
Perumahan Villa Garden berada di sebelah barat kota Solo, lingkungan di sana sangat indah, saat membuka pintu kadang bisa menemukan seeokar angsa yang tersesat. Hanya saja daerah sana jauh dari pusat kota, tapi orang yang menetap di sana juga tidak keberatan dengan biaya bensin yang tidak seberapa itu, cuma dengan jarak sejauh ini benar-benar membuat Stefanie kesusahan karena harus berganti bus sebanyak tiga kali, tidak hanya itu, matahari terik telah membuat wajah putihnya menjadi kemerah-merahan dan bercucuran keringat.
“Halo, aku Stefanie, putri Bapak Julio dari mantan istirnya, aku sudah janjian sebelumnya.”
Dibatasi oleh pagar besi, Stefanie melapor dengan terengah-engah pada kepala pelayan rumah.
Kepala pelayan mengangguk, lalu tersenyum dan membuka pintu, “Tuan Julio sudah menunggu Nona di ruang tamu, hati-hati langkah kaki Nona.”
“Baik, terima kasih,” Stefanie menundukkan kepala dan memperhatikan ambang pintu di bawah kakinya, lalu masuk ke halaman rumah.
Ini adalah kedua kalinya dia datang ke kediaman Julio, pertama kali dia datang kemari saat baru masuk kuliah, saat itu neneknya sakit parah, ibunya mengira Jessica akan segera meninggal jadi dia melepas semua dendam dan membawa Stefanie berjumpa dengan neneknya untuk terakhir kali. Tapi mungkin kedatangan Villia membuat Jessica merasakan tekanan besar, dua hari kemudian, Jessica kembali sehat dan penuh energik.
Stefanie mengikuti kepala pelayan melewati halaman rumah yang dipenuhi oleh harum semerbak bunga, dan akhirnya dia berjumpa dengan ayahnya yang sudah dua tahun tidak pernah dia temui... dan juga ibu tiri serta neneknya.
Tatapan ketiga orang itu sama, mereka melirik penampilan Stefanie yang terlihat sederhana, tapi raut wajah ketiganya berbeda.
Mata Julio berkedip, terlihat merasa bersalah.
Sudut mulut Vivian terangkat, terlihat memandang rendah.
Raut wajah Jessica tidak berubah, terlihat kejam dan tak berperasaan.
Wajah Stefanie mirip dengan ibunya, terlebih-lebih kedua matanya, di saat tidak berbicara dia terlihat patuh, dan di saat berbicara dia terlihat nakal dan keras kepala.
Jessica dan Villia tinggal bersama selama bertahun-tahun, jumlah pertengkaran mereka tak terhitungkan, jadi begitu Jessica melihat Stefanie, muncul amarah di hatinya.
“Katakan saja, kenapa tiba-tiba datang mencari kami?” Jessica mendengus dan sengaja mendorong cangkir di atas meja hingga bersuara.
Teh di dalam cangkir hampir saja tumpah, Stefanie yang melihatnya pun terkejut.
Stefanie tahu bahwa nenek tidak menyukainya, tapi selain meminjam uang dari mereka, dia tidak memiliki cara lain.Tidak masalah kehilangan harga diri, Stefanie tidak ingin menjadi paparazzi dan kehilangan nyawa lagi.
Setelah menenangkan hati, Stefanie berkata, “Aku ingin meminjam uang 400 juta pada ayahku.”
“...”
“Pinjam uang adalah kata yang selalu membuat orang lain merasa sensitif, tidak peduli siapa yang mengungkit dua kata ini, suasana di sekitar pasti akan terasa aneh.
“400 juta?” Julio akhirnya bereaksi, lalu bertanya dengan penuh perhatian, “Kamu masih belum tamat kuliah, untuk apa meminjam uang sebanyak itu?”
Melihat perhatian ayahnya, Stefanie menjawab, “Ibuku masuk rumah sakit, biaya operasinya masih kurang 400 juta. Kamu ....”
__ADS_1
“Villia?” Jessica berseru dan menyela perkataan Stefanie, “Dia yang menyuruhmu datang kemari? Dia sudah lama bercerai dengan anakku, sekarang dia sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga kami, masalah dia tidak ada hubungannya dengan kami!”
Langit di luar vila tiba-tiba menjadi mendung dan angin bertiup kencang, sepertinya akan segera turun hujan.
_____
Di seberang kediaman Julio.
Pagar listrik terbuka secara otomotis, seorang pria dengan pakaian untuk bersepeda berjalan keluar sambil mendorong trek madone, pakaian itu dibuat secara pribadi, ukurannya sangat pas dengan tubuhnya, sehingga mengekspos tubuhnya yang sangat ideal.
“Nicholas! Akan segera turun hujan, jangan keluar bersepeda, ya?” Pria berwajah bulat mengejar Nicholas dari belakang dan menarik gagang sepedanya, “Kamu ini benar-benar ya, ada waktu bersepeda tapi tidak ada waktu untuk mengadakan konferensi pers!”
“Tolong kasihanilah aku, ikutilah peraturan perusahaan untuk mengadakan konferensi pers, ya??”
Pria berjawah bulat itu bernama Denny, dia adalah teman SMA Nicholas, yang saat ini merangkap sebagai agensi dan asisten Nicholas.
Nicholas tidak ingin menjawab, dia berpura-pura tidak mendengar dan terus berjalan ke depan.
Denny tergesa-gesa dan berusaha melepas helm Nicholas, “Aku menyuruhmu mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan kalau kamu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan pacar Erick, dengar tidak?”
Beberapa hari lalu, Erick ingin putus dengan pacarnya, pacarnya sedih dan mengonsumsi nark*ba, emosinya menjadi tak terkendali lalu pergi mencari Erick, keduanya pun bertengkar tidak jauh dari kediaman Erick.
Hari itu Nicholas janjian main game bersama Erick dan berjumpa keduanya yang sedang bertengkar, Nicholas melerai pertengkaran mereka dan menyuruh Erick untuk pergi dulu. Tidak disangka ada paparazzi yang memotret mereka berdua saling berpelukan setelah Erick pergi. Kemudian, di hari itu juga FC Studio mengunggah foto-foto tersebut ke internet, dan menulis judul bahwa Nicholas merampas pacar Erick dan bahkan berciuman di jalanan.
Anti-fans Nicholas pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerangnya di internet.
Nicholas terpaksa melepas helm dan memakainya ulang karena telah miring ditarik Denny.
Nicholas dinilai oleh media sebagai pria yang memiliki wajah paling sempurna di Asia, bentuk wajahnya bagaikan karya ukir, begitu indah dan sempurna, terutama sepasang matanya, begitu elegan dan menawan.
“Apakah orang lain akan percaya kalau aku sendiri yang mengklarifikasinya?”
Nicholas mengenakan helm dan kacamatanya lagi, lalu naik ke atas sepeda kesayangannya, “Sudah, begitu saja deh.”
Denny tidak setuju, “Tidak boleh! Kalau masalah ini tidak diklarifikasi, kariermu akan hancur! Kalau kamu takut orang lain tidak percaya dengan perkataanmu, aku akan meminta Erick untuk mengklarifikasikannya untukmu! Masalah ini terjadi gara-gara dia, kurasa dia sama sekali tidak menganggap kamu sebagai sahabatnya. Sudah lewat beberapa hari, dia tidak muncul dan tidak meneleponmu ....” Denny mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Nicholas terpaksa menghentikan Denny untuk membuat panggilan, “Dia lebih membutuhkan pekerjaan ini daripada aku, jangan memaksanya.”
“Tapi ...”
Tidak menunggu Denny melanjutkan kata-katanya, Nicholas langsung mendayung sepeda dan melaju bagaikan anak panah, melarikan diri dari omelan Denny.
__ADS_1
Di tahun ini, Nicholas berusia 24 tahun, dia adalah artis papan atas yang memiliki banyak penggemar dan anti-fans, memperoleh penghargaan artis terpoluler selama tiga tahun berturut-turut.
Tapi di tahun ini, karierrnya mulai menurun. Meskipun begitu, dia tetap senang karena dia memang tidak berniat masuk ke dunia hiburan, dia masuk ke dunia hiburan hanya untuk membalas budi ayah angkatnya.
Memperoleh 1,2 triliun dalam tiga tahun, dan membawa Bintang Cipta Entertainment menjadi perusahaan hiburan paling berkelas di dalam negeri. Nicholas merasa dia telah membalas budi ayah angkatnya.
_____
Di akhir musim kemarau di kota Solo, langit selalu cerah di pagi hari, dan malam hari selalu turun hujan.
Gerimis hujan yang hangat di musim kemarau turun dari langit, dan membasahi pepohonan perumahan Villa Garden.
Pintu kediaman Julio terbuka, Stefanie keluar dari pintu gerbang dengan ditemani oleh kepala pelayan.
Stefanie yang bertubuh kurus berjalan keluar dengan menundukkan kepala dan terlihat tak berdaya.
“Nona Stefanie, ini payung untukmu.” Kepala pelayan memberikan sebuah payung berwarna hitam.
Stefanie mendongak, dan sedikit tersenyum, “Terima kasih, tapi tidak perlu.”
Payung ini adalah milik keluarga Chandra, Jessica berkata bahwa kalau Stefanie ingin meminjam sesuatu dari mereka, maka dia harus mengubah namanya dengan mengikuti nama keluarga.
Kepala pelayan sangat perhatian, “Tapi di luar hujan.”
Stefanie tetap tersenyum, tapi tidak menjawab, lalu berjalan keluar dengan langkah besar di tengah hujan.
Hujan semakin deras, dia bersikeras untuk tidak memakai payung, dan membiarkan rintik air hujan mengalir melewati bulu mata dan masuk ke matanya.
‘Dia yang menyuruhmu datang kemari? Dia sudah lama bercerai dengan anakku, sekarang dia sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga kami, masalah dia tidak ada hubungannya dengan kami!’
‘Ibumu menghalangi keberuntungan anakku, kami tidak memiliki alasan untuk membantunya!’
‘Begitu juga denganmu, kalau tidak mengikuti nama keluarga, jangan datang ke sini lagi!’
Kata-kata Jessica diikuti suara hujan terus muncul di benaknya, matanya memerah, wajahnya dibasahi oleh air mata, tapi di tengah hujan ini, air mata dan air hujan telah bercampur aduk menjadi satu.
Di kehidupan lalu, dia merasa beruntung karena tidak datang mencari ayahnya, kalau tidak, dia bukan hanya tidak berhasil meminjam uang, tetapi dia juga akan dipermalukan. Kalau begitu lebih baik dia tetap bekerja sama dengan FC Studio dan kembali menjadi paparazzi.
“Huh!” Di tengah hujan, seorang pria yang bersepeda berhenti di depan Stefanie, pria tersebut memakai baju olahraga, wajahnya tidak kelihatan, yang terlihat hanya kedua kakinya yang ramping.
Stefanie mundur selangkah, lalu bertanya dengan suara serak, “Apa yang kamu inginkan? Apakah kamu ingin merampok seorang gadis malang yang dibuang oleh ayah dan neneknya yang kaya?”
__ADS_1
Pria itu tertawa dan menggelengkan kepala, lalu menunjuk ke arah dada Stefanie.
Dada seorang gadis yang montok, ditambah dengan renda pakaian dalam berwarna pink, benar-benar menggoda.