Pacar Antik

Pacar Antik
Part 23 : Balikan? Ogah!!


__ADS_3

"Bang Gideon udah pulang ya, Ma?" tanya Thalita sambil makan martabak.


"Udah, baru saja pulang. Dia ngajak kamu balikan tuh, mau enggak?" Mama duduk di sebelah Thalita.


"Kalau balikan, Thalita ogah! Tapi kalau baikan, ya monggo aja."


"Apa bedanya?" Mama ikut makan martabak milik Thalita.


"Hais, Mama! Ini punya Thalita, itu yang punya Mama, martabak telor."


"Ngicip dikit aja. Mama gak suka manis, karena Mama udah manis. Kasihan martabaknya, kalah saing sama Mama."


Kali ini Mama meraih kotak martabak telur. Tangan Mama menepis tangan Thalita yang hendak mencomot martabak jatah Mama.


"Hais, pelit amat sih Mama ini? Kan tadi Thalita udah bagi sepotong!" kata Thalita kesal.


"Kan kamu baginya sambil ngomel. Itu tandanya gak iklhas, tar gak jadi daging kalau dimakan."


"He em, jadinya lemak, karena Mama pelit."


"Lagian, diajak balikan sama orangnya gak mau, tapi martabaknya doyan."


"Mama aja juga doyan sama martabaknya. Tapi apa mau, kalau diajak pacaran sama yang ngasih?"


"Ya enggaklah, ngawur aja kamu!! Dikira Mama apaan, masa pacaran sama berondong?"


"Ya kali aja. Btw, tuh Bang Dion, ngajak Thalita balikan kok bilangnya malah ke Mama, sih?"


"Takut kali kalau bilang ke kamu. Kan kamu judes, kemarin aja kamu ngambek gitu kok ke dia, ya kan?"


"Ya gimana gak ngambek, Bang Gideon tuh udah bikin Thalita malu, Ma. Dia ngejar-ngejar tuh Seleb di depan teman-teman Thalita. Giliran dibuang sama si Seleb, ngajak balikan. Kayak Thalita ini cuma jadi tempat tambal butuh aja gitu. Illfil Ma, illfil!!"


"Ya iya juga sih. Mama juga gak setuju kalau dia dengan gampang bisa balikan sama kamu. Setidaknya, dia harus berjuang lagi buat dapatin cintamu. Biar gak gampang sel*ngkuh gitu lho. Takutnya kalau kamu gampang diajak balikan, tar disepelekan sama dia."


"Pemikiran Thalita sih begitu, Ma. Lagian, di kampus juga Thalita udah terkenal punya pacar baru. Yang jauh lebih keren dari Bang Gideon."

__ADS_1


"Pacar baru? Siapa,tuh? Kok gak dikenalin sama Mama?"


"Ngapain juga, kan Mama udah kenal."


"Hah, siapa Tha?"


"Kak Moses," Thalita nyengir, karena berhasil membuat mamanya kesal. Ngeprank gitu bahasa gaulnya.


"Oh jadi ini maksudnya, tiap hari kamu minta antar jemput kakakmu itu?"


"Salah satunya, selain ngirit ongkos juga. Sejak putus sama Bang Gideon kan Thalita gak ada yang antar jemput lagi. Jadinya naik ojek, bayar ongkos dong. Kalau nebeng Kak Moses kan jadi gratis, lagian searah juga sama kampus dia. Kak Moses juga gak malu-maluin buat diakui jadi pacar. Cakep."


"Jadi? Kamu pura-pura punya pacar, biar Gideon cemburu?"


"Ya itu juga alasannya, Ma. Toh dia gak tau juga, kalau Kak Moses itu sepupu Thalita."


"Duh! Kreatif bener anak Mama ini, sama kayak mamanya."


"Iya, dong. Kan buah jatuh, gak bakal jauh dari pohonnya."


"Teman-temanmu gak ada yang tau, kalau Moses itu sepupumu?"


"Gak ada, Ma. Deasy aja gak Thalita kasih tau kok."


"Ya udah kalau gitu. Lanjutkan saja sandiwaramu! Kasih tuh si Gideon pelajaran, biar kamu gak diremehkan sama dia. Biar gak jadi tambal butuh lagi. Asli, Mama tuh gemes sama Gideon. Masa dandanan kayak gitu, tapi belagu."


"Apalagi Thalita, Ma. Untung-untung juga Thalita mau pacaran sama dia, mahluk antik, eh ditinggal selingkuh. Apa gak ngenes tuh kayak gitu."


"Mama juga heran sih, sama kamu. Kok bisa-bisanya, kamu pacaran sama cowok aneh kayak gitu? Padahal cowok lain yang lebih keren dari dia tuh banyak. Kamu kan cantik, Tha."


"Thalita tuh mikirnya, karena dia antik, kan jadinya langka. Trus dia gak bakal macem-macem juga, karena cewek lain pada ogah sama dia. Ternyata ada yang mau, kan ngeselin, Ma."


"Harusnya kamu banga, Tha! Berarti Gideon keren tuh, ada yang naksir sama dia."


"Au ahh, Mama ngeselin deh! Thalita mau tidur aja kalau gitu."

__ADS_1


Thalita masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan sang Mama yang masih asik makan martabak, oleh-oleh dari calon mantu kesayangannya. Terlepas dari penampilannya yang antik, pada dasarnya Gideon memang cowok yang baik. Sabar, penuh perhatian dan suka mengalah pada Thalita. Hal-hal ini yang sebenarnya membuat Thalita jatuh cinta, bukan pada fisik, lebih pada pribadinya.


Keesokan hari, Gideon kembali mendatangi rumah Thalita. Kali ini cowok itu membawa kantong kresek berisi bubur ayam, makanan kesukaan Thalita. Mama yang membukakan pintu untuk Gideon, karena Thalita sedang bersiap-siap.


"Ini bubur buat Tante, bukan buat Thalita kok. Thalita kan gak suka bubur ayam, Te."


"Oh, iya. Tante sampai lupa, kalau Thalita gak suka bubur ayam. Dia sukanya sih bubur sumsum dan bubur mutiara," kata Mama.


"Iya, Te. Ini Gideon juga kok, bubur kesukaan Thalita," Gideon memberikan kantung kresek yang lain.


"Wah, terima kasih ya, Yon. Udah repot-repot bawain bubur buat Tante dan Thalita."


"Iya, Te. Sama-sama. Boleh kan, Gideon ngajak Thalita buat berangkat bareng ke kampus?"


"Boleh aja sih, asal Thalita nya mau, Tante mah gak keberatan."


Thalita muncul di teras tempat mamanya dan Gideon ngobrol. Gadis itu sudah cantik dan wangi. Untuk beberapa kejap, Gideon tampak terpesona. Pandangannya tak lepas dari Thalita yang sedang mengenakan sepatu. Gadis itu sengaja tak menyapa Gideon.


"Tha, ini lho, Gideon bawa bubur buat kamu," kata Mama.


"Thalita gak sedang sakit, Ma. Ngapain juga makan bubur?"


"Emang bubur cuma buat orang sakit?"


"Biasanya kan Mama bikinin Thalita bubur kalau lagi sakit doang. Jadi Thalita pikir, ya bubur itu untuk orang sakit. Orang sehat ya makan nasi, atau paling enggak roti, gitu."


"Jadi kamu gak mau nih, buburnya?"


Thalita menggeleng. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel. Sesekali Thalita tersenyum setelah membaca chat. Gideon masih tetap diam, sambil terus memperhatikan Thalita. Mama merasa geli juga, melihat mereka berdua, seperti orang yang gak saling kenal.


Tak lama Thalita bangkit berdiri, menghampiri Mama dan mencium pipinya, "Thalita berangkat dulu,Ma!"


"Iya, hati-hati Sayang."


Gideon ikut bangkit, mencium tangan Mama saat berpamitan, dan mengekor di belakang Thalita. Gideon sedang mengeluarkan motor dari halaman rumah Thalita, ketika sebuah motor berhenti di depan Pagar. Thalita tampak berlari-lari kecil menghampirinya. Sedang Gideon hanya bisa bengong dan merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2