cowok itu dengan kesal. Moses memberi kode pada Gideon untuk menyusul cewek itu, sedang dia sendiri melanjutkan minum es cendol. Gideon menunjukkan dua jempol, kemudian berlari menyusul Thalita.


"Tha, tunggu! Yuk Abang antar kamu pulang."


"Ogah!"


"Ayo, Abang gak narik bayaran kok, kalau Thalita mau Abang antar!"


"Ogah!"


"Dari pada jalan kaki atau naik ojek, lho. Kan Mas Moses gak mau tuh, antar Thalita pulang. Dia mau kencan sama pacarnya."


Thalita berhenti setelah mendengar omongan Gideon, bahkan cewek itu berbalik arah kembali ke tempat Moses.


"Jadi Kakak sekongkol sama orang ini untuk ngerjain Thalita? Iya gitu?" kata Thalita pada Moses sambil telunjuknya menunjuk hidung Gideon.


"Sekongkol gimana sih, Dek? Kakak tadi cuma dengar dia curhat aja kok."


"Kutil Onta ini curhat apa?"


Gideon memberi kode agar Moses menutup mulutnya, tapi cowok itu malah membeberkan curhatan Gideon pada Thalita.


"Dia tuh curhat, kalau masih sayang sama kamu, masih cinta sama kamu, pengen balikan sama kamu, dan akan segera melamar kamu kalau kamu memang bersedia." Moses cuma ngarang, pada kalimat terakhir.


Thalita berbalik ke arah Gideon sambil berkacak pinggang, sambil melotot cewek itu juga merepet ngomel pada Gideon.


"Abang kira aku cewek apaan sih, Bang? Kok Abang mau seenak udel memperlakukan aku? Abang yang selingkuh sama tuh Mak Lampir, Abang yang ninggalin Thalita, sekarang Abang dicampakkan oleh Mak Lampir trus mau balik sama Thalita. Pikir pakai otak, Bang! Abang kira aku mau jadi ban serep kayak gitu, hah?"


Gideon diam, tapi dalam hati membenarkan omongan Thalita, semua salah ada padanya, dia yang membuat Thalita marah dan sulit memaafkannya.


"Sekarang, Thalita minta sama Abang, jangan ganggu Thalita lagi."


Thalita melangkah meninggalkan mereka. Meski Moses dan Gideon berteriak memanggil, cewek itu tak pernah menoleh.


"Semangat ya, terus berjuang! Kejar tuh si Tuan Putri, karena sebenarnya dia juga masih cinta sama kamu."

__ADS_1


Moses menepuk bahu Gideon, dan mengejar Thalita yang belum jauh. Tampak sedikit adu urat antara Thalita dan Moses, tapi berakhir dengan Thalita duduk manis di boncengan motor Moses.


Gideon menghela napas dan berjanji dalam hati, untuk kembali berjuang mendapatkan cinta Thalita kembali. Gideon kemudian menghampiri motornya dan berlalu dari tempat itu.


__ADS_2