
Elderick memajukan wajahnya mendekati bibir Chyara. tanpa persetujuannya dari gadis itu dia sudah meraup dengan rakus bibir Chyara. Gadia itu mendorong tubuh El perlahan.
"Sudah El, aku mengantuk dan sangat lelah. Besok aku kan sudah mulai bekerja," desak Chyara agar tubuh Elderick menjauhi dirinya.
"Aku akan mengantarmu!" ucap Elderick menarik tubuh Chyara kepelukan. Dia, membenarkan posisi tidurnya. Elderick tidak akan membiarkan gadisnya sendirian begitu saja.
"Terima kasih. Utamakan yang lain. Kau juga kan pasti punya kesibukan sendiri!"
"Kau sedang menolakku?" dengus El.
"A-aku? Mana berani!" sahutnya. Andai saja aku memang bisa menolakmu. Alangkah bahagianya hatiku.
"Lantas? Kenapa kau menolakku untuk mengantarkan? Atau jangan-jangan kau sudah ada seseorang yang menjemput-mu," Elderick mendelikkan matanya.
"Aku bukan menolak ... hanya saja saat kematian, uhm maksudku Nathan, aku sama sekali tak hadir. Nick dan yang pasti Mozza akan menginterogasi-ku!" Chyara mengutarakan isi hatinya. Keberatan akan sikap keras kepala Elderick.
"Kau!" sahutnya mulai meradang lagi.
"Iya, iya aku tahu. Maaf, bukan maksudku menyebutkan namanya. Hanya saja semua terlalu mendadak dan kau sangat memaksakan kehendak-mu!" gadis itu cemberut saat berkata.
"Kau sungguh tak menyukai-ku, hah. Setelah apa yang kita lakukan?"
Huh ... lagi-lagi menekanku.Padahal semua kan kau yang melakukan, semua karena paksaanmu.
"Ish," Chyara mendorong tubuh Elderick dan duduk di tengah ranjangnya.
El bangkit dan mengekori Chyara duduk sambil memeluk pinggang Chyara. Elderick hanya bisa tersenyum ketika mendengar suara hati Chyara mengumpat dirinya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu. Aku hanya sedikit haus," Elderick menyibak perlahan rambut Chyara mendekati mulutnya di leher Chyara.
Chyara tahu diri. Dia segera menyandarkan tubuhnya di pelukannya. Kali ini dia sangat sadar, ketika Elderick mengatakan dirinya haus.
"Pelan-pelan menggigitnya!" suara Chyara lirih.
Elderick tersenyum karena Chyara sudah tak melarikan diri ataupun menolak dirinya saat mengatakan haus.
__ADS_1
Monyet-ku sepertinya sudah mulai terbiasa. Dia harus seperti ini setiap hari. Agar siapapun yang mencium keberadaan dirinya tahu bahwa dia sudah ada pemiliknya.
"Uhm," El menarik dagu Chyara perlahan kembali mengecup bibir Chyara lebih dalam. Elderick merekatkan jemarinya di jari jemari Chyara saat mulutnya mulai menggarap leher Chyara.
"A-a-akh sa-kit!" Chyara memejamkan matanya saat tangan Elderick semakin merekat di jemari Chyara. Dia sedang menghisap darah Chyara secara perlahan.
Elderick menarik perlahan mulutnya dari leher Chyara dan mengecup kening Chyara yang sudah tertidur dalam pelukannya. Menaruh tubuh Chyara perlahan.
"Aku akan menemani-mu sayang, jadi kau tidurlah dengan nyenyak!" Elderick mengecup kedua tangan Chyara dengan lembut. Sambil tangannya mengusap rambut Chyara yang sedikit berantakan.
Chyara membuka matanya dia menyibak selimutnya setelah melihat sekeliling sudah tak ada Elderick. Dia menggerakkan perlahan lehernya yang terasa kaku dan sakit. Dia beranjak dari tempat tidur berdiri di depan cermin dan melihat dua tanda di leher bekas gigitan Elderick.
Huh, dasar monster pengisap darah. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan semua ini. Mau berusaha keras menolaknya pun aku tetap tak akan bisa.
Chyara berjalan malas memasuki kamar mandi. Beberapa menit kemudian Chyara sudah rapih dengan jean biru belel dan kaus press body berwarna peach.
Hari ini aku sangat lapar. Chyara berdiri di mesin otomatis pembuat minuman dan memasukan beberapa lembar uang kertas. Menekan beberapa kaleng minuman kopi tak jauh dari mesin minuman, mesin makanan siap saji nya pun ada, Chyara memilih salad buah dan beef sandwich.
"Hohoho, akhirnya muncul juga Chya, kemana saja?" Mozza langsung memburu dengan tatapan penasaran saat melihat Chyara meletakan tasnya di loker. Apalagi terakhir kali Mozza bertemu Elderick sedang memaksanya ikut dari rumah sakit.
"Kau sedang menyogok-ku?" dengus Mozza sambil membuka kantong makanan mengambil dan duduk berhadapan dengan Chyara.
"Ya, anggap saja begitu. Maaf, karena waktu itu aku meninggalkanmu di rumah sakit dan tak jadi datang pada pemakaman Nath," Chyara bicara dengan wajah tertunduk. Raut wajahnya masih sangat sedih ketika dia menyebutkan nama Nathan.
"Uhm, tak apa Chya, aku pun tak sempat datang kok. Lalu bagaimana dengan dirimu? Kenapa laki-laki itu memaksamu untuk pergi dengannya?" Mozza penasaran.
"Intinya, sementara waktu ini aku tidak akan bisa lepas karena masalah hutangku dengannya, dan sepertinya aku akan berhenti kuliah. Aku akan mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar agar hutangku dengannya cepat terlunasi." jelas gadis itu.
"Kau akan keluar juga dari sini, Chya?" Mozza bertanya.
"Tidak. Saat ini aku malah berharap bisa mendapatkan dua atau tiga pekerjaan sekaligus untuk mengumpulkan uang." sahutnya.
"Apa kau yakin!?"
"Uhm, katakan padaku kalau ada info pekerjaan dadakan yang satu kali panggilan. Asalkan, aku bisa mendapatkan imbalan yang besar ya, Zza. Aku juga harus mencari tempat tinggal baru kau kan bilang pemilik gedung sudah menjualnya. Belum lagi semua hutangku padamu, aku juga harus mencicilnya kan, Zza!" Chyara yang wajahnya terlihat seperti benang kusut.
__ADS_1
"Hutang dengan-ku, jangan kau pikirkan. Kalau kau kesulitan mendapatkan tempat tinggal kau bisa tinggal bersama dengan-ku dulu, Chya," tawarnya.
Chyara berpikir kalau dia sungguh mengambil keputusan untuk tinggal bersama dengan Mozza, mungkin saja Elderick bisa sungkan bertemu dengannya, "Apa sungguh aku bisa tinggal bersama dengan-mu?" Chyara meyakinkan lagi ucapan temannya itu.
"Tentu aja Chya, memangnya aku pernah perhitungan denganmu. Kau adalah teman terbaik-ku dan,"
Dddrrttzz! Dddrrttzz! Satu pesan masuk ke dalama ponsel Chyara.
"Itu kode apartemen-ku. Kau bisa datang kapan saja. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Lagipula apartemenku cukup besar jika ditinggali olehku sendiri," Mozza tersenyum tulus untuk sahabatnya.
"Makasih banyak, Zza," Chyara menghamburkan dirinya ke dalam pelukan.
"Aku tak ingin menghakimi kamu. Apa yang sedang kau lalui pasti ada alasannya. Aku harap semua cepat berlalu ya Chya," Mozza menepuk punggung sahabatnya.
"Kamu memang sahabat terbaikku, Zza. Terima kasih selalu ada di saat aku susah!"
"Ehem," suara Nick berdehem menghamburkan suasana melankolis mereka.
"Ha-hai, pagi Nick!" sapa mereka bersamaan.
"Wah, seperti aku tertinggal sesuatu yang menarik. Apa kalian bersedia bercerita?" Nick melipat kedua tangannya berdiri di tengah mereka.
"Ahhh, kepo!! Urusan wanita tahu. Laki-laki dilarang ikut campur!" seru Mozza menyahut dengan lantang bersikap pura-pura galak.
"Hohoho, apakah dia masih bisa di bilang wanita? Bukankah ada seseorang yang menyebutnya dengan monyet!" ledek Nick menunjuk-nunjuk Chyara.
"Arrrggghhh. Mengesalkan. Kau jangan memanggilku seperti itu, aku bukan monyet!!" teriak Chyara makin kesal karena umpatan Nick.
"Hei, sudah sudah jangan bertengkar. Nick ini sarapan buatmu, Chyara mentraktir kita sarapan!" Mozaa meletakan porsi traktiran yang diberikan Chyara.
"Wah ... sering-sering-lah. Tapi, yang aku lihat sugar daddy-mu cukup mapan. Seharusnya, dia bisa memberikan-mu yang lebih dari ini dong," Nick cengar-cengir meledek Chyara. Kepala Chyara sudah berasap seperti gerbong kereta api yang sedang berjalan.
"Tutup mulut-mu Nick, jangan asal bicara. Aku tidak punya sugar daddy!!" teriak gadis itu sambil melemparkan satu kain lap yang berada diatas meja kearah Nick.
"Hahahaha!" Seketika tawa pecah di tengah sarapan pagi mereka. Melihat tingkah Chyara yang menggemaskan ketika mereka buat santapan ledekan mereka.
__ADS_1