
“Bisakah kita mulai?” Stefanie duduk tegak, menunjukkan keseriusan dalam kerja.
Terpengaruh olehnya, Nicholas juga menjadi serius.
Dia bersandar di sofa, melipat tangannya di depan dada, dan mendengarkan dengan penuh perhatian, "Mari kita mulai."
Stefanie mengangguk lalu mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya.
Setiap kali ada waktu, Stefanie akan mencatat semua berita tentang Nicholas yang ada di ingatannya. Bagaimanapun, dia berhutang pada Nicholas, jadi tentu saja dia harus memperlakukan Nicholas secara khusus dan memberinya prediksi yang 100% akurat.
Karir Nicholas dalam beberapa tahun ke depan tidak seburuk Jenny dan Oscar, tetapi dia sendiri sangat pesimis, dan sepertinya dia tidak memiliki motivasi untuk berjuang di dunia hiburan.
Setelah rumor perselingkuhan, Nicholas berdiam diri selama lebih dari setengah tahun, dan kemudian dengan upaya Denny, dia membintangi film baru seorang sutradara domestik yang terkenal. Karya itu dibuat dengan baik, tetapi isinya kurang bagus, penjualan dan penilaiannya juga kurang bagus.
Menghadapi hasil ini, Denny cemas, jadi dia membantunya menemukan karya drama serial yang bagus, tetapi seperti yang dikatakan Jenny, tidak semua serial TV dapat disiarkan dengan lancar, apalagi salah satu pemainnya memiliki berita negatif.
Masalah tentang album lagu, Bintang Cipta Entertainment juga tidak peduli pada Nicholas, pihak perusahaan memberikan semua sumber dana kepada boy band. Bahkan album lagu "Weather and You" yang awalnya dirancang khusus untuk Nicholas juga dibagi, dua lagu diberikan kepada Simon, dan lima lagu diberikan kepada boy band.
Kemudian, Denny membantu Nicholas mencari kerja sama dengan beberapa acara reality show yang memiliki peringkat bagus, tetapi pada saat itu, terlalu banyak artis terkenal yang muncul, sudah tidak banyak orang yang ingin menonton Nicholas, jadi sebagian besar mereka memotong adegannya. Kadang-kadang ada satu adegan yang berdurasi panjang, tapi mereka juga menggunakan pengeditan untuk menciptakan kontroversial, seperti Nicholas membenci XX, Nicholas mengejek XX, Nicholas mengolok-olok seniornya ke XX dan sebagainya ...
Setelah melewati dua tahun dengan cara seperti itu, Nicholas benar-benar menghilang dari mata publik setelah kontrak kerja Denny dan Bintang Cipta Entertainment berakhir.
Meninjau proses berakhirnya karir Nicholas, seorang idola terkenal. Pipi Stefanie terasa panas karena merasa bersalah.
Jika bukan karena dia, Nicholas seharusnya sudah populer selama lebih dari sepuluh tahun.
“Tidak ada lagi?” Tidak ada tanda-tanda depresi di wajah Nicholas, dan sepertinya ada ketertarikan di matanya yang panjang dan sipit itu.
Melihat lebih dekat, Stefanie tanpa sadar mengerutkan kening, dan menanyakan keraguan di hatinya, "Nicholas, apakah kamu ... sengaja tidak ingin menjadi populer?"
Nicholas sedikit terkejut, "Tidak kok."
Jika dia mengakuinya, bukankah berarti dia telah menyerah?
"Benar tidak ada?"
Nicholas menjawab dengan ekspresi tulus, "Iya."
Stefanie masih tidak percaya, "Lalu kenapa kamu tidak mau mengklarifikasi rumor tersebut? Jelas malam itu kamu pergi mencari ...."
Stefanie tiba-tiba berhenti melanjutkan, menyadari bahwa dirinya telah membocorkan rahasia, detak jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, dan tangan yang memegang buku pun mengeluarkan keringat dingin.
Nicholas membungkuk, berbalik menghadapnya, dan sedikit mengangkat alisnya, "Aku jelas mencari Erick?"
"Ah ... benar, ‘kan?"
Stefanie memaksa dirinya untuk segera tenang, "Aku melihat sebuah komentar populer di internet, mengatakan bahwa kamu mencari Erick malam itu, dan kebetulan dia bertengkar dengan pacarnya, kamu berbaik hati untuk melerai pertengkaran, tapi malah difoto oleh seorang reporter paparazzi jahat."
Nicholas memang mendengar Denny mengatakan bahwa ada seseorang yang membantunya mengklarifikasi, jadi dia tidak mencurigainya, "Jadi, kamu selalu percaya kalau pacar Erick dan aku tidak memiliki hubungan apa-apa?"
Stefanie menghela napas lega dan mengangguk, "Aku yakin kamu tidak bersalah!"
Puas karena Stefanie mempercayainya, Nicholas mengulurkan tangan dan mengusap kepala Stefanie, "Baguslah kalau begitu."
Selesai berkata, Nicholas melihat jam di dinding, sudah pukul 17.25 WIB.
"Apakah kamu tidak penasaran dengan makanan yang aku buat? Bagaimana kita lanjutkan sambil makan?"
Menarik kembali pikirannya dari kenikmatan usapan tangan Nicholas, Stefanie juga ikut melirik waktu, "Boleh juga."
__ADS_1
“Tapi, biarkan aku membantumu.” Stefanie bangkit bersama Nicholas dan berjalan menuju meja putih yang berjarak sepuluh meter jauhnya.
Nicholas berjalan ke depan tanpa melihat ke belakang, lalu sengaja bercanda "Kenapa, kamu takut aku belajar dari Junardi?"
"Tidak, aku hanya merasa tidak enak kalau tidak membantu sama sekali ..."
Stefanie sama sekali tidak waspada pada Nicholas, dan setelah mendengar candaan Nicholas, dia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kenapa dia mempercayainya tanpa alasan? Merasa dia bukan pria berengsek?
Karena dia membantunya di kapal pesiar? Atau karena dia kakak seniornya di UNS, jadi memiliki perasaan akrab?
Karena pikirannya melayang, Stefanie tidak sempat menghentikan langkah kakinya dan menabrak Nicholas yang berhenti di depannya untuk memakai celemek.
"Tidak perlu membantu, kamu hanya perlu duduk di sini dan mengawasi." Nicholas menatapnya dengan tatapan memanjakan, lalu mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang ramping Stefanie seperti yang dia lakukan di kapal pesiar malam itu. Kemudian dia mengangkatnya dan membawanya duduk di atas meja dapur di belakangnya.
Duduk di meja dapur yang tinggi, Stefanie tiba-tiba bertambah tinggi, pandangan mereka juga sama tinggi. Keduanya saling memandang, Stefanie pun tersipu malu.
Stefanie menundukkan kepalanya dengan panik, lalu melihat kakinya tidak menginjak lantai, "Sebaiknya aku turun."
Melihat Stefanie akan segera melompat, Nicholas melangkah maju dengan dominan, dan menghalanginya dengan kedua lengannya yang kokoh..
"Dengarkan perintahku."
Suara pria yang lembut diikuti napas hangat terasa di telinganya. Stefanie pun bergidik. Jantungnya kembali berdetak kencang.
Pokoknya, dia dikalahkan oleh kelembutan dan ketegasan pria di depannya ini. Stefanie terpaksa duduk patuh di atas meja dapur.
Nicholas tersenyum puas, dia berbalik untuk membuka kulkas lalu bertanya, "Kamu ingin makan apa? Sup sayur?"
Stefanie menatap kulkas Nicholas yang mirip kotak harta karun, "Banyak sekali bahan-bahannya, sepertinya kamu benar-benar pandai memasak."
"..." Waduh! Mulai lagi dia.
Stefanie tampak tak berdaya, memesan dua hidangan yang memakan waktu singkat, dan kemudian kembali ke topik tadi, "Nicholas, apakah ada hal lain yang ingin kamu tanyakan tentang masa depanmu?"
Nicholas menggulung lengan bajunya perlahan, menunjukkan garis otot lengannya yang indah. Kemudian memegang brokoli hijau sambil menatap Stefanie, "Siapa istriku?"
"Hah?" Tidak menyangka Nicholas akan menanyakan ini, Stefanie terkejut dan menjelaskan dengan canggung, "Aku ... hanya bisa memprediksi kejadian beberapa tahun ke depan ... dalam beberapa tahun ke depan kamu tidak akan menikah, tapi ada skandal."
"Skandal macam apa?"
Stefanie berusaha keras untuk mengingat, lalu berkata, "Kamu memiliki dua pacar, satu rekan kerjamu, dan satu lagi gadis biasa."
Nicholas berkata tanpa ragu, "Siapakah gadis biasa itu?"
Stefanie heran, "Bukankah seharusnya kamu lebih penasaran dengan rekan kerjamu?"
"Aku tidak penasaran, aku hanya ingin tahu siapa gadis biasa itu."
"Yah, prediksi itu hanya gambaran kasar. Bagaimana mungkin bisa spesifik hingga tahu namanya dan bentuk wajahnya."
"Benarkah? Kalau begitu berapa usianya, berapa tahun lebih muda dariku?"
Stefanie menggelengkan kepalanya, "Jangan tanya lagi, aku sudah membocorkan terlalu banyak rahasia hari ini, kalau dilanjutkan ... " Aku khawatir rahasiaku akan bocor!
Melirik penampilannya yang misterius, Nicholas merasa geli dan tidak lagi bertanya.
“Tapi, dengan keadaanmu sekarang, kamu tidak perlu khawatir tidak mendapatkan istri.” Setelah mengatakan ini, Stefanie mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengambil beberapa foto Nicholas yang sedang memotong sayur dengan memakai celemek.
__ADS_1
"Aku akan mengirim foto-foto ini kepadamu, lalu kamu berikan pada asistenmu, suruh dia mengunggahnya di Instagram. Penampilan lucumu yang berbeda dari biasanya akan menarik banyak penggemar."
“Benarkah?” Nicholas mengambil ponsel dari tangan Stefanie, lalu mengetuk layar ponsel beberapa kali dengan tatapan fokus.
Stefanie mengira dia sedang mempercantik wajahnya, dan ketika dia hendak mengeluh, Nicholas sudah meletakkan ponsel kembali ke tangannya.
Stefanie melirik layar ponsel, ternyata Nicholas mengganti layar ponsel dengan fotonya.
"Sebagai percobaan, kalau kamu menjadi penggemar setiaku karena setiap hari melihat fotoku, aku akan meminta Denny untuk mengunggahnya ke Instagram."
Mendengar hal ini, Stefanie pun langsung bertingkah seperti seorang penggemar cilik yang yang kegirangan melihat idola kesayangannya, dia menutup mulut kecilnya dengan kedua tangan, dan berseru dengan suara melengking, “Wow, Nicholas! Aku penggemarmu! Aku sangat suka lagu-lagu dan karya film-mu! Bolehkah meminta tanda tanganmu!"
Bibir tipis Nicholas mengatup erat, dia menahan senyumnya lalu menambahkan, "Yang aku katakan bukan penggemar yang hanya menginginkan tanda tangan."
"Lalu apa lagi ..."
Belum menyelesaikan perkataannya, Stefanie melihat tatapan Nicholas yang sedang tersenyum, dia langsung tahu apa yang diinginkan Nicholas.
"..."
Melihat Stefanie mengerutkan kening karena marah, Nicholas tahu Stefanie sudah tahu apa yang dia inginkan, dia pun tertawa terbahak-bahak.
"Ding dong ..."
Pada saat ini, bel pintu interkom video berdering.
Stefanie entah kenapa gugup, lalu menatap Nicholas dengan panik, "Mungkinkah itu reporter media, haruskah aku bersembunyi dulu?"
Nicholas membeli rumah ini atas nama Efendi. Hanya keluarganya dan Denny yang tahu bahwa dia tinggal di sini, jadi tidak mungkin reporter media yang datang.
Tapi Nicholas sudah ketagihan menggodanya, dia berpura-pura menunjukkan ekspresi gugup, "Boleh, kalau begitu kamu bersembunyi dulu."
Stefanie mengangguk dan melompat dari meja dapur, "Bersembunyi di mana?"
Nicholas mengulurkan jarinya dan menunjuk ke atas "Kamar tidurku."
Stefanie merasa tidak sesuai, "Tidak, bagaimana kalau mereka bersikap kasar dan menerobos masuk kamar dan menemukanku?"
"Kalau begitu aku akan mengatakan kalau kamu adalah ..." Nicholas sengaja berhenti sejenak, "istriku."
!!!
Stefanie berkata dengan tak berdaya, "Sekarang bukan waktunya untuk bercanda!"
“Oke, aku tidak akan bercanda lagi.” Nicholas tersenyum, ekspresi gugup di wajahnya menghilang, “Aku akan membuka pintu.”
"Hei?" Stefanie mengikuti dan meraih tangan Nicholas yang berjalan menuju pintu, "Lalu apakah aku masih harus bersembunyi?"
"Terserah.."
"..." Untuk jaga-jaga, sebaiknya dia bersembunyi.
“Krek ...”
Mendengar suara tutup pintu di belakangnya, Nicholas berbalik.
Di ruang tamu yang besar, sosok kecil Stefanie telah menghilang.
"Ding dong ..."
__ADS_1
Di luar, tamu membunyikan bel lagi, seolah-olah yakin Nicholas ada di rumah.