
"Uh ... dekorasi rumahmu sangat bagus, beberapa tahun kemudian ... dekorasi semacam ini akan menjadi sangat populer.”
Dia mencari topik lain untuk meredakan rasa malu, tapi baru berkata setengah, dia berhenti karena takut ketahuan.
Untungnya, Nicholas tidak terlalu memperhatikan kata-katanya, dia melewati Stefanie dan berjalan ke sofa putih di sebelahnya, lalu duduk dengan kaki bersilang dan menepuk kursi di sebelah, "Ayo duduk, apakah kamu ingin berdiri di sana sambil bekerja?"
Memunggungi Nicholas, Stefanie diam-diam mengambil napas untuk menenangkan diri sebelum berbalik dan berjalan menuju sofa.
Namun, dia tidak duduk di sebelahnya.
Stefanie menjaga jarak satu setengah meter, dia merasa lega dan duduk.
Geli dengan sikap waspada Stefanie, Nicholas bangkit dan duduk di sampingnya.
“Kenapa, takut aku akan memakanmu?” Dia duduk menyamping dengan siku di belakang sofa dan tangan di kepala, menatap Stefanie sambil menyeringai.
"Apa yang aku takutkan, kamu ‘kan bukan kanibal." Stefanie berpura-pura tenang, tetapi tatapannya mengikuti lekukan leher Nicholas dan tertuju ke dalam kerah bajunya.
Alhasil ... karena bentuk dadanya terlalu indah, detak jantung Stefanie yang baru saja tenang mulai berdetak kencang kembali.
“Nicholas, bisakah kamu mengancing bajumu baik-baik?” Jika ini terus berlanjut, dia benar-benar takut dirinya akan terangsang hingga kehilangan kesadarannya!
Tiga hari ke depan, dia masih harus membicarakan bisnis senilai 1,8 miliar!
Menundukkan kepalanya dengan santai, Nicholas melirik dadanya, dan berkata dengan bangga, "Tidak pakai baju lebih menawan, bukan?"
"..." Kamu sangat narsis!
"Tapi kalau kamu terus bersikap begini akan memengaruhi prediksiku!"
"Benarkah?" Alisnya bergerak sedikit, "Baiklah, akan aku kancingkan."
Stefanie tidak menyangka Nicholas akan begitu bekerja sama, dia akhirnya menghela napas lega.
Tetapi pada saat ini, Nicholas tiba-tiba membuka mulutnya dan meminta bantuannya, "Tolong kancingkan dong, jariku terluka, jadi agak susah."
Untuk membuktikan bahwa dirinya tidak berbohong, Nicholas sengaja menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya.
"..."
Sambil mengerutkan kening menatap hansaplast di jari Nicholas, Stefanie menunjukkan ekspresi tak berdaya, lalu dengan enggan berbalik dan mengulurkan tangannya untuk mengancing baju Nicholas.
Ada angin di luar jendela, tirai kasa putih berterbangan tertiup angin, seperti rok kasa pengantin wanita di pesta pernikahan. Stefanie tampak gugup, jarinya yang ramping meremas kancing putih yang sepertinya masih memiliki suhu tubuh Nicholas, memaksa matanya untuk menatap ujung jarinya saja, lalu satu, dua, tiga... semuanya terkancing dengan sempurna.
Nicholas yang duduk di samping tampak puas, dia bersandar di sofa dan menikmati penampilan Stefanie yang malu-malu dan fokus itu.
__ADS_1
Jauh di lubuk hati, keinginan untuk menghentikan waktu menyebar seperti api yang mengamuk.
Hal ini membuat Nicholas teringat bahwa dulu dia adalah mahasiswa UNS. Kapan Stefanie bisa mengingat pertemuan pertama mereka?
“Sudah.” Nicholas yang termenung terbangun oleh suara santai Stefanie yang telah menyelesaikan tugasnya.
Nicholas menunduk dan melihat tubuhnya yang terbungkus rapat.
Dengan senyum tak berdaya, dia menggunakan tangan kirinya untuk melepas kancing teratas, "Yang ini biarkan saja, kalau tidak akan terlihat kaku."
"Baik."
Melirik tangan kiri Nicholas yang telah membuka kancing, Stefanie diam-diam mengeluh, ‘Tidak bisa mengancing dengan satu tangan, tapi berpengalaman sekali membuka kancing baju dengan satu tangan!’
__________
Jessica dan Vivian kembali ke rumah dan memberi tahu Julio bahwa mereka melihat Stefanie berjalan ke rumah di seberangnya.
Julio menunjukkan ekspresi terkejut dengan gaya yang sama seperti ibu dan istrinya, dia tertegun dalam waktu yang lama.
“Oh, Stefanie sungguh hebat!” Andy merasa menarik, dia melompat dengan satu kaki dan ingin melihat ke luar rumah.
Jessica mengikuti dengan cemas untuk memapahnya, "Pergelangan kakimu terluka parah, kamu mau pergi ke mana?"
"Tentu saja ke seberang! Apakah kalian tidak penasaran kenapa Stefanie tahu kata sandi rumah seberang?"
"Anggap saja tidak memiliki anak itu!"
Dia mengucapkan kata-kata ini untuk Julio.
Dan Julio yang tidak 100% bersedia menandatangani perjanjian, masih belum keluar dari keterkejutannya, dia sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
Saat bermain golf dengan tetangga lain, dia mendengar mereka bercerita tentang tetangga di seberang rumahnya.
Mereka mengatakan bahwa orang itu bernama Efendi, merupakan orang yang kejam dan berkuasa di Solo.
Oleh karena itu, mereka menyarankan agar keluarga Chandra tidak menyinggung orang tersebut, kalau bisa harus menghindar saat bertemu dengannya agar meminimalisir perkelahian.
Julio penakut, dia paling takut membuat masalah, jadi dia mendengarkan saran tetangganya untuk tidak pernah mengambil inisiatif menyapa tetangga di seberang rumahnya.
Sekarang, Stefanie malah masuk ke rumah orang tersebut.
Julio juga penasaran seperti anaknya, kalau bisa, dia ingin sekali mengetuk pintu rumah di seberangnya bersama Andy sekarang.
"Aku ... aku dengar ..." Lili akhirnya berhenti menangis. Dia merasa ini adalah kesempatan untuk menebus kesalahan, jadi dia mengatakan apa yang diketahuinya.
__ADS_1
"Tuan rumah seberang adalah seorang wanita kaya. Dia membeli rumah itu untuk pacarnya. Tapi dia jarang datang ke sini, jadi apakah pria itu mengambil uang wanita kaya itu dan mencari Stefanie untuk ..."
"Ckck!" Mendengar ini, Andy tertawa terbahak-bahak, "Lili, aku sangat menyarankan kamu untuk mengganti jurusan! Dengan kemampuan menghayalmu, kamu bisa menulis novel bertema perselingkuhan!"
Lili dengan marah berkata, "Bagaimana kamu tahu kalau yang digosipkan orang-orang itu tidak benar?"
"Baru saja kamu memfitnahnya adalah wanita simpanan, apakah masih belum cukup? Dia sangat akrab dengan Jenny, jangankan 600 juta, 6 miliar pun Jenny mampu mengeluarkannya!"
"Mampu mengeluarkan belum tentu mau meminjamkannya, Jenny pasti berpikir kalau Stefanie belum tentu mampu membayar uang yang dipinjamkannya."
Jessica masih belum membuat perhitungan dengan Lili, beraninya dia ribut-ribut dengan cucunya sekarang. Wajah Jessica berubah menjadi muram, lalu berkata dengan tegas, “Lili, Andy belum berusia 18 tahun, buat apa kamu membicarakan hal seperti itu dengan seorang anak remaja? Kamu juga masih gadis, apakah kamu tidak tahu menjaga harga diri sendiri?”
"..." Lili menundukkan kepalanya, dia telihat takut, tetapi sebenarnya hati dia sangat tidak puas.
Apalagi, kata "wanita simpanan" tadi bukan dia yang duluan mengatakannya.
Hanya mengoreksi kesalahan, Jessica duduk di sofa, menatap dingin ke arah Lili yang mulai menyeka air matanya lagi, lalu berkata dengan nada menghina, "Kamu menyebabkan perusahaan Cakrawala gagal mendapatkan dana investasi, keluarga kalian pasti tidak mampu membayar ganti rugi, makanya aku juga tidak ingin mempersulit keluarga kalian."
"Keluarga kalian" mengacu pada keluarga orang tua Lili dan Vivian. Mereka berdua sangat paham dengan maksud perkataan Jessica.
Wajah Vivian merubah menjadi masam, dan apa yang dia khawatirkan mungkin akan terjadi.
Jessica, "Vivian, jangan beri tahu dia dulu tentang masalah kakakmu."
"Baik ... maafkan aku Bu, ini semua salahku, aku tidak mengajari Lili dengan baik ..." Vivian merasa sedih dan marah, tapi tetap berpura-pura rendah hati dan terus meminta maaf.
“Masalah ini bukan salahmu.” Jessica membedakan dengan sangat jelas, “Anakmu hanya Andy seorang, dia adalah satu-satunya orang yang perlu kamu ajari. Masalah anak orang lain ... tidak ada hubungannya denganmu.”
Tidak ada satu kata kotor pun dalam kata-katanya, tapi hati Lili sakit bagaikan tertusuk jarum.
Air mata penghinaan dan ketidakberdayaan pun berlinangan, Lili ingin terlihat kuat, dia menahan air matanya, tapi usahanya sia-sia seperti ketika dia berada di keluarga Chandra, tidak peduli seberapa keras dia mencoba menyanjung dan menyenangkan Jessica, dia tetap orang asing.
Jika masalah ini terjadi pada Andy hari ini, maka Jessica pasti tidak akan menyalahkannya sedikit pun!
"Tapi," Jessica berkata lagi, "Kamu tidak boleh memanjakannya lagi. Dia sudah berusia 20 tahun, dia mungkin akan menikah dalam dua tahun lagi, meskipun bukan dua tahun, empat tahun, atau pun enam tahun, yang pastinya dia akan menikah suatu hari nanti, tidak mungkin tinggal di rumah kita selamanya. Setelah menikah nanti, bagaimana kalau dia tidak bisa mengurus rumah tangga, dan hanya tahu menikmati hidup saja?”
Memahami apa maksud Jessica, Vivian melirik Lili yang sedang menangis dengan tak berdaya, mengikuti maksud ibu mertuanya, Vivian mengatakan apa yang ingin Jessica katakan, "Mulai hari ini, aku tidak akan memberi Lili biaya hidup lagi, biar dia bisa hidup mandiri. Kamar juga tidak akan disediain secara gratis, biarkan dia membantu Jimmy dan bibi pelayan untuk melakukan pekerjaan rumah saat dia tidak ada kelas."
Jessica mengangguk dengan puas, lalu menundukkan kepalanya untuk melihat pergelangan kaki Andy, tapi maksud kata-katanya tertuju pada Lili, "Andy, kamu terluka parah, kamu harus beristirahat baik-baik."
Lili terdiam, tidak berani menangis lagi.
Melihat Lili menahan diri dengan susah payah, Vivian merasa kasihan lalu membawanya ke kamar mandi di lantai atas.
Setelah Lili pergi, ruang tamu di lantai pertama menjadi tenang, tetapi hati Julio masih gelisah memikirkan Stefanie .
__ADS_1
Apa hubungan Stefanie dengan tetangga di seberang jalan???