Pacarku Playboy

Pacarku Playboy
Tentang Kamu Eps 02 dan Eps 03


__ADS_3

#Bismillah_Aku_MencintamušŸ„€


Ridho Allah Pada Rindo Orang Tua


Aku berada di tengah jiwa suci berbaju putih dan bekopiah putih lengkap dengan ciri khas bersarung. Aku berusaha melebur dengan kitab kuning sama seperti yang santri yang lain tapi kali ini fokus ku benar-benar hilang. Malam ku habis merenung hingga tak bisa mataku mengantuk. Sabila gadis istimewa telah membawa racun pada malam ku.


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar." Seketika hati ku tersentak dan air mata ku menetes ketika mendengar Adzan. Panggilan yang membawaku untuk menuju Allah. Kini kelemahanku berada di ujung jalan tak bisaku mencegah sedih daku di hadapan Penciptaku.


Aku mengawali subuh ini dengan Bismillah yakni dengan Nama Allah yang Maha segala-gala-Nya. Hanya Allah yang bisa menjadikan manusia bahagia dan sedih dan kepada-Nya diri ini berpasrah. Semalam suntuk terasa remuk tubuhku dan luluh lantah semangatku tapi kini setelah sholat subuh dan doa Qunut yang terlantun terasa tersirami kembali hatiku. Aku ingin lupa apa yang telah aku ketahui semalam tentang Sabila dan Ustad Kholik.


Sesekali ku perhatikan luasnya halaman di pesantren Tafaqquh Fiddin dengan bangunan yang rapi dan apik. Mataku termanjakan melihat sekeliling halaman dengan tumbuhan hijau dan bunga yang bermekaran. Baiklah cukup sudah menikmati suasana hari ini, aku harus bersiap ke sekolah untuk hari terakhir Ujian Tengah Semester.


"Akmal," sapa Gus Zen yang telah menganggapku sahabatnya namun bagaimana pun beliau adalah tempat keberkahanku, putra Kiyai Ibrahim.


"Enggeh Gus," balas ku pelan.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Gus Zen sedikit khawatir.


"Alhamdulillah," jawabku yang berada di antara suka karena nikmat Allah yang luar biasa namun juga nestapa karena nikmat cintaku kepada Sabila yang mulai di renggut oleh-Nya.


Gus Zen menepuk bahu ku pelan sembari tersenyum dia berkata, "Bersabarlah kang santri ... mungkin ini adalah cobaan dan godaanmu dalam mencari ilmu."


"Nggeh Gus siap, In Syaa Allah."


"Akmal." Panggil seorang wanita di belakang kedua pria itu.


"Ya Ani," saut Gus Zen.


"Eh Gus ... ngapunten (maaf)." Ani sungkan ia tertunduk dan menelungkupkan tangannya di depan dada.


"Laa ba's (tidak apa-apa)," jawab Gus Zen.


"Saya ada perlu dengan Akmal."


"Oh kenapa ? Tentang Sabila," duga Gus Zen.


"Em ... em eng-nggeh Gus." Ani gugup dan sungkan.


Tiba-tiba hati Akmal berdebar dengan gaduh akan berita baru tentang Sabila yang di bawa Ani.

__ADS_1


"Ini." Ani menyodorkan sepucuk surat di hadapan Akmal.


Sedikit ragu Akmal mengambil surat itu. Dia sangat penasaran dengan isi surat ini.


"Apa yang kamu tulis dengan penamu wahai Sabila?" guman hati Akmal.


_________________________


Setelah Sholat zuhur Akmal membuka surat itu. Rindu dan kecewanya kian berkecamuk.


"Bismillahirrahmanirrahiim." Akmal membuka surat itu secara perlahan. Ia melihat tulisan Sabila yang indah dan rapi warnanya pekat seakan - akan pesan ini sangat dalam.


"Untuk seseorang yang telah mengistimewakanku.


Satu bulan yang lalu kamu pernah mengirim sepucuk surat pertama pada seorang gadis. Ya, itu Aku.


Percayalah aku bahagia dengan isi surat mu dan aku bahagia membalas surat mu. Ketika itu aku seakan menemukan mimpi-mimpiku dan rasa dicintai olehmu. Tapi ... Semua tiba -tiba runtuh setelah kita tau fakta yang sebenarnya. Aku melihat dalam mata mu yang tiba - tiba menjadi musim gugur. Maafkan aku ...


Seorang wanita menginginkan apa yang terbaik untuknya dan apa yang pasti untuknya. Ketika pria itu menemui orang tuaku dan menyampaikan keinginannya untuk menikahiku ... Kedua orang tua ku sangat senang, ia terus mendoakanku. Aku pernah dengar bahwa ridho Allah seorang anak ada pada keridhoan kedua orang tuannya.


Saat ini aku hanyalah buah yang jatuh dari pohon dan seseorang mengambilku dan menganggapku buah terbaik. Aku hanya bisa pasrah dan menerima segalannya dan sebenarnya hatiku telah di petik olehmu tapi orang lainlah yang mendapatiku.


Tak terasa air mata Akmal kembali menetes sebelumnya ia tak pernah merasakan ini. Pikirnya, pekerjaan yang di lakukan dengan hati dan akal akan jauh lebih sedikit resikonya dari pekerjaan yang di lakukan dengan hati saja.


Waktu sekolah Madrasa diniah tiba. Kali ini Akmal harus menuntaskan dengan sempurna Nazam kitab Imrithi yang terdiri dari 250 bait dan kitab Arba'in Nawawi yang terdiri dari 42 matan hadis.


"Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi Raji'un." Pria berkaca mata dengan surban di kepalanya menggeleng - geleng karena Akmal tak lancar dalam setoran terkahirnya.


"Musibah!" ujar Ustad Ali terheran. Akmal hanya tertenduk lesu dan menyadari hafalannya sedang tertimpa musibah lupa.


Bersambung ....


________________________


Eps. 03


Bismillah


Tentang_Kamu🌹

__ADS_1


Pria manis itu masih termangu di kelas diniah disaat murid-murid yang lain sudah beranjak dari tempat duduk.


"Mal, ayo ke pondok," ajak gus Zen.


Akmal masih terdiam kemudian mengangguk pelan sembari berusaha mengukir senyum. Ia merasa berada di titik terbawah saat ini, hafalannya kacau, kefokusannya pun menghilang. Ini semua disebabkan karena kisah asmaranya. Ya, ketulusan cintanya pada Sabila. Perlahan-lahan Akmal megevaluasi hatinya dan berusaha berpikir jerni. Terkadang hatinya mengatakan bahwa yang terjadi hanyalah tipu daya setan dalam menggagalkan belajarnya.


"Loh, kan bengong lagi, " tegur gus Zen sembari menepuk bahu Akmal pelan.


"Nggeh Gus, ngapunten."


Kedua sahabat baik itu pun berjalan berdampingan menuju halaman pesantren Putra sembari Gus Zen menasehati Akmal. Akmal bersyukur mempunyai teman sholeh yang selalu memotivasi dan senantiasa mengingatkan dirinya tentang Allah.


Tiba-tiba santri putra lain menghampiri Akmal.


"Bang Akmal, pean dikunjungi sama kedua orang tuanya," lapor santri yang lebih muda dari Akmal sedikit tergesah - gesah.


"Baik, syukron ya." Akmal pun berpamitan pada Zen lalu pergi.


"Assalamu'alaikum ..." ucap Akmal sembari memasuki ruang pengiriman santri putra.


"Waalaikumsalam ..." jawab kedua orang tua Akmal hampir bersamaan.


Orang tua Akmal termasuk orang tua yang sangat Agamis karena keduanya memiliki berlatar belakang pesantren. Mereka pun sangat memperhatikan betul pendidikan Akmal di pesantren sehingga tak jarang keduanya bersikap tegas pada anaknya itu.


"Apa Betul beberapa hari ini hafalanmu mulai rusak? tanya ayah Akmal.


"Iya Sayang ... Tadi Ustad melaporkan hal itu kepada kami," sambung ibu Akmal.


Akmal hanya mengangguk. Kedua orang tua tersebut menggeleng - geleng heran. Masalah apakah yang terjadi dibalik kekacauan ini? dengan rasa malu, Akmal menceritakan meski ia tahu akan mengecewakan kedua orang tuanya .


"Astaghfirullah ..." ujar Ayah Akmal. "Ingat, Nak ... kami menitipkanmu di pesantren agar kamu menjadi generasi yang alim dan sholeh bukan malah sibuk memikirkan cinta!" tegas ayah Akmal merasa geram.


"Perbanyak istighfar ... kamu ini pria jangan mau dibodohi wanita. Jodoh itu sudah diatur oleh Allah ... Kamu harus mengesampingkan perasaanmu!" tegas pria itu dan berlalu pergi dengan kesal dari ruangan.


"Sayang ..., ibu tahu, masa muda memang masa tentang asmara ... Ibu juga tau bahwa kamu benar - benar menyukai Sabila. Tapi pikirkanlah masa depanmu dan prestasimu selama ini. Jangan sampai sia - sia, Sayang." nasehat Ibu itu bak gula yang dicampur pada kopi pahit yang ayah buat dan kini rasa kopi itu benar-benar sempurna.


"Baik Bu ... Akmal akan memperbaiki semuanya."


"Alhamdulillah ... Ibu percaya padamu." Ibu memeluk Akmal lalu berpamit pulang. Akmal masih sempat menitip permintaan maaf pada ayahnya.

__ADS_1


Segera Akmal menuju ke kamarnya dan meraih kertas dan pena untuk menulis surat terakhir pada Sabila. "Bismillah, teguhkan hati ini Ya Rabb," guman hati Akmal sembari menulis..


__ADS_2