Pacarku Seorang Paparazzi

Pacarku Seorang Paparazzi
Bab 5


__ADS_3

 Stefanie bersembunyi di toilet wanita. Mendengar suara langkah kaki di luar semakin dekat, dia diam-diam membuka sedikit celah pintu toilet. Setelah memastikan orang di luar pintu adalah Nicholas, dia segera membuka pintu lalu menarik Nicholas masuk ke toilet wanita dengan menggunakan seluruh tenaganya.


 “Kamu ....” Nicholas secara refleks bertanya, tapi baru saja membuka mulut, Stefanie langsung membekap mulut Nicholas dengan tangan kecilnya.


Stefanie mengernyit, wajah kecilnya terlihat panik, perhatiannya tertuju pada suara langkah kaki seseorang di luar toilet, jadi dia tidak menyadari dirinya yang hanya 165 cm sedang membekap seorang pria yang memiliki tinggi 187 cm, selain itu tubuh keduanya juga saling berdekatan.


Di luar pintu, Gunawan yang membuntuti Nicholas mendorong pintu toilet pria, tapi tidak ada siapapun di dalam.


Dia tidak tinggal diam, lalu mendobrak pintu di dalam toilet satu per satu, tapi tetap tidak menemukan Nicholas.


Di saat Gunawan merasa bahwa Nicholas mengetahui kalau dirinya telah dibuntuti, lalu akan keluar dari toilet pria dan mencari di toilet wanita, Denny yang takut Nicholas dan Alex akan bertengkar diam-diam kembali ke lantai atas.


Dia merangkak di pintu ruang istirahat untuk mendengar percakapan di dalam ruangan, tapi dia tidak mendengar suara sedikit pun.


 “Sudah pergi? Tapi Nicholas tidak turun ke bawah kok.” Denny bergumam sendiri, lalu berbalik dan mencari di toilet, “Nicholas, di mana kamu?”


“...”


Mendengar suara panggilan Denny, Gunawan yang tangannya baru memegang gagang pintu toilet wanita segera menarik kembali tangannya dan segera berlari menuju ke arah pintu darurat.


Denny sontak terkejut, lalu tertegun sebentar dan kembali sadar.


“Berhenti!”


“Sialan! Kamu pasti paparazzi yang memfitnah Nicholas, bukan?”


“Satpam! Segera tangkap dia!”


Suara teriakan Denny terdengar di seisi lantai atas, Alex yang berada di ruang istirahat juga terkejut, dia membuka pintu dan melihat keluar, tidak ada seorang pun di koridor, kemudian dia berhenti sejenak dan turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift.


Sekarang yang berada di lantai atas hanya tersisa Stefanie dan Nicholas. Tubuh Stefanie yang tegang akhirnya kembali kendur, dia lalu menghela napas lega, napas yang dia keluarkan kebetulan terhembus di leher Nicholas.


Nicholas secara refleks menelan air ludah, kemudian menghembuskan napas ke tangan kecil Stefanie.


Telapak tangan Stefanie terasa gatal, dia kembali sadar dan segera melepas tangan yang menutupi mulut Nicholas. Pada saat yang sama, dia akhirnya menyadari tubuhnya menempel di tubuh Nicholas, dia tersipu dan segera mundur selangkah.


Muncul ketidakpuasan pada matanya, Nicholas memeluk pinggang Stefanie lalu membalikkan tubuh dan menarik Stefanie ke posisi dia sebelumnya.


“Kenapa? Apa karena hari itu aku melihat pakaian dalam rendamu yang berwarna pink, jadi hari ini kamu datang untuk membalasku?” Nicholas sengaja berbisik di samping telinga Stefanie agar udara hangat yang dikeluarkan dari mulutnya bisa menghembus tepat di daun telinga Stefanie.


Telinga Stefanie lebih sensitif daripada telapak tangan. Dia yang berusia 21 tahun masih belum pernah digoda oleh pria dengan cara seperti ini, bahkan di kehidupan lalu saat dirinya berusia 26 tahun, dia juga sedikit pun tidak berpengalaman.


“Um, kamu salah paham ....” Stefanie yang ingin melepaskan diri di antara dinding dan Nicholas tiba-tiba terkejut.


Pakaian dalam renda warna pink? Stefanie mendongak, menatap wajah Nicholas yang sedang tersenyum, “Kamu ... pria yang bersepeda tadi malam?”


“Jadi maksudmu ... hanya aku yang pernah melihat renda pakaian dalammu?”


Perkataan Nicholas membuat Stefanie tersipu malu.


“Nicholas, lepaskan dulu, aku datang kemari ....” perkataan Stefanie dihentikan oleh suara pintu toilet.


“Krek ....”

__ADS_1


Denny terengah-engah bagaikan sedang menangkap istri yang sedang berselingkuh, dan bergegas masuk dari luar.


Melihat tubuh keduanya saling menempel tanpa rasa malu, tekanan darahnya melonjak, urat biru di lehernya pun membesar, “Nicholas! Apa yang kamu lakukan di sini? Beraninya kamu menempel begitu dekat dengan seorang wanita!”


Denny segera memisahkan keduanya, “Apakah kamu tidak tahu kalau barusan ada paparazzi yang menyelinap masuk ke perusahaan? Huh! Siapa wanita ini? Jangan katakan kalau dia adalah komplotan paparazzi itu!”


Denny terlihat seperti memecahkan kasus besar, jari tangannya menunjuk di antara Nicholas dan Stefanie, “Aku tahu! Dia pasti komplotan paparazzi itu! Kali ini mereka ingin memfitnahmu lagi!”


Stefanie kebingungan.


Nicholas menatap Stefanie yang sedang kebingungan, lalu berkata dengan nada ingin membantu, “Kamu tidak mengerti? Apa perlu kubantu menjelaskan??


Tidak perlu!


Dengan wajah tersipu, Stefanie berpura-pura tenang dan mengeluarkan kertas kecil yang bertuliskan nomor ponselnya, lalu memberikan kepada Nicholas, “Ini nomor ponselku ....”


“Dia tidak mau!”


Denny bagaikan ibu yang sedang melarang anaknya pacaran, dia langsung mengambil kertas kecil Stefanie, lalu berkata dengan marah, “Katakan, apakah kamu satu komplotan dengan  paparazzi itu? Dia yang memotret Nicholas dan pacar Erick, bukan? Mbak kamu masih sangat muda, apakah kamu ingin aku membawamu ke kantor polisi?”


“Kamu takut, bukan? Kalau takut, ayo jujurlah!”


“Kalau kamu berkata jujur, aku bisa meminta pengacara untuk melepas ....” Nicholas sudah tidak tahan mendengar perkataan Denny, dan langsung menyela, “Alex saja tidak mau tahu, kurasa lebih baik tutup mulutmu.”


“Hah?” Mata Denny terbelalak karena tidak percaya, “Apa yang kamu bilang? Pak Direktur tidak mau tahu dengan urusanmu?”


Nicholas mengangguk, “Iya, kali ini dia membiarkan aku mati.”


“Aku tidak bercanda, kelak kamu harus ikut aku mengemis di jalanan.” kata Nicholas dengan raut wajah tulus.


“...”


Denny seperti mendapatkan tekanan besar, dia mundur dua langkah, dan akhirnya berhenti berkata.


Stefanie mendapatkan kesempatan untuk berbicara, dia mendongak untuk menatap Nicholas, lalu menyemangati, “Nicholas, tidak apa-apa, kalau Bintang Cipta tidak peduli padamu lagi, bukannya masih ada aku, aku akan menghalalkan segala macam cara untuk membawamu mencapai puncak kariermu!” ‘Untuk menembus kesalahanku ...’


Menghalalkan segala macam cara? Mencapai puncak karier?


Nicholas tidak memperhatikan rasa bersalah yang ada dalam tatapan Stefanie, dia mengingat kembali perkataan Stefanie, lalu tersenyum.


Denny benar-benar marah besar begitu mendengar perkataan Stefanie, “Komplotanmu sudah melarikan diri! Untuk apa kamu mengatakan kata-kata menggoda seperti ini! Pergi dari hadapanku sekarang juga!”


Denny tidak memberikan kesempatan pada Stefanie untuk menjelaskan bagaimana dia membawa Nicholas mencapai puncak karier. Dia mengangkat kerah belakang Stefanie lalu membawanya keluar dari toilet.


“Kalian dengarkan kata-kataku ....” Stefanie merasa dia tidak boleh sia-sia datang kemari, dia menjelaskan dengan dihalangi oleh pintu, tapi saat ini satpam telah naik ke lantai atas untuk memeriksa.


Agar tidak menimbulkan masalah besar, Stefanie terpaksa menyerah, lalu melarikan diri lewat pintu darurat di saat satpam tidak memperhatikan.


Namun, Stefanie tidak menyangka terdengar suara seorang pria di lorong tangga yang gelap itu.


“Berlagak sekali kamu sebagai anti-fans Nicholas!”


“...”

__ADS_1


Stefanie tercengang, dia menoleh untuk melihat orang yang berjalan keluar dari lorong tangga yang gelap itu.


“Kurasa cukup hanya protes di depan gerbang, tapi beraninya kamu menyelinap masuk ke perusahaan kami!”


Simon memegang rokok di tangan kanannya dan muncul di depan Stefanie dengan wajah galak.


Dalam kesan Stefanie, Simon adalah penyanyi muda yang terlihat baik dan patuh, mirip dengan anak teladan di sekolah, berprestasi dan menghormati guru, tapi tidak disangka ... penampilan dia lebih mirip siswa pembangkang!


Stefanie menjelaskan dengan perasaan canggung, “Kamu salah paham, aku bukan anti-fans Nicholas. Aku masuk ke sini karena membuntuti seorang pria yang mencurigakan, aku takut dia mencari masalah dengan Nicholas.”


Sebelum Simon diam-diam merokok di lorong tangga, dia memang mendengar berita ini dari bagian resepsionis.


Simon ragu-ragu dengan perkataan Stefanie, “Benarkah, kalau bukan anti-fans Nicholas, berarti kamu penggemar setianya?”


Stefanie malas menjelaskan dan hanya tersenyum untuk mengiakan.


Kemudian, sikap Simon tiba-tiba berubah, dia tersenyum dan berkata dengan penuh antusias, “Oh, orang sendiri, kalau begitu tidak apa-apa, kamu boleh pergi sekarang. Oh ya, jangan mengatakan pada media kalau aku merokok, ya!”


 Stefanie tertegun, dia sama sekali belum terbiasa dengan perubahan sikap Simon, “... Aku tahu.”


Di saat ingin berbalik, Stefanie teringat bahwa July adalah penggemar berat Simon, dia segera mengeluarkan buku catatan dan pena dari tas, “Simon, temanku sangat menyukaimu, bisa beri aku tanda tanganmu??”


_____


“Ahhhhh!!!”


July berteriak kuat hingga seluruh gedung mendengar suaranya, orang yang tidak tahu mungkin saja mengira bahwa dia melihat hantu.


Stefanie menutup telinga untuk melindungi gendang telinganya, lalu berkata, “Jangan berteriak lagi, kalau masih teriak, aku tidak akan memberikannya padamu!”


“Ah, Stefanie, kamu begitu cinta padaku, mana mungkin kamu tidak memberikannya? Jangan katakan tanda tangan Simon, bahkan kalau aku meminta malam pertamamu, kamu juga pasti akan memberikannya, bukan? Hahaha!” July mulai lupa diri dan berbicara sembarangan.


Stefanie tak berdaya, dia mendorong tubuh July yang akan segera menindihnya, lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi, “Sudah, jangan bercanda lagi, aku masih harus mengantar makam malam untuk ibuku.”


July meletakkan buku catatan yang ada tanda tangan Simon di bawah bantalnya, lalu mengikuti Stefanie masuk ke kamar mandi, “Aku ikut denganmu, kamu telah memberikan hadiah besar untukku, malam ini aku akan mentraktirmu dan bibi!”


“...”


Stefanie tidak menduga July akan ikut masuk ke kamar mandi, Stefanie terkejut saat ingin melepas bajunya yang sudah dibasahi keringat, lalu segera menutup dadanya.


“July, aku mau mandi! Kamu keluar dulu, ya”


July merasa tidak apa-apa, “Takut apa kamu, kita semua sama-sama cewek kok, emang ada yang beda?”


 Begitu menatap tubuh Stefanie, July tiba-tiba merasa sedih, “Oh, ternyata berbeda.”


Lekuk tubuh Stefanie sangat ideal, sedangkan tubuh dia ...


July menundukkan kepala lalu menatap dada sendiri, “Kalau aku berpelukan dengan Simon, dia pasti tidak merasakan apa-apa.”


“...”


Perkataan July membuat Stefanie teringat dengan kejadian di toilet siang tadi. Kalau begitu apa yang dirasakan Nicholas pada saat itu …

__ADS_1


__ADS_2