Pacarku Seorang Paparazzi

Pacarku Seorang Paparazzi
Bab 11


__ADS_3

Di Perumahan Villa Garden.


Julio sedang duduk di tengah halaman rumah menikmati bunga anggrek kesukaannya, tidak lama kemudian langit perlahan-lahan menjadi gelap, awan hitam berkumpul menjadi satu.


Dia mendongak menatap langit, setetes air hujan jatuh tepat di keningnya.


Melihat ini, Nicholas tiba-tiba teringat akan Stefanie yang pada waktu itu datang meminjam uang.


Julio tidak terlalu berengsek, meskipun selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah memberi perhatian pada Stefanie, sebenarnya dia bukan tidak ingin memberi perhatian, hanya saja dia takut ibunya tidak senang, jadi dia memilih untuk bersikap kejam, sepenuhnya mengabaikan putri sulungnya itu.


Meskipun dia bisa sekali lagi melawan kehendak ibunya, dia juga tidak memiliki cukup uang untuk membantu Stefanie. Mungkin saja tidak ada yang percaya, dia sebagai bos perusahaan dagang Cakrawala adalah seorang anak kecil yang masih harus meminta uang pada ibunya setiap bulan.


Julio merasa diri sendiri tak berguna, lalu menghela napas.


“Sudah waktunya makan!” Pintu kamar di belakang Julio terbuka, seorang remaja laki-laki menjulurkan kepalanya.


Julio menjawab, lalu meletakkan pot anggreknya dan kembali ke dalam rumah.


Hari ini adalah akhir pekan, semua sekolah libur. Sundara Entertainment juga meliburkan latihan anak-anak, barulah Andy Chandra bisa pulang ke rumah. Jessica sangat senang melihat cucu sulungnya bisa pulang ke rumah.


“Andy, ayo dicicipi, ini iga sapi asam manis yang nenek buat!”


“Andy, ayo diminum, ini sup buntut sapi yang nenek buat seharian!”


“Andy, jangan hanya makan sayuran saja, makan daging dan tambah nasinya, ya!”


Andy tidak tahan dengan neneknya yang cerewet, dia meletakkan sendoknya, “Nenek, aku lagi diet, jangan suruh aku makan terus, ya!”


“Jangan bicara tidak sopan pada nenekmu!”


Meskipun Julio selalu berbicara dengan lembut pada ibunya, dia sangat memiliki wibawa seorang ayah saat berbicara dengan anaknya.


Setelah ditegur, Andy semakin tidak punya selera makan, sekarang bahkan sayuran pun tidak ingin dia makan, dia hanya minum air putih saja. Sikap Andy membuat Jessica merasa kasihan.


Jessica mengambil sepiring iga sapi asam manis, lalu meletakkan semua sayuran di depan Andy, “Semua ini salah nenek, nenek tidak akan mengambilkan daging untukmu lagi, kamu makan sayuran saja, ya ... bagus untuk kesehatan.”


“Bu, jangan memanjakan dia! Kalau tidak mau makan, biarkan saja dia kelaparan.”


“Apa yang kamu katakan! Cucuku tidak sama dengan anak orang lain?” Jessica memelototi Julio, lalu menepuk tangan Andy yang halus, “Cucuku bernasib baik, mendatangkan keberuntungan untuk kita sekeluarga!”


Julio tidak tahan dengan sikap ibunya yang percaya takhayul, lalu mengeluh, “Dia tidak sehebat itu.”


“Julio!” Jessica langsung marah, “Ada apa denganmu? Aku merasa dua hari ini kamu membantah perkataanku terus, apakah gara-gara aku tidak memperbolehkan kamu meminjamkan uang kepada Stefanie, jadi kamu marah padaku?”


Vivian sebenarnya juga merasakan, sejak Stefanie pergi, Julio terlihat tidak senang, Julio tidak banyak bicara saat berduaan dengannya.


“Sayang, jangan marah pada ibu.” Vivian menggoyang-goyang lengan Julio, membujuk Julio dengan suara kecil yang masih bisa didengar oleh Jessica, lalu menendang kaki adik sepupunya, Lili.


Lili adalah putri bungsu paman Vivian, tahun ini berusia 20 tahun.


Setelah menikahi Julio, satu keluarga Vivian pindah keluar dari pedesaan, Vivian membawa Lili yang tertarik dan memiliki bakat sebagai penyiar ke kota Solo. Selama bertahun-tahun, Vivian selalu memperlakukan Lili sebagai anak sendiri.


Sedangkan Lili juga tidak mengecewakan Vivian, dua tahun lalu dia diterima di UNS dengan peringkat pertama jurusan penyiaran.


“Oh ya!” Lili berkata dengan suaranya yang jernih dan manis, “Aku mendapatkan kabar di grup kelas kami, tidak tahu apakah kabar ini pantas dikatakan atau tidak ....”


Andy bersandar malas di kursi, lalu menoleh menatap Lili.

__ADS_1


Keduanya selisih usia dua tahun, jadi Andy tidak pernah menganggap Lili sebagai bibinya, bahkan dia sangat tidak menyukainya.


“Sudah bicara setengah baru bertanya apakah pantas dikatakan! Apakah otakmu bermasalah?”


“Andy!” Vivian tidak berani menegur anaknya di depan mertua, dia hanya memberi isyarat pada Andy agar jangan berkata tidak sopan.


Lili juga tidak menyukai keponakannya itu, dia mengabaikan perkataan Andy lalu menatap Jessica.


Jessica sangat pintar, dia tahu kata-kata Lili pasti berkaitan dengan Stefanie, “Kita ‘kan satu keluarga, ada hal apa yang tidak boleh dikatakan?”


Setelah menerima perintah Jessica, Lili melanjutkan, “Di kampus kami ada orang yang bilang kalau Stefanie ....”


Ternyata berkaitan dengan Stefanie, sudut bibir Jessica terangkat dan menjadi bersemangat, “Kenapa dengan dia?”


Ekspresi wajah Lili terlihat malu-malu, “Ada yang bilang kalau Stefanie demi membayar biaya pengobatan ibunya, rela menjadi wanita simpanan sekumpulan pria kaya ....”


Vivian sejak awal sudah mendengar cerita ini dari Lili, tapi dia sekarang berpura-pura terkejut dan merasa disesalkan, “Dia terlalu ekstrim ....”


Raut wajah Julio menjadi masam, tapi dia tidak langsung percaya, “Jimmy, telepon Stefanie, tanya dia apakah masih membutuhkan uang?”


Jessica tidak menghalangi, dia kembali mengambilkan sayur untuk Andy sambil menantikan pertunjukkan seru dari Stefanie.


Kepala pelayan mendengarkan perintah Julio, dia langsung menelepon Stefanie, alhasil, Stefanie memberi tahu bahwa masalah biaya operasi ibunya sudah terselesaikan.


Mendengar perkataan Stefanie, Julio merasa tak berdaya. Sebenarnya dia sudah memikirkan cara untuk membantu Stefanie, yaitu dengan mengubah nama Stefanie mengikuti nama keluarganya, lalu memohon pada ibunya, dengan begitu uang 400 juta pasti bisa dia dapatkan. Kemudian menunggu Villia selesai operasi baru memberi tahu dia.


Rencana yang begitu sempurna! Namun, Stefanie tidak sabar menunggu, dan begitu tidak cinta pada diri sendiri!


Dada Julio terasa sesak, dia bangkit dari kursi, berkata dengan suasana hati murung, “Aku sudah selesai makan,” lalu berbalik dan naik ke atas.


“Julio.” Jessica memanggil Julio dengan lembut, lalu menghibur, “Anak itu sejak kecil ikut bersama ibunya dan dididik oleh ibunya, kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri, jangan terlalu banyak berpikir. Sebelum anak itu ke sini, bukankah kita hidup dengan baik?”


Jessica kembali gembira, lalu berkata dengan nada tinggi, “Kalau begitu ganti bajumu, lalu  turun untuk makan dessert, aku sudah menyuruh mereka membuatkan dessert kesukaanmu.”


“Baik.”


Setelah Julio kembali ke kamar, tiga orang di meja makan mulai membicarakan Stefanie.


Dikarenakan Jessica adalah orang yang paling senior di antara mereka, jadi ada kata-kata yang tidak pantas dia katakan, sedangkan Vivian karena dia mengingat dirinya adalah nyonya orang kaya, dia juga tidak berkata banyak.


Akhirnya yang bisa bebas berbicara hanya Lili sendiri, Lili pandai membahagiakan hati Jessica dan kakak sepupunya, dia mulai mengatakan keburukan Stefanie dan ibunya Stefanie, “Tidak tahu bagaimana ibunya mendidik  anak ... sebagai seorang gadis, ada bakat atau tidak itu sama sekali tidak penting, paling tidak dia harus tahu mencintai diri sendiri!”


“He he.” Andy tiba-tiba tertawa dingin, menoleh dan menatap Lili, “Setidaknya dia masih bisa menafkahi diri sendiri dan ibunya, tidak macam seseorang yang tahunya cuma tinggal, makan gratis di rumahku!”


Orang tua Lili hanya menyayangi anak putra saja. Semenjak Llii dibawa Vivian ke kota Solo, kedua orang tuanya langsung merasa beban mereka menjadi ringan, tidak lagi memperhatikan Lili, dan tidak pernah memberi uang untuk biaya hidupnya.


Kata-kata Andy menusuk hatinya, Lili akhirnya tidak bisa menahan diri, dia memelototi Andy, dan ketika dia ingin mulai memarahinya, Jessica malah berbicara duluan.


Jessica berkata dengan tenang, “Andy, bagaimanapun Lili adalah bibimu, jangan berkata begitu, kamar di rumah kita ‘kan banyak, bibimu tinggal di sini tidak menjadi masalah bagi kita.”


“Ah, jangan hanya ngobrol saja, ayo makan, kalau tidak sayurnya akan segera dingin.” Vivian kembali menendang kaki Lili, kemudian tertawa dan mengambilkan sayur untuk mertuanya, “Bu, iga daging sapi asam manis yang kamu buat enak sekali, ibu juga harus makan, jangan hanya kasih Andy saja.”


“Baik, aku ambil sendiri saja.”


Melihat mereka sekeluarga hidup rukun, Lili merasa bosan, tapi karena kakak sepupu sudah menyuruh dia untuk diam dan karena dia tinggal di rumah mereka, dia hanya bisa menahan amarahnya di hati.


________

__ADS_1


Stefanie tidak tahu bahwa Vivian memiliki seorang adik sepupu yang juga kuliah di UNS, jadi dia tidak tahu kenapa keluarga Chandra tiba-tiba meneleponnya.


Stefanie malas berurusan dengan keluarga yang kejam itu, sekarang dia hanya fokus untuk menjaga ibunya.


Masih sama seperti dulu, operasi Villia sangat sukses, begitu efek obat bius berlalu, Villia langsung sadarkan diri.


Jam sembilan malam, Diana datang menjaga kakaknya, Stefanie berpesan sesuatu pada bibinya, kemudian kembali ke kampus.


Malam di awal musim hujan mulai sejuk, pria yang main basket di lapangan mulai berkurang.


Stefanie melewati lapangan basket, di area kursi penonton terdengar suara siulan. Stefanie mengabaikan, dia terus berjalan, tapi tiba-tiba punggungnya terkena lemparan sebuah bola basket.


Lemparannya tidak terlalu kuat, Stefanie tidak merasa sakit, hanya saja bajunya kotor gara-gara lemparan tadi.


“Kamu baik-baik saja?”


Seorang pria bertubuh tinggi yang memakai baju basket datang memungut bola, melihat baju Stefanie kotor, pria itu mengeluarkan ponsel lalu berkata, “Maaf, boleh minta no WA-mu? Aku ingin mentransfer ongkos laundry untukmu?"


Stefanie menolak, “Tidak apa-apa, aku bisa cuci sendiri saja.”


“Jangan, aku akan merasa bersalah kalau kamu tidak menerimanya.” Pria itu terus meminta no WA Stefanie...


Di kursi penonton, beberapa orang pria berteriak, “Dia bilang tidak usah, kamu modus karena dia cantik,’kan? ?”


“Diam kalian!”


Pria itu menoleh, dan memarahi mereka. Kemudian kembali menatap Stefanie, “Bagi no WA-mu dong, gengsi nih di hadapan mereka, kamu juga bisa dapat uang laundrynya.””


Stefanie tak berdaya, dia terpaksa mengeluarkan ponsel dan membagikan no WA dan rekeningnya..


Setelah kembali ke asrama, Stefanie baru menyadari pria itu mentransfer 600 ribu padanya.


Karena merasa tidak enak, dia tidak menerima uang tersebut, lalu membalas, [Sudah, tidak perlu, anggap saja sudah impas]


Setelah mengirim pesan, Stefanie meletakkan ponselnya di ranjang, lalu mandi duluan sebelum ketiga temannya pulang.


Selesai mandi, di layar ponsel ada belasan pesan yang belum dibaca.


[Terima saja, hanya 600 ribu!]


[Atau, kurang ya ?]


[Transfer uang sebesar 1 juta]


[Transfer uang sebesar 2 juta]


...


[Pergi ke mana kamu? Terima uangnya!]


[Aku dengar kamu kekurangan uang.]


[Atau sebenarnya kamu hanya kekurangan ....]


[Pria berotot.jpg]


“...”

__ADS_1


Stefanie tercengang melihat layar ponsel, ingin sekali dia menghujatnya.


Apakah ini termasuk digoda?


__ADS_2