
Bagian 2
🌷🌷🌷
Shofia dan beberapa orang yang membantunya, termasuk Arumi dan Liza membaringkan tubuh Shakila di ranjang kamar tamu. Setelah memastikan tubuh Shakila berbaring dengan nyaman, Arumi mendudukkan dirinya di bibir ranjang, menatap wajah sembab itu. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Shakila, berharap sentuhan-sentuhannya membantu menyadarkan sang sahabat. "Sha, bangun dong! Kamu harus kuat," ucapnya dengan nada sedih.
"Sha, kenapa kamu jadi lemah seperti ini? Padahal selama ini kamu sangat tangguh. Ayo dong, buka matamu!" Liza ikut mendudukkan dirinya di sisi Shakila kemudian menarik tangan gadis yang terlihat lemah itu untuk ia genggam.
Shofia terus memperhatikan dua gadis yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Shakila - saudara seayahnya. "Mbak ... titip Shakila, ya. Saya masih ada urusan di depan," ujarnya kemudian sebab ia tidak tahu harus berbuat apa di dalam kamar itu.
Meskipun Shakila adalah adiknya, tetapi kehadirannya tidak pernah ia harapkan. Hampir tidak pernah mereka berinteraksi karena masa lalu pahit yang ayah mereka torehkan dahulu. Hingga kini, hanya Syifa saja yang telah berdamai dengan masa lalu itu dan menerima Shakila sebagai adik. Sementara Shofia dan Shafa, mereka masih belum bisa berdamai. Bayang - bayang menyakitkan itu masih membelenggu diri mereka. Bahkan sekalipun sang ayah sudah tiada, kenangan buruk itu masih terasa basah lukanya.
Untuk itu, ia benar - benar merasa canggung jika harus merawat gadis itu. Belum lagi tadi ia tidak sengaja melakukan sesuatu yang mungkin menyakiti hati kakak sulungnya -Shafa, karena refleks memeluk Shakila yang terlihat menyedihkan terduduk di lantai. Entah apa nanti yang akan Shafa pikirkan terhadapnya.
"Iya, Mbak." Liza dan Arumi berucap lirih seraya menganggukkan kepala.
Shofia pun mengayunkan langkahnya menuju ruang tamu, di mana jenazah kakaknya terbujur kaku.
"Za, aku gak tega liat Shakila," tutur Arumi sepeninggal Shofia. Air matanya kembali menetes melihat sahabatnya kembali tidak sadarkan diri karena terpukul berat atas kehilangan satu-satunya orang yang menerimanya, seperti yang selalu Shakila katakan.
Liza mengangguk pelan. Ia juga merasakan hal yang sama, layaknya Arumi. Hampir tujuh tahun mengenal Shakila dan menjalin persahabatan, membuat ia mengetahui setiap hal yang dialami Shakila. Dari susah hingga senangnya gadis itu.
"Entah kehidupan seperti apa nanti yang akan Shakila jalani, Za. Selama ini dia sudah sangat menderita dan setelah ini apakah ia akan menemui kebahagiannya." Arumi melanjutkan seraya mengusap pipinya yang dibanjiri kristal bening.
"Hus! Kamu gak boleh ngomong begitu. Itu namanya kamu meragukan takdir Allah. Insyaallah, Shakila pasti bisa menjalani semuanya." Liza tidak setuju dengan pemikiran Arumi.
Meskipun ia sama cemasnya dengan Arumi, tapi ia yakin Shakila wanita kuat pilihan Allah.
"Aku terlalu takut, Za. Kita sudah tau sendiri, kan bagaimana perjuangan Shakila." Arumi menangkupkan tangan pada wajahnya. Ia sedikit menyesali dirinya karena tidak bisa banyak membantu sahabatnya.
Liza semakin mendekatkan diri pada Arumi, kemudian memeluk gadis itu. Keduanya sama - sama menangis mengkhawatirkan keadaan Shakila. Cukup lama Liza dan Arumi membiarkan tangis mereka, hingga kini perasaan lega sedikit dirasakan keduanya.
"Za, andai nanti tidak ada yang mau menerima Shakila, mungkin aku akan mengajaknya ikut ke kampungku saja." Arumi kembali bersuara setelah cukup lama terjeda oleh tangis.
"Kamu yakin?" tanya Liza.
__ADS_1
"Kalau Shakila setuju, mungkin itu lebih baik, Za. Aku sangat sayang pada Shakila. Bagiku dia itu sudah seperti saudara. Membayangkan kesusahan yang akan ia alami setelah ini saja aku sudah tidak tega, Za. Nanti aku akan jelasin ke Ibu. Ibu juga pasti tidak akan keberatan sebab Shakila juga sudah beberapa kali, kan ikut aku pulang kampung," papar Arumi.
"Mudah-mudahan saja Shakila mendapat keajaiban, ya, Rum. Bukan aku tidak setuju jika Shakila ikut denganmu, tapi aku masih berharap ia menemukan bahagianya di sini. Aku memang tidak bisa melakukan lebih, apalagi seperti rencanamu, tapi aku akan selalu mendoakan kebaikan selalu menyertai Shakila. Ah, kalau aku yang diuji seperti Shakila, mungkin aku tidak akan sekuat dirinya," balas Liza seraya menatap Shakila yang masih enggan membuka mata.
***
"Bu." Shofia menghampirinya ibunya yang masih setia di sisi Syifa. Sementara Shafa entah ke mana. Mungkin sedang menidurkan kedua anaknya.
Aisyah memalingkan wajahnya, menatap Shofia yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sampingnya. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya ragu.
Shofia tersenyum. Rupanya ibunya mencemaskan keadaan gadis itu juga. "Masih belum sadar, Bu. Kayaknya dia terpukul banget. Aku jadi sedikit kasihan," jawabnya kembali mengingat wajah gadis yang teramat sembab itu.
"Terus, dia sama siapa sekarang?" tanya Aisyah lagi dengan lirih.
"Sama temennya yang dari pesantren ... eh, Bu, ada Kak Shafa." Shofia yang melihat Shafa akan menuju ke arah mereka memberi kode pada sang ibu.
Aisyah mengangguk paham. Lalu kembali fokus membaca Yasin entah sudah yang keberapa kalinya. Shafa kian dekat dan kini mendudukkan dirinya di sisi kanan jenazah Syifa, persis di hadapan sang ibu yang berada di sisi kiri. Ia kembali meraih Al Qur'an kemudian mulai melantunkan ayat-ayat suci itu tepat di dekat telinga Syifa tanpa berniat menanyakan keadaan Shakila yang sempat mengganggu benaknya.
Sekalipun rasa bencinya pada Shakila masih teramat besar, tapi Shafa bukanlah manusia tidak berperasaan. Melihat keadaan Shakila yang terlihat tidak baik - baik saja karena terpukul atas kepergian Syifa cukup mengganggu pikirannya tadi. Hanya saja, egonya masih terlalu tinggi untuk menanyakan keadaan gadis itu.
***
"Rum? Aku di mana?" tanya Shakila lirih.
"Kamu di kamar. Tadi kamu pingsan lagi," jelas Arumi.
Shakila hendak duduk, tapi tiba-tiba ia meringis.
"Kenapa, Sha?" Liza bertanya dengan raut khawatir.
"Sshh ... kepalaku sakit banget, Za," jelas Shakila sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Mungkin karena terlalu banyak menangis, Sha," ujar Liza kemudian mengambil gelas yang tadi sudah disiapkan Mbok Siti, kemudian menyerahkannya pada Shakila. "Ayo, minum dulu."
Shakila menerima gelas yang diulurkan Liza. "Makasih, ya, Za," katanya lemah.
__ADS_1
Liza mengangguk.
"Pusing banget, ya, Sha?" Arumi menimpali sambil terus memperhatikan Shakila yang memegangi kepalanya.
"Iya, nih. Rasanya berat banget," balas Shakila.
"Za, kamu bawa minyak angin gak? Coba diolesin ke Shakila dulu," tanya Arumi pada Liza.
Liza merogoh tas mungil yang sejak tadi tersampir di pundaknya. "Alhamdulillah, ada ini," katanya setelah menemukan apa yang ia cari.
Arumi mengambil alih botol berisi minyak angin tersebut. "Aku olesin, sini," katanya kemudian mulai mengoleskan dan memijat lembut kening Shakila.
"Gimana? Udah enakan, Sha?" Liza kembali bertanya saat Arumi sudah selesai melakukan tugasnya.
"Alhamdulillah, lumayanlah," jawab Shakila. "Aku mau ke depan, ya. Kalian istirahat di sini saja. Pasti pada capek banget, kan?" lanjutnya kemudian.
"Tapi, Sha. Kamu, kan belum pulih benar," protes Liza.
"Aku udah baik-baik saja, Za."
"Ya sudah, kita juga ikut ke depan kalau gitu," tegas Arumi saat Shakila tidak mengindahkan ucapan keduanya.
"Eh? Kalian di sini aja. Besok, kan sehabis subuh harus balik ke pesantren lagi." Shakila tidak setuju.
"Tapi, Sha ...." Arumi mulai kesal.
"Sudahlah, Rum. Shakila benar. Kita istirahat di sini aja, ya. Aku juga udah agak ngantuk. Kalau di depan pasti gak bisa tidur."
Shakila mengangguk setuju dengan ucapan Liza. Sementara Arumi, ia hanya mendengkus kesal tapi akhirnya tetap menuruti ucapan Shakila dan Liza.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komen, ya, Dear ❤️