
"Untuk apa laki-laki ini terus menelepon, Almaira. Mengapa dia tidak pernah bisa berpikir, kalau orang yang di teleponnya ini sudah bersuami."
Ustadz Faizar hanya memandangi ponsel milik Almaira. Deringan tanda panggilan terus berbunyi, sebuah nama panggilan "My love" tertera jelas di layar ponsel milik istrinya itu. Beliau tidak berekspresi sama sekali, datar. Ya! Hanya datar.
Kemudian, setelah ponsel itu berhenti berbunyi. Beliau mencoba ingin mengecek isi ponsel milik sang istri, namun layar ponselnya terkunci dan menunjukan keyboard kata sandi. Ustadz Faizar mencoba menebak-nebak kata sandi tersebut. Dari nama panjang sampai nama panggilan sang istri, bahkan tanggal lahirnya. Tapi, dengan kata sandi itu semua tidak ada yang benar dan itu masih terkunci.
Lalu, beliau berpikir sejenak. Tiba-tiba di kepala beliau muncul nama seseorang. Dan beliau mencoba mengetik kata sandi dengan nama, "Raihan". Ustadz Faizar menggelengkan kepalanya, tidak disangka ternyata sampai sebegitunya Almaira kepada Raihan. Bagaimana bisa lupa, kalau kata sandi kunci telepon saja sudah nama Raihan, ya otomatis pasti akan selalu ingat. pikir ustadz Faizar.
Ustadz Faizar hendak memeriksa lebih dalam, namun beliau urungkan. Karena beliau tidak ada izin sama sekali untuk memeriksanya. Beliau pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja nakas.
Hari pun sudah menjelang malam. Ustadz Faizar baru saja menyelesaikan acara masaknya untuk sang istri. Setelah selesai, ustadz Faizar membersihkan badan dan bersiap untuk shalat Magrib.
Sejak pagi tadi beliau tidak pernah meninggalkan Almaira lama. Keluar rumah pun beliau tidak untuk hari ini.
Waktu hari ini beliau habiskan hanya untuk menemani sang istri di rumah.
Selesai shalat, beliau menghampiri Almaira yang masih terbaring lemah. Beliau berdiri kembali dan mengambil mushaf Al-Qur'an, membukanya dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dengan posisi di samping sang istri.
Beberapa saat kemudian, ketika ustadz Faizar begitu khusyu membaca Al-Qur'an. Almaira, mulai sadar, ia mengerjap - ngerjapkan matanya, hingga terbuka sepenuhnya. Melirik - lirik ruangan di sekitarnya. Alisnya terlihat hampir menyatu saat menyadari ada sebuah suara dari arah samping kirinya.
"Ibu ... Ayah ...," lirihnya.
"Maira? Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar."
Ustadz Faizar yang melihat sang istri sudah sadar, beliau menutup mushaf dan meletakkannya di atas meja nakas. Beliau langsung memegangi tangan Almaira dan hendak mengelus kepala sang istri, namun tenyata Almaira malah bereaksi berbeda.
"Jangan sentuh saya, siapa kamu?"
Kenapa? Hati ustadz Faizar bertanya-tanya kenapa dan mengapa sikap Almaira seperti itu padanya.
"Almaira, saya suami kamu. Apa kamu tidak ingat"? ucap ustadz Faizar meyakinkan sang istri.
Almaira menggelengkan kepalanya dan menatap ustadz Faizar seperti orang yang tidak pernah kenal.
"Tidak, saya belum bersuami. Siapa kamu dan di mana Raihan? Saya ingin bertemu Raihan, dia pacar saya!"
__ADS_1
Kata-kata yang sang istri benar-benar terasa sakit di hati ustadz Faizar. Mengapa istrinya itu mengingat laki-laki lain tapi tidak dirinya. Lalu, Almaira bangun dari tidurnya dan kepalanya kembali terasa pusing.
"Sshhh! Pusing sekali," ringisnya.
"Jangan bangun dulu, Almaira. Kamu harus istirahat agar cepat sembuh."
"Saya ingin bertemu Raihan! Di mana Raihan, antarkan saya padanya Saya ingin bertemu Raihaaaan!" Almaira berteriak. Ia terus mengibaskan tangan ustadz Faizar yang mencoba menyentuh pundaknya untuk menenangkan.
"Jangan sentuh saya! Antarkan saya pada Raihan! Atau orang tua saya!" ucapnya lagi yang terus memanggil nama Raihan, sambil memegangi kepalanya. Duduk dengan merangkul kedua lututnya. Tubuhnya tampak bergetar dan tangannya terlihat tremor.
"Tenang Almaira, tenang. Saya suami kamu,"
"Bagaiman saya bisa tenang! Saya tidak kenal dengan kamu, dan sekarang ada di mana saya? Ayaah ... Ibuu ... kalian ada di mana? Kenapa aku ada di sini bersama orang ini, aku ingin pulang!"
Almaira terus memanggil-manggil orang tuanya. Ustadz Faizar tidak mengerti, apa yang terjadi dengan istrinya itu. Kemudian beliau bergegas menelpon Dokter untuk datang, memeriksa Almaira.
"Astaghfirullah ... apa lagi ini Ya Allah,"
__________________________
"Iya memang syubhat, Tih. tapi kalau kita ...."
"Membahas apa ustadz Salman dan Fatih, setelah Magrib begini, di perpustakaan Abi? Syubhat? Apa tentang, cincin ini. Apakah mereka tahu kalau ...," gumam Mbak Zahra yang mengintip di balik lemari.
"Dan kita tetap harus mengumumkannya dalam setahun, jika barang tersebut bersifat yang bisa disimpan."
"Bagaimana jika, saya menemukan barangnya yang seperti makanan."
"Bukannya kemarin saya sudah jelaskan di bab sebelumnya,"
"Oo yang kemarin itu, berarti itu dua hal yang berbeda ya, Ustadz. Iya fahimtum, Ustadz."
Mbak Zahra merasa lega, ternyata apa yang mereka bahas bukanlah tentang cincin, tapi hal lain. Mbak Zahra pun kembali ke kamarnya, ia mencoba berpikir bagaimana caranya untuk bisa mengembalikan cincin tersebut. Jika dirinya ketahuan ustadz Faizar, maka pasti akan sangat malu.
"Bagaimana caranya cincin ini kembali pada Almaira? Aku tidak ingin dipandang rendah oleh ustadz Faizar,"
__ADS_1
Mbak Zahra terus berpikir untuk mencari jalan keluar. Sampai akhirnya, ia mendapatkan sebuah ide untuk masalah cincin tersebut.
Mbak Zahra pun membawa cincin itu kembali dan ia pergi ke halaman belakang rumah. Mencari-cari sebuah tanah bidang yang bisa untuk di bongkar.
Sementara di ruang tamu, Umi Zainab membawakan minuman untuk ustadz Salman dan Fatih.
"Terima kasih Umi, maaf jadi ngerepotin. Padahal ke sini cuman mau pinjam kitab Abi yang dari Yaman." Ucap ustadz Salman, merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Silahkan di minum, ayo." Tawarnya.
"Oiya, saya boleh numpang ke toilet, Umi?"
"Silahkan, Salman. Di belakang sana, samping pintu menuju halaman belakang." Umi Zainab mencoba mengarahkan.
"Iya Umi,"
Ustadz Salman pun berjalan ke belakang menuju toilet, beliau memasuki toilet untuk buang air kecil. Setelah beliau keluar, tiba-tiba beliau seperti mendengar suara seseorang yang sedang tertatih mengais tanah. Dan suara batu-batu kecil yang menggerincing berjatuhan.
Beliau pun mencoba memeriksa bagian halaman belakang. Beliau khawatir ada maling yang mencoba masuk ke rumah, Kiyai. Beliau pun berjalan dengan suara yang senyap dan berusaha tidak menyuarakan tapakan kakinya.
Belum sampai ke tempat arah bunyi suara, beliau terkejut melihat Mbak Zahra yang sedang sibuk mengubur sesuatu. Merapikan gundukan tanah dan menaruhinya bebatuan kecil di atas gundukan tersebut.
"Mbak Zahra?! Sedang apa dia di sana,"
Ustadz Salman tidak jadi melanjutkan jalannya untuk mendekati ke arah suara tersebut. Karena beliau sudah tahu dan melihatnya dari kejauhan. Beliau pun kembali masuk sembari mengusap dada, merasa gugup dan penasaran.
****
"Maaf, Ustadz, Maira, saya harus mengubur ikatan cinta kalian. Karena saya ingin ikatan itu akan jatuh kepada saya setelah ini," ucap Mbak Zahra, lalu meninggalkan cincin yang sudah ia kubur tadi sangat dalam.
****
Ustadz Salman yang sudah merasa tidak karuan, beliau memilih pamit setelah datang dari belakang. Dan bergegas kembali ke Asrama para guru.
____________________________
__ADS_1