Pacarku Playboy

Pacarku Playboy
Tentang Kamu Eps 01


__ADS_3

Pria tinggi semampai, badannya bisa dibilang kurus. Tatapan matanya sendu walaupun di bawah matanya terdapat olesan celak hitam. Kopiah hitam menutup rambut pekatnya dengan rapi. Bajunya berwarna putih bersih dan Sarungannya berwarna Army polos dengan sedikit ukiran, sangat cocok ketika dipadu dengan jas hitam.


"Ustad mau kemana?" Sapa salah satu teman santri putra.


"Hehehe ada - ada aja antum syekh," elak pria berkumis tipis itu dengan tawadu'.


"Saya mau ke Dhalem di panggil Gus Zen." Sambungnya lagi.


Di usianya yang masih 18 tahun dia sering di panggil Ustad oleh para santri Senior dan Junior karena kemahirannya dalam membaca kitab - kitab Kuning serta mempunyai hafalan yang banyak dalam kitab - kitab Nadhom Pesantren. selain itu, banyak dari santri putri yang mengaguminya tapi didalam hatinya hanya ada satu wanita yang istimewa.


"Apa kabar mu Sabila?" Guman pria itu. Hatinya sedang berkecamuk merindukan santri putri di pesantren ini.


Namanya Akmal Al Ayyubi, panggilannya Akmal. Sudah 5 tahun ia menyimpan kekaguman pada Sabila wanita cantik yang menarik hatinya. Selama bersekolah formal mereka sering berdiskusi untuk tugas kelompok di kelas bersama teman-teman yang lainnya, saat itulah diam-diam hatinya mulai tertaut pada gadis itu.


"Assalamu'alaikum Gus." Pria itu berdiri di depan pintu Kiyai dengan sopan.


Gus Zen keluar dengan sumringah. "Waalaikumsalam Ustad ... Monggo masuk," ajak Gus Zen yang berpenampilan hampir sama dengan Akmal.


Gus Zen pun mengajak Akmal keruang khusus mengaji kitab - kitab keluarga Kiyai. Mereka belajar bersama dan bermusyawarah dengan bahagia dan semangat. Betapa indahnya sibuk dengan belajar dan menggali ilmu pengetahuan serasa pikiran meluas dan hati cerah dari kepadaman.

__ADS_1


"Abang Zen, di panggil abah di luar," tutur Gus Bahrun yang berumur 6 tahun, putra bungsu Kiyai Ibrahim.


"Saya keluar bentar geh," pamit Gus Zen pada Akmal.


"Nggeh monggo Gus," balas Akmal sopan.


Seketika keadaan kembali sepi memaksa hati Akmal untuk kembali meradang dalam rindunya pada Sabila. Matanya perlahan terpejam, kali ini ia mengingat wajah ayu dan senyuman manis Sabila yang beberapa kali tak sengaja ia lihat.


"Astaghfirullah," sebut Akmal sembari membuka matanya. Ia menghela atmosfer diruangan itu dan memilih berusaha sibuk kembali dengan kitab di telapak tangannya.


Ceklek!


Pintu terbuka, wajah Gus Zen tampak tegang dan khawatir sampai - sampai ia lupa mengucapkan salam ketika masuk ruangan.


"Ak-akmal," ucap Gus zen terbata-bata.


"Enggeh Gus kenapa? Cerita saja Gus," tanya Akmal semakin penasaran.


Tok ... tok ... tok ... "Nak Akmal." Terdengar suara berat dan wibawa, siapa lagi kalau bukan Kiyai Ibrahim.

__ADS_1


Akmal langsung bergegas keluar dan menghampiri kiyai dengan badan kepala dan badan yang sedikit membungkuk.


"Tolong bantu siapin minuman di luar ya ... soalnya ada Ustad Kholik mau tunangan," pinta Kiayi Ibrahim sambil tersenyum.


"Enggeh Yai." Akmal pun bergegas ke dapur dan mengambil wedang satu nampan yang telah di buat khodim putri dapur.


Akmal pun menuju tamu putra dan menghidangkan wedang. Tampak juga Ustad Kholik tersenyum bahagia, matanya berbinar-binar.


"Nak, bawakan ini ke dapur ya," pinta Nyai yang berada di tamu putri.


Sesaat pandangan Akmal jatuh pada wanita yang ia rindukan sembari tadi. Beberapa detik kemudian pikiran pria berkumis tipis itu langsung menyetrum prasangka buruk antara Ustad Kholik dan Sabila wanita ayu yang selalu bersemayam di hati Akmal.


Pakkk! Nampan yang ada di tangan Akmal jatuh ,Sesaat tubuhnya terasa hilang.


"Nak," panggil Nyai sedikit heran.


"Enggeh Nyai," jawab Akmal sedikit gelagapan. Ia pun langsung membawa gelas yang disodorkan Nyai dan pergi dari ruangan itu.


Hati kokoh dan tangguh Akmal terancam runtuh dan berserakan. Dunia yang terang menderang terlihat mulai gelap gulita, semua menjadi kusam tak berwarna, tak bersajak, tak berirama dan tak indah.

__ADS_1


Bersambung....


Yang suka Komen ya??? 🤗


__ADS_2