Pacarku Playboy

Pacarku Playboy
Cinta Untuk Shakila Eps. 03


__ADS_3

Bagian 3


🍁🍁🍁


Sehabis subuh, Shakila mengantarkan Arumi dan Liza ke tempat di mana mobil pesantren yang semalam mengantarnya, parkir.


"Kita pamit ya, Sha. Kamu harus kuat dan ikhlas. Ingat ada Allah yang akan selalu bersamamu." Liza menggenggam tangan Shakila seraya mengulas senyum lebar.


"Insyaallah," sahut Shakila dengan balas tersenyum tipis.


"Ini nomor aku." Arumi menyodorkan secarik kertas bertuliskan dua belas angka - angka. "Nanti kalau kamu udah punya ponsel, ditelpon," lanjut Arumi.


Shakila mengangguk dan menerima kertas tersebut. "Insyaallah," ucapnya kemudian.


Arumi memeluk erat tubuh Shakila, sebagai salam perpisahan, membuat gadis itu hampir kembali menangis. Setelah ini, entah Tuhan masih akan mengizinkan mereka untuk bertemu atau tidak.


"Jangan lupain aku, ya, Rum. Setelah Kak Syifa, kamu dan Liza adalah segalanya buatku," kata Shakila yang akhirnya terisak dalam pelukan Arumi.


Meski sudah sekuat tenaga ia menghalau air matanya untuk tidak sampai menetes lagi, tetapi pertahanannya tetap kalah. Membayangkan perpisahan itu benar-benar telah di depan mata membuat hatinya sangat sesak dan akhirnya meruntuhkan setiap perjuangannya untuk tidak kembali menangis lagi. Yang terjadi dalam dua hari ini benar-benar di luar dugaannya. Sekalipun dalam mimpi, ia tidak pernah membayangkan.


"Itu tidak akan mungkin. Jika kamu mengalami kesulitan, carilah aku. Insyaallah, aku tidak akan membiarkanmu melewati kesulitan itu sendiri," sahut Arumi lirih. Ia juga hampir tidak bisa menahan laju air matanya.


Shakila semakin mengeratkan pelukan lalu beberapa menit setelahnya ia melepaskan.


Liza mendekat dan melakukan hal yang sama. "Jangan menangis lagi, atau Ustaz Azhar akan menganggapmu cengeng dan membuatnya berubah pikiran terhadapmu nanti. Bisa-bisa Ustaz idolamu itu malah berpaling padaku," bisiknya lirih, berharap gurauan recehnya sedikit mengalihkan rasa sakit yang tengah ditanggung Shakila.


Shakila tersenyum tipis mendengar ucapan Liza. Ia menatap Ustaz Azhar yang tengah berjalan ke arah mereka. Pandangan keduanya seketika beradu. Namun, buru-buru gadis itu menunduk, menghindari tatapan Ustaz Azhar yang terlihat tidak seperti biasanya. Ustaz muda itu menatapnya dengan tatapan sendu.


Sementara Ustaz Azhar yang tidak sengaja menangkap senyuman tipis itu, sedikit merasa lega. Setidaknya, gadis yang diam-diam selalu ia sebutkan dalam doanya sudah bisa tersenyum, walau terlihat setengah hati tapi itu cukup menenangkan perasaannya.


Arumi dan Liza memasuki mobil.


Waktu perpisahan itu pun akhirnya benar-benar tiba. Shakila menguatkan hatinya. Seperti yang dikatakan Arumi, ia pasti bisa melewati hari-hari berat itu. Ada Allah yang akan selalu bersamanya sekalipun kini satu-satunya orang yang mau menerimanya telah pergi.


"Saya yakin, kamu wanita yang kuat dan hebat pilihan Allah," ucap Ustaz Azhar tiba-tiba saat Shakila menutup pintu mobil setelah kedua sahabatnya masuk.


Shakila tersentak. Gadis itu seketika menunduk dalam, tidak berani menatap Ustaz muda di depannya. Perasaan gugup membelenggunya. Lidahnya pun terasa kelu. Bahkan untuk mengucap kata terima kasih saja ia tidak mampu, sebab Ustaz yang telah lama ia kagumi itu bersedia mengantar kepulangannya semalam.


"Assalamualaikum," ujar Ustaz Azhar kemudian saat sadar gadis di depannya tengah diterpa perasaan tidak nyaman.


Ia kemudian memasuki mobil. Mengabaikan sebagian sisi hatinya yang meminta untuk tetap tinggal lebih lama lagi. Andai menurutkan hati, ingin sekali ia tetap di sana, memastikan gadis yang terlihat rapuh itu tetap kuat dan baik-baik saja. Namun, tugas dan kewajibannya tengah menanti di pesantren dan ia tidak bisa meninggalkan itu semua.


Shakila mengangguk takzim. "Waalaikumsalam, Ustaz," balasnya lirih.


"Senyum," kata Arumi seraya meletakkan jari telunjuk dan ibu jarinya di sudut-sudut bibir.


Shakila mengembangkan senyum, seperti yang dipinta Arumi. Sedetik kemudian, mobil pun melaju membawa Arumi dan Liza.


***


Shakila memandang nanar gundukan tanah yang terlihat basah. Hatinya masih sulit percaya jika jasad Syifa telah terkubur di dalam perut bumi. Ia masih berharap, dua hari yang ia lalui ini adalah sebuah mimpi buruk dan saat ia terbangun, senyuman meneduhkan milik Syifa masih bisa ia saksikan.


Satu per satu orang-orang mulai meninggalkan pemakaman. Menyisakan Shakila yang terlihat masih enggan untuk beranjak. Andai bisa memilih, rasanya gadis itu lebih baik ikut menyusul Syifa saja, dari pada harus merasakan bagaimana sakitnya hidup sendirian di dunia ini. Ia juga benar-benar tidak tau harus pulang ke mana sekarang. Di rumah Syifa pasti ada Shafa dan Ibu Aisyah. Ia terlalu takut untuk bertemu keduanya lagi.


Tiba - tiba gadis itu merasa menyesal, sebab keputusannya yang memilih tinggal karena tidak ingin melewatkan setiap waktu yang tersisa bersama Syifa. Harusnya tadi, ia ikut saja bersama kedua sahabatnya kembali ke pesantren lalu kembali mengabdi di sana sampai ada seseorang yang benar-benar bisa menerimanya kelak. Ah, tidak! Mungkin seumur hidup mengabdikan diri di penjara suci itu pun, ia tidak mengapa.

__ADS_1


Ia tidak ingin terlalu tinggi berharap. Memangnya, siapa yang sudi menerima gadis yang terlahir dari rahim wanita kedua sepertinya. Andai pun ada, kehadirannya hanya akan membuat pelik hidup orang itu nanti dan ia sudah tidak ingin membuat seseorang membangkang atau bahkan sampai bermasalah dengan keluarganya hanya karena kehadirannya. Seperti yang dilakukan Syifa selama ini.


Mengingat Syifa, air mata Shakila kembali mengalir. Syifa adalah satu-satunya kekuatannya. Syifa adalah satu-satunya alasan ia bertahan sampai sejauh ini. Lantas, saat alasan serta kekuatannya itu telah pergi, akankah ia tetap bisa berdiri tegak nanti?


Shofia yang sadar tidak ada Shakila di antara orang - orang yang mulai meninggalkan makam, kembali menyusuri pemakaman dengan pandangannya. Dan benar saja, matanya seketika menangkap keberadaan Shakila yang terlihat memprihatinkan. Gadis itu duduk meringkuk, memeluk lututnya sambil membenamkan wajah di antaranya. Menghela napas sejenak, Shofia kemudian kembali melangkahkan kaki ke arah Shakila.


"Shofi, mau ke mana?" tanya Shafa saat melihat Shofia berbalik arah.


Shofia memajukan dagunya, sebagai isyarat agar Shafa mengikuti pandangannya. Shafa pun mengikuti arah pandangan Shofia dan seketika ia tertegun saat mendapati sosok gadis yang tidak pernah ia harapkan kehadirannya terlihat sangat menyedihkan di sana. Hati nuraninya sedikit terusik karena itu, tapi lagi-lagi kalah dengan egonya yang lebih besar. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun kembali membuat tembok tak kasat mata dan kembali memantapkan hatinya agar tetap bisa abai terhadap gadis itu.


Shafa kembali melanjutkan langkahnya, menyusul sang ibu yang sudah berjarak beberapa langkah darinya. Mengabaikan Shofia yang kembali berbalik arah ke arah makam Syifa di mana Shakila meratap.


Shofia menyentuh pundak Shakila pelan, membuat gadis itu seketika tersentak.


"Astaghfirullah!"ujarnya lirih karena terkejut. Shakila mendongak untuk melihat siapakah orang yang telah mengejutkannya.


"Kak Shofia?" gumamnya lagi saat menyadari Shofia lah yang menyentuh pundaknya.


"Kenapa masih di sini? Ayo, pulang." Shofia mengulurkan tangannya, tapi Shakila terlihat ragu membalas uluran tangan itu.


"Ayo ...." Shofia menarik tangan Shakila yang terlihat ragu.


"Tapi, Kak ...." Shakila menggeleng. Ia sedikit tidak setuju karena teramat takut jika harus bertemu Shafa dan Ibu Aisyah.


"Sebentar lagi akan hujan, gak baik jika masih tetap berdiam diri di sini. Lagian, Kak Syifa pasti akan sangat sedih melihatmu seperti ini," papar Shofia.


Shakila menunduk tajam. Haruskah ia mengikuti Shofia pulang? Tapi ... ia benar-benar ragu.


"Sudah, ayo. Jangan berpikir macem-macem. Ada aku? Aku juga kakakmu bukan?"


"Kakak ...," ujar Shakila lirih.


Shofia mengangguk. "Ya, aku adalah kakakmu, kan?" balasnya tersenyum.


Shakila menggigit bibirnya saat Shofia semakin memperjelas ucapannya. Air mata yang coba ia tahan akhirnya merembes juga, mengaliri pipi mulusnya.


"Sudah, ayo!" Shofia kembali menggapai tangan Shakila dan menuntun langkah gadis itu agar mengikutinya.


***


"Shafa ... tunggu dulu, Nak !" Aisyah sedikit berlari mengejar langkah putri sulungnya. "Ada apa?" tanyanya saat Shafa berhenti.


"Kenapa, Bu? Kenapa ...," ujar Shafa dengan perasaan sesak.


"Kenapa apanya, Nak?" tanya Aisyah bingung.


"Setelah Syifa, apakah sekarang Shofia yang akan direbut gadis itu?" ujar Shafa lagi.


"Astaghfirullah. Kenapa bicara seperti itu, Nak?"


"Lalu apa lagi, Bu? Ibu tidak lihat tadi bagaimana Shofia terhadap gadis itu?"


Aisyah menghela napas. Ia melihatnya, Shofia mulai menunjukkan kepedulian pada Shakila.


"Nak ...."

__ADS_1


"Tidak, Bu. Aku tidak akan membiarkan gadis itu merebut Shofia seperti yang ia lakukan pada Syifa. Tidak akan." Shafa memotong ucapan ibunya cepat, kemudian menuju kamar yang biasa ia tempati saat berkunjung ke rumah itu.


"Mami ...." Putra bungsu Shafa berlari hendak menyusul, tapi Shafa terlanjur menutup pintu itu dengan keras.


Anak berusia tujuh tahun itu seketika terkejut.


"Sayang ... main sama eyang dulu, ya. Mami lagi gak enak badan," kata Aisyah menghampiri cucunya.


"Tapi, Alfa mau main sama Mami, Yang," sahut anak itu sedih.


"Iya, tapi, kan Mami sedang tidak enak badan. Sama eyang aja, ya, Nak," bujuk Aisyah lagi.


Akhirnya Alfa mengangguk. Aisyah mengembangkan senyum. Namun, tiba-tiba seorang gadis kecil menabrak Alfa membuat anak lelaki Shafa itu mengomel. "Ih, Aulia! Kamu jangan lari-lari, dong," tegurnya kesal.


"I-iya ... maaf, Kak Alfa," cicit gadis kecil itu sedikit takut karena tidak terbiasa dibentak.


"Eh, Alfa? Kenapa bicaranya kayak orang marah - marah?" kata Aisyah lembut. "Gak boleh begitu, ya. Kalau adiknya salah, ditegur baik - baik. Jangan malah dibentak. Gak boleh, ya, Nak," lanjut Aisyah lagi.


Alfa mengangguk pelan.


"Aunty Sha?" teriak Aulia berbinar saat melihat kehadiran Shakila bersama Shofia.


Gadis kecil itu berlari dan memeluk pinggang Shakila erat.


"Aunty dari mana aja? Katanya mau ajarin Aulia solat agar bisa doain Mama," kata gadis kecil berusia empat tahun itu dengan polos.


Shakila mengusap kepala Aulia lembut penuh kasih sayang. Melihat Aulia kembali mengingatkannya pada Syifa.


"Maaf, ya, Sayang ... tadi Aunty ngantarin Mama ke rumah barunya," katanya sambil berjongkok mensejajarkan diri.


"Kok, Aulia gak diajak, Aunty?" Gadis kecil itu kembali bertanya.


"Nanti, kapan-kapan kita ke sana, ya," ujar Shakila pilu.


"Yeay!" sorak Aulia senang membuat orang dewasa yang berada di ruangan itu merasa sesak.


"Eyang, emang itu siapa? Kenapa dipanggil Aunty sama Aulia? Aunty itu Tante, kan? Berarti tantenya Alfa juga dong?" Alfa bertanya sambil menunjuk Shakila. Ia terlihat penasaran.


Aisyah menelan salivanya susah payah. Bagaimana cara ia menjelaskan. Shofia yang menyadari keresahan ibunya mendekat.


"Sayang, ini namanya Aunty--"


"Cukup, Shofia! Kamu tidak perlu menjelaskan tentang gadis itu pada anakku!" teriak Shafa marah kemudian menarik dengan kasar tangan putranya.


"Mami, sakit ...," rengek Alfa karena Shafa terlalu kuat menggenggam tangannya.


"Kak, Alfa kesakitan itu," ujar Shofia tidak tega melihat keponakannya kesakitan.


Namun, Shafa tidak mengindahkan ucapan Shofia. Ia terus melangkah kemudian menutup pintu dengan kasar.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen, ya, Dear ❤️🥰


__ADS_2