Pacarku Seorang Paparazzi

Pacarku Seorang Paparazzi
Bab 4


__ADS_3

Kawasan Bisnis Jawara, perusahaan-perusahaan besar terpusat di kawasan ini.


Perusahaan pusat Bintang Cipta Entertainment didirikan di kawasan ini, selain itu, terdapat satu lagi perusahaan hiburan di kawasan ini, yaitu perusahaan tempat Jenny bekerja, TY Entertainment.


Kedua perusahaan ini adalah dua perusahaan ternama di dunia hiburan. Dalam beberapa tahun ini, perselisihan internal yang terjadi karena pergantian posisi kepemimpinan di TY Entertainment menyebabkan karyawan-karyawan mereka hanya sibuk memilih pemimpin masing-masing dan  tidak memiliki niat untuk bekerja, kinerja perusahaan mereka menurun drastis.


Sedangkan Bintang Cipta Entertainment berkembang pesat, dalam waktu tiga tahun, Nicholas mampu membantu perusahaan memperoleh keuntungan sebesar 1,2 triliun, akibatnya para senior perusaan mulai bertingkah sombong.


Mereka ingin memanfaatkan perselisihan internal perusahaan lain untuk merekrut artis mereka, tapi mereka tidak menyangka akan terjadi masalah besar pada artis terkenal mereka sendiri, Nicholas.


Masalah ini mengakibatkan mereka harus sibuk mengurus pembatalan kerja sama para mitra kerja, dan masih harus mengurus anti-fans Nicholas, mereka sama sekali tidak punya tenaga dan waktu untuk merekrut artis dan mengambil keuntungan dari perusahaan lain.


 “Nicholas keluar dari dunia hiburan!”


“Blokir artis bajingan yang merampas pacar orang lain!”


“Jangan biarkan pria berengsek itu mengotori mata kami!”


Tiga buah spanduk berwarna kuning keemasan menyilaukan mata Stefanie.


Di pintu gerbang perusahaan, ada dua puluhan anti-fans Nicholas yang memakai seragam SMA duduk di lantai, dan beberapa orang satpam yang bertubuh besar berdiri di depan.


Stefanie merasa pusing, dia tidak memiliki kartu identitas karyawan, satpam pasti tidak memperbolehkan dia masuk.


Pada saat Stefanie sedang ragu-ragu, muncul seorang pria yang sangat familier di depannya.


Pria tersebut berpakaian sopan, lehernya memakai lanyard karyawan magang berwarna biru, wajahnya biasa-biasa saja, dan tidak memiliki karakteristik sama sekali. Namun, Stefanie tetap dapat mengenalnya, meskipun saat ini dia masih tidak berambut panjang.


Gunawan, dia adalah paparazzi saingan Stefanie, karya dia juga berkaitan dengan Nicholas.


Setelah Stefanie memberitakan rumor tentang Nicholas, Nicholas menolak untuk memberikan penjelasan, Gunawan menyamar sebagai karyawan magang dan masuk ke perusahaan, lalu menghalangi Nicholas di depan toilet. Nicholas marah besar dan akhirnya terjadi pertengkaran di antara keduanya.


Hari kedua, Gunawan memberitakan kabar bahwa Nicholas memukul reporter, dan berhasil membawa berita tersebut ke peringkat pertama. Namun, pihak Bintang Cipta Entertainment segera mengklarifikasi kejadian hari itu dengan mengunggah rekaman video ke internet, dan berhasil mengungkap kebohongan Gunawan.


Setelah beberapa tahun berlalu, Gunawan dan Stefanie sama-sama menjadi paparazzi terkenal, mereka berdua sering dibandingkan. Namun, sebenarnya mereka berdua memiliki perbedaan besar.


Stefanie bekerja di bidang ini untuk membayar biaya operasi ibunya, dia tidak lagi memberitakan kabar palsu selain berita tentang Nicholas. Sedangkan Gunawan berasal dari keluarga kaya, dia suka mengarang berita palsu, dan terkenal kejam, menggunakan berbagai macam cara untuk mencapai tujuannya.


Stefanie kembali sadar, dia segera mengikuti Gunawan dan berputar ke belakang gedung.


Gunawan telah mencari tahu pintu darurat gedung tersebut, jadi dia memiliki tujuan yang jelas, dia segera menuju pintu darurat gedung tersebut yang berada di arah barat laut.


Sebelum masuk, Gunawan berpura-pura kehilangan barang, dan terlihat seperti sedang mencari sesuatu, dia memeriksa keadaan di sekeliling.

__ADS_1


Stefanie berpura-pura menyamar sebagai seorang siswi yang sedang lewat, berjalan sambil menelepon.


Gunawan terus berpura-pura mencari sesuatu hingga Stefanie hilang dari pandangannya, lalu dia segera masuk dari pintu darurat bagaikan seekor tikus.


Sedangkan Stefanie berputar balik sambil berpura-pura sedang menelepon, dia memeriksa sekeliling dan bergegas masuk ke pintu dengan langkah pelan.


_____


Lantai teratas gedung Bintang Cipta adalah ruang istirahat direktur Bintang Cipta Entertainment, Alex Fernando Widjaja. Biasanya jarang ada orang di sana, dan sebagai artis terkenal, tentu saja Nicholas boleh keluar masuk secara bebas di sana.


Namun, saat ini seluruh karyawan tidak lagi merasa kagum pada Nicholas karena mereka tahu Nicholas dipanggil oleh Alex yang saat ini sedang berwajah muram.


Rumor perselingkuhan Nicholas telah membuat perusahaan membayar ganti rugi sebesar ratusan miliar, sedang Nicholas masih bersikap pesimis, sama sekali tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan untuk mengklarifikasi kejadian tersebut, dan membantu perusahaan menghentikan kerugian.


“Pak Direktur, Anda jangan marah, aku sudah bicara dengan Nicholas, kondisi dia saat ini agak buruk, dia tidak terlalu bersedia menghadapi masalah ini, aku harap Anda bisa memberikan kelonggaran beberapa hari lagi ....”


Denny berusaha keras untuk menjelaskan masalah Nicholas di depan Alex, sedangkan Nicholas malah sedang berbaring dan menikmati pijatan kursi pijat otomatis.


Alex tidak mengatakan satu patah kata pun, dia hanya menatap wajah Nicholas yang sedang tersenyum.


Alex bukan hanya bos Nicholas, tapi juga merupakan ayah angkat Nicholas. Alex sudah berusia 56 tahun, tapi dia kelihatan muda, sekitar 40 puluhan. Jadi, tidak ada orang yang akan mengira bahwa hubungan keduanya adalah ayah dan anak. Meskipun kadangkala ada paparazzi yang merekam Nicholas pergi ke kediaman Alex, mereka hanya menganggap itu hanyalah kunjungan biasa.


Selain Nicholas, Alex dan istrinya, Christina, masih mengadopsi tiga orang anak.


Nicholas adalah anak di urutan kedua, anak yang paling pandai menghasilkan uang, dan merupakan anak yang paling pembangkang.


“Pak Direktur, sebenarnya aku merasa masalah ini tidak boleh menyalahkan Nicholas, Meji Entertainment benar-benar ke .... ”


“Sudah, kamu boleh keluar dulu.” Alex tiba-tiba menyela perkataan Denny, dia bangkit dan berjalan ke arah rak anggur yang berada di pojok ruang istirahat.


Begitu mendengar perkataan Alex, Nicholas yang duduk di kursi pijat juga ikut bangkit dan ingin keluar bersama Denny.


Denny mengernyit, lalu memberi isyarat supaya Nicholas duduk kembali untuk menerima arahan dari Alex.


Nicholas pura-pura tidak melihat, lalu berjalan dengan langkah besar ke arah pintu.


“Kamu tinggalah sebentar.”


Dari pantulan kaca rak tampak Alex sedang membuka botol anggur dengan tenang, sepertinya dia ingin mengundang Nicholas untuk minum bersamanya, tapi nada suara Alex terdengar dingin, dan membuatnya bergidik.


Nicholas mengatup bibirnya, dia terlihat tak berdaya dan hanya bisa melihat Denny pergi meninggalkan dirinya sendirian.


“Oh Bosku tersayang, tolong minta maaf dengan bapak direktur, jangan mengabaikan masalah ini lagi, ya ....” Denny berbisik di samping pintu, meskipun dia tahu sia-sia dia berpesan padanya.

__ADS_1


Mana mungkin dia begitu mudah dibujuk?


“Krek ....” pintu tertutup.


Nicholas tidak kembali ke kursi pijatnya, dia berdiri di depan pintu, dan menunggu Alex selesai menuang anggur.


Seisi ruangan sangat sunyi, hanya terdengar suara anggur yang dituangkan ke dinding gelas.


Setelah lewat beberapa saat, pintu rak anggur ditutup.


Terdengar suara langkah kaki Alex semakin mendekat, hingga jarak di antara keduanya hanya berselisih sekitar dua meter, Alex baru menghentikan langkah kakiknya, “Coba katakan, kapan kamu mempunyai pikiran untuk meninggalkan perusahaan?”


Alex memiliki wajah yang dingin, di saat tidak tersenyum, wajahnya terlihat serius, pernah reporter bercanda mengatakah bahwa Alex bermuka hakim, tapi begitu melihat Alex mengikuti acara bersama istri, para reporter, terutama reporter wanita, merasa kagum pada Chrisina karena Alex hanya lembut pada istrinya saja.


Meskipun deskripsi terhadap Alex belum tentu benar, tapi kelembutan Alex hanya pada istrinya adalah hal nyata. Karena di saat ini, tatapan dingin Alex terhadap Nicholas sama sekali bukanlah tatapan kasih seorang ayah kepada anaknya, apalagi anak yang paling berprestasi.


Nicholas tidak melihat tatapan ayahnya, dia juga tidak peduli, tatapannya hanya tertuju pada vas bunga antik di rak pajangan, dia lalu mengambil salah satu vas dan mendekatkan mata untuk melihat isinya, kemudian berkata dengan nada acuh tak acuh, “Kurasa kamu salah bertanya.”


“Harusnya kamu bertanya, kapan kamu memiliki pikiran untuk meninggalkan keluarga Widjaja.”


Nicholas lalu meletakkan kembali vas bunga di tangan dengan asal-asalan, dia sedikit pun tidak peduli dengan harga vas bunga yang bernilai seratusan juta tersebut,  “Sudah lama aku ingin meninggalkan keluarga ini, hanya saja aku masih belum membalas budi, makanya aku masih belum pergi.”


Vas bunga yang baru diletakan itu bergoyang kuat dan hampir saja terjatuh, letak posisinya hanya selisih satu sentimeter dari rak pajangan.


Alex mengernyit, mengulurkan tangan untuk menopang vas bunga tersebut agar tidak terjatuh, “Jadi maksudmu, hutang budi padaku sudah kamu lunasi?”


Nicholas menyeringai, “Perusahaan memperoleh 1,2 triliun dalam tiga tahun, setelah dipotong biaya ganti rugi pembatalan kontrak, masih tersisa 1 triliun lebih, aku rasa harga budi kebaikanmu setara dengan nilai tersebut, tidak lebih dari itu ....”


“Kalau begitu, kamu sudah berpikiran matang untuk melindungi Erick?”


Nicholas tidak menjawab dan hanya mengangkat alisnya untuk mengiyakan.


Alex tertawa, dia meminum seteguk anggur merah, lalu berkata dengan tenang, “Tahu membalas budi, kamu benar-benar anak baik yang diajar langsung oleh ibumu.”


“Iya benar, kalau kamu yang mengajarku, kurasa nasibku akan sama dengan Efendi.”


Efendi sangat kejam, dia adalah tangan kanan Alex sebelumnya. Tahun lalu, dia dicelakai seseorang dan jatuh ke jurang bersama mobilnya, meskipun berhasil diselamatkan, dia tetap kehilangan kesadaran, akhirnya dia menjadi sampah di mata ayah angkatnya.


“Benarkah? Karena kamu telah memutuskan untuk menjadi orang tak berguna macam Efendi, aku tidak akan menghalangimu. Aku akan meminta asistenku untuk membatalkan segala rencana klarifikasimu. Mulai sekarang, perusahaan tidak akan memberimu bantuan apa pun, kelak kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri.”


“Apakah masih ada hal lain yang ingin kamu katakan? Kalau tidak ada, aku akan pergi mengemis di jalanan sekarang!”


Dengan suasana hati yang baik, Nicholas tidak menatap ekspresi wajah muram Alex, dia langsung keluar begitu saja dari ruang istirahat.

__ADS_1


“Ding.” Begitu pintu ditutup, Nicholas menerima sebuah pesan singkat di sim card ke-2 yang berisi bahwa rekeningnya menerima sebuah dana. Sekarang saldo uang di rekeningnya mencapai triliunan, jadi untuk sementara dia seharusnya tidak perlu mengemis di jalanan dulu.


__ADS_2