PACARKU, TUAN VAMPIRE

PACARKU, TUAN VAMPIRE
AROMA YANG BERBEDA


__ADS_3

"Nick, seperti-nya aku akan berhenti kuliah sementara waktu. Jadi, jika kau perlu tenagaku atau mungkin punya  pekerjaan di luar jam-ku disini, aku mohon kau berikan padaku,"  ucap Chyara disela kesibukan mereka. Mereka sedang sibuk diarea depan dan belum ada pelanggan yang datang.


"Apa laki-laki itu benar-benar akan menuntut-mu?" Nick menatap wajah Chyara yang terlihat tertekan.


"Sebenarnya, dia menawarkan pekerjaan dengan gajinya jauh besar dari yang kuterima disini," sahut gadis itu lemas.


"Lantas kenapa kau tak ambil?" Nick melipat kedua tangannya menatap Chyara.


"Dia, menginginkan diriku menjadi pelayan dan tinggal di tempat nya," tambah gadis itu ketus.


"Tawarannya sangat bagus. Kenapa kau tidak ambi? Lagipula, kau juga tidak rugi apalagi semua dapat mempercepat proses lunas hutangmu!" Nick berkata dengan rasionalnya yang bekerja. Baginya, jika bayaran besar dan hutang akan dapat dilunasi, kenapa tidak.


"Aku harus siap dua puluh empat jam. Mengikuti kemauan dan perintahnya. Memang sih dia bilang semua fasilitas, makanan dan apapun yang kuinginkan dia tidak akan menolaknya," lanjut Chyara.


"Ambil saja Chyara, kalau memang gajinya sangat menunjang," usul Mozza.


"Entahlah, Zza. Kau tahu kan, aku tidak terlalu suka dengan kekangan. Aku hanya takut tidak betah bekerja dengannya nanti bukan hutangku lunas malah bertambah lagi," Mozza tampak  berpikir dan dia sendiri dapat membayangkan bekerja dengan seorang Elderick . Yang hanya dia ditatapnya sudah membuatnya ingin segera bersembunyi di lubang. Apalagi hari-harinya harus bersama orang seperti itu, pasti akan terasa bagai burung dalam sangkar emas.


Cring! Cring! Tiga orang pria masuk sebagai pelanggan pertama. Chyara sigap menghampiri dan memberikan buku menu.


Mata mereka semua berubah menjadi merah. Tanpa mereka sadari. Chyara hanya berdiri di hadapan mereka siap menerima pesan dan mencatatnya.


"Bisa saya ambilkan pesanan untuk kalian?" ucap Chyara tersenyum menatap mereka satu persatu.


Mereka menatap Chyara tanpa berkedip, "Kau pelayan baru?" tanya salah seorang dari mereka terlihat menatap Chyara dari ujung rambut hingga kaki.


Pelayan baru? Sepertinya mereka sering kesini, tapi kenapa mereka tak mengenalku? Apa saat mereka datang aku sedang mengantarkan makanan. Mungkin. pikir gadis itu.


"Uhm, tidak aku hanya membantu saja. Jadi kalian mau pesan apa?" sahut Chyara tetap bersikap ramah pada mereka.  Walaupun Chyara merasakan tak nyaman saat di tatap mereka. Mereka semua seolah akan menerkam Chyara.

__ADS_1


"Chya, aku gantikan. Nick, memintamu mengantarkan pesanan," Mozza menyenggol sikut Chyara mengambil alih untuk menservice para pelanggan tadi.


"Baiklah, mereka belum pesan kok," beritahu Chyara.


"Maaf untuk pesanan selanjutnya, kalian bisa di bantu oleh rekan-ku," ucap Chyara meninggalkan mereka menghampiri Nick yang sudah berdiri dekat meja kasir dengan beberapa kotak makanan.


Mata mereka tak luput mengekori Chyara/ Mozza menangkap gelagat tak menyenangkan saat mata mereka tak melepaskan pandangannya dari Chyara. Ini pertama kalinya Mozza melihat Chyara begitu di perhatiankan oleh beberapa orang. Biasanya, walaupun Chyara tersenyum ramah tak seorang pun meliriknya.


Chyara melepaskan appron mengambil jaket memakai helm dan membawa beberapa kotak yang sudah di siapkan  oleh Nick. Seraya Chyara membuka pintu, mereka pun mengekori dan tak melepaskan pandangannya.


"Bisakah aku mengambil pesanan kalian?" ucap Mozza sekali lagi dengan ramah.


Brak! Drukk! Mereka semua berdiri saat Chyara mulai melajukan motornya. Mereka semua keluar mengikuti Chyara pergi dengan motor-motornya.


Chyara melajukan pelan motornya mengantarkan pesanan makanan pada alamat yang di tuju.


Dddrrttzz! Dddrrttzz! Ponsel Chyara bergetar dia langsung menekan earphone di telinganya.


"Uhm, aku baru selesai mengantarkan makanan, ada perlu apa? Katakan aku sedang terburu-bu--,"


Brakkk! Brakk! Brakk!Beberapa detik kemudian entah darimana asalnya. Chyara merasakan tubuh terhempas ke dalam salah satu lorong gang sempit dan gelap.


"Arrrggghhh!" rintihan Chyara terdengar dengan jelas di telinga Elderick.


Dia bahkan dapat merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu dan sambungan ponsel seketika terputus. Untungnya sebelum ponsel Chyara diberikan Elderick telah siap siaga memasang alat pelacak di ponselnya.


Elderick melesat ke tempat kejadian di ikuti oleh Mark. Tanpa harus adanya perintah dari gelagat tuannya dia pun dapat mengerti.


"Arghh, si-siapa kalian?"

__ADS_1


Mata Chyara sempat kabur karena kepalanya terbentur tembok cukup keras. Darah mulai mengalir dari dahinya sehingga aromanya tambah menyeruak membuat orang yang di hadapan Chyara menatapnya dengan tatapan memburu.


"Aroma sungguh berbeda, pantas saja aku langsung bisa tertarik padanya," ucap salah seorang dari mereka dan Chyara mengenali suara tersebut adalah salah seorang dari tiga pelanggan yang datang ke tempatnya tadi.


Krak! Krak!


"Arghh!!" Chyara kembali berteriak. Kali ini terasa sakit pada dua lengannya yang di tarik ke belakang oleh dua orang di hadapannya.


"Jangan kau habiskan, sisakan untuk kami juga," ucap orang yang memegang lengan kanan Chyara.


"Arghh sa-kit sa-kit sekali!" rintih gadis itu. Tangisnya pecah seketika menahan rasa sakit di kedua lengannya yang seperti patah. Orang di hadapan Chyara maju selangkah demi selangkah. Dia, memegang kepala Chyara dan, Krak! Chyara merasakan lehernya patah dan sangat menyakitkan.


"Aku penasaran, bagaimana rasanya dirimu, hingga membuatku ingin memburu-mu," seringainya menarik rambut Chyara yang sudah penuh dengan peluh keringat. Darah segar mengalir tanpa henti di dahinya. Dia mengusap dengan tangannya darah yang mengalir di dahi gadis itu dan menjilat rasanya.


"Ternyata rasa ini memang sangat berbeda. Rupanya, kau memiliki darah campuran bangsawan!" seringainya lagi sambil tersenyum menarik dengan kasar wajah Chyara.


"To-tolang le-paskan aku, aku mohon," Chyara berucap dengan bibirnya yang terus  bergetar. Dalam bayangannya yang terputus-putus dia seolah merasakan kembali kejadian lima belas tahun lalu.


Blash! Bugh!Dua orang yang memegangi lengan Chyara terhempas. Samar Chyara melihat sosok Elderick sudah dihadapannya, "Habiskan mereka, Mark!" perintah Elderick penuh kemarahan dan, Krak! Krak!


Elderick sudah mencekik leher orang di hadapan Chyara, Meremukkan semua tulang-tulangnya. "Berani sekali kau menyentuh wanitaku, rupanya kau sungguh mengantarkan nyawamu!!" Mata Elderick memerah tatapan penuh amarah membakar seluruh persendian orang tadi.


"A-a-argh, maafkan aku, Tuan, saya tidak tahu kalau dia wanita-mu!" ucapnya.


Chyara melihat  dengan tubuhnya yang tak berdaya. Tergolek di lorong dingin tersebut. Kedua orang yang menarik lengannya, tubuh mereka sudah terbelah menjadi dua. Tak tergelatak, tak bernyawa dihadapan Chyara. Tubuh gadis itu  bukan hanya mengigil. Dia, merinding setengah mati dan kesadarannya hampir lenyap.


"Kau pikir maafmu berguna, hah!!" Elderick melemparkan tubuh orang tadi pada Mark.


"Habiskan jangan sampai tersisa, Mark!" eratan di giginya penuh amarah yang berkobar. Mark mengoyak, mencabik-cabiknya hingga potongan kecil lalu membakarnya.

__ADS_1


Elderick segera menghampiri tubuh Chyara, merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, "Maafkan aku sayang, aku datang terlambat!" Elderick berdiri dengan tubuh Chyara dan bersiap membawanya pergi.


"Jangan sisakan apapun, Mark!"  perintah Elderick lalu dia melesat pergi ketika kobaran api mulai menyala, membakar semua sisa-sisa tubuh orang tadi.


__ADS_2