Pacarku Seorang Paparazzi

Pacarku Seorang Paparazzi
Bab 3


__ADS_3

Stefanie secara refleks menundukkan kembali dan menatap dadanya, benar-benar terasa canggung ...


Hari ini dia memakai kemeja putih, setelah dibasahi air hujan, bajunya menjadi transparan dan melekat dengan kulitnya. Dengan kata lain, saat ini dia terlihat berjalan di tengah jalan dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja, dan kebetulan bertemu dengan seorang pria ...


Stefanie berpura-pura tenang, lalu mengambil tas untuk menutupi dadanya, “Terima kasih telah memberitahuku.”


Selesai berkata, Stefanie berputar untuk menghindari pria tersebut lalu terus berjalan ke depan.


Namun, pria tersebut tidak pergi begitu saja, dia menoleh untuk melirik Stefanie hingga sosoknya menghilang di tengah hujan, lalu tersenyum dengan penuh makna tersirat.


_____


Pukul 20.00 WIB, Stefanie tiba di kampus.


Baru saja memasuki pintu asrama, Villia tiba-tiba meneleponnya.


Villia mengatakan bahwa kerabat di kampung membantu dia mencarikan seorang dokter ahli pengobatan tradional, dengan makan obat selama beberapa bulan, penyakitnya bisa disembuhkan, jadi dia meminta Diana, bibinya Stefanie untuk menemani dia tinggal di kampung selama beberapa waktu.


Stefanie masih belum sempat mengganti bajunya yang basah, “Tidak boleh, kata dokter penyakitmu ini harus dioperasi!”


Stefanie tidak memiliki prasangka terhadap pengobatan tradisional, tapi dia tidak boleh menggunakan nyawa ibunya sebagai bahan uji coba.


“Ibu tidak perlu khawatir dengan masalah biaya operasi, aku mampu mencari uang untuk membayarnya. Selesai operasi, Ibu bisa menerima pengobatan tradisonal.”


“Tapi dari mana kamu mencari begitu banyak uang?” tanya Villia.


“Untuk masalah  uang, Ibu tidak perlu khawatir, Ibu hanya perlu beristirahat saja, Bajuku basah karena hujan, aku harus ganti baju dulu, sudah dulu, ya.”


“Iya, cepat ganti baju, ingat minum obat masuk angin setelah mandi, Stefanie, jangan terlalu dipaksakan, Ibu tidak ingin menjadi beban hidupmu.”


Stefanie merasa terharu dengan perkataan ibunya, jadi dia segera menutup telepon begitu ibunya selesai berkata.


Stefanie berdiri di depan pintu kamar mandi, tenggorokan terasa sakit bagaikan tertusuk duri.


Di kehidupan lalu, beban ini mampu dia lalui, di kehidupan ini, dia yakin dirinya pasti mampu menyembuhkan penyakit ibunya!


Sepuluh menit berlalu, Stefanie yang selesai mengganti baju keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di kepalanya.


Tiga orang teman sekamarnya sudah kembali dari kamar lain, July merasa aneh melihat Stefanie yang sudah selesai mandi tapi masih memakai baju bepergian, “Kamu masih ingin keluar?”


Stefanie melirik jam dinding, “Iya.”


“Pergi menjenguk bibi di rumah sakit?”


“Bukan.” Stefanie hanya mengeringkan rambut basah dengan handuk, dia tidak sempat menggunakan hair dryer,  dan segera memakai topi.


Lidya, “Pergi ke mana? Kok buru-buru sekali? Rambutmu masih belum dikeringkan.”


“Cari uang,” jawab Stefanie.


"...”


Melihat Stefanie keluar, ketiga teman sekamarnya saling bertatapan dan tertegun sesaat.


Meicy tiba-tiba menutup mulut dengan tangannya dengan ekspresi tidak percaya, “Cari uang di tengah malam begini, mandi lagi, jangan-jangan Stefanie, dia ....”


Lidya juga terkejut, “Apakah dia benar-benar begitu terdesak ....”


Terbawa oleh kata-kata Meicy dan Lidya, July juga merasa Stefanie mirip sedang menjual diri, “Tidak boleh, aku tidak boleh membiarkan Stefanie masuk ke jalan yang sesat!”


Akhirnya, ketiganya segera menggalang dana di asrama demi menyelamatkan Stefanie.


_____


Stefanie masih tidak tahu ketiga temannya sedang menggalang dana untuk menyelamatkannya, dia mengandalkan ingatan di kehidupan lalu, dan pergi mencari Jenny.


Di kehidupan lalu, Stefanie menggunakan seluruh tenaga dan waktunya di dunia hiburan, dia mengetahui dengan jelas kejadian setiap hari di dunia hiburan. Karena dirinya memiliki kelebihan ini, maka dia ingin menggunakannya untuk memberikan pencerahan pada artis-artis dan memperoleh keuntungan darinya, daripada menyinggung mereka.

__ADS_1


Stefanie tidak mengkonsumsi apa pun dan menunggu di toko kue di depan perumahan tempat tinggal Jenny selama setengah jam, dan di saat toko kue akan tutup, sebuah mobil  Nanny Van melaju perlahan dan berhenti di seberang jalan.


Jenny yang memakai masker turun dari mobil, lalu berjalan ke pintu depan mobil dan berpesan pada asistennya, “Irfan, besok sore baru menjemputku, aku ingin tidur sepuasnya pagi besok, akhir-akhir ini sangat melelahkan.”


Irfan mengangguk, “Baik, aku sudah tahu, beristirahatlah.”


Jenny melambaikan tangan lalu berbalik dan ingin masuk ke perumahan, tapi tiba-tiba dihalang oleh Stefanie yang bergegas keluar dari toko kue.


Jenny sangat terkejut, Irfan yang berada di mobil juga sangat panik, dan segera meloncat turun dari mobil.


“Apa yang kamu inginkan? Kamu penggemar atau reporter?” tanya Irfan.


Stefanie menggelengkan kepala, “Bukan dua-duanya.”


“Jadi siapa kamu? Irfan melindungi Jenny dari depan, Jennny menjulurkan kepala dan melirik gadis misterius yang menghalangi jalannya.


Stefanie ragu-ragu, bagaimana dia memperkenalkan diri sendiri?


Cenayang yang bisa memprediksi atau peramal?


Terserah, tidak peduli yang mana, dirinya pasti dianggap penipu oleh mereka.


“Kamu tidak perlu tahu siapa aku, kamu hanya perlu tahu kalau aku datang untuk membantumu.” Stefanie berkata dengan tenang, suaranya terdengar sangat jernih.


“...”


Jenny dan Irfan saling menatap, mereke berdua sedikit kebingungan.


“Jenny, apakah kamu berencana akan menandatangai kontrak dengan Meji Entertainment setelah kontrak dengan TY Entertainment berakhir?” tanya Stefanie.


Keduanya terkejut begitu mendengar perkataan Stefanie.


“Bagaimana kamu bisa tahu?” Jenny keheranan.


“Tentu saja aku tahu, kalau tidak, bagaimana bisa aku membantumu?” jawab Stefanie.


Irfan adalah asisten yang direkrut langsung oleh Jenny, Jenny yang membagikan gaji kepadanya setiap bulan, dan tidak ada kaitan sama sekali dengan TY Entertainment, tidak hanya itu, Meji Entertainment ingin merekrut Jenny juga melalui Irfan, jadi pihak TY Entertaiment tidak mengetahui hal ini. Jadi, Jenny merasa Stefanie adalah mata-mata dari pihak TY Entertaiment, mereka ingin mengetahui masalah kerja sama dirinya dengan Meji Entertainment.


“Oh, benar?” Stefanie mengangkat sudut alis kanannya dan tersenyum, “Apakah hatimu tidak tergerak oleh janji dari Meji Entertainment untuk menjadikanmu sebagai anggota tetap dari salah satu acara hiburan perusahaan mereka?”


“...”


Irfan sangat terkejut, menoleh menatap Jenny dengan ekspresi tak menduga, ‘Hal ini pun diketahuinya?’


Irfan sudah lama menjadi asisten, sebelum menjadi asisten Jenny, dia pernah menjadi asisten beberapa artis yang percaya takhayul, mereka mempercayai ramalan, jadi dia pernah mendengar banyak berita aneh, tentu saja juga ada tentang “prediksi”.


Ditambah dengan kecantikan Stefanie yang tidak kalah dengan Jenny, Irfan semakin merasa gadis di depannya ini adalah seorang peramal yang ahli di bidang prediksi.


“Bagaimana kalau kita mencari tempat lain untuk membicarakan hal ini?” saran Irfan.


“Tidak perlu buru-buru.” jawab Stefanie.


Setelah berhenti sejenak, Stefanie langsung berkata tanpa basa-basi, “Bantuanku dikenakan biaya, tidak gratis, jadi kalian boleh pikirkan dulu, apakah kalian akan menggunakan uang 400 juta untuk memperoleh karier dan masa depan yang stabil?”


“400 juta?!”


Jenny menatap Stefanie dengan tatapan jijik, “Siapa kamu sebenarnya?”


“Master prediksi, khusus memprediksi masa depan para artis.” kata Stefanie dengan yakin.


Di depan perumahan Golden Villa ada sebuah mall, di tengahnya ada sebuah layar LED besar, kebetulan sekarang iklan yang ditampilkan telah berakhir dan menunjukkan tanggal dan waktu saat ini.


Tanggal 12 September, pukul 21.30 WIB.


Gerbang kampus ditutup pukul 22.00 WIB, berarti Stefanie hanya memiliki waktu setengah jam, dan untuk pulang ke kampus juga memerlukan waktu setengah jam ...


Stefanie terpaksa mempercepat kecepatan bicaranya, “Jenny, aku tahu kamu tidak akan begitu mudah mempercayaiku, jadi aku akan membocorkan kejadian pertama yang akan terjadi setelah kamu bekerja sama dengan Meji Entertainment, kamu akan kecelakaan di saat syuting reality show di luar kota, lalu kamu tidak bisa melanjutkan pekerjaanmu.”

__ADS_1


Jenny mengernyit, “Itu adalah kejadian di masa depan, bagaimana aku tahu kalau kamu menipuku atau tidak! Kalau mau dibuktikan maka harus menunggu sampai selesai menandatangani kontrak, kalau benar seperti yang kamu katakan, aku akan sangat kesulitan untuk membatalkan kontrak.”


“Kamu boleh memastikannya di Meji Entertainment, episode pertama reality show mereka adalah syuting di resor ski. Kalau sudah dipastikan, kamu boleh meneleponku.”  Stefanie mengeluarkan kertas kecil bertuliskan nomor telepon yang telah dipersiapkannya, lalu memberikannya pada Jenny.


Jenny tetap ragu-ragu, jadi dia membiarkan Irfan yang mengambil kertas tersebut dari tangan Stefanie.


Irfan membuka kertas kecil tersebut, tulisan di atas kertas sangat rapi, isinya hanya nomor telepon dan nama Stefanie saja.


“Paling lambat menghubungiku jam enam malam besok.”


_____


Stefanie bergegas pulang ke kampus sebelum jam sepuluh malam. Di saat ini, ketiga teman sekamarnya baru saja selesai menggalang dana dan menghitung jumlah dana yang mereka peroleh.


Lumayan banyak anak orang kaya di kampus, hanya satu malam, mereka berhasil mengumpulkan dana sebanyak empat puluhan juta.


Stefanie langsung terkejut begitu masuk ke kamar, di atas mejanya penuh dengan uang, “Ada kegiatan apa ini?”


“Iya, kami barusan menggalang dana ...” Lidya berhenti berkata, dia takut melukai harga diri Stefanie, akhirnya dia memberikan isyarat pada July yang berada di sampingnya.


July sudah terbiasa berbicara lugas, jadi meskipun dia mengatakan kata-kata yang membuat mereka merasa tidak senang, juga tidak ada orang yang akan mempermasalahkannya, apalagi hubungan July dan Stefanie yang paling dekat.


July menerima isyarat, “Oh ya, Stefanie, kami tidak ingin kamu bekerja terlalu keras, jadi kami membantumu menggalang dana untuk membantu biaya operasi bibi!”


Meicy menambahkan, “Benar, kamu masih gadis, ada pekerjaan yang ... pokoknya kami berharap kamu jangan bekerja terlalu keras! Kami pasti membantumu melewati kesulitan ini!”


Di kehidupan lalu Stefanie hanya ada dua cercah cahaya, cahaya pertama adalah ibunya, dan yang satu lagi adalah tiga teman sekamarnya. Meskipun akhirnya dia pindah keluar demi pekerjaan, hubungan mereka berempat tetap sangat baik, hingga satu minggu sebelum dia dibunuh, Lidya masih meminta dia untuk menjadi pengiring pengantin perempuan.


Stefanie merasakan kehangatan ini dan akhirnya tersenyum, “Terima kasih banyak!”


Senyum ini adalah senyuman paling ceria yang Stefanie tunjukkan setelah ibunya masuk rumah sakit.


July ikut tersenyum, “Iya, kamu harus banyak tersenyum, Stefanie kita paling cantik saat tersenyum!”


“Benar, lomba Senyuman Angel di semester pertama, foto Stefanie mendapat peringkat pertama, bukan?” kata Lidya.


“Hampir saja membuat Jerika yang selama ini primadona kampus marah besar! Jujur saja, wajah lancip Jerika terlihat tidak alami sama sekaii!” Meicy menambahkan.


Mereka membicarakan Stefanie hingga Jerika, topik pembicaraan pun dimulai, mereka berempat naik ke ranjang masing-masing, lalu meminjam sedikit cahaya yang masuk dari celah tirai, mengobrol hingga jam satu malam.


Keesokan harinya kebetulan adalah akhir pekan, mereka beempat tidur hingga jam sepuluh pagi. Jika bukan karena Lidya dan Meicy janjian untuk menghias kuku, kemungkinan besar mereka tidak akan keluar kamar seharian.


“Hai, Sayang, jawab telepon dong! Hai, Sayang, jawab telepon dong!”


Semua nada dering ponsel July adalah suara penyanyi muda terkenal, Simon, tapi Simon sebenarnya tidak mengeluarkan album nada dering, suara nada dering ponsel July adalah hasil potongan suara yang dibuat sendiri, makanya suaranya terdengar agak aneh.


Namun, July merasa nada dering itu merdu.


Stefanie keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi, melihat July sedang menatap layar ponsel dengan wajah masam, Stefanie teringat dalam satu tahun ini, July terus diganggu oleh seorang pemuda kaya yang menyukainya.


“Kalau kamu tidak ingin mengangkat panggilan itu, biar aku yang membantumu.”


“Terima kasih, Stefanie!” kata July dengan penuh syukur. July memberikan ponsel lalu berkata, “Tolong bilang kalau aku lupa membawa ponsel!”


Stefanie memberikan isyarat “ok” lalu menjawab telepon, “Halo, aku teman sekamar July, dia sedang keluar dan lupa membawa ponsel.”


“Oh, aku juga tidak tahu dia pergi ke mana.”


“Baik, coba kamu telepon lagi pada malam hari.”


Setelah menyelesaikan panggilan, Stefanie mengembalikan ponsel ke tangan July.


“Stefanie, hari ini kamu ada waktu? Aku traktir kamu nonton film yang diperankan oleh Simon, bagaimana?” July ingin berterima kasih.


“Bukannya kamu sudah nonton dua kali?” tanya Stefanie.


“Sekarang lagi ngetrend nonton sampai tiga kali!” jawab July.

__ADS_1


Stefanie tertawa dengan paksa, “Terima kasih, tapi aku lagi ada urusan di luar.”


Dia akan pergi ke Bintang Cipta Entertainment untuk menebus kesalahan ...


__ADS_2