
H-3
Awan menuang wine untuk Diko. Ia memilih meminum soda. Hal tersebut membuat dahi Diko mengkerut.
"Bro lo gak jemput Bulan di bandara? Hari ini dia balik", ucap Diko sambil meletakkan gelas miliknya
"Dia punya kaki bisalah pulang sendiri, dia juga bisa pesan taksi kan"
"Gimana persiapan kejutan ultah Bulan?"
"Gue udah suruh bawahan gue untuk atur semua"
Diko manggut-manggut "Satu hal lagi yang mau gue sampaikan"
Awan menatap wajah Diko serius menunggu untuk mendengar kelanjutan.
"Arin balik hari ini", lanjut Diko ia menunggu reaksi Awan.
Awan berdiri mengambil kunci mobilnya, ia melaju ke bandara. Gadis itu, cinta pertamanya, gadis yang membuatnya menunggu tanpa kabar, gadis yang membuatnya menjadi playboy seperti sekarang.
Awan memarkir mobilnya di parkiran. Ia masuk ke bandara untuk menunggu gadis itu. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari pintu tersebut. Gadis itu keluar, Awan bergegas menghampiri Gadis tersebut dan memeluk erat- ya gadis itu adalah Arin. Sementara itu ternyata Awan tak menyadari ada gadis nya yang lain mengamati mereka dengan rasa sakit. Air mata nya jatuh menyaksikan pemandangan tersebut. Gadis itu memanggil taksi.
Sepanjang perjalanan Bulan menangis, ia tak sanggup menahan rasa sakit ini. Ketika sudah sampai dirumahnya, ia buru-buru masuk kedalam rumah. Mama Bulan yang hendak memeluk anaknya heran melihat anak semata wayangnya menangis.
"Sayang kamu kenapa nak?"
Bulan tidak menyahut, ia masuk ke kamarnya tak lupa mengunci. Ia memukul guling dan kasur sekuat tenaga.
"GUE BENCI SAMA LO"
"BRENGSEK LO"
"Bul lo gapapa? Bul gue masuk ya", terdengar suara Rian dari luar pintu kamar.
"PERGI.....", sahut Bulan dengan marah.
Rian merasa ada yang tidak beres dengan Bulan, tak biasanya gadis itu marah begini.
"Yaudah gue pergi tapi jangan lupa makan ya", balas Rian sambil meninggalkan Bulan.
"Rian tunggu", jawab Bulan. Ia membuka pintu, wajahnya yang sembab karna air mata membuat Rian khawatir.
"Lo kenapa Bul? Are you okay? Siapa yang buat lo nangis?", Rian memegang pipi Bulan lembut. Bulan tidak menyahut ia memilih diam.
"Yaudah kalau lo gamau cerita. Mau ikut gue ke supermarket? beli ice cream mungkin?"
Bulan mengangguk pelan sambil menunduk. Rian mencium kening Bulan singkat, "Good girl"
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Awan mengikuti Arin masuk ke apartemen gadis itu. Ia memilih duduk di ruang tamu. Arin mengambil keripik kentang, ia duduk di sebelah Awan.
"Kamu ganteng banget sih sekarang", Arin menggoda Awan. Namun Awan melamun, raganya disini tapi fikiran nya di tempat lain.
"Awan kamu dengar aku gak?!", Arin sedikit berteriak ia mulai kesal karna tak biasanya Awan seperti itu saat bersamanya. Arin berdiri ia berjalan menghadap jendela membelakangi Awan.
"Kenapa kamu pergi? tiba-tiba kamu ninggalin aku disini. Kemana kamu Rin?", Awan memeluk pinggang Arin dari belakang.
"A....aku.... maaf Wan aku ada keperluan mendesak"
"Kamu gak bisa ngabarin aku? dua tahun Rin, dua tahun kamu ngilang"
"Aku ingin tapi aku gabisa, maaf"
Awan melepaskan pelukannya, ia mengambil ponselnya. Jam menunjukkan pukul 14.00.
"Apa lo udah sampai rumah Bul?", gumam Awan.
Awan mencium kening Arin singkat "Aku tinggal dulu ya"
Sebelum Arin sempat menjawab, Awan sudah lebih dulu pergi. Arin berdecak kesal.
Awan menuju rumah Bulan, ia ingin memastikan apakah gadis itu pulang dengan selamat.
Awan mengetuk rumah Bulan yang disambut dengan Rian. Rian menatap penampilan Awan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Siapa lo?", Rian tak senang dengan kehadiran Awan.
"Ngapain lo kesini?", tanya Rian ketus.
"Siapa Yan?", tanya Bulan sambil menuju ke arah Rian dan Awan.
Awan tersenyum manis yang disambut Bulan dengan wajah masam.
"Hai Bul", sapa Awan.
"Lo kenal dia Bul?", tanya Rian.
"Gue gak kenal", Bulan bermaksud masuk kembali kedalam rumah namun tangannya ditahan oleh Awan.
"Ngapain lo megang tangan adek gue?", Rian sedikit membentak. Awan tak peduli ia tetap menahan Bulan.
"Kamu kenapa Bul?"
"Mikir aja sendiri", jawab Bulan ketus.
"Aku gak tau kalau kamu gak ngasi tau"
"Tung...tunggu jangan bilang..... kalian berdua", potong Rian.
__ADS_1
"Iya Yan gue sama dia pacaran maaf gue gak cerita", jawab Bulan.
Rian kaget pasalnya Bulan tak pernah pacaran sekalipun. Ia teringat sesuatu.
"Jangan-jangan dia yang udah buat lo nangis tadi pagi?", Rian melihat Awan semakin sinis.
"Kamu nangis bul?", tanya Awan.
Bulan tak menjawab.
"Kalau lo diam berarti jawabannya iya. Sialan lo udah buat adek gue nangis", Rian bersiap ingin menonjok Awan namun di cegah oleh Bulan.
"Rian lo masuk kedalam gue perlu bicara sama dia"
Setelah Rian pergi, Bulan menatap Awan dengan sinis. Awan menarik Bulan ke dalam mobilnya.
"Mau ngapain lo? lepasin gue", Bulan berusaha melepas tangannya namun cengkraman Awan terlalu kuat.
Setelah memastikan Bulan masuk kedalam mobil barulah Awan masuk juga.
"Kamu nangis tadi?", tanya Awan lembut.
"Mau gue nangis mau enggak, apa masalah sama lo", jawab Bulan dengan nada kesal.
"Kamu kenapa yank?"
"Udahlah Wan gue capek mending lo urusin tuh cewek"
Ucapan Bulan membuat Awan terkejut, "Cewek? jangan-jangan yang dia maksud"
Melihat Awan yang diam tanpa jawaban membuat Bulan semakin sinis.
"Iya Wan cewek yang gue maksud itu cewek yang lo peluk dibandara. Lo heran kenapa gue tau? karna gue juga ada disana, gue disebelah cewek itu hanya berjarak 1,5 meter. Lo senyum disana gue pikir itu untuk gue, tapi kenyataan nya senyum itu buat cewek lain. Gue terkejut bukan main. Apa jangan-jangan lo lupa hari ini gue bakal pulang? atau lo sengaja?", Bulan mulai meneteskan air mata.
Penjelasan Bulan menghujam perasaan Awan, sebelumnya jika cewek tersakiti karna dia, Awan gak akan peduli. Seperti ada yang aneh dengan dirinya. Kenapa juga tiba-tiba ia harus menemui Bulan. Kenapa juga ia harus khawatir Bulan sudah sampai atau tidak. Awan menarik nafas dalam. Ia menatap manik mata Bulan.
"Bul ada yang harus gue jelasin"
"Gak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas, gue udah lihat semuanya"
Bulan membuka pintu mobil, ia sangat marah. Ia keluar meninggalkan Awan disana. Awan tak mencegahnya, ia membiarkan Bulan pergi. Awan memukul setir nya. Ia merasa kesal.
Awan melajukan mobil ke villa pribadinya. Ia menutup pintu villa dengan kasar. Ia mengambil beberapa botol bir. Awan meneguk beberapa gelas, ia menutup matanya yang mulai lelah. Seketika bayangan Bulan muncul dipikirannya. Bulan yang saat itu memakai pakaian feminim, Bulannya yang tersenyum untuknya, Bulannya yang cantik.
"Arghhhhhh......", teriak Awan sambil memukul meja.
Awan meminum bir itu tanpa henti, ia tak peduli berapa botol yang sudah dihabiskan.
"Ada yang salah sama gue. Apa gue mulai suka sama dia? Gak mungkin gue cuma cinta sama Arin"
__ADS_1
"Tapi kenapa hati gue merasa bersalah"
"Bul maaf", gumamnya pelan kemudian ia pun tak sadarkan diri.