PACARKU, TUAN VAMPIRE

PACARKU, TUAN VAMPIRE
KEPERGIAN NATHAN


__ADS_3

Samantha mengalihkan pandangan pada Matthew. Dia benar-benar merasa kecewa karena sudah kehilangan satu buruannya untuk melampiaskan semua gelora yang membara ditubuhnya. Dia tidak ingin melepaskan Matthew begitu saja dengan mudah setelah kepergian Elderick, "Apa kau juga ingin meninggalkan-ku, Matt. Aku sudah


memberikan-mu project besar tak bisakah kau tinggal di sini sejenak," Samantha terus mendorong tubuhnya. Menghimpit tubuh Matthew hingga dia terhempas ke sofa. Matthew memberikan kode keluar untuk semua anak


buahnya keluar ruangan.


"Hmm, baiklah kali ini saja. Jadi apa imbalan yang kau inginkan, Sam?" Matt menarik pinggang Samantha yang sudah menggeliat diatas tubuhnya. Matthew tahu wanita ini sedang menginginkan sesuatu yang tak biasa.


"Uhm,  puaskan aku malam ini, Matt! Aku sudah tidak bisa menahannya lagi," bisik Samantha ditelinga Matthew. Mendesah, tubuhnya terus menggesek maju mundur diatas benda tumpul milik Matt. Samantha sudah berada di pangkuan Matthew.


Huh, wanita ini benar-benar sudah tak bisa menahan dirinya, sungguh merepotkan. Seringai Matthew.


Matt tanpa persetujuan Samantha yang menyakini Samantha pasti sangat menginginkannya. Dia menurunkan resleting gaun milik wanita itu yang membalut tubuh indahnya dengan dua miliknya yang besar sudah menegang. Wajah Samantha memerah. Tubuhnya sudah panas seperti kobaran api ingin segera di sentuh. Apalagi saat Matt meremas kedua miliknya, tubuh Samantha menggeliat menggila, ******* demi ******* sudah tak bisa lagi lolos dari mulutnya.


"Matt, cepat. Puaskan aku! Jangan menggodaku terus, akh," ucap Samantha yang sudah benar-benar menggila dibuat oleh Matt.


Matt menunjukkan senyuman smirk, tangannya mengusap kedua mata Samantha beberapa detik kemudian Samantha sudah menggila mengeluarkan suara lengkuhan yang tajam memompa tubuhnya di atas tubuh seorang pria dengan penuh bergairah.

__ADS_1


Kau pikir aku sudi memuaskan nafsu-mu. Cih, benar-benar menyebalkan!


Matthew meninggalkan Samantha yang tengah bergulat dan berpadu kehangatan dengan  seorang pria. Dia mengeluarkan ponselnya, beberapa kali panggilan. Namun, belum juga ada jawaban.


***


Chyara memeluk tubuh Mozza. Tubuhnya tak bertenaga, ketika dia mendapat kabar dari Nick kalau Nathan telah tiada. Hati gadis itu seketika hancurberkeping-keping.


Dia bahkan tak menyangka pelukan Nathan sore kemarin adalah pelukan terakhir kali yang dapat dia rasakan. Cinta yang dia pendam selama satu tahun berujung dengan kematian.


Chyara menahan suara tangis dari ai rmatanya yang terus berurai. Saat dia melihat Nick tengah memeluk anggota keluarga Nathan melakukan bela sungkawa. Membuat Chyara tak kuasa menahannya lagi.


Nick dengan erat. Nick menjawab pertanyaan Chyara dengan anggukan.


"Ah, ha hah ... tidak. Kau pasti berbohong kan Nick, dia tak mungkin pergi meninggalkan-ku begitu saja," Chyara memeluk tubuh Nick dan menangis sejadi-jadinya. Mozza hanya mengusap punggung Chyara menenangkan atas kehilangan Nathan.


"Sudah jangan menangis lagi, Chya. Kita pulang saja. Kau menginap di tempat-ku. Besok kita datang ke pemakamannya," Mozza berusaha membujuk gadis itu yang tak mau selangkah pun pergi dari sana.

__ADS_1


"Dia sudah pergi, Zza, aku bahkan belum sempat menerima pernyataan cintanya. Bagaimana ini bisa terjadi, aku sungguh tak percaya, Zza," derai air mata Chyara masih membanjiri pipinya. Dia, meraung dengan sangat keras merasakan kehilangan lagi.


Nick yang melihat menjadi tak tega. Dia, tahu gadis itu banyak melewati masa sulit. Hidup Chyara tidaklah indah seperti gadis seusianya.


Dia, sudah menjadi yatim piatu saat berusia lima tahun bahkan kedua kakaknya pun meninggal dengan tragis. Chyara memang tak pernah membahas terlalu jauh soal kematian keluarganya. Karena selama dia tinggal dan dibesarkan di panti asuhan tak ada seorang pun yang pernah membahas soal kematian keluarganya.


Dan, gadis itu sendiri pun seolah tak dapat mengingat  bagaimana dia bisa sampai di panti asuhan itu. Dia, hanya tahu orangtuanya sudah meninggal dan dibesarkan disana.


"Bawa dia pulang, Zza, biarkan dia tenang. Disini hanya akan membuatnya semakin menjadi!" Nick memukul bahu Mozza agar membawa Chyara pergi dari area kesedihan.


Mozza memapah tubuh Chyara keluar rumah sakit. Elderick baru saja sampai dengan mobilnya saat melihat Chyara menangis dipelukan Mozza.


Besar sekali nyalinya bahkan dia menangis histeris seperti itu! Elderick berjalan menghadang langkah Chyara dan Mozza.


Mozza menatap Elderick yang memberikan isyarat agar dia melepaskan tubuh Chyara yang sedang dia papah.


"Biarkan dia ikut dengan-ku!" ucap Elderick penuh penekanan.

__ADS_1


Chyara menarik wajahnya. Menatap Elderick yang terlihat kesal dengan dirinya.


__ADS_2