
Gideon tiba di kampus dengan wajah yang sangat kusut. Belum lagi rambut yang sangat acak-acakan karena seringnya digaruk dengan kasar. Gideon sangat kesal dengan kejadian tadi pagi di rumah Thalita, tentu saja. Bagaimanapun, Gideon masih mencintai Thalita. Rasa yang dimilikinya untuk gadis itu, belum berubah.
"Kusut amat, Bang? Belom mandi ya?" sapa Deasy di parkiran.
"Sembarangan! Abang udah mandi kok, udah wangi juga. Kalau gak percaya, nih cium!" kata Gideon sambil menyodorkan pipinya.
Deasy membuat gerakan seperti orang muntah. Hal itu sedikit menghibur bagi Gideon. Kekesalannya pada Thalita dan cowok barunya, sedikit teralihkan dengan menggoda Deasy.
"Eh, Des. Abang mau nanya nih sama kamu."
"Nanya apa, Bang?"
"Selama ini, Abang belum pernah lihat kamu pacaran deh. Padahal kamu itu cantik, menarik, pintar dan tajir juga. Masa sih gak ada yang minat jadikan kamu pacar?"
"Ngeledek? Mentang-mentang Abang laku gitu? Padahal Abang orangnya antik, tapi ada yang mau. Gitu kan maksud Abang?"
"Ya gak gitu juga konsepnya, Neng. Abang cuma heran aja, karena belum pernah lihat kamu punya pacar. Karin aja yang dekil kayak gitu, cowoknya gonta-ganti mulu. Entah, dia cari dukun pelet dimana."
Mau tak mau, Deasy tertawa, mendengar Gideon menjelekkan adiknya. Dua bersaudara itu emang jarang akur, Deasy paham banget akan hal itu. Karin dan Deasy teman dari TK sampai SMP, sejak SMA sampai kuliah, baru mereka beda sekolah.
"Tar ku bilang ke Karin ah! Kalau Abang ngatain dia di belakang," kata Deasy sambil berlalu pergi.
Gideon tampak mengejar Deasy, membujuk gadis itu untuk mengurungkan niatnya. Bisa berabe kalau beneran Deasy melapor pada Karin. Bisa-bisa Gideon terkena serangan seribu cubitan maut milik Karin.
"Jangan dong! Jangan ya! Nanti Abang traktir Deasy deh, asal gak lapor ke Karin. Please!"
__ADS_1
"Oke, Deasy mau Abang---"
"Oh, jadi gini nih kelakuan si Manusia Purba? Baru juga putus udah nyari korban lagi. Kamu jangan mau dimodusi sama Manusia ini, dia itu pelitnya minta ampun. Bisa-bisa, tar kamu yang bakal diporoti sama dia," kata Lily yang tiba-tiba muncul.
"Eh, dengar ya, Mak Lampir! Aku gak pernah merasa pernah pacaran sama kamu. Jangan pernah ngaku-ngaku jadi mantanku!" kata Gideon penuh emosi.
Deasy juga ikut emosi mendengar kata-kata Lily. Bagaimanapun, Deasy sudah menganggap Gideon seperti Abangnya sendiri. Gadis itu merasa sakit hati, jika ada yang menjelekkan Gideon di depannya.
"Aku kenal Bang Gideon sudah lama sekali. Jauh sebelum kamu kenal dia. Aku tau pasti, Bang Gideon gak akan pernah tertarik dengan seleb karbitan kayak kamu. Bukan selera dia," kata Deasy sinis.
Gideon tersenyum mendengar pembelaan Deasy. Pasti hal itu akan membuat Mak Lampir menjadi kesal. Selama ini, dia menganggap dirinya miss perfect, dimana setiap cowok bakal tergila-gila dengannya. Apalagi cuma seorang Gideon yang dinilai banyak orang sebagai cowok cupu, pasti akan bertekuk lutut di hadapan Lily.
"Oh, kamu merasa cowokmu ini sesempurna itu? Jangan naif! Dia pernah berlutut di kakiku, memohon aku untuk menerima dia---"
"CUKUP LY! KAMU DIAM ATAU KESABARANKU BAKAL HILANG!" bentakan Gideon membuat Lily tertegun.
Nyali Lily ciut juga, karena Deasy turut menyerangnya juga. Padahal Lily mengira, bisa menjadikan Deasy sekutu untuk melawan Gideon.
"Kita lihat aja nanti. Aku ada bukti kok, kalau cowok ini benar-benar tergila-gila padaku. Kamu lihat aja unggahan yang ku buat di akun toktik milikku!"
"Ngapain juga, bukannya aku ada juga di sana, waktu kamu buat video itu. Bahkan aku melihat seluruh peristiwanya, bukan cuma editan yang kamu unggah."
"Udah, Des! Ngapain juga kamu ngeladeni orang gila kayak dia. Yuk ke kelas kamu, Abang antar!"
"Bener, Bang. Buang-buang waktu aja ngeladeni Mak Lampir. Yuk deh ke kelas!"
__ADS_1
Deasy mengandeng tangan Gideon dengan mesra, layaknya sepasang kekasih. Membuat Lily yang melihatnya terbakar api cemburu. Ya, Lily akui, saat ini dia benar-benar jatuh cinta pada Gideon.
Sampai di depan kelas, tanpa sadar Deasy masih mengandeng tangan Gideon. Hal ini membuat Gideon merasa risih, tapi terlalu sungkan untuk meminta Deasy melepaskan tangannya. Gideon takut Thalita melihatnya dan menjadi salah paham.
Kekhawatiran Gideon terjadi, Thalita melihatnya dan Deasy masih bergandengan tangan. Gadis itu cuma nyengir, tapi Gideon tau, Thalita masih memendam rasa cemburu untuknya. Ya, gadis itu masih mencintainya, sangat jelas terlihat dari sorot matanya.
"Cie cie, gak mau kalah sama latto-latto nih ceritanya? Latto-latto aja punya gandengan, masa kamu enggak?" goda Thalita yang membuat wajah Gideon memerah.
"ASTAGA! Suer Tha, ini gak seperti yang kamu pikirkan kok. Aku gak ngapa-ngapain kok sama Bang Gideon. Kami cuma membuat kesal si Nenek Lampir, abis dia bawel," jelas Deasy setelah melepas pegangan pada tangan Gideon.
"Santai aja kali! Gak usah pakai dijelasin segala. Sekarang kan hubunganku sama Bang Gideon, sama aja dengan hubungan kamu sama dia."
"Maksud kamu?" tanya Gideon heran.
"Ya maksudku, gak ada hubungan istimewa lagi antara Thalita sama Abang. Kita cuma sekedar teman, atau kakak adik juga boleh."
Seketika tampak gurat kecewa di wajah Gideon. Tak disangka, kata-kata Thalita ternyata terasa menyakitkan hati Gideon. Sekedar teman. Sangat menusuk, membuat Gideon ingin menangis, tapi merasa malu.
"Bukannya kamu cemburu ya, Tha?" goda Deasy.
Sekilas, ada perubahan di wajah Thalita. Gideon melihatnya dengan jelas. Tapi secepat mungkin Thalita berusaha menutupinya dengan senyuman. Senyum yang kikuk.
"Kalau dulu sih pasti cemburu, sekarang kan udah gak berhak lagi. Aku cemburu kalau yang kamu gandeng itu Kak Moses," jawab Thalita santai.
Ah, Moses lagi Moses lagi. Nama cowok itu membuat Gideon badmood. Tadi pagi dia sudah disuguhi kemesraan Thalita dengan cowok itu. Sekarang nama cowok itu disebut lagi oleh bibir mungil Thalita. Gideon benar-benar tak rela, harusnya bibir mungil itu hanya menyebut namanya.
__ADS_1
"Heleh, gaya banget kamu, Tha. Pura-pura gak cemburu, padahal dalam hati panas membara. Dari kepala dan kuping kamu aja sampai keluar asap kok, saking panasnya," ledek Deasy sambil melangkah masuk kelas, setelah melambai pada Gideon.
Thalita mengejar Deasy dan mencubit lengan gadis itu sampai pemiliknya menjerit kesakitan. Gideon cuma nyengir. Cowok itu merasa lega, masih ada harapan untuk kembali mendapatkan cinta Thalita. Gadis itu masih menyimpan cemburu. Cemburu segitiga.