Pacar Antik

Pacar Antik
Part 26 : Cemburu Tanda Masih Cinta


__ADS_3

Sepanjang kuliah berjalan, Gideon semakin kesal. Apalagi sedari tadi, Lily terus saja caper dan mepet-mepet ke arah Gideon. Cewek itu juga sering sengaja mengibas rambutnya, dan membuat Gideon kelilipan. Tapi, Gideon sengaja tak merespon, agar Lily tak merasa senang.


Winny juga tampak sengaja menyindir, setiap ada kesempatan, dia menoleh ke belakang, ke arah Lily dan Gideon, sambil tersenyum jahil. Dan setiap Winny menoleh ke belakang, pasti Lily sengaja merapatkan tubuh ke arah Gideon.


Setelah kelas berakhir, bergegas Gideon meninggalkan kelas, tujuannya satu, kantin. Gideon berharap bertemu Thalita di tempat itu. Meski tak bisa lagi makan di meja yang sama, Gideon cukup puas bisa memandang wajah manis Thalita. Bayangan Thalita sedang tersenyum, membuat Gideon mempercepat langkah.


Sebelum berbelok ke arah kantin, ekor mata Gideon menangkap bayangan Thalita dan Deasy menuju perpustakaan. Gideon menghentikan langkah, untuk memastikan pengelihatannya tidak salah. Benar, Thalita dan Deasy menuju perpus, bukan kantin. Segera Gideon membelokkan langkah, mengikuti keduanya.


Tidak langsung masuk ke dalam perpus, Gideon memastikan pertemuannya dengan Deasy dan Thalita seperti tidak sengaja. Lima menit kemudian, barulah Gideon masuk ke dalam perpus.


Deasy sedang asik memilih-milih buku, agak jauh dari tempat Thalita duduk. Gideon tersenyum, meraih sebuah buku secara asal, kemudian mencari tempat duduk di dekat Thalita.


"Boleh Abang ikut duduk di sini?" tanya Gideon yang mengejutkan Thalita.


"Silakan saja, ini tempat umum kok," jawab Thalita cuek.


"Baca apa sih itu? Kok kelihatannya asik banget?" Gideon berusaha mencairkan suasana.


Thalita cuma mengangkat buku yang dibacanya, agar Gideon bisa membaca sampulnya. Cewek itu sedang malas untuk berkata-kata. Gideon menggaruk kepala yang tidak gatal, untuk menutupi salah tingkahnya melihat respon Thalita. Dengan ekor mata, Thalita melirik Gideon. Akibat digaruk, rambut Gideon yang diminyaki, tampak berdiri. Seperti Saint Seiya di kartun Dragon Ball. Thalita tertawa dalam hati, dalam pandangannya, rambut Gideon tampak lucu.


"Tha? Kok diam aja sih? Biasanya kan kamu itu bawel banget, udah sebelas dua belas dengan Karin."


Thalita tak membuka mulutnya, cuma dagunya menunjuk ke arah tulisan di dinding, yang melarang untuk membuat kegaduhan di dalam perpus. Gideon menghela napas, setelah paham maksud Thalita. Cowok itu kemudian mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu.


Suara denting pelan, tanda ada pesan SMS masuk, terdengar dari ponsel Thalita yang diletakkan di atas meja. Cewek itu mengabaikannya, karena biasa pesan SMS selain dari operator yang memberi peringatan kalau paket internet hampir habis, pasti pesan chat penipuan yang memanfaatkan gratis biaya SMS sesama operator.


Kembali Gideon menggaruk kepala kesal, karena pesan SMS nya diabaikan oleh Thalita. Tak putus asa, Gideon kembali mengirim pesan. Hasilnya sama, diabaikan. Rambut Gideon kini udah tampak jabrik berantakan, karena seringnya digaruk.


Thalita tampak menahan senyum, karena sebenarnya gadis itu tau, Gideon mengirimkan pesan SMS ke ponselnya. Thalita sengaja membuat Gideon kesal.

__ADS_1


Ting...


Kali ini bunyi notifikasi di aplikasi hijau yang terdengar dari ponsel Thalita. Segera gadis itu meraihnya dan membuka pesan. Thalita tersenyum, dan segera membalas pesan. Gideon yang melihatnya, kembali menggaruk kepala, hingga rambutnya makin berantakan.


Ting...


Lagi-lagi sebuah pesan masuk ke aplikasi hijau Thalita. Kali ini, gadis ini sampai menutup mulutnya dengan tangan, agar tawanya tak meledak. Sampai selesai membalas pesan dan meletakkan ponsel, Thalita masih tampak senyum-senyum.


Ting...


Lagi-lagi pesan di aplikasi hijau. Gideon menepuk jidatnya, merasa beg*, kenapa dia tak kepikiran mengirim pesan ke aplikasi hijau saja, malah memilih SMS, yang jelas-jelas tak akan pernah dibalas oleh Thalita karena tak punya pulsa.


[Duh, dari tadi senyum-senyum mulu, sepertinya lagi bahagia banget, ya?] ~ send Thalita.


Belum direspon, karena Thalita sedang asik berbalas chat dengan yang lain. Gideon menghela napas, ketika centang dua abu-abu tak segera menjadi biru.


[Woiya, jelas aku bahagia, namanya juga dapat pesan chat dari orang yang disayang.] ~ send Gideon.


[Hem, gitu ya. Saking asiknya chat sama pacar, Abang jadi diabaikan. Gini ya, rasanya jadi obat nyamuk bakar.] ~ send Thalita.


Thalita sudah tak lagi menyembunyikan tawanya, sampai beberapa orang di perpus, menatapnya kesal karena merasa terganggu. Gideon terlihat juga semakin kesal, si rambut yang menjadi korban kekesalan pemiliknya, sudah tak berbentuk, berantakan seperti sarang burung.


[Iya dong, Bang. Kayak Abang gak pernah pacaran aja. Chatting dengan kesayangan mah bikin dunia milik berdua, yang lain cuma ngekost.] ~ send Gideon.


Gideon semakin kesal. Kalau di bikin film kartun, pasti akan ada kobaran nyala api di mata dan di atas kepala Gideon. Thalita semakin cekikikan, sambil jarinya sibuk menari di atas layar ponsel.


[Meskipun gitu, mbok ya jangan di depan Abang dong Cantik! Jujur saja, Abang cemburu.] ~ send Thalita.


Thalita tak dapat lagi menahan tawanya, gadis itu bergegas keluar dari perpus untuk menuntaskan tawanya. Gideon yang melihatnya tampak kesal pakai banget. Tapi, Gideon masih mau merapikan barang-barang Thalita, dan memasukkannya ke dalam tote bag milik gadis itu. Cukup lama, Thalita belum kembali, membuat Gideon merasa bimbang, tetap menunggu di situ, atau keluar sambil membawa tote bag Thalita.

__ADS_1


[Yah, itu salah Abang sendiri. Sadar, Bang! Di antara kita sudah gak ada hubungan istimewa.] ~ send Gideon.


Gideon menghela napas, setelah membaca chat dari Thalita. Cukup lama Gideon memandangi chat itu, sampai ponselnya menghitam oleh kunci layar otomatis. Tak terasa, setetes air mata jatuh dari mata Gideon. Buru-buru cowok itu menghapusnya menggunakan lengan baju.


Deasy yang sedari tadi mengamati dari meja seberang, menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa. Melihat Gideon menangis, tak membuat gadis itu menaruh rasa iba. Deasy tampak sibuk mengetik di ponselnya.


[Hayoloh, doi nangis tuh. Kamu sih, Tha, jahil banget. Ngerjain orang yang cemburu karena masih cinta.] ~ send Thalita.


[Tadi siapa yang punya ide, hayo? Kan kamu yang ngajakin chat. Biar dikira aku lagi chat sama pacar baruku.] ~ send Deasy.


[Aku ngajakin, tapi kamu mau, Neng. Berarti bukan salah ku dong, salahnya Bang Gideon yang baperan, hahaha.] ~ send Thalita.


[Ogah mah aku disalahkan. Biar aja Bang Gideon yang salah. Salah sendiri cemburu, hihihihi.] ~ send Deasy.


[Barang-barang kamu udah dirapikan sama abangmu, mau cabut apa balik lagi ke sini?] ~ send Thalita.


[Cabut aja yuk! Bawakan tas ku ke depan ya, Sayang! Aku pengen pipis nih, gegara kebanyakan ketawa.] ~ send Deasy.


[Siap, Bos] ~ send Thalita.


Deasy melangkah menuju tempat Gideon duduk. Cowok itu tampak melamun, dan sedikit kaget oleh kemunculan Deasy yang tiba-tiba.


"Maaf, Bang! Ini tas punya Thalita kan? Orangnya pesan supaya ku bawain."


"Eh, iya. Kenapa dia malah pesan ke kamu? Kan aku bisa bawain untuk dia?"


"Dia lagi kebelet, Bang. Mungkin gak enak kalau minta tolong Abang buat bawain. Kalau aku kan bisa masuk ke toilet cewek."


"Ya udah kalau gitu. Ini, Des, tas Thalita."

__ADS_1


"Makasih ya, Bang. Aku cabut dulu."


Gideon cuma mengangguk. Kemudian pura-pura lanjut membaca buku. Deasy sempat melirik sampul buku yang dipegang Gideon. Sampul itu terbalik.


__ADS_2