
Tidak terima kenyataan
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan"
Kata-kata yang tergiang di kepala Almaira setiap hari, membuatnya merasa tidak waras dalam menghadapi kenyataan. Sudah tiga hari dirinya hanya mengurung diri di dalam kamar semenjak meninggalkan rumah masa kecilnya itu. Berusaha berpikir ingin kembali ke rumah orang tuanya, namun pihak dari orang tuanya sendiri tidak membiarkan dirinya untuk datang kembali. Karena, bagi mereka jika seorang anak perempuan sudah di nikahi maka harus tinggal bersama suaminya. Hukum itu sangat dipegang kuat oleh keluarga Almaira, bagiamana pun keadaannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar pelan namun pasti dan tidak keras. Siapa lagi kalau bukan ustadz Faizar yang selalu mengetuk pintu kamar sang istri.
"Maira, bisakah kamu buka pintunya. Saya minta maaf jika membuatmu sakit hati, saya tidak tahu kalau kamu memiliki lelaki lain." Ustadz Faizar berucap dengan penuh kelembutan sembari diiringi dengan ketukan pintu.
Almaira yang mendengar itu merasa bertambah kesal, sangat kesal. Jika hanya memaafkan akankah bisa memperbaiki keadaan dan kembali seperti semula? Pasti itu tidak akan terjadi dan mustahil terjadi. Almaira terus menangis merangkul kedua lututnya di atas ranjang yang masih bertabur bunga mawar yang sengaja dihias untuk malam pertama mereka. Namun, itu hanya hiasan semata, nyatanya ranjang itu tidak berantakan sama sekali layaknya seperti yang dipakai oleh suami istri, tapi masih sama seperti awal mereka datang ke rumah tersebut.
"Maira, saya akan lakukan apapun yang kamu inginkan. Asal kamu keluar dari kamar dan makanlah agar tidak sakit." Bujuk ustadz Faizar yang menatap pintu kamar dengan tatapan kosong.
"Jika saya keluar, apakah mas ustadz mau ceraikan saya? Itu keinginan saya," sahut Maira dari dalam.
Suara Maira yang terdengar bergetar itu, membuat ustadz Faizar meneguk salivanya sangat berat mendengar keinginan sang istri. Cerai? Tidak semudah yang diucapkan seperti kalimatnya yang singkat. Apalagi ustadz Faizar tahu dalam hukum islam, perceraian sangat dilarang dalam agama. Karena, di situlah celah keberhasilan setan dalam memisahkan dua insan yang sudah ditakdirkan bersama.
__ADS_1
"Maira ... perceraian itu dilarang dalam-"
"Benarkan? Itu tidak akan terjadi! Saya tidak akan keluar!" Kesal Maira dengan tangisnya dan matanya yang terlihat sembab.
Ustadz Faizar menghela nafasnya berat, ustadz Faizar sangat kebingungan bagaimana caranya untuk membujuk sang istri agar keluar dari kamarnya dan makan, setidaknya sedikit. Karena, ustadz Faizar juga khawatir dengan kondisi Almaira yang terus mengurung diri di kamar.
"Maira, jika permintaanmu itu bisa membuatmu keluar dari kamar, maaf saya belum bisa mengabulkannya. Saya juga tidak akan memaksa kamu. Saya mau mengajar dulu. Saya harap kamu keluar dan makanlah walau sedikit, di atas meja makan sudah ada makanan untukmu. Assalamualaikum." Pamit ustadz Faizar.
Pupus, keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Almaira hanya bisa menangisi kenyataannya yang entah bagaimana caranya ia harus menerima takdir ini. Setelah beberapa menit kemudian, Almaira menelepon seseorang.
"Halo, Raihan? Jemput aku, tolong."
"Maira? Kamu di mana, aku akan ke sana sekarang." Ucap seseorang di sebrang sana.
"Aku, di rumah ustadz Faizar. Bawa aku pergi, Han. Aku tidak mau bersama dia, aku ingin bersama kamu."
"Sharelock sekarang dan aku akan ke sana. Kamu, jangan takut Maira," pinta Raihan. Setelah mendapat lokasi yang dikirim oleh Almaira, ia bergegas memasuki mobilnya dan melaju ke rumah suami pacarnya.
Almaira bergegas memasukkan kembali baju-bajunya ke koper, yang sempat ia masukkan ke dalam lemari saat pertama datang ke rumah itu. Menyeka air matanya, bercermin dan merapikan rambutnya juga bajunya yang sedikit acak-acakan. Setelah rapi ia membawa kopernya dan perlahan membuka pintu kamarnya. Menyembulkan kepalanya melihat-lihat keadaan apakah ustadz Faizar sudah benar-benar pergi dari rumah? Menutup kembali pintu kamarnya lalu berjalan menuju ke ruang tengah dan ternyata ustadz Faizar sudah tidak ada di rumah. Mungkin, ini adalah kesempatan baginya untuk kabur bersama Raihan, sebelum suaminya itu kembali datang.
Melihat figura besar foto pernikahan dirinya dan ustadz Faizar yang terpampang jelas di ruang tamu membuat Almaira memalingkan wajahnya tidak sudi. Sembari menunggu Raihan datang menjemputnya, Almaira pergi ke arah dapur untuk melihat makanan apa yang disediakan oleh suaminya tadi.
"Nasi goreng? Ini, 'kan kesukaanku,"
__ADS_1
Almaira mencicipi makanan yang tersaji di atas meja makan tersebut. Memakan suapan pertama dan itu terasa enak, Almaira duduk di kursi dan menghabiskan makanan yang di sajikan suaminya itu.
"Not bad lah, tapi tidak terlalu enak juga!" Almaira seolah tidak mengakui rasa enak pada masakan suaminya itu, ucapannya bertolak belakang dengan mulutnya yang dengan lahap menikmati makanannya.
Teringat apa tujuannya untuk keluar kamar, Almaira bergegas meninggalkan makanannya dan pergi ke ruang utama mengintip di jendela kaca ke arah halaman, menanti kedatangan Raihan.
Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah dan tak lama bel pun berbunyi. Saat Almaira hendak membuka pintunya, ternyata tidak bisa dibuka alias terkunci.
"Maira? Buka pintunya," pinta Raihan dari luar.
"Raihan! Pintunya tidak bisa dibuka. Sepertinya dikunci dari luar, gimana?" Almaira menjadi kesal karena pintunya terkunci. Ia menghentak - hentakkan kakinya.
"Ini pasti ustadz Faizar yang sudah mengunci pintunya, Han. Karena baru saja dia pergi dari rumah untuk mengajar." Jelas Almaira berbicara lewat jendela kaca, yang tidak terdengar begitu jelas oleh Raihan. Namun, masih dapat didengar dengan menempelkan telinganya ke jendela kaca tersebut.
"Coba cari di laci itu, Maira." Tunjuk Raihan pada laci lemari dekat kamar tamu.
Almaira langsung mencari di laci-laci pada lemari tersebut. Tapi hasilnya tidak ada satupun kunci di dalam laci itu. Ia pun menggelengkan kepalanya ke arah Raihan, dengan maksud tidak ada.
Raihan yang berada di luar berusaha mendobrak pintu dengan tubuhnya, namun tetap tidak bisa. Ia mengusap kasar wajahnya sambil berpikir bagaimana caranya untuk bisa membuat Almaira keluar dari rumah itu.
Setelah berpikir sejenak, Raihan meminta pada Almaira untuk memecahkan kaca jendelanya menggunakan vas bunga yang ada di meja ruang tamu. Almaira pun menuruti apa yang diminta oleh Raihan. Dengan cepat ia mengambil vas bunga dan kembali ke depan jendela kaca dengan mengancang-ancang jarak untuk melemparkan vas bunga ke jendela kaca tersebut.
"1 ... 2 ..., " Raihan mengangkat jarinya menghitung untuk Almaira yang bersiap memecahkan jendela kacanya. Dan ia sedikit menjauh pada jendela.
__ADS_1
Saat Almaira hendak melempar dalam hitungan ketiga, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari kamar tamu. Dan benar saja, ternyata yang keluar adalah ustadz Faizar yang masih menggunakan gamis panjangnya dan terlihat wajahnya masih basah karena air wudhu, yang sepertinya baru selesai shalat dhuha.
"Astagfirullahaladziiiiim," ustadz Faizar beristigfar panjang saat melihat Almaira yang ingin memecahkan kaca jendela, namun terhenti saat melihat dirinya keluar dari kamar tamu...