Pacarku Seorang Paparazzi

Pacarku Seorang Paparazzi
Bab 6


__ADS_3

July kali ini mengeluarkan banyak uang, steamboat yang dia pesan seharga sejuta lebih, Villia merasa sayang membeli makanan semahal ini.


“Bibi sudah sangat senang kamu datang menjenguk bibi, dan membawa makanan ... Stefanie, kamu kok tidak menghalangi dia  beli makanan ini.”


Stefanie merasa disalahkan, “Aku juga baru tahu setelah tiba di rumah sakit, kukira dia hanya memesan tiga mangkuk mie bakso saja.“


“Tiga mangkuk mie bakso mana cukup!” July mengabarkan berita baik sambil membuka plastik pesanan, “Bi, hari ini Stefanie memberikan kejutan besar untukku! Dia bertemu dengan Simon, dan membantuku meminta tanda tangannya!”


Stefanie tidak memberi tahu July bahwa dia pergi ke Bintang Cipta Entertainment, dia takut July terlalu banyak tanya, jadi berbohong dengan mengatakan bahwa dia bertemu dengan Simon di jalan.


“Simon?” Villia tampak bingung.


Untuk umur dia sekarang, dia benar-benar tidak terlalu mengenal artis muda.


“Ini Simon, ganteng bukan?” July menunjukkan foto Simon dari galeri ponselnya, “Dia sangat baik, suaranya merdu lagi! Sekarang sudah mulai main film, nanti dia pasti akan terkenal dan go internasional!


“...”


Mendengar kata “sangat baik”, Stefanie hanya bisa terdiam, dan juga kata “terkenal dan go intenasional”, Stefanie tahu bahwa Simon tidak terlalu terkenal di masa depan, dan dua tahun kedepan, Simon akan mengundurkan diri dari dunia hiburan, adapun penyebabnya, Stefanie sudah tidak ingat.


Di luar jendela, matahari sudah terbenam, waktu sudah malam.


Stefanie makan dengan tidak fokus, dia terus melirik layar ponselnya dari waktu ke waktu.


Sudah pukul 18.50 WIB, tapi Jenny masih belum menelepon dia.


Apakah Jenny masih belum memperoleh isi acara? Atau dia tetap tidak mempercayai perkataannya?


“Stefanie, ada apa denganmu? Kalian masih ada kelas malam ini?” Melihat Stefanie terus melirik ponsel, Villia mengira Stefanie harus segera kembali ke kampus.


“Tidak ada kelas lagi,” Stefanie mengangguk, lalu mengambilkan sayur untuk Villia.


Baru selesai berkata, perawat mengetuk pintu, dia datang untuk mendesak Stefanie membayar biaya operasi, tapi karena ada tamu, dia pun memanggil Stefanie untuk datang ke koridor.


“Nona Stefanie, kalau Anda memastikan ibu Anda akan menjalani operasi, mohon segera membayar biaya operasi, kalau tidak jadi operasi, mohon Anda mengerti kalau ranjang di rumah sakit kami tidak banyak ....”


“Tentu saja operasi, tapi bolehkah membayar 200 juta dulu?” tanya Stefanie dengan wajah masam.


“Maaf tidak bisa, kalau ibu Anda akan melakukan operasi, mohon membayar biayanya sebelum jam sepuluh pagi, kalau terlambat membayar, kami akan mengatur ulang jadwal operasi, dokter kami sangat sibuk dua bulan ini, jadi kalau bisa, mohon segera dibayar.”


“Baik, terima kasih.”


Stefanie mengantar perawat pergi, lalu berbalik dan baru menyadari July berdiri di belakang.


July merasa canggung, lalu menjelaskan, “Stefanie, aku tidak sengaja mengupingmu, barusan Junardi meneleponku lagi, aku takut kalau aku tidak menjawab telepon dia akan datang mencariku di kampus, jadi aku keluar untuk menjawab telepon.”


Stefanie tidak peduli, “Tidak apa-apa, kamu sudah tahu semuanya.”

__ADS_1


“Jadi, kamu masih belum mendapatkan uang?”


“Iya.”


Stefanie merasa diri sendiri terlalu naif, meskipun dia mampu mengubah nasib para artis, tidak ada orang yang mengenalnya, dengan mengandalkan kata-kata, siapa yang akan percaya dan memberinya uang?


Penyangkalan diri yang tiba-tiba mematahkan mentalitasnya, Stefanie mulai tidak yakin, dan ada dorongan di hatinya untuk "kembali menggunakan cara lama".


July merasa sedih saat menatap wajah Stefanie yang tak berdaya, “Bagaimana kalau aku meminjam uang dulu pada Junardi?”


Stefanie ragu-ragu, dia tidak ingin menyusahkan July, “Aku akan mencari rentenir saja.”


“Jangan! Bunga rentenir sangat tingg!” July menghibur Stefanie dengan menepuk bahunya, “Tenang saja, meskipun Junardi agak playboy, dia bukan pria jahat, kamu tidak perlu khawatir dia akan mencelakaiku.”


Tidak menunggu Stefanie menyetujui, July sudah langsung menelepon.


Junardi adalah putra bos salah satu perusahaan properti di Solo, dia sangat kaya, begitu gadis yang disukai meminta uang kepadanya, dia langsung menyetujui tanpa basa-basi.


“July, aku sudah membantu temanmu, apa yang akan kamu berikan untukku?” Suara di ujung telepon sangat berisik, ada suara canda tawa, suara deruh angin dan ombak.


"Aku menghadiri pesta ulang tahun teman. Aku sendirian.  Datang kemari dan jadi pacarku saja!"


July sangat berterima kasih atas bantuan Junardi, dia langsung menyetujui tanpa basa-basi, “Baik, kirimkan alamatmu.”


_____


Di sekitar kota tidak ada laut, untuk pergi ke laut harus naik mobil ke arah selatan, di sana ada ada sebuah klub dengan belasan kapal pesiar, acara ulang tahun teman Junardi diadakan di atas salah satu kapal pesiar.


Dalam kegelapan malam, keduanya menemukan kapal pesiar tersebut, itu adalah sebuah kapal pesiar elit dengan panjang sekitar 50 meter, lampu di atas kapal terang benderang, tampak seperti kapal harta karun di dalam legenda.


 Ini adalah kali pertamanya July melihat kapal pesiar yang sebenarnya, jadi dia sangat bersemangat dan mulai memotret dari kejauhan, “Stefanie, bantu aku foto dengan kapal pesiar dong!”


”Baik.” Stefanie mengambil ponsel July dan mulai memotret.


Selesai memotret, July bertanya apakah Stefanie ingin foto, tapi Stefanie tidak tertarik.


Di kehidupan lalu, dia pernah datang ke sini, dia membuntuti seorang pria kaya yang berselingkuh dengan seorang aktris yang sudah menikah, mungkin keduanya benar-benar saling mencintai, jadi begitu ketemuan, mereka langsung bermesraan hingga lupa menutup tirai, kejadian itu benar-benar membuat Stefanie yang tidak pernah melihat adegan seperti itu takut setengah mati.


“Halo, July!” Junardi yang agak mabuk sedang berdiri di dek, “Sini, ayo kemari!”


Diikuti panggilan Junardi, beberapa orang pria menarik perhatian mereka pada Stefanie dan July.


Pria yang memakai minyak rambut menatap dua orang gadis cantik yang masih berada di bawah,  “Junardi, pacar kamu yang mana?”


Pria berambut ungu menunjuk ke arah Stefanie, “Aku tebak gadis yang dadanya montok itu!”


Pria bertopi menyeringai, “Bodoh, apakah kamu tidak tahu kalau Junardi suka loli yang dadanya kecil!”

__ADS_1


“Minggir sana! Kamu yang dadanya kecil!” Junardi mengangkat kaki dan ingin menendang mereka, ketiganya tertawa dan segera menghindar.


July merasa canggung, lalu berkata dengan suara kecil, “Stefanie, mereka bertiga asal ngomong, tidak perlu kamu hiraukan, ya.”


Stefanie mengangguk, mengeluarkan ponsel lalu melakukan pengaturan panggilan menjadi panggilan cepat.


Sebelum datang, Stefanie mendengar July mengatakan bahwa selera Junardi lumayan bagus, dia mengira acara ulang tahun mereka mungkin akan sangat formal dan berkelas, tapi begitu melihat tiga pria rendahan ini, dia merasa mereka berdua perlu lebih waspada.


Keduanya naik ke kapal, ketika sampai di dek, Junardi sudah menunggu dengan dua gelas sampanye, “Selamat datang, Nona-nona!”


Junardi tidak mempermasalahkan July membawa Stefanie kemari, dia mengambil inisiatif untuk membawa keduanya mengunjungi kapal pesiar.


Semua tamu sudah hadir, terdengar suara wakil kapten di speaker kapal, “Halo, apakah semuanya sudah siap? Pesta akan segera dimulai!”


Kapal mulai berlayar, suara mesin dan sorakan tamu bergema di laut yang gelap.


Junardi memperhatikan July, lalu tersenyum lembut, “July, kamu mabuk laut?”


July menggelengkan kepala, “Tidak, mungkin karena pertama kali naik kapal di malam hari, jadi sedikit takut.”


“Dasar bodoh, untuk apa takut, bukankah ada aku di sisimu?”


Melihat tatapan Junardi yang penuh kasih sayang, July semakin merasa tidak nyaman. Dia hanya tersenyum dan berbalik untuk menatap Stefanie di sebelahnya.


Menerima sinyal permintaan bantuan July, Stefanie menarik tangan July lalu membawanya ke arah bar yang ramai: "July, aku tidak pandai minum bir, kamu temani aku makan buah saja.”


“Biar aku yang menemanimu saja!” Pria bertopi tadi tiba-tiba datang, lalu mendekatkan wajahnya, “Malam ini aku juga tidak punya pasangan, tolong kasihani aku.”


Stefanie menyeringai, lalu menghindar, “Maaf, aku hanya kasihan pada pengimis.”


“Hahahaha! Kamu punya kepribadian!” Pria bertopi itu malah tertawa bukannya marah.


 Sebelum Stefanie dan July naik ke kapal, Junardi meminta dia untuk membantunya mencari kesempatan untuk memisahkan Stefanie dengan July, Junardi mengatakan bahwa asalkan bisa memisahkan kedua gadis itu, Junardi akan memberikan jam tangan edisi terbatas yang baru saja dia beli kepadanya. Dia awalnya hanya ingin mendapatkan jam tangan, tetapi sekarang tampaknya Stefanie jauh lebih sesuai dengan seleranya.


Pada saat ini, speaker kapal berbunyi lagi, “Sekarang adalah waktunya menari, ayo semuanya yang semangat! Mari kita rayakan ulang tahun ke-24 Tuan muda Harly dengan tarian terbaik!"


“Ayo!”


 Pria yang paling antusias itu adalah Tuan Muda Harly, dia berteriak lalu melepas bajunya dan melompat ke kolam rendam, percikan air pun membasahi dek.


Pria bertopi mengambil kesempatan ini untuk memeluk pinggang Stefanie, “Hati-hati licin!”


“Jangan pegang aku.” Stefanie menghindar dan menjaga jarak.


“Sudah, aku tidak akan memegangmu lagi, jangan marah, ya! Apakah masih ada kata-kata marah yang ingin kamu katakan? Aku ingin mendengarnya!”


Pria bertopi itu macam penipu yang cabul, dia mendekati Stefanie lagi, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi target kamera pengawasan nomor satu.

__ADS_1


Di kokpit, seorang pria sedang duduk dengan bersilang kaki, fokus menatap gerak-gerik pria bertopi melalui layar pengawasan.


Wakil kapten di sampingnya bercanda, “Tuan Nicholas, fokus sekali, siapa yang kamu lihat?”


__ADS_2