
Selesai bercanda, tatapan wakil kapten tertuju pada layar kamera pengawasan nomor tiga, “Sialan, sudah kuberitahu untuk jangan turun ke dek pribadi, Junardi benar-benar keterlaluan!”
Di layar pengawasan nomor tiga, Junardi membawa July menuju teleskop di dek pribadi sambil membicarakan sesuatu.
“Si tolol itu hanya mengenal bintang Sirius, masih berani pamer di sana?”
Nicholas menoleh, mengalihkan pandangannya dari layar pengawasan nomor satu ke layar pengawasan nomor tiga.
Pada saat ini Junardi sudah selesai membantu July menyetel teleskop. Dia memberikan posisinya kepada July, July mengarahkan pandangannya ke teleskop lalu mengangkat gelas sampanye di tangannya di samping teleskop.
Junardi memeriksa sekeliling, lalu dengan cepat mengambil sebutir obat dari saku celananya, dan memasukkan ke gelas sampanye July.
Adegan ini dilihat oleh wakil kapten, wajahnya sangat terkejut, “Bajingan, benar-benar bajingan!”
Dia lalu menoleh untuk menatap Nicholas dan bertanya, “Apa masih perlu menjaga harga dirinya, aku umumkan langsung lewat speaker?”
“Tunggu sebentar,” Nicholas ingin melihat pertunjukkan selanjutnya, dia menunjuk layar pengawasan nomor tiga lalu berkata, “Ada yang lebih cepat darimu.”
Di layar, Stefanie kebetulan turun ke dek pribadi dan melihat semua perbuatan Junardi.
_____
“July!” Stefanie berlari ke arah July, dan langsung merebut gelas sampanye di tangannya.
Karena bergoyang, sampanye tumpah ke baju Junardi.
Junardi marah, “Apa yang kamu lakukan?!”
July tercengang, dia tidak tahu Stefanie kenapa tiba-tiba marah, “Stefanie, ada apa?”
Stefanie melindungi July dari depan, dia menatap wajah Junardi yang terlihat tak bersalah dengan marah, “Dia mengambil kesempatan saat kamu melihat teleskop dan memasukkan obat ke gelasmu!”
Junardi mendengus lalu menyangkal, “Dia memfitnahku!”
“Aku tidak memfitnah dia, tunggu polisi datang dan membawa sampanye ini untuk diuji, semuanya akan jelas.”
__ADS_1
Melihat Stefanie mengeluarkan ponsel dan akan menelepon polisi, Junardi menjadi panik, dia segera merebut gelas sampanye dari tangan Stefanie dan melemparnya ke laut.
“Diuji? Hah! Benar-benar tidak tahu diri!” Junardi yang sudah membuang barang bukti menjadi arogan, dia mendorong Stefanie lalu menarik July ke arahnya, dan berkata dengan kurang ajar, “Ada harga yang harus dibayar atas uang pinjamanmu itu! Tidak memperbolehkan aku memegangmu, untuk apa aku meminjamkan uang padamu!”
Stefanie marah, “Kami tidak jadi pinjam!”
Stefanie segera menarik July dari tangan Junardi, tapi tidak berhasil karena kalah kuat. Lengan July yang putih pun memerah karena digenggam erat oleh Junardi.
July kesakitan, dan meronta dengan kuat, “Sakit! Lepaskan aku, Junardi!”
Stefanie, “Lepaskan! Kalau tidak, aku akan menelepon polisi, mengatakan kalau kamu ingin melakukan pemerkosaan!”
Kapal tiba-tiba berhenti, musik juga dimatikan, tamu di dek atas tiba-tiba mendengarkan suara pertengkaran. Mereka penasaran dan segera pergi melihat keramaian.
Orang yang ulang tahun hari ini adalah teman sepermaian Junardi, dia memastikan Tuan Muda Harly pasti akan memihak padanya.
Harly berdesakan di tengah kerumunan dan akhirnya tiba di barisan terdepan, lalu melirik penampilan Stefanie dan July, “Ada apa? Harganya tidak sesuai? Hari ini adalah ulang tahunku. Aku yang akan membayar kalian! Asalkan kalian melayani sahabatku dengan baik! Bagaimana?”
“Tuan Muda Harly benar-benar lapang dada! Kalian berdua, ayo cepat berterima kasih pada Tuan Muda Harly!” Stefanie tadi menyiram sampanye ke wajah pria bertopi, dia baru berhasil melepaskan diri darinya, sekarang pria bertopi tentu saja ikut mempermalukan Stefanie di depan umum untuk membalas dendam.
July barusan hampir saja dibius dengan obat, sekarang difitnah lagi di depan umum, dia sudah tidak bisa menahan diri dan akhirnya menangis.
Sedangkan Stefanie yang sudah terbiasa dengan hinaan dan fitnahan macam ini di kehidupan lalu, tetap berdiri tenang di tempat.
“Kami tidak bersalah.” Stefanie mengeluarkan ponsel, lalu melirik sekilas Junardi dan kedua temannya, “Tidak perlu bantuan kalian, aku yang akan melapor polisi, tapi kalau polisi membuktikan kami tidak bersalah, tolong kalian jelaskan alasan memfitnah kami.”
“Sialan! Apakah masih belum cukup?!” Harly tidak ingin pesta ulang tahunnya kacau gara-gara polisi, dia segera merampas ponsel Stefanie, “Hari ini adalah ulang tahunku, kamu sengaja mencari masalah di sini?”
Selesai berbicara, ponsel Stefanie tiba-tiba berdering.
Stefanie melirik layar ponsel dan melihat nomor yang tidak dikenal yang meneleponnya, dia merasa orang yang menelepon kemungkinan besar adalah Jenny.
“Kembalikan ponselku!” Stefanie mengulurkan tangan ingin merampas kembali ponselnya.
Melihat Stefanie begitu panik, Harly terpikir cara untuk melakukan pembalasan, “Ingin ponselmu, bukan? Tidak masalah. Loncat ke laut dan berenang mengeliling kapal satu keliling, aku akan mengembalikan ponselmu!”
__ADS_1
Ponselnya masih berbunyi, nada dering lady antebellum (need you now) bergema di udara.
Stefanie mengatup bibirnya erat-erat, menatap ponselnya yang akan dibuang ke laut oleh Harly, dia sudah tidak punya pilihan lain ...
“Baik, satu keliling, bukan? Kembalikan ponselku, dan antar kami kembali ke dermaga.”
Harly mengangkat alisnya, “Aku tidak pernah ingkar janji!”
“Stefanie ....” Melihat Stefanie berbalik dan berjalan ke ujung kapal, July berhenti menangis dan menarik tangan Stefanie, “Jangan pergi, bahaya ....”
Stefanie tertawa, lalu bercanda, “Aku akan baik-baik saja, tidak ada ikan hiu di perairan sini.”
Stefanie melepas tangan July, berjalan ke tangga terakhir di ujung kapal.
Stefanie lumayan pandai berenang, dia pernah mengikuti klub renang di semester pertama, dan meraih juara pertama saat acara perlombaan olahraga, dan terkenal di forum kampus selama beberapa waktu.
Hanya saja laut dan kolam renang sangat berbeda, apalagi laut pada malam hari, mirip dengan danau tempat di mana dirinya dibunuh.
Menatap permukaan laut, Stefanie tiba-tiba bergidik.
Masih belum turun ke air, dadanya sudah terasa sesak dan sakit.
Junardi mendesak, “Kenapa? Tidak jadi?”
“Harly, buang saja ponselnya!”
Harly merasa bosan, “Huh, kukira kamu wanita yang keras hati! Benar-benar membosankan!”
Kata-kata kedua pria berengsek ini menarik pikiran Stefanie dari ingatan sebelum kematian pada kehidupan lalu, “Tutup mulut kalian berdua!”
Harly, “Kalau begitu, aya cepat loncat!”
Stefanie kembali menatap permukaan laut yang gelap dan menarik napas dalam-dalam ...
“Maaf, aku tidak memperbolehkan ada wanita yang loncat ke laut di kapalku.”
__ADS_1
Diikuti suara yang merdu, sebuah lengan yang berotot tiba-tiba muncul dari belakang Stefanie, lalu memeluk pinggang Stefanie dan menariknya kembali.