
Elderick sampai di mansion pribadinya dalam hitungan menit. Dia, merebahkan perlahan tubuh Chyara di ranjangnya. Tubuh gadis itu sudah berlumuran darah yang mulai mengering.
Wajah dan bibirnya sudah pucat seperti mayat, dipenuhi dengan memar dan lebam. Darahnya sudah berubah menghitam. Elderick memeriksa seluruh tubuh gadis itu. Merobek perlahan baju yang dikenalannya.
"Berani sekali mereka membuat-mu seperti ini!" suara kemarahan terdengar dari mulut Elderick. Dia seperti sedang memutahkan lahar merapinya.
"Tuan Sebastian akan segera datang, dan ini ponsel milik nona Chyara, Tuan!"
Mark sudah berada dihadapan tuannya memberikan ponsel Chyara yang masih aktif dengan beberapa panggilan tak terjawab.
"Ada apa? Kau sungguh mengusik-ku!"
Elderick mengangkat ponselnya. Menyadari nomor yang tertera adalah nomor telpon Matthew.
"Berikan ponselnya pada Ara, aku ingin berbicara dengannya," dengus Matthew terdengar kesal saat mendengar suara rivalnya yang menjawab telpon gadis itu.
"Dia sedang bersama-ku, jangan ganggu kesenangan kami!"
__ADS_1
Elderick langsung mematikan ponselnya, ketika menyadari Sebastian dan yang lain sudah muncul.
Matthew tampak geram. Dia mengetahui kemana dia harus mencari gadis itu, "Diego, bersiaplah kita akan menjemput calon istriku," ucap Matthew.
"Apa anda yakin, dia, nona Ara yang selama ini kita cari?" Diego menegaskan kembali keinginan kuat tuannya. Selama ini tuannya tak pernah bersikeras seperti itu.
"Kau sudah melihatnya kemarin kan? Dia memang Ara-ku. Gadis yang selama ini kucari dan satu-satunya calon istri dari Whyman family.” Matthew sudah mempersiapkan semuanya. Dia tak ingin lagi kehilangan gadis itu.
“Baik, saya akan membawa beberapa orang kepercayaan kita. Tidak mungkin kita bisa masuk dengan mudah ke kediaman keluarga Balian.” Matthew mengangguk cepat. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu.
Apapun caranya, aku pasti akan membawamu pulang, Ara. Bersabar sedikit lagi.
“Kau gila, El. Apa yang kau lakukan padanya? Aku kan sudah bilang jangan menyentuhnya dulu untuk beberapa waktu. Dia ini kan manusia, mana kuat menahan kekuatanmu itu,” tuding Sebastian saat melihat seluruh luka ditubuh Chyara.
Satu pukulan melayang dikepalanya. Lisberth pun emosi saat mendapat telpon dari Mark kalau gadis itu terluka lagi.
“Terakhir kali kau sudah membuatnya ketakutan. Kalau begini terus bagaimana keluarga kita akan memiliki keturunan, El, ” dengus Lisbeth kesal dengan sikap anaknya yang tak bisa menahan diri.
__ADS_1
“Ck,ck, jangan mentang-mentang sudah bertemu dengan pasanganmu, kau malah bersikap lebih gila dari biasanya.” Josh memperkeruh suasana.
Anna dan Alberth hanya melipat tangannya didada dan menggelengkan kepala mereka secara bersamaan. Menatap tajam kearah Elderick.
“Arrggghh! Kalian jangan terus membahas ini dulu. Tolonglah dia, aku mohon!” tatapan Elderick frustasi dan penuh kesedihan.
Dia bahkan tak memperdulikan semua kekesalan dan umpatan yang mereka tujukan untuknya. Bagi Elderick saat ini, gadis itu bisa selamat.
“Berikan darahmu sebagai campuran. Lukanya terlalu parah, tidak akan mungkin hanya mengandalkan kantong darah yang kubawa,” jelas Sebastian. Dia tak pernah melihat sekalipun saudaranya panik seperti itu.
“Ambilah, sebanyak apapun. Asalkan, dia bisa selamat! Aku mohon selamatkan dia, Bast!" Perkataan Elderick terdengar putus asa.
Lisbeth menatap kembali wajah putranya. Dia terlihat gelisah dan khawatir saat Sebastian mengambil darahnya.
"Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" kini Lisbeth menyadari bahwa luka yang berada di sekujur tubuh calon menantunya bukan ulah anaknya.
"Aku ceritakan jelasnya nanti. Tapi, yang jelas ini karena tanda yang kubuat mengundang para kaum kita mendekatinya," Elderick menangkap hanya itulah yang membuat gadisnya di incar oleh tiga vampire muda tadi.
__ADS_1
Lisbeth membulatkan matanya, "Aku sudah bilang jangan membiarkannya sendiri. Cepat atau lambat harum di tubuhnya akan semakin semerbak. Apalagi kau sudah memberikan tanda padanya." Lisbeth menyesali kejadian yang terjadi pada Chyara.