
"Kau tahu, sejak kepergianku dari panti. Aku selalu mencari-mu. Namun, saat aku kembali kesana kau sudah tidak tinggal disana lagi. Aku terus mencarimu, sampai kita kemarin tiba-tiba bertemu," Chyara hanya menganggukan kepala saat mendengar cerita teman kecilnya itu.
"Sungguh? Kau akan membantuku melunasi hutang-ku dan kau tidak akan mengikat-ku dengan perjanjian apapun kan?" seloroh Chyara akhirnay dia berkata. Dia tidak ingin dirinya terjebak untuk kedua kalinya.
"Memang kau menilai-ku serendah itu?" cibir Matt.
"Uhm, habisnya ... dulu kan kau sering sekali merebut ice cream yang kumakan dan membuatku menangis," sahut Chyara ketus.
"Hahahaha, kau sungguh masih mengingat semuanya Ara?" Matthew menatap mata Chyara penuh arti.
"Tentu saja, kau selalu merebut semua ice cream yang kumakan. Aku takut, sekarang kau sedang merencanakan balas dendam dengan-ku," dengus Chyara lagi-lagi menunjukkan wajah cemberutnya.
Ya ... Tuhan imut sekali. Sudah lama tak bertemu dengan-nya. Untungnya, saat tubuhku dulu mengecil aku bertemu dengannya.
"Uhmm ... jadi berapa banyak ice cream yang harus aku ganti sekarang?" Matthew tersenyum dengan bahagia. Dia baru bisa merasa hatinya lepas dan tertawa saat bertemu dengan Chyara kembali.
"Ah, aku rasa nilai yang kau gantikan untuk melunasi hutang-ku itu lebih dari cukup," cetus gadis itu mantap.
__ADS_1
Chyara tak menyangka, dirinya mendapatkan jalan keluar yang sangat mudah hanya karena ice cream.
"Matt!"
"Uhm." Matthew masih menatap Chyara dengan tajam.
"Bisakah, kau turunkan aku, rasanya sangat tidak nyaman!" Apalagi Chyara terus memeluk tubuh bagian depannya yang hampir di sobek oleh Matthew.
"Ma-maaf!" Matthew menurunkan Chyara perlahan dan dia membuka kemejanya.
"Pakai ini dulu untuk menutupi bajumu yang kusobek," Chyara mengangguk.
"Tidak usah Matt, aku kan mau pulang!" sahut gadis itu.
"Baik, aku antar!" Chyara menuntun arah ke tempat sewaannya. Mata Matthew berkeliling. Dia menyadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.
Huh, bahkan dia menjaga dengan ketat Ara-ku. Kau pikir bisa semudah itu mendapatkan dirinya. Aku lebih dulu mengenalnya.
__ADS_1
"Masuk-lah, Matt!" Wajah Chyara memerah. Malu saat melihat keadaan rumahnya yang berantakan dengan benda dan pakaiannya yang berhamburan ke segala arah.
"Kau masih saja malas dan manja," celetuk Matthew.
"Ah, Matt jangan meledekku terus dong, duduklah. Aku akan segera pindah dari sini karena gedung ini sudah di jual oleh pemiliknya!" gadis itu membereskan beberapa benda juga bajunya yang berserakan di lantai.
"Pindah? Ke tempat-ku saja!" Matthew langsung mengambil ancang-ancang untuk mengikat Chyara perlahan.
"Terima kasih, Matt!" Chyara yang membuka lemari bajunya. Mengambil salah satu dress membuka kemeja yang di pakainya menggantikan baju yang sudah dirobek Matt.
Sedetik Matt menelan salivanya. Bagaimana pun dia juga laki-laki normal. Tidak mungkin dia tidak tergoda dengan daging mentah dihadapannya.
"Matt, tolong aku!" teriak Chyara, Matt beranjak dari duduknya.
"Ada apa?" Matt menatap Chyara yang kesulitan menarik resleting belakangnya, apalagi mengingat tubuh Chyara yang masih terasa sakit.
Matt menghampiri dan membantu menarik resleting belakang Chyara. Pluk! Tiba-tiba dagu Matt bersandar di pundaknya dan kedua tangannya melingkar di pinggang gadis itu.
__ADS_1
"Apa kau tak pernah merindukanku, Ara?" ucap Matthew seketika menohok Chyara. Deg! Gadis itu terdiam.