
"Aku tahu kamu tidak memiliki perasaan sedikit pun pada keluarga kami, kamu juga tidak ingin menjadi anggota keluarga kami."
Jessica mencibir, "Kalau begitu, mari kita selesaikan semua masalah kita hari ini."
Stefanie tertegun, dia sudah tahu apa yang akan Jessica katakan selanjutnya.
"Dua miliar. Kami akan memberi kalian dua miliar, anggap saja untuk membayar biaya hidupmu dari usia 3 tahun hingga 18 tahun. Dari saat kamu mengambil uang itu, kamu tidak lagi memiliki hubungan dengan putraku." suara Jessica terdengar serak dan tegas. seolah-olah dia sudah lama tidak ingin melihat wajah Stefanie.
“Bu?” Tatapan Julio penuh dengan keterkejutan, “Maksudmu…”
Jessica, "Aku ingin kamu memutuskan hubungan di antara kalian."
Meskipun mentalnya sudah siap, Stefanie tetap tercengang ketika mendengar langsung kata-kata ini, dan ada rasa dipermalukan, dia seperti dianggap sebagai sampah oleh orang lain.
Setelah mengetahui kabar bahwa berita Stefanie jadi wanita simpanan itu tidak benar, Julio tidak lagi membenci putrinya, dia malah merasa bahwa Stefanie sering ditindas karena tidak ada perlindungan darinya.
Perasaan cinta ayahnya meluap, dia diam-diam memiliki keinginan untuk membawa Stefanie kembali ke keluarganya. Tapi sekarang, ibunya ingin dia putus hubungan dengan putrinya ...
"Bu ..."
Julio ingin memohon untuk Stefanie, tapi tiba-tiba, Stefanie berkata di satu waktu yang sama dengannya, "Boleh, tapi sepertinya kamu tidak terlalu mengerti hukum."
Stefanie tersenyum lalu mengajarkan, "Perjanjian untuk mengakhiri hubungan antara orang tua-anak yang ditandatangani antara orang tua kandung dan anaknya tidak memiliki efek hukum. Tapi memutuskan hak warisan, seperti properti, hutang, dan sebagainya yang ditandatangani keduanya memiliki efek hukum, bisa membedakan harta milik masing-masing."
"Aku pikir sudah cukup dengan memutuskan hak warisan saja."
Ketika Vivian mendengar ini, sepasang matanya langsung berbinar. Julio menikah dua kali, jadi dia tentu saja akan mempertimbangkan masalah pembagian harta di masa depan. Jika Stefanie setuju untuk menyerahkan hak warisan, maka seluruh harta warisan keluarga Chandra akan menjadi milik anaknya sendiri, dan di saat itu, apakah kakaknya yang mengelola cabang perusahaan dagang Cakrawala atau bukan sudah tidak penting lagi.
Dengan ekspresi penuh penantian, Vivian diam-diam menatap Jessica di sebelahnya.
Jessica masih tenggelam dalam kemarahan karena disebut tidak mengerti hukum oleh Stefanie, wajahnya muram, dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Stefanie berbalik dan menatap kepala pelayan di pintu, "Bisakah kamu mengambilkan aku pena dan kertas?"
Di kehidupan dulu, dia membuntuti dan melaporkan kasus pembagian harta waris seorang artis tua, jadi dia belajar hukum setiap hari, dan di hampir terlihat seperti mahasiswa fakultas hukum. Ternyata, yang dia pelajari tidak sia-sia.
Kepala pelayan mendapat persetujuan Jessica, lalu pergi ke ruang belajar untuk mengambilkan pena dan kertas untuk Stefanie .
Andy tiba-tiba bersemangat, dia duduk dari sofa dengan penuh minat, lalu bertanya kepada Stefanie, "Dua miliar sudah cukup? Dengan uang itu bahkan tidak bisa membeli mobil sport yang sedikit lebih bagus."
Stefanie menyeringai, "Aku tidak menginginkan uang dua miliar ini."
Mendengar ini, Jessica mengangkat alisnya, matanya penuh ketidakpercayaan, "Kamu tidak menginginkan uang dua miliar ini?"
Stefanie berkata dengan acuh tak acuh, "Aku tidak kekurangan uang."
“Tidak kekurangan uang?” Jessica terkekeh dan memandang pakaian murahan Stefanie.
Pada saat ini, kepala pelayan keluar dari ruang belajar dan membawakan beberapa lembar kertas A4 dan pena, "Ini, Nona Stefanie."
Stefanie berterima kasih, mengambilnya, dan kemudian melihat ke sekeliling ruang tamu yang besar, berjalan ke meja makan super panjang bergaya Eropa, lalu menulis dua surat perjanjian untuk memutuskan hak waris.
“Kamu benar-benar menulisnya?” Julio terkejut oleh sikap ibu dan putrinya, dan setelah menarik kembali pikirannya, dia baru menghentikan Stefanie.
Seolah-olah tidak bisa mendengar kata-kata ayahnya, Stefanie menandatangani dua surat perjanjian yang sudah selesai ditulisnya dan menyerahkannya kepada Jessica melalui kepala pelayan.
Jessica sangat hati-hati, dia mengirim foto surat perjanjian ke penasihat hukum Cakrawala. Segera, penasihat hukum itu membalasnya.
__ADS_1
[Tidak masalah, bisa ditandatangani.]
Jessica akhirnya tidak lagi khawatir, dia meletakkan pena ke tangan Julio.
Julio merasa serba salah, tangannya yang memegang pena gemetaran.
"Cepat tanda tangani. Dia sudah menandatanganinya. Apakah kamu tidak setegas gadis berusia dua puluhan?"
Hati Julio gelisah dipelototi oleh ibu yang paling ditakutinya.
Jessica mendesak lagi, "Tanda tangan!"
Julio menoleh, melihat wajah Stefanie yang bertuliskan “tolong cepat, aku mau buru-buru pulang”, dia akhirnya menandatangani kertas itu.
________
Di seberang kediaman Julio.
Nicholas sedang duduk di dekat jendela di lantai tiga sambil minum kopi.
Rasa Dessert medium-roasted sangat lembut, harum dan memiliki sedikit aroma jeruk, rasanya manis di mulut, sangat menawan dan indah.
Indahnya sama dengan saat dia melihat Stefanie masuk ke rumah tetangganya melalui tirai kasa.
Ternyata keluarga di seberangnya adalah ayah dan nenek kaya yang Stefanie katakan.
Merasa menarik, sudut bibirnya terangkat, dia bangkit dari jendela teluk dan meregangkan tubuh.
Kemeja putih yang tidak dikancing terbuka dan mengekspos otot perutnya yang seksi, ditambah dengan garis tubuh yang menawan, tubuhnya terlihat ideal.
Wajah lembutnya menghadap ke rumahnya, dan Nicholas bisa dengan jelas melihat ekspresi wajahnya yang menunjukkan kekonyolan dan kemarahan.
"Berhenti!"
Panggilan seorang wanita terdengar dari dalam rumah, diikuti oleh seorang nyonya kaya dan seorang wanita muda yang berlari keluar dari rumah.
Vivian memapah Jessica, dan memberi pelajaran kepada Stefanie, "Bagaimana ibumu mengajarimu? Para tetua belum selesai berbicara, kenapa kamu keluar dari rumah?"
Stefanie tidak ingin memperhatikan mereka, tetapi pintu besi rumah masih tertutup, dan dia tidak tahu cara membukanya, jadi dia terpaksa berhenti di pintu.
Jessica sudah tua dan kurang olahraga. Hanya berjalan dari pintu rumah ke gerbang depan, dia sudah terengah-engah, "Hanya menyuruhmu membawa surat perjanjian itu untuk ditandatangani Villia. Apakah perlu reaksi sebesar itu?"
Stefanie menatap nyonya tua yang tak mengerti hukum itu dengan geli, "Apakah kamu takut ibuku akan kembali untuk memperjuangkan harta warisan?"
Dengan enggan, Stefani menarik napas dalam-dalam dan memaksakan diri untuk sabar menjelaskan pengetahuan hukum kepada dua wanita yang berpendidikan SD, "Ahli waris mengacu pada metode di mana undang-undang secara langsung menetapkan ruang lingkup, urutan pewarisan, dan asas-asas pembagian waris. Yang disebut ahli waris yang sah adalah sanak keluarga yang berhak mewariskan harta peninggalan menurut undang-undang negara kita, termasuk pasangan, anak-anak, orang tua, saudara laki-laki dan perempuan, kakek dan nenek."
“Yang disebut pasangan adalah orang yang memiliki hubungan perkawinan dengan almarhum ketika meninggal, yaitu istri atau suami dari almarhum. Ibuku sudah cerai dengan Tuan Julio, jadi kalian berdua tidak perlu khawatir ibuku akan memperjuangkan harta waris Tuan Julio.”
"Selain itu, bukankah kalian bisa membuat surat wasiat lebih awal untuk berjaga-jaga?"
Apa yang Stefanie katakan didasarkan pada masalah, dan dia tidak bermaksud untuk mencari masalah sama sekali, tapi Jessica tersinggung dan tiba-tiba marah.
“Kamu mengutuk ayahmu?” Dia melototi Stefanie seolah kalau dirinya berani mengangguk, dia pasti menamparnya.
Stefanie tak berdaya, "Bukankah kamu baru saja memutuskan hubungan kami, di mana ayahku sekarang?"
"..." Jessica tersedak, sudut mulutnya berkedut beberapa kali, dan dia tidak bisa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Mendapatkan kesempatan untuk menampilkan diri, Vivian buru-buru membela ibu mertuanya tanpa mempedulikan citranya sebagai seorang nyonya kaya, dia langsung memarahi Stefanie, "Hei, anak liar, kamu sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarga kami, segera pergi dari sini sekarang juga!"
Kediaman Julio dan kediaman Nicholas dipisahkan oleh jalan masuk dua lajur selebar enam meter. Jendela rumah Nicholas terbuka, dia yang menonton dari balik tirai kasa mendengar dengan jelas Stefanie diusir oleh ibu tirinya.
Dengan tatapan penuh minat, Nicholas melirik ponsel di jendela teluk.
Ketika Stefanie membuka pintu besi kediaman Julio dengan bantuan kepala pelayan dan hendak keluar, ponsel di sakunya berdering.
Melihat bahwa itu adalah panggilan dari Nicholas, Stefanie tidak ragu-ragu dan segera menjawabnya.
"Datanglah ke rumahku, bukankah kamu akan memberiku ramalan gratis untuk mengubah hidupku?"
Terdengar kegembiraan dalam nada suaranya, tapi Stefanie tidak tahu apakah dia gembira karena dia sudah bangkit dari keterpurukan atau karena alasan lain.
Namun, karena dia sudah berbicara, dirinya sebagai orang berdosa, tidak punya alasan untuk menolak.
"Oke, tapi di mana rumahmu?"
Nicholas tersenyum dan berkata, "Di seberang rumah ayah dan nenek kayamu."
Baru saja meninggalkan kediaman Julio, Stefanie tercengang begitu mendengar apa yang dikatakan Nicholas.
"Password untuk gerbang depan adalah 80972166, dan password untuk pintu rumah juga sama, kamu bisa membukanya sendiri."
"Eh ... baiklah."
Stefanie menutup telepon dan mengulangi kata sandi yang baru saja Nicholas katakan di benaknya. Di bawah tatapan terkejut Jessica dan Vivian, Stefanie berjalan lurus menuju rumah di seberang jalan.
Kemudian dia dengan tenang memasukkan kata sandi gerbang depan dan pintu rumah.
Stefanie membuka pintu, masuk, lalu menutup pintu seakan itu rumahnya sendiri.
"..."
Jessica dan Vivian saling menatap, dan terkejut untuk waktu yang lama.
Setelah dua tahun tinggal di perumahan Villa Garden, mereka belum pernah melihat wajah asli tetangga di seberang mereka, mereka hanya tahu bahwa pria itu memiliki tubuh yang bagus dan suka bersepeda dengan berseragam lengkap.
Kemudian, ketika Andy melihat sepeda trek madone di seberang rumah, dia juga ingin punya satu. Lalu dia meminta Jessica untuk membelikan untuknya, ketika Jessica meminta seseorang untuk menanyakan harga, dia langsung terkejut begitu mendengar bahwa sepeda itu seharga ratusan juta.
Sejak itu, dia lebih mengenal tetangga misterius itu, dia tahu tetangganya itu kaya, sangat, sangat kaya.
__________
Stefanie menutup pintu rumah Nicholas, dia berbalik, dan langsung terkejut melihat dekorasi ruangan yang sederhana dan keren.
Seluruh ruangan berwarna putih. Selain layar TV, hampir semua perabotan lainnya berwarna putih, dia seolah sedang berjalan di salju yang putih bersih.
Apalagi ruangannya masih sangat kosong, selain perabotan yang paling dasar, tidak ada barang lainnya. Tentu saja, selain Mercedes-Maybach putih di belakang tangga.
Penasaran, Stefanie mendekat dengan hati-hati untuk melihat apakah mobil itu benar-benar mobil atau hanya model.
Pada saat itulah, Nicholas yang berada di atas berjalan menuruni tangga dengan malas, kemeja putih di tubuhnya sudah dikancingkan, tetapi dia hanya mengancing dua kancing kemeja di bawah dadanya saja.
Stefanie berdiri di bawah tangga dan menatapnya, kebetulan dia melihat perut berototnya yang seksi ketika baju Nicholas terbuka karena tertiup angin.
Stefanie menelan ludah, pipinya memerah, dia tidak tahu harus menatap ke mana.
__ADS_1