
Lima menit berlalu, pelayan membawa Stefanie ke kamar VIP.
“Maaf, kalian telah lama menunggu.” Stefanie meminta maaf.
Irfan melambaikan tangan, menatap Stefanie dengan wajah hormat, “Kamu terlalu sungkan, kami tidak menunggu terlalu lama kok.” ‘hanya sekitar satu jam.’
“Iya, benar. Tidak apa-apa, tempat ini punya temanku, kami datang lebih awal agar bisa ngobrol-ngobrol dulu.” Jenny berkata dengan penuh antusias, mempersilakan Stefanie duduk, lalu berpesan pada pelayan untuk menyajikan hidangan.
Sekarang sudah pukul 23.00 WIB, Stefanie tidak terbiasa makan larut malam, jadi dia menyela perkataan Jenny, “Tidak perlu, aku tidak lapar, langsung ke intinya saja.”
Jenny mengangguk, “Baik.”
“Kalau begitu, kamu boleh keluar dulu.” Jenny berpesan pada pelayan, lalu duduk di samping Stefanie.
Stefanie memeriksa gelas di atas meja karena teringat kejadian di atas kapal pesiar, dia tidak berani minum sedikit pun meskipun merasa haus.
Jenny sudah masuk dunia hiburan di usia 16 tahun, pria mesum yang pernah dia jumpai lebih banyak dari Stefanie, melihat Stefanie begitu waspada, dia mengerti apa yang dikhawatirkan Stefanie.
“Tidak berani minum, ya? Bagaimana kalau kamu beli minuman di pinggir jalan saja?”
Kekhawatiran Stefanie diketahui Jenny, Stefanie merasa tidak enak, “Tidak perlu, aku tidak terlalu haus kok.”
Kemudian, Stefanie melanjutkan dengan semangat, “Sebelum kita mulai, bisakah kamu transfer uangnya dulu?”
Jenny tertawa melihat ekspresi Stefanie yang terlihat ragu-ragu, “Hahaha, sekarang gantian kamu yang tidak percaya padaku.”
Jenny langsung mentransfer uang, lalu meminta Stefanie memeriksa, “Coba diperiksa, tidak kurang sepeser pun.”
Stefanie membuka mobile banking, saldonya memang sudah bertambah 400 juta.
Beban di hatinya akhirnya lepas, Stefanie mengingat kembali nasib malang Jenny di kehidupan lalu, kemudian menceritakan dengan sangat terperinci, mulai dari kakinya patah, syuting iklan dibatalkan, perusahaan mencari artis baru untuk mengganti dia, operasi plastik, dan bertemu pria mesum ...
Jenny semakin marah ketika mendengar cerita Stefanie, bahkan gelang platinum di tangannya pun putus ditariknya, kemudian dia menyela, “Sepertinya kesialan yang menimpaku sudah ketelaluan! Apakah tidak ada hal baik yang terjadi pada diriku?”
Stefanie berpikir sejenak lalu melanjutkan, “Kamu mempertahankan bentuk tubuhmu dengan baik.”
“...” Jenny hampir saja memuntahkan darah, “Ini juga termasuk hal baik?!”
Tidak sabaran menunggu Stefanie memberikan petunjuk, Jenny mendesak Stefanie untuk melanjutkan.
“Agar tidak ditimpa kesialan, aku sarankan untuk memperpanjang kontrakmu dengan TY Entertainment,” lanjut Stefanie.
Jenny sedikit menolak, “Setiap hari terjadi pertikaian di perusahaan, aku benar-benar tidak yakin pada masa depan perusahaan itu.”
“Sebenarnya kamu tidak perlu khawatir, YT Entertainment tidak seburuk yang kamu pikirkan, hanya saja sekarang adalah masa penyesuaian, jadi sedikit kacau, setelah masa ini berlalu, perusahaan YT akan semakin baik.”
“Butuh waktu berapa lama?”
Stefanie berpikir sejenak, “Kira-kira tahun depan perkembangan perusahaan YT akan di luar dugan semua orang.”
__ADS_1
Jenny mengangkat alisnya, “Di luar dugaan bagaimana?”
Perkataan selanjutnya baru bisa dikatakan bernilai, jadi Stefanie menjadi waspada, matanya melirik Irfan yang berada di samping.
Irfan yang mendengar cerita Stefanie dengan serius pun tertegun, lalu mengeryit, “Master, aku sangat setia pada Jenny.”
“Maaf, yang membayarku adalah Jenny, jadi aku hanya bisa memberi tahu dia seorang.”
“Irfan, kamu keluar dulu, setelah aku mendengarnya, aku akan memberitahumu nanti.” Jenny menghibur Irfan yang penampilan luarnya kasar tapi berhati rapuh.
Sekarang di ruangan ini hanya tersisa Stefanie dan Jenny, Stefanie melanjutkan, “Tahun depan keberuntungan perusahaan YT akan membaik, akan ada karya yang lebih populer dari karyamu sebelumnya.”
“Lebih populer?” Jenny berpikir dengan seksama, lalu bertanya, “Karya yang sedang dipersiapkan perusahaan saat ini adalah sebuah web drama dengan modal kecil, apakah maksudmu karya itu?
Stefanie menjawab, “Tidak ada yang menyangka karya itu akan menjadi populer, jadi kalau kamu ingin memanfaatkannya sebagai alat untuk menjadi artis papan atas, kamu harus rela menerima gaji kecil terlebih dulu, dan mengutamakan kualitas karya.”
Setelah memastikan karya yang dikatakan Stefanie adalah web drama itu, Jenny menjadi ragu, “Masalah gaji bukan apa-apa, masalahnya adalah web drama itu ... meskipun sudah ada skenario, belum tentu bisa syuting, meskipun bisa syuting, belum tentu bisa syuting hingga akhir, meskipun bisa syuting hingga akhir, belum tentu bisa disiarkan, apalagi proses verifikasinya sangat lama ....”
Selesai berkata, Jenny takut perkataannya tadi membuat Stefanie merasa kalau dia tidak percaya padanya, dia pun menjelaskan, “Sifatku agak tergesa-gesa, aku benar-benar tidak bisa menunggu terlalu lama. Apalagi Agnes yang memulai debutnya satu waktu denganku sudah cukup viral di internet, sedangkan aku ... bisakah kamu memberikan saran lain yang bisa membuatku terkenal dalam waktu singkat?”
Menghadapi permintaan Jenny, Stefanie terdiam sejenak.
Karena Jenny adalah klien pertama, Stefanie akhirnya menyetujui permintaan Jenny.
Lusa, di Gedung Konvensi Solo, ada sebuah acara peragaan busana terkenal merek Louis Vuitton.
Stefanie bisa mengingat peragaan busana ini karena ada seorang pria mesum yang terus memotret ****** ***** para model, bahkan artis terkenal, Hesti, yang ikut serta sebagai tamu juga tidak luput dari incaran pria mesum tersebut.
“Kalau kamu bisa mendapatkan undangan acara peragaan busana, kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu, kalau lancar kemungkinan besar akan menjadi topik pembahasan paling populer di internet.”
Jenny tiba-tiba bersemangat, “Kesempatan apa?”
Stefanie tidak memberitahu, “Perhatikan dengan seksama saja kalau sudah berada di sana.”
Jenny terlihat pusing, “Kamu tidak tahu kalau aku ini sangat bodoh? Bolehkah aku meneleponmu saat itu?”
“Iya, boleh.”
Jenny menarik tangan Stefanie dengan kegirangan, “Kamu telah bekerja keras! Kalau aku benar-benar masuk berita populer di internet, aku akan menghadiahimu satu tas LV!
Stefanie sedikit malu dan menarik kembali tangannya, lalu melirik tas kecil yang dia beli di pinggir jalan, dan menolak, “Aku harus bersikap low profile sekarang.”
Jenny merasa lucu, “Seluruh tubuh Julio penuh dengan merek-merek terkenal, kamu kok malah ingin low profile? Oh ya, bagaimana kamu bisa memprediksi semua ini? Melihat bintang, atau sama dengan Julio, memiliki mata dewa?”
Stefanie hanya tersenyum, lalu menjawab dalam hati, ‘Bukan, aku dilahirkan kembali.’
________
Keduanya mengobrol hingga jam 12 malam, pintu gerbang kampus sudah ditutup, Stefanie tidak bisa kembali ke asrama.
__ADS_1
Stefanie takut ibunya akan banyak bertanya kalau pergi menemani ibunya di rumah sakit, akhirnya Stefanie memutuskan untuk menginap di hotel yang berada di dekat tempat ini.
Setelah mandi, Stefanie berbaring di ranjang hotel yang empuk, badannya sudah lemas dan tidak ingin bergerak.
Masalah biaya operasi sudah terselesaikan, sekarang sudah tidak ada beban di hatinya. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah tidur nyenyak sekali pun, kalau bukan karena melakukan tugas seorang paparazzi, dia pasti lembur untuk menulis naskah.
Namun mulai sekarang, keputusan hidupnya akhirnya kembali ke tangannya sendiri. Dia akhirnya bisa tidur tanpa mimpi buruk sepanjang malam.
Berbalik dan memeluk selimut yang lembut dan bersih, bibir Stefanie sedikit terangkat, dia tertidur dengan senyum tenang.
Keesokan harinya.
Sebelum pukul sepuluh pagi, Stefanie datang ke rumah sakit dan membayar biaya operasi ibunya.
Ketika ibunya bertanya dari mana dia memperoleh uang sebanyak itu, Stefanie tidak berterus terang.
Pertama, dia tidak tahu bagaimana memberi tahu ibunya bahwa dia telah dilahirkan kembali, dan kedua, dia takut ibunya tidak percaya, apalagi sekarang ibunya akan segera menjalani operasi, dia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Akhirnya Stefanie terpaksa menggunakan kerja sama dengan FC Studio sebagai tameng, dan berhasil membohongi ibunya.
Jam dua siang, operasi dimulai.
Stefanie sudah tahu operasi akan sukses, jadi dia kali ini dia tidak lagi menangis di koridor.
Stefanie menemukan bahwa baterai ponselnya sudah habis, dia mencari perawat untuk meminjam powerbank, lalu menunggu di luar ruang operasi sambil mengisi baterai ponsel.
Setelah mengisi selama beberapa menit, Stefanie mengaktifkan ponsel, pesan WA yang belum terbaca langsung muncul di layar, ponselnya bergetar kuat hingga tangannya terasa mati rasa.
July: [Stefanie, ayahmu sudah meminjamkan uangnya?]
July: [Tadi aku dengar banyak siswa bergosip kalau kamu jadi wanita simpanan pria kaya untuk membayar biaya operasi bibi ...]
July: [Kurasa itu pasti perbuatan Junardi ...]
July: [Maaf, aku tidak bisa membantumu dan malahan merepotkanmu!]
July: [Bagaimana kalau kamu mencari Nicholas untuk mengklarifikasi kalau kamu bukan wanita seperti itu?]
July: [Ah! Tadi malam aku terlalu emosi jadi lupa menanyaimu!]
July: [Bagaimana kamu bisa kenal Nicholas? Kalian saling kenal saat dia lanjut pascajana di kampus kita?]
“…”
Stefanie tiba-tiba teringat bahwa Nicholas memang pernah kuliah di kampus mereka, tapi dia jarang di kampus karena sudah terkenal, kalaupun datang, dia juga datang diam-diam.
Pada saat itu Stefanie baru masuk semester pertama, dia sibuk dengan berbagai macam kegiatan, sama sekali tidak ada waktu untuk memperhatikan berita dunia hiburan, dia hanya tahu ada seorang senior di kampus mereka yang menjadi terkenal, tapi tidak tahu kenapa ada begitu banyak orang yang menyukai senior itu.
Masuk semester ketiga, dia baru mulai memperhatikan berita dunia hiburan, tapi pada saat itu Nicholas sudah lulus kuliah, mereka berdua tidak saling mengenal, dia juga kehilangan kesempatan untuk mewawancarai Nicholas.
__ADS_1
Malahan pada saat semester keenam, demi mencari uang untuk membayar biaya operasi ibunya, dia yang memberitakan rumor perselingkuhan Nicholas dengan pacar temannya.
Kalau dipikir-pikir, mereka berdua ditakdirkan tidak memiliki awal yang baik.