Pacarku Playboy

Pacarku Playboy
Cinta Untuk Shakila Eps. 01


__ADS_3

Bagian 1


🍁🍁🍁


"Perasaanku tiba-tiba gak enak, Rum," cicit gadis yang memakai jilbab berwarna biru. Ia berulang kali mengalihkan pandangan pada jam weker yang berada di atas lemari kecil di sudut ruangan.


"Tenang, ya, Sha. Jangan mikir macem-macem." Gadis yang dipanggil Rum menenangkan.


"Harusnya sudah dua jam yang lalu Kak Syifa sampai atau kalau macet sejam yang lalu." Si gadis berkerudung biru berdiri dari duduknya.


Ia kembali mondar - mandir akibat perasaan tidak tenang yang tengah menggulung dalam hatinya. Semalam kakaknya mengatakan akan menjemput pukul sepuluh pagi dan harusnya ia sudah sampai sebelum azan Zuhur tadi. Namun, sudah dua jam sejak azan Zuhur berkumandang, belum ada tanda -tanda bahwa kakaknya akan datang.


Setelah hampir setahun mengabdikan diri di pesantren tempat ia menimba ilmu, akhirnya seminggu yang lalu gadis itu menyetujui permintaan sang kakak yang memintanya untuk melanjutkan kuliah dan hari ini ia akan menjemput.


"Apa mau ditelpon dulu, biar lebih jelas dan kamu tidak perlu khawatir kayak gini lagi?" saran Arumi.


Gadis pemilik nama lengkap Shakila Annisa tersebut segera menganggukkan kepala tanda setuju. "Ya Allah, kenapa gak kepikiran sejak tadi, ya?" rutuknya kemudian menarik sahabatnya itu untuk menemaninya meminjam telepon pesantren.


"Pelan - pelan, Sha." Arumi mengingatkan Shakila yang terlihat tidak sabaran.


"Perasaanku benar - benar gak enak, Rum. Aku ingin cepat - cepat tau keadaan Kak Syifa," jelas Shakila tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.


Arumi sedikit berlari kecil untuk menyamai langkah Shakila. Keduanya pun akhirnya sampai di kantor dan mengatakan keinginan mereka. Shakila mulai menekan angka - angka yang sudah sangat ia hapal. Tersambung. Namun tidak ada yang menjawab. Gadis itu kian cemas. Tidak biasanya panggilan teleponnya telat mendapat jawaban dari sang kakak.


Shakila kembali menepis prasangka buruk yang kembali menghampiri. Ia kembali menekan angka - angka yang berbeda. Telepon rumah kakaknya menjadi tujuannya saat ini. Namun, lagi - lagi sama. Tidak ada yang menjawab. Detak jantung Shakila kian tidak menentu. Prasangka buruk itu pun semakin membelenggu.


Arumi yang menyadari kegelisahan sahabatnya hanya mampu mengusap - usap lembut punggung Shakila.


"Oke, sekali lagi," gumam Shakila nyaris putus asa.


Shakila seketika mengucap syukur, saat mendengar suara Mbok Siti menyapa indera pendengarannya. "Waalaikumsalam, Mbok," sahutnya berbinar.


"Non, Shakila ...." Asisten rumah tangga kakaknya itu malah terisak.


"Ada apa, Mbok? Kenapa menangis?" tanya Shakila dengan perasaan yang kembali cemas.


"Nyonya, Non. Nyonya ...."


Shakila tertegun. Ada apa dengan kakaknya?


"Kakak kenapa, Mbok?" tuntut Shakila tidak sabaran.


"Nyonya kecelakaan, Non saat hendak menjemput Non Shakila tadi dan ... jenazahnya akan segera tiba ...."


Shakila seperti terperosok ke dalam jurang penuh duri mendengar kalimat - kalimat yang terucap dari bibir Mbok Siti.


"Jenazah?" Shakila memastikan dengan gumaman lirih. Mungkin Mbok Siti juga tidak sampai mendengar saking lirihnya.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un ...." Arumi yang tidak sengaja mendengar kata jenazah terucap dari bibir Shakila seketika menggumamkan kalimat istirja. Gadis itu segera mendekati sahabatnya.


"Hallo, Non?" Mbok Siti terus memanggil sebab Shakila tidak merespon apa pun lagi.


Gadis itu masih sibuk mengemasi perasaannya, berusaha mencerna apa yang telah ia dengar barusan. Dari detik hingga menjadi menit, Shakila nyatanya tetap tidak mampu mencerna. Hingga di menit ketiga, gadis berkerudung biru tersebut kehilangan kesadarannya. Kenyataan yang ia dapati benar - benar telah mengguncang dunianya.


"Ya Allah, Shakila!" jerit Arumi melihat tubuh Shakila kini hampir beradu dengan lantai andai ia tidak sigap menahannya. "Shakila ... bangun, Sha!" ia menepuk - nepuk pelan pipi sahabatnya, tetapi mata itu kini terpejam sempurna.


"Ada apa, Arumi?"


Arumi yang sangat familiar dengan suara itu menoleh. "Ustazah, tolong saya Ustazah," katanya masih menahan tubuh Shakila dalam pelukannya.


"Subhanallah, ini Shakila kenapa pingsan begini?" tanya wanita yang dipanggil Ustazah tersebut. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran dan penasaran sekaligus.


"Sepertinya habis mendengar kabar tidak baik, Ustazah," jelas Arumi.


Ustazah Dila segera memanggil beberapa santriwati agar membantu memindahkan Shakila ke klinik pesantren untuk ia periksa. Tidak perlu menunggu lama, beberapa santriwati yang mendengar panggilan ustazahnya segera menghampiri. Mereka mengangkat tubuh Shakila dan membawanya ke klinik pesantren sesuai instruksi sang guru.

__ADS_1


Arumi menggapai gagang telepon sebelum ia ikut menyusul sang sahabat. "Hallo, Mbok?"


"Ya Allah, Non. Non baik-baik saja?" Nada suara Mbok Siti terdengar khawatir.


"Ini temennya Shakila, Mbok. Shakila tiba-tiba tidak sadarkan diri," jelas Arumi.


"Ya Allah ... kasihan sekali kamu, Nduk." Mbok Siti berucap lirih.


"Maaf, ya, Mbok. Saya gak bisa lama-lama, mau lihat keadaan Shakila," ujar Arumi.


Mbok Siti pun mengiyakan. Ia juga masih banyak pekerjaan yang harus ia urus. Setelah barter salam, panggilan telepon tersebut berakhir dan Arumi gegas menuju klinik pesantren untuk mengetahui keadaan Shakila.


***


Setelah hampir tiga puluh menit tidak sadarkan diri, akhirnya Shakila membuka matanya.


"Sha, kamu udah sadar? Aku panggil Ustazah Dila, ya." Arumi hendak beranjak, memanggil Ustazah Dila yang berprofesi sebagai bidan agar memeriksa keadaan Shakila.


"Tidak usah, Rum. Aku mau pulang saja sekarang. Aku udah gak papa." Shakila menarik tangan Arumi disertai gelengan kecil di kepalanya. Mencegah sahabatnya itu agar tidak perlu melakukan apa yang ia katakan barusan.


"Tapi, Sha, kamu harus diperiksa dulu," protes Arumi, kembali mendekat.


Shakila mencengkeram erat seprei yang membalut kasur tempat ia berbaring.


"Aku ingin segera pulang, Rum. Aku ingin melihat Kak Syifa untuk terakhir kalinya," katanya lirih.


Arumi segera menarik tubuh Shakila untuk ia peluk. Tangis Shakila seketika pecah dalam pelukan Arumi.


"Kenapa, Rum? Kenapa Allah harus mengambil satu - satunya orang yang aku miliki dan mau menerima kehadiranku di dunia ini? Kenapa Allah setega itu, Rum, membiarkanku tidak punya siapa-siapa lagi," racaunya dengan isak tangis yang memilukan.


Arumi tercekat. Ia ikut meneteskan air mata mendengar racauan sahabatnya. "Istighfar, Sha. Jangan biarkan setan menguasai hatimu," ujarnya mengingatkan.


Shakila menggeleng lemah. "Aku sendiri sekarang, Rum. Aku tidak punya siapa-siapa lagi," lanjutnya mengabaikan pinta Arumi untuk beristighfar.


"Lalu aku kamu anggap apa, Sha? Bukankah masih ada aku? Aku akan selalu ada untukmu."


"Tenang, ya. Banyakin istighfar. Aku mau panggil Ustazah Dila dulu."


"Tidak, Rum, aku mau langsung pulang saja." Shakila lagi-lagi mencegah.


Gadis itu turun dari ranjang. Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan dengan sigap Arumi menahan tubuh itu agar tidak sampai terjatuh.


"Tuh, kan! Ngeyelan. Udah, tunggu di sini."


Arumi meninggalkan Shakila setelah membantunya kembali berbaring. Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama Ustazah Dila selaku petugas kesehatan di pesantren itu. Wanita itu mulai memeriksa keadaan Shakila.


"Bagaimana, Ustazah?" cecar Arumi setelah melihat Ustazah Dila selesai melakukan tugasnya.


"Tidak ada yang serius. Shakila hanya shock," papar Ustazah Dila dengan senyum ramah.


"Tuh, kan. Aku bilang juga apa. Aku udah baik-baik saja. Terima kasih, ya, Ustazah." Shakila menyerobot, sebelum Arumi bersuara.


"Ada apa, Shakila? Kata Arumi kamu habis mendengar kabar buruk?" Ustazah Dila menatap dalam gadis berusia sembilan belas tahun itu. Salah satu santri yang setahun terakhir ini mengabdikan diri di pesantren, tapi sebentar lagi akan memilih berjuang di tempat lain.


"Kakak saya meninggal, Ustazah, saat akan menuju ke sini untuk menjemput saya," jawab Shakila lirih. Buliran bening kembali mengaliri pipinya. Ia segera menunduk, menutupi air mata itu dari sang guru.


"Innalilahi wa inna ilaihi Raji'un ...." Ustazah Dila menatap sendu wajah Shakila yang mulai sembap. "Kamu yang sabar, ya. Ikhlas. Harus ikhlas. Ustazah akan menemui Bu Nyai agar meminta Kang Abdul mengantarkan kamu," tutur Ustazah Dila lembut.


Shakila mengangguk lemah. Bibirnya terasa kelu bahkan untuk sekedar menjawab iya. Ia hanya membiarkan ustazahnya itu pergi meninggalkan ruangan di mana ia terbaring lemah.


"Sha?" Arumi menggenggam tangan Shakila. "Yang sabar, ya. Kamu pasti kuat. Kamu masih punya aku. Jangan merasa sendiri," ujarnya.


Hanya senyuman yang terlihat di bibir tipis Shakila sebagai jawaban. Setelahnya, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Ustazah Dila kembali dan mengatakan bahwa Bu Nyai memberi izin Kang Abdul untuk mengantarkan tapi selepas Magrib sebab mobil yang biasa dipakai untuk kebutuhan pesantren sedang digunakan Pak Kyai memenuhi undangan pengajian.


Shakila hanya mengangguk pasrah mendengar penjelasan ustazahnya. Dalam hati ia berharap semoga jenazah kakaknya belum segera dikebumikan dan ia masih bisa melihat wajah itu untuk yang terakhir kali.

__ADS_1


***


Ba'da Magrib, seperti yang dijelaskan Ustazah Dila, Shakila diantarkan Kang Abdul--santri senior kepercayaan Pak Kyai dengan ditemani Arumi dan Liza teman sekamar Shakila serta Ustaz Azhar. Saat ini, mereka sudah berada di dalam mobil dan akan menuju kediaman kakaknya. Shakila masih terus terisak dalam pelukan Arumi. Matanya sudah sangat bengkak, hidungnya pun memerah. Sembap. Wajah itu benar-benar sembab, tapi tidak mampu meredam isak tangisnya. Hampir di sepanjang jalan ia terus menangis.


Setelah lebih dari dua jam menempuh perjalanan, kini mereka hampir tiba. Di sepanjang jalanan komplek perumahan kakaknya, sudah ada tiga bendera kuning bertuliskan nama Assyifa Khanza yang ia lihat di sisi jalan.


Tangis gadis itu kembali pecah.


"Sha, kuat, ya ...." Liza yang sudah tidak tahan melihat kesedihan sahabatnya, berujar lirih. Gadis berkerudung lebar hampir menutupi setengah badannya itu mengusap-usap lembut punggung Shakila yang berada di dalam rengkuhan Arumi.


"Iya, Sha ... kamu harus ikhlas." Arumi menimpali. Meski tau beban yang tengah ditanggung Shakila sangat berat, tetapi ia tidak ingin sahabatnya itu terus meratap.


Ustaz Azhar hanya bisa menghela napas pelan mendengar santriwatinya yang lain tengah menenangkan Shakila. Entah kenapa hatinya mendadak sakit melihat kesedihan yang terpancar jelas di mata gadis itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Mobil berhenti, tepat di depan sebuah rumah yang pagarnya sudah terbuka lebar. Lagi-lagi ada bendera kuning berkibar di sisi kiri kanan pagar. Shakila menguatkan hatinya dan dengan dibantu Arumi gadis itu keluar dari mobil. Ia meremas gamis berwarna hitam yang tengah membalut tubuhnya. Warna yang benar - benar menggambarkan keadaan hatinya saat ini. Gelap.


"Mari, Shakila." Kali ini Ustaz Azhar yang bersuara dengan merentangkan sebelah tangannya, mempersilahkan Shakila agar segera melangkah lebih dulu.


Shakila mengangguk pelan dan mulai melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat. Beberapa tatapan penasaran ia dapati di sepanjang langkahnya menuju ke dalam rumah besar milik kakaknya. Mungkin orang-orang bertanya - tanya tentang siapakah dirinya. Ia memang tidak pernah pulang sejak memutuskan masuk pesantren tujuh tahun yang lalu dan hal itu menjadi alasan kuat kenapa tidak ada yang mengenalnya.


Gadis itu membatu seketika, melihat sesosok tubuh yang terbujur kaku tengah ditutupi kain berwarna putih di dalam sana. Kakinya seperti terpaku di ambang pintu. Ia benar-benar kehilangan tenaga untuk melanjutkan langkahnya. Benarkah itu Kak Syifanya? Satu-satunya orang yang mau menerimanya di dunia ini?


"Sha?" Suara yang mengalun dari bibir Arumi menyadarkan gadis itu. "Ayo!"


Shakila menggeleng lemah. "Tidak! Tidak ...," gumamnya lirih.


"Istighfar, Sha." Liza kembali mengingatkan.


Shakila hampir terjatuh, tapi dengan sigap Arumi membantu agar tubuh yang mendadak kehilangan tenaga itu tetap tegak berdiri.


"Sha!" pekikan Arumi membuat ketiga wanita yang tengah membaca Yasin di sisi sosok jenazah Syifa mengalihkan pandangan.


Salah satu di antara ketiganya beranjak, mendekati Shakila yang sudah terduduk seraya terisak pilu di lantai. Sementara dua wanita yang lainnya kembali memfokuskan diri membaca Yasin setelah mengetahui siapa sosok yang sempat mengganggu fokus mereka tadi. "Shakila ...," panggil wanita itu.


Yang dipanggil mendongakkan wajah. "Kak Shofia ...," lirihnya berlinang air mata.


Wanita yang bernama Shofia tersebut terenyuh melihat wajah sembab gadis di depannya. Kelopak mata membengkak. Hidungnya memerah. Ia berjongkok kemudian memeluk adiknya yang sampai saat ini belum bisa sepenuhnya ia terima kehadirannya. Tangis Shakila kian pecah, saat berada di pelukan kakaknya.


Shofia tidak mengatakan apa pun, tetapi usapan lembut tangannya di atas punggung sang adik cukup menenangkan hati Shakila. Setelah sembilan belas tahun ia begitu ingin dipeluk sosok kakaknya ini, kini ia mendapatkan itu.


"Ayo, masuk." Shofia menarik pelan adiknya agar berdiri dan membawanya menuju ruangan yang sudah dipenuhi para pelayat.


Shakila terlihat ragu untuk duduk di sisi kedua wanita yang tengah terisak pilu.


"Tidak apa-apa, duduklah!" ujar Shofia.


Shakila mengangguk pelan, kemudian mendaratkan bobot tubuhnya di dekat wanita yang sampai saat ini masih membencinya, Shafa putri sulung ayahnya dari istri pertama serta Aisyah - wanita yang pernah disakiti ibunya sangat dalam atau lebih tepatnya istri pertama ayahnya ibu dari kakaknya; Syifa, Shofia dan Shafa. Perasaan gugup seketika menggulung dalam diri Shakila. Padahal tidak sedetik pun Shafa menoleh padanya, bahkan terkesan mengabaikan kehadirannya. Wanita itu tidak sedikit pun terusik karena kehadirannya, begitu pula sang ibu.


Shofia menyingkap kain putih yang menutupi jenazah Syifa, sebab ia yakin Shakila tidak akan berani membukanya meski gadis itu sangat ingin melihat wajah Syifa untuk yang terakhir kalinya karena ada ibu serta kakaknya di sana.


Shakila seketika membekap mulut, melihat wajah teduh kakaknya telah dipenuhi luka. Bahkan darah dari luka-luka itu belum sepenuhnya mengering. Gadis itu menggigit bibir, berusaha meredam tangis yang sudah siap meledak.


"Kenapa bukan aku saja yang Kau panggil, ya, Allah? Kenapa bukan aku saja? Agar segala penderitaan ini berakhir. Aku lelah ya, Allah. Setelah ini, tidak akan ada lagi yang benar-benar menerimaku? Kenapa harus Kak Syifa ya, Allah ...." Batin Shakila menjerit pilu.


Setelah beberapa menit membiarkan Shakila memandangi wajah Syifa untuk terakhir kalinya, wanita itu kembali menarik kain putih nan tipis itu. Wajah Syifa seketika menghilang dari pandangan Shakila bersamaan dengan hilangnya kesadaran gadis itu.


"Shakila!" pekik Shofia pelan kemudian meminta beberapa orang wanita membantunya membawa sang adik ke kamar.


Aisyah memandangi putri bungsunya. Tidak. Lebih tepatnya, gadis yang tengah tidak sadarkan diri itu. Hatinya mendadak sakit melihat kesedihan di mata Shakila. Namun, ia tidak bisa berbuat apa - apa. Ia terlalu takut mengecewakan Shafa yang kini tengah menggenggam erat tangannya, seolah-olah mengatakan ia tidak perlu mencemaskan gadis itu. Meski nyatanya, ia sangat cemas. Ia juga iba pada gadis malang yang tidak tau apa - apa itu. Tapi lagi - lagi, ia tidak mau mempertaruhkan perasaan putri sulungnya.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen, ya Dear ❤️


__ADS_2