
Dia tak bisa berbicara beberapa saat, lalu, "A-apa yang kau bicarakan Matt?" Chyara mengalihkan pandangannya pura-pura tak mendengar.
"Ayolah ... Ara masa yang seperti itu pun harus ku jelaskan. Kita kan sudah sama-sama dewasa," Matt makin mengencangkan pelukannya. Chyara berusaha melepaskan. Dia merasa canggung.
"Matt, akh geli Matt!" Chyara mendesah tanpa sadar ketika Matthew menjelajahi lekuk leher Chyara. Tubuh gadis itu bergerak kesana kemari.
"Suaramu ... indah Ara," bisik Matthew membuat seketika tubuh Chyara makin meremang.
Gadis itu kemudian mengontrol emosinya. Membalikkan tubuhnya. Namun, naas saat berbalik badan Matthew menatapnya seperti seekor serigala lapar.
"Katakan padaku apa saja yang sudah dia lakukan padamu?" ucap Matthew tiba-tiba penuh penekanan. Chyara tak menjawab, malah mengalihkan pandangannya lagi ke sembarangan ruangan.
"Matt, lepas! Kau jangan gila!" Chyara mulai panik. Dia merasakan Matthew mulai bertingkah gila seperti Elderick. Matthew memperat pelukannya. Matthew melihat ketakutan di bola mata Chyara,
Cup! Matthew mendaratkan kecupan di kening Chyara. Membuatnya gadis itu semakin salah tingkah.
"Bagaimana kalau sekarang kita menonton midnight?" ajak Matthew tiba-tiba.
"Aku sangat lelah Matt! Bisakah kita menontonnya besok malam saja?" Chyara merasakan tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.
"Janji?" Matthew menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Chyara, membuat segurat senyum di wajahnya.
"Kau sungguh masih mengingat-nya? Ini kan ...," Chyara mengingat masa kecilnya saat di panti asuhan.
Di kala hujan badai dan keadaan panti gelap gulita. Dia hanya bisa bersembunyi dan menangis di kolong tempat tidur. Dia selalu menutup kedua telinganya ketika guntur berbunyi.
Chyara sangat takut dengan hujan berguntur dan laut. Matthew tanpa sengaja menemukan dirinya sedang menangis di kolong tempat tidur. Menariknya keluar, memeluk Chyara dengan erat. Dan berjanji kelingking akan selalu ada dan melindungi gadis itu disaat hujan badai juga mati lampu.
"Aku selalu mengingat dan tidak akan pernah melupakan janjiku." Chyara tersenyum merasa terharu menghambur kedalam pelukan Matthew.
"Terima kasih banyak, Matt." Chyara seketika menangis dipelukannya.
"Jangan menangis lagi. Aku sudah ada disini dan akan menepati janjiku! Selalu ada untuk melindungimu!"
Hati Chyara lega mendengar perkataan Matthew. Namun, sedetik kemudian senyuman di wajahnya menghilang. Dia mengingat kembali perkataan Elderick yang mengancamnya agar tak berdekatan dengan pria manapun. Kalau tidak nasibnya akan sama dengan Nathan. Dia tak menginginkan sesuatu yang buruk pun menimpa Matthew.
Aku tidak boleh melibatkan Matthew. Dia pasti akan mati jika berurusan dengan monster gila itu. Chyara melepaskan perlahan pelukannya. Mencoba menarik wajahnya untuk tersenyum.
"Pulanglah! Kau pasti butuh istirahat. Besok kita bertemu setelah aku pulang kerja ya," ucap Chyara mengusir Matthew secara halus.
__ADS_1
"Dimana tempat kerjamu? Aku akan menjemputmu dan kita akan melunasi hutangnya besok?" ucap Matthew yang tak sabar menginginkan Chyara segera terbebas dari jebakan Elderick.
"Pine restoran. Aku bekerja di sana sebagai pengantar makanan. Aku akan berada disana sampai sore hari!" beritahu gadis itu.
"Baiklah, besok sore aku akan datang. Istirahat-lah!" sembari memberikan kecupan di kening Chyara kembali.
"Hati-hati di jalan ya, Matt!" pesan Chyara sebelum pintu rumahnya benar-benar tertutup. Sebagai salam perpisahan mereka.
"Kau juga tidurlah dengan nyenyak, oke!" Chyara mengangguk dan menutup pintu rumahnya.
Seketika wajah lembut Matthew berubah serius, "Keluar-lah!"
Blash! Elderick muncul di hadapan Matthew. Mereka saling memandang dengan tajam. El benar-benar menumpahkan rasa amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa anda tidak muncul saja. Bukankah dia sudah tahu jati diri anda yang sebenarnya?" tantang Matthew.
"Menjauh-lah, dia milikku. Dan jangan tunjukkan lagi wajah-mu dihadapanku!" Mata Elderick berubah memerah menahan amarahnya.
"Anda hanya baru memberikan tanda saja belum mengikatnya terlalu jauh!" cibir Matthew.
Bugh! Satu tinju mendarat di pipi Matthew yang sama kerasnya seperti batu. Tidak ada darah, lebam ataupun luka yang keluar dari pipi Matthew.
"Kau boleh mengikatnya sekarang. Namun, ketika kekuatan hatinya memilih yang lain, ikatan itu pun dengan sendirinya akan hilang!" Matthew meninggalkan Elderick dengan tatapan matanya penuh amarah.
Bugh! Chyara menabrak tubuh seseorang saat dia baru saja keluar kamar mandi untuk membersihkan wajah. Dia menarik wajahnya melihat Elderick sudah menatapnya dengan tajam.
"Arghh, kau. Bagaimana kau bisa?" otak Chyara berputar. Ah, aku lupa dia kan monster. Elderick menarik tangan Chyara mengendus seluruh tubuhnya.
"Hei apa yang kau lakukan? Jangan endus tubuhku seperti makanan yang menjijikkan," dengus Chyara kesal melihat tingkah Elderick yang menyerinyitkan hidungnya.
El tidak menjawab hanya mendorong kembali tubuh Chyara masuk ke dalam kamar mandi-nya.
"Arghhh, dingin!" teriak Chyara.
Elderick menyalahkan shower di kamar mandi Chyara. Menguyur seluruh tubuh gadis itu dengan air yang memancar. Seolah sedang membersihkan bau ditubuh Chyara.
"Kau gila, dingin! Ini sudah sangat malam," Chyara berkata dengan tubuhnya yang mengigil. Mendorong tubuh El, menarik handuknya. Melucuti semua pakaian yang dia kenakan dan keluar dari kamar mandi.
El mengekori Chyara saat membuka dan mengambil menggantinya dengan pakaian tidur.
__ADS_1
"Kenapa kau mengenakan pakaian itu? Dimana baju yang kuberikan padamu," tanya Elderick. Chyara memutar kedua bola matanya. Haduh gawat dia menanyakannya.
"Uhm, itu bajunya terjatuh saat aku akan pulang!" Chyara menjawab dengan gelagapan.
"Benarkah?"
"Iya!" Chyara berjalan menaiki ranjangnya lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Berani sekali kau mengabaikan ucapanku?" Elderick sudah muncul dari balik selimut sambil memeluk tubuh Chyara dari belakang.
"Arghh!!" Chyara menarik tubuhnya berusaha berontak dari pelukan Elderick.
"Diam!" pelukannya makin erat, "Aku kan sudah bilang, akan datang dan kau harus mempersiapkan dirimu sebaiknya menunggu kedatangan-ku." tukas Elderick berkata dengan eratan di giginya.
"Kau gila. Gila. Lepaskan aku!!"
"Aku minta jatah malam-ku sekarang! Dan, aku ulangi sekali lagi, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki manapun selain diriku! Kau mengerti!!" suara Elderick terdengar seperti anacaman yang menakutkan.
"Aku tidak berhubung dengan siapapun!" tegas Chyara.
"Benarkah? Tapi, aroma ditubuhnya tidak akan pernah bisa membohongi-ku. Jelas sekali sekarang kau sedang membohongi-ku."
Apa sih maksud ucapan pria gila ini. aAu bahkan tak memahaminya. Walaupun aku bilang tak berhubungan dengan siapapun, mana dia akan percaya. Sepertinya otaknya sudah rusak dan koslet tersengat listrik. Umpat Chyara kesal setengah mati.
Elderick membalikkan tubuh Chyara. Hingga dia sudah mengkukung, mengunci tubuh Chyara dengan kedua tangan nya, menatap tajam Chyara.
"Apa kau bilang barusan!" Elderick yang dapat mendengar dengan jelas umpatan yang keluar dari hati Chyara.
" A-a-aku tidak bilang apa-apa!" Chyara memalingkan wajahnya menghindari tatapan Elderick.
Huh apa dia sungguh bisa mendengar isi hatiku. Benar-benar keterlaluan. Bahkan isi hatiku pun tak bisa ku sembunyikan. El yang kesal seketika tersenyum saat mendengar umpatan Chyara.
"Ya, tebakan kamu benar. Aku bisa mendengarnya. Bahkan sangat jernih dan jelas!" seringai Elderick.
Astaga dia benar-benar bisa mendengar ucapanku. Mati aku, mati!
Gadis itu serasa tercekik di lehernya.
"Hahahaha!" kekeh Elderick seketika menjadi terhibur dengan tingkat menggemaskan Chyara.
__ADS_1